
..."Jangan bohong. Karena gue nggak suka pembohong."...
...----------------...
.......
Mendengar suara itu, Nando langsung menghentikan permainan basketnya. Ia lantas menghampiri pemilik suara itu yang tak lain adalah Syasya.
"Maksud lo apa?" tanya Nando datar pada Syasya.
"Iya. Pacar lo ini, udah ngusik gue sama sahabat gue! Mending lo urus dia biar nggak gangguin orang lain! Kalau perlu, lo krangkeng dia!" Syasya langsung menarik Vivi, mengajaknya pergi dari sana.
Merasa tidak enak pada Nando atas apa yang tadi diucapkan oleh Syasya, Satria langsung meminta maaf pada Nando.
"Sorry ya, Ndo. Lo tau kan Syasya itu orangnya emang kayak gitu.. Maklumi aja ya.." ucap Satria. Nando hanya menghela napasnya saja.
"Woi, bang Sat! Lo mau ikut kita, apa mau tetap disini?!" sentak Vivi mengejutkan Satria.
"Duluan, Ndo!" Satria langsung menyusul langkah Syasya dan Vivi.
Nando hanya menatap kepergian mereka bertiga. Tatapannya kini beralih, melirik Dira yang masih berdiri di sampingnya. Menatap dirinya dengan tatapan yang membuat Nando jijik.
"Nan-"
"Pergi! Nggak usah ganggu gue." potong Nando datar. Ia langsung melangkah meninggalkan Dira yang masih berdiri disana.
.
.
Tett.. tett.. tett..
Bersamaan dengan jam istirahat, akhirnya Syasya, Vivi, dan Satria telah menyelesaikan hukuman dari Pak Jarot.
"Fyuhh! Akhirnya.." ucap ketiganya merasa lega.
Mereka bertiga langsung menjatuhkan diri di atas rerumputan taman belakang sekolah. Membaringkan tubuh mereka yang sudah merasa sangat lelah itu.
"Capek.."
"Haus.."
"Gue butuh airr.."
Rengek Syasya, Vivi, dan Satria kelelahan dan kecapekan.
"Syasya!" seru seseorang langsung menghampiri Syasya yang masih berbaring diatas rumput.
Sontak Syasya yang dipanggil langsung mendudukkan tubuhnya. Menatap pemilik suara tadi yang tak lain adalah Radit.
"Maafin gue ya. Gara-gara gue ngajak ke pasar malam, sekarang lo jadi kena hukuman.." ujar Radit dengan gurat penyesalan yang terukir jelas di wajah tampannya.
"Iya. Lagian juga bukan salah lo kok! Salah gue karena bangunnya kesiangan," balas Syasya membenarkan.
Seketika wajah Radit tampak kembali senang. "Ini buat lo, Sya. Lo pasti capek dan haus kan?" ucap Radit menyodorkan sebotol minuman dingin.
Dengan senang hati Syasya menerimanya. "Makasih!" ucap Syasya dan langsung meneguk minuman tersebut. Rasanya ia sangat beruntung bisa memiliki Radit, sosok yang sangat baik dan perhatian.
Vivi dan Satria menatap interaksi antara Syasya dan Radit dengan iri. Terlebih si Satria. Ia adalah sahabatnya Radit, tapi kenapa hanya Syasya yang diberi minuman.
"Jahat lo, Dit! Masa cuma Syasya yang dikasih minum! Gue kan juga haus. Lo tega bener dah sama sahabat sendiri, hiks!" ucap Satria mendramatisir.
"Yee.. Kan Syasya pacar gue! Masa nggak gue perhatiin." balas Radit. Namun tanpa ia tahu, ucapannya itu ternyata membuat wajah Syasya langsung merona.
Merasa wajahnya memanas, Syasya langsung menoleh ke sembarang arah. Ia pun kembali meminum minuman dingin agar wajahnya tak memanas lagi.
"Kalo gitu.. Dit, gue cinta sama lo! Lo mau kan jadi pacar gue?" ucap Satria dengan nada dibuat serius.
Byurrr
"Uhuk! Uhuk! Uhuk!!" Syasya langsung tersedak saat mendengar perkataan gila Satria.
"Lo nggak papa, Sya?" tanya Radit panik. Namun dengan cepat Syasya langsung menjawabnya dengan anggukan kepala.
Ctakk
Sebuah jitakan langsung mendarat di kepala Satria. "Emang sedeng ya lo?!"
Satria langsung mengelus kepalanya yang dijitak oleh Vivi. Sakit? Tentu! Tapi ia sudah terbiasa merasakannya. Meskipun begitu ia tak pernah marah sedikit pun pada Vivi.
"Gue masih waras kali, Sat! Ogah amat! Gue kan udah punya Syasya!" tutur Radit.
