
Syasya duduk di salah satu bangku yang ada di depan minimarket tersebut. Di bangku sebelahnya, tampak seorang laki-laki duduk membisu. Radit lah yang tadi memanggilnya. Hening. Sedari tadi keduanya hanya diam. Tak ada yang membuka pembicaraan sama sekali.
"Gimana kabar kamu, Sya?" tanya Radit memecah keheningan.
Syasya tak langsung menjawab. Ada sedikit keraguan apakah keputusannya untuk kembali berbicara dengan Radit itu tepat. "Baik. Justru lebih baik dari dulu." ucap Syasya datar.
Radit tersenyum kecut. Ia tahu jika Syasya pasti masih membencinya. Hal itu dapat ia baca dari jawaban Syasya tadi. Terlebih kata 'dulu' yang Syasya ucapkan itu membuat Radit kembali teringat akan masa lalu mereka. Ia ingin kembali bersama Syasya. Perasaannya tidak pernah berubah sedikit pun hingga saat ini.
"Maaf. Maaf karena aku egois. Tapi aku nglakuin itu bukan karena kemauanku. Maaf." ucap Radit menyesal.
Namun Syasya kembali diam. Entah apakah ia mendengarkan perkataan Radit atau tidak. Namun hal itu tak membuat Radit putus asa. Sebisa mungkin, ia ingin kembali memperbaiki hubungannya dengan Syasya seperti sedia kala.
"Kanker otak. Waktu itu aku kena kanker otak."
Sontak Syasya menoleh ke arah Radit yang sedang menatap lurus ke depan. Ia tak menyangka laki-laki seperti Radit akan terkena penyakit mematikan tersebut. "Dan kamu nggak pernah cerita ke aku?"
Radit beralih menatap Syasya. Kedua mata mereka bahkan bertemu. "Karena aku nggak mau kamu sedih. Aku takut nggak bisa menang melawan penyakit ini, dan akhirnya aku pilih buat mutusin kamu. Maaf. Maaf karena aku terlalu pengecut. Tapi sekarang aku sudah sembuh-"
"Terus?" Syasya memotong ucapan Radit.
"Aku nggak pernah serius mutusin kamu. Aku masih sayang sama kamu dari dulu sampai sekarang. Jadi, tolong kasih aku kesempatan buat nebus semua kesalahanku sama kamu dulu. Izinkan aku buat bahagiakan kamu. Bisa?" ucap Radit penuh harap.
"Aku maafin kamu."
"Makasih-"
"Tapi maaf. Sekarang ada hati orang lain yang harus aku jaga. Aku nggak perlu kebahagiaan dari kamu. Aku nggak perlu kamu jaga. Yang aku perlu sekarang, tolong lupakan aku. Lupakan semua tentangku, semua tentang kita dulu." ucap Syasya tanpa melihat Radit.
"Maaf, aku harus pulang."
Saat Syasya sudah bangkit hendak pergi dari sana, tiba-tiba Radit memegang tangannya. "Apa orang itu Nando?"
Syasya melepaskan tangan Radit dari tangannya. Ia tak menjawab dan langsung melangkah pergi.
"Nando tau semuanya! Dia tau semua! Makanya aku minta dia buat jagain kamu!"
Deg!
Langkah Syasya seketika terhenti saat mendengar ucapan Radit barusan. Jika selama ini Nando tahu, mengapa tidak pernah cerita? Apa perasaan Nando padanya juga tidak nyata? Apa selama ini ia berbohong jika menyukainya? Semua pertanyaan itu seketika memenuhi kepala Syasya.
Syasya kembali menyadarkan dirinya. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun ia pergi meninggalkan Radit. Ia tak ingin mendengar apapun lagi. Yang ia ingin saat ini hanya kebenaran. Kebenaran dari mulut Nando sendiri.
......................
Hari berganti. Syasya berangkat ke sekolah sebelum Nando datang menjemputnya. Entahlah, pikirannya sedang kacau saat ini. Satu sisi ia marah pada Nando karena menyembunyikan sesuatu padanya, namun hati kecilnya ingin bertanya meminta penjelasan tentang apa yang sebenarnya terjadi.
Tepat saat bel istirahat berdering, ia langsung pergi ke toilet. Ia tahu jika Nando pasti akan datang ke kelasnya seperti biasa, maka dari itu ia memilih untuk bersembunyi di dalam toilet saja. Ia sengaja menghindari Nando. Mungkin ia sedang butuh waktu untuk sendiri.
Tiga menit sebelum waktu istirahat selesai. Syasya memutuskan untuk keluar dari toilet. Namun betapa terkejutnya ia saat membuka pintu toilet. Tepat di depan pintu toilet Nando berdiri menunggunya disana. Ia pun berjalan melewati Nando tanpa menghiraukannya sedikit pun.
"Lo kenapa sih, Sya? Dari kemarin lo itu aneh tau nggak? Gue chat nggak dibales, gue telpon nggak lo angkat. Lo sengaja ngindarin gue?"
Namun pertanyaan bertubi-tubinya itu tak mendapatkan respon dari Syasya. Syasya malah berjalan semakin cepat hendak pergi dari sana. Melihat hal itu, dengan terpaksa Nando menarik tangan Syasya.
"Kenapa sih, Sya?! Kalo gue ada salah lo ngomong dong Sya. Jangan cuma diem marah kayak gini?!" ucap Nando lagi.
