Love, 35 Cm

Love, 35 Cm
Chapter 21



..."Kita boleh sedih, tapi jangan biarkan kesedihan itu terus berlarut hingga meninggalkan luka yang dalam.."...


...----------------...


.......


Setelah berkeliling Jakarta Selatan selama sekitar satu jam, akhirnya Nando mengantar Syasya pulang. Ia pun menghentikan motornya di alamat yang dikatakan oleh Syasya.


"Ini rumah lo?" tanya Nando saat Syasya baru saja turun dari motornya.


"Bukan," jawab Syasya singkat.


"Lah, terus ngapain turun disini??" bingung Nando.


Syasya langsung menghela napasnya. "Karena gue tinggal disini bege. Ini bukan rumah gue, tapi rumah kakak gue.."


"Sama aja kali!" ucap Nando tak mau disalahkan.


"Bedalah! Tau ah! Susah emang ngomong sama orang bego!" kesal Syasya langsung melangkah masuk, meninggalkan Nando.


"Nggak kebalik apa?" Nando terkekeh saat mendengar perkataan Syasya tadi. Dia yang peringkat satu di sekolah dikatakan bego, lalu apa kata dunia mengenai Syasya yang peringkat 90++ itu??


Nando pun memutuskan kembali melajukan motornya untuk pulang ke rumahnya.


.


Keesokan harinya, Syasya berangkat ke sekolah dengan memakai kecamata hitam. Membuat dirinya menjadi pusat perhatian siswa-siswi yang lain, termasuk para guru.


Brukk


Syasya langsung jatuh karena seseorang menabraknya dari belakang. Hal ini menyebabkan kacamata yang ia pakai langsung terlepas.


"Punya mata nggak sih?! Makanya kalo jalan itu pake mata! Jangan cuma modal kaki!!" bentak Syasya kembali memakai kacamatanya. Ia langsung berdiri, menatap siapa yang sudah menabraknya.


"Sorry," ucap cowok yang menabrak Syasya tadi. Setelah mengucapkan satu kata tersebut, ia langsung melangkah pergi meninggalkan Syasya.


Syasya masih terdiam mematung menatap kepergian cowok tadi yang tak lain adalah Radit. Tanpa ia sadari sebulir air mengalir di pipinya.


"Woii!! Bengong aja, entar kesambet baru tau rasa lo!" seseorang tiba-tiba memukul pelan kepala Syasya. Menyadarkan ia yang masih mematung.


"Apaan sih lo?! Nggak usah sok akrab deh!" Syasya langsung mengusap pipinya lalu menyingkirkan tangan Nando dari kepalanya.


"Weh weh.. Santai aja kali.. Pake kacamata item segala lagi," tanpa aba-aba Nando langsung melepaskan kacamata tersebut.


Tampak wajah Syasya tanpa kacamata. Ternyata dibalik kacamata tersebut, terdapat sepasang mata sembab yang sedikit memerah.


"Kurang ajar! Balikin nggak!?" Syasya berusaha merebut kacamatanya dari tangan Nando.


Namun dengan cepat Nando langsung mengangkat tangannya tinggi, agar Syasya tidak sampai untuk merebutnya.


"Kenapa mata lo? Jangan bilang lo nangis semaleman cuma gara-gara putus?" tanya Nando membungkukkan tubuhnya, mensejajarkan wajahnya dengan wajah Syasya.


Syasya langsung mengalihkan wajahnya, berusaha menghindari tatapan Nando.


"Bukan urusan lo!" ucap Syasya.


Saat Syasya hendak melangkah pergi dari sana, tiba-tiba saja Nando langsung menarik tangannya agar tidak pergi.


"Apa lagi sih?!" kesal Syasya.


Syasya langsung terdiam saat Nando memakaikannya kacamata hitam miliknya tadi.


"Kita boleh sedih, tapi jangan biarkan kesedihan itu terus berlarut hingga meninggalkan luka yang dalam.." ucap Nando lalu meninggalkan Syasya yang masih terdiam.


Syasya kembali menyadarkan dirinya. Benar yang dikatakan oleh Nando. Ia langsung menepuk kedua pipinya. Memberikan semangat agar tak terlarut dalam kesedihannya.


"Oke, Syasya! Move on! Move on! Lo pasti bisa!" ucapnya sendiri. Setelah itu, ia pun melangkah menuju ke kelasnya.


Sesampainya di kelas, Syasya melihat Vivi yang sedang duduk memainkan ponselnya. Ia pun lekas duduk di bangkunya. Setelah meletakkan tasnya, ia langsung memperhatikan Vivi.


"Vi.."


"Hm.. Udah mendingan lo?" balas Vivi tak mengalihkan pandangannya dari ponsel.


"Udah. Makasih ya." ucap Syasya.


"Buat?" memainkan ponselnya.


"Yang kemarin."


Pandangan Vivi langsung beralih menatap wajah Syasya. Diletakkannya ponselnya di atas meja.


"Nggak usah bilang makasih sama gue. Selaku sahabat, emang itu tugas gue buat belain lo. Jadi sekarang, lo lupain dia. Buktiin ke dia, kalo lo bisa tanpa dia. Oke?" ujar Vivi.


Syasya menganggukkan kepalanya. Ia langsung memeluk tubuh Vivi erat. Vivi pun juga membalas pelukan Syasya.


"Ekhem! Vivi, Syaqilla, mau sampai kapan pelukan kayak gitu?" ucap guru biologi mereka yang ternyata sudah ada di dalam kelas.


Guru biologi itu pun langsung menghentikan mereka, menyuruh mereka agar diam. Setelah kelas kembali tenang, pelajaran pun dimulai.


.


Jam menunjukkan pukul 2 siang. Para siswa-siswi berhamburan keluar kelas karena sudah saatnya bagi mereka untuk pulang.