"Lo pikir aja apa kesalahan lo!" tegas Syasya lalu melepaskan tangan Nando dari tangannya.
"Gimana gue bisa tau kalo lo nggak mau ngomong apa kesalahan gue, Sya. Jelasin ke gue.. "
"Kesalahan lo itu karena lo pembohong!" ucap Syasya penuh penekanan.
.
Guru matematika memasuki kelas. Seperti biasa, semua murid sudah duduk tenang di bangkunya masing-masing. Sungguh berlainan dengan kelas 12 IPA 4 atau kelasnya Satria and the geng, yang dari dulu hingga saat ini masih saja sulit diatur.
Guru itu menoleh kesana kemari saat mendapati bangku Nando yang kosong. Tak biasanya Nando terlambat masuk ke dalam kelas, terlebih sampai melewatkan jam pelajarannya.
"Kemana Abidzar? Nggak biasanya dia telat masuk. Davin?"
"Masih di toilet dia pak. Lagi diare." jawab Davin meyakinkan.
"Oo gitu. Ya sudah langsung saja kita mulai pelajarannya. Kalian buka buku paket halaman 127."
Pak guru memulai pembelajaran. Menuliskan beberapa rumus juga contoh soal. Meskipun terkadang murid 12 IPA 1 tak perlu dijelaskan secara rinci karena mereka mudah paham, namun Pak Guru tetap menjelaskan materi serinci mungkin.
Disaat Pak Guru sedang menulis di papan tulis, Davin memanfaatkan waktu tersebut untuk mengirim pesan pada Nando.
Kemana lo? Buruan balik, pelajaran udah mulai. Tadi lo dicari sama Pak Guru, gue bilang kalo lo lagi diare makanya telat masuk. >kirim
Ting
Sebuah pesan dari Davin masuk di ponsel Nando. Ia segera membaca pesan tersebut.
Oke, thanks. Entar gue balik. >kirim
"Lo bener, Sya. Gue emang bohong. Tapi tentang penyakit Radit, dia sendiri yang minta supaya orang lain jangan sampai tahu, temen-temennya, termasuk elo." Nando mulai menjelaskan pada Syasya.
Saat ini mereka berdua berada di rooftop. Tepatnya setelah perdebatan mereka di toilet tadi, Nando membawa Syasya ke rooftop untuk menjelaskan apa yang terjadi sebernarnya saat itu.
"Lo inget waktu kita di rooftop setelah pertandingan waktu itu? Waktu itu gue mau jujur sama lo, tapi tiba-tiba Radit datang dan dia tahu kalo gue mau kasih tau lo tentang penyakitnya. Dan akhirnya lo malah pergi duluan kan?"
Syasya kembali mengingat saat itu. Benar yang dikatakan Nando. Ia memang pergi duluan karena ia tak mau melihat Radit saat itu. Dan esoknya secara tiba-tiba Radit pindah ke luar negeri. Bahkan para sahabatnya pun tidak mengetahui kepindahannya saat itu.
"Terus apalagi yang lo sembunyiin dari gue? Nggak mungkin cuma itu," Syasya memasang raut tak suka.
Melihat itu justru Nando malah tersenyum. "Enggak. Gue udah jujur semuanya sama lo. Termasuk perasaan gue. Udah dari dulu malah kalo yang itu. Asal lo tau aja, kalo gue nggak pernah bohong soal perasaan."
Syasya terdiam membisu. Ada perasaan aneh dalam hatinya saat mendengar ucapan Nando tadi.
"Karena.. soal rasa tak pernah bohong."
Syasya merasa sangat familiar dengan ucapan Nando barusan. Setelah ia ingat-ingat, ternyata benar ia memang sering mendengar kalimat tersebut.
"Yeee!! Itu mah iklan kecap!!" ucapnya sambil memukul lengan Nando.
"Ehh?! Jam berapa sekarang?! Kita udah telat masuk kelas?!!" Syasya baru sadar jika jam istirahat sudah berakhir sejak tadi.
"Biarin aja sih. Emang kenapa kalo telat masuk kelas?" ucap Nando santai.
"Ya berarti kita ketinggalan pelajaran lah, b*gee!!"
"Gue mah udah pinter, ketinggalan pelajaran juga bisa belajar sendiri. Lagian juga gampang, cuma matematika!"
Ingin rasanya Syasya mendorong Nando dari rooftop. Bisa-bisanya matematika dibilang gampang.
"Iya, enak lo udah pinter! La gue? Udah b*ge yang ada tambah b*ge kalo sampai nggak ikut pelajaran!!"
Keduanya diam, lalu tertawa bersama. Setelah mendengar penjelasan Nando, Syasya kini sudah merasa lebih baik. Dan satu yang penting, ia tak bisa menyalahkan Nando sepenuhnya karena merahasiakan penyakit Radit. Saat Syasya pikirkan kembali, seharusnya ia juga tak perlu marah pada Nando, toh ia juga sudah melupakan Radit. Radit hanyalah bagian dari masa lalunya. Tentu ia harus melupakan masa lalu yang menyakitinya untuk menyambut masa depan yang akan menghadirkan tawa.
.......
.......
...Maaf baru up sekarang🙏. Makasih udah baca cerita ini. Jangan lupa kasih dukungan ya..🤗...