Namun tidak dengan trio dalam kelas 11 IPA 4 ini. Mereka tak lain adalah Syasya, Vivi, dan Satria. Bukannya pulang, ketiganya malah sibuk berdebat.


"Nggak boleh! Kaki lo itu baru sembuh, Sya! Pokoknya lo nggak boleh ikut latihan basket!" tegas Vivi.


"Lo kok nggak percaya banget sama gue sih, Vi? Kaki gue itu beneran udah sembuh. Nih liat!" Syasya langsung memutar pergelangan kakinya. Ia bahkan juga melompat beberapa kali.


"Tuh, Vi. Syasya udah sembuh kok! Lagian kalo Syasya bisa ikut pertandingan minggu depan kan bisa bantu tim cewek biar menang.." ucap Satria membela Syasya.


"Ohh.. Jadi menurut lo kemenangan lebih penting dari keselamatan Syasya??" sinis Vivi.


"Nggak gitu juga maksud gue, Vi.. Akh!" Satria menjambak rambutnya sendiri.


"Vi.. Hm??" ujar Syasya memohon.


Vivi langsung menghela napasnya. Dengan sangat terpaksa, ia memperbolehkan Syasya untuk mengikuti latihan.


Ya, Vivi adalah manager tim basket putri SMA tersebut. Karena Syasya sudah bergabung dalam tim, keselamatan Syasya juga menjadi tanggung jawab Vivi sebagai manager.


Kebetulan minggu depan akan diadakan pertandingan basket se-Jakarta. Jadi mereka harus berlatih keras agar mampu mewakili sekolah mereka dan merebut medali kemenangan.


Syasya tentu saja merasa sangat antusias. Karena setelah sekian lama menanti kesembuhan kakinya, akhirnya ia bisa mengikuti latihan basket perdananya. Terlebih minggu depan akan ada pertandingan, membuat semangat Syasya semakin membara.


Mereka bertiga pun segera menuju ke lapangan basket untuk mulai berlatih. Sesampainya mereka disana, tampak para anggota tim basket baik putra maupun putri sedang melakukan pemanasan.


Satria segera bergabung dengan tim nya, sedangkan Syasya ia memilih untuk berganti pakaian terlebih dahulu.


Setelah selesai pemanasan, tim inti basket putra atau Satria cs segera memulai latihan mereka.


Disaat itu Syasya telah selesai berganti pakaian. Kini ia sudah memakai seragam basket SMA tersebut. Ia pun segera menghampiri Vivi yang tampak sedang berdiskusi dengan tim basket putri.


"Guys, kenalin, ini Syasya. Dan mulai sekarang dia bakal gabung sama kita di tim inti basket," jelas Vivi memperkenalkan Syasya.


"Bentar, Vi. Kok dia langsung gabung di tim inti sih?! Harusnya kan seleksi dulu lah..!" ujar Santi, salah satu anggota tim inti tak terima.


"Karena Syasya mampu. Plus waktu itu dia bisa menang lawan Nando." balas Vivi santai.


Semua yang ada disana langsung terkejut. Apa telinga mereka tak salah dengar? Mengalahkan Nando? Bahkan pemain dari sekolah lain pun tak bisa mengalahkan Nando.


"Tapi, Vi! Kita juga belum tau kemampuan dia kan? Bisa aja waktu itu dia lagi beruntung. Lagian, dia itu pendek!" ucap Santi menekankan kata pendek.


Syasya yang mendengar itu langsung tersenyum sinis. Ia terus memandangi wajah Santi yang terlihat familiar itu. Sesaat kemudian ia baru ingat. Bahwa Santi adalah temannya Dira, yang waktu itu hampir Syasya siram.


Ia langsung melangkah ke arah Santi. "Lo, temennya Dira yang waktu itu di kantin, kan?" tanya Syasya mendongak karena Santi lebih tinggi darinya.


"Kalo iya kenapa? Lo mau nyiram gue?!" jawab Santi nge-gas.


"Sebenernya pengen sih, karena lo udah ngeremehin gue. Tapi, berhubung gue lagi nggak bawa air, jadi kapan-kapan aja lah!" balas Syasya santai.


"Maksud lo apaan anj*ng?!!" seru Santi marah.


Disaat Santi sedang terbakar amarah, tiba-tiba sebuah bola basket melambung tepat ke arahnya.


Para pemain basket cowok pun langsung berteriak memperingatkan Santi agar menghindar.


"Awas!!" teriak mereka.


Mendengar itu Santi langsung menoleh. Kedua matanya melihat bola yang melambung ke arahnya itu. Namun bukannya menghindar, ia malah diam dan hanya memejamkan matanya.


Hap!


Santi tak merasakan sakit. Ia langsung membuka kedua mata. Ternyata sebelum bola tersebut mengenainya, kedua tangan Syasya langsung menangkap bola itu.


"Lo, tadi ragu sama kemampuan gue kan?" sinis Syasya pada Santi.


Syasya langsung melangkahkan kakinya dua langkah. Kini ia berdiri di luar garis lapangan basket putra, menghadap ke arah ring yang jauh di depan sana.


Kedua kaki Syasya langsung melompat, dan saat itu pula bola ia lambungkan ke arah ring putra.


Plung


Bola basket masuk ke dalam ring putra. Three point dari luar garis lapangan, berhasil membuat mereka semua ternganga. Bahkan Nando juga Radit si three pointer pun terkejut tak percaya. Baru kali ini mereka melihat three point dari jarak sejauh itu.


"Sekarang, apa gue udah pantes gabung ke tim inti kalian??"


.......


.......


...Makasih udah baca cerita ini. Jangan lupa kasih dukungan ya..🤗...