Lagi-lagi wajah Syasya merona bak kepiting rebus. Nyess.. Sebotol minuman dingin menempel di pipi Syasya. Radit ternyata pelakunya. Kali ini Syasya benar-benar dibuat meleleh oleh perhatian Radit.
Disaat itu pula, Nando dan Davin datang sambil meminum sekaleng soda dingin. Satria yang melihat itu, dengan gerakan kilatnya langsung merebut soda yang sedang diminum Davin.
Namun baru saja Satria hendak meminumnya, tiba-tiba soda tersebut sudah berpindah ke tangan Vivi. Karena sudah sangat kehausan, Vivi langsung menenggaknya hingga tak tersisa.
Nando yang sudah jengah melihat tatapan Satria, dengan terpaksa memberikan minumannya.
"Thanks, Ndo! Lo emang sahabat terbaik gue. Nggak kayak si kapten yang pilih kasih itu. Mentang-mentang udah punya pacar, sahabat sendiri dilupain.." cibir Satria merajuk.
Sontak tatapan Nando menatap Syasya dan Radit yang duduk bersebelahan. Syasya yang melihat itu, langsung melempar tatapan tajam kepada Nando. Apa lo liat-liat?! Itulah makna tersirat dari tatapan Syasya pada Nando.
Terukir senyuman jahil di wajah Nando. Ia langsung mengedipkan sebelah matanya kepada Syasya. Membuat Syasya seketika terbengong tak percaya.
......................
Hari telah berlalu. Tak terasa sudah satu minggu Syasya dan Radit menjalin hubungan. Vira, yang merupakan fans fanatik Radit, tak pernah mengganggu Syasya. Entah karena tak berani atau apa, yang jelas hubungan Syasya dan Radit berjalan tanpa adanya pengganggu.
Sabtu ini, Syasya dan Radit berencana untuk pergi jalan-jalan. Kebetulan Dito sedang tidak di rumah, jadi Syasya bisa bebas pergi. Syasya kini sudah siap dengan pakaian kasualnya, ia lantas menghubungi Radit.
Selama beberapa menit, Syasya menunggu Radit di depan rumah. Tak lama kemudian, Radit pun sampai dengan motornya.
Dahi Syasya mengernyit saat melihat motor yang digunakan oleh Radit.
"Tumben pake vespa. Ninja nya rusak?" tanya Syasya heran.
"Enggak. Sengaja aja, biar makin romantis, hehe.." balas Radit cengengesan.
Syasya langsung memukul lengan Radit perlahan. "Emang ngaruh?" ujarnya lalu menaiki motor vespa itu. Tak lupa, ia memakai helm yang sudah dibawa oleh Radit.
Radit pun segera melajukan vespa nya dengan perlahan. Tujuan jalan-jalan mereka yang pertama adalah ke toko buku.
Sebenarnya Syasya tak berminat dengan buku, tapi Radit lah menyukai buku. Karena tak mau egois, Syasya setuju saja diajak ke toko buku oleh Radit.
Mereka berdua telah sampai di toko buku. Radit segera mencari buku-buku yang ia butuhkan untuk persiapan ujian. Sedangkan Syasya memilih untuk melihat-lihat novel.
Sangat banyak novel yang berjejer disana. Dari yang Syasya lihat, kebanyakan novel disana merupakan karya Tere Liye. Namun tak sedikit pula novel karya penulis lainnya.
Mata Syasya tertuju pada sebuah novel. Ia lalu mengambil novel tersebut. Setelah membaca sinopsisnya, muncul ketertarikan dalam benak Syasya.
"Lo mau itu, Sya?" tanya Radit melihat Syasya memegang novel tersebut.
"Ah? Enggak, cuma liat doang!" bohong Syasya. Ia langsung mengembalikan novel tadi ke tempat semulanya. "Gue tunggu di depan aja ya!" Syasya berlalu keluar.
Syasya menunggu di depan toko buku. Beberapa saat kemudian, Radit keluar dengan membawa beberapa buku di tangannya.
"Nih, buat lo!" Radit langsung memberikan novel yang tadi Syasya lihat.
"Eh?" bingung Syasya.
"Anggep aja hadiah dari gue. Gue kan belum pernah ngasih lo hadiah.." ujar Radit.
"Makasih!" seru Syasya senang.
Mereka berdua pun segera pergi dari sana. Tujuan mereka berikutnya adalah bioskop.
.
Film telah diputar. Kedua manik Syasya fokus menatap film tersebut. Sedangkan tangannya fokus memasukkan popcorn ke dalam mulutnya.
Tiba-tiba ia merasakan berat di pundaknya. Setelah ia menoleh, ternyata Radit tertidur dengan bersandar di pundaknya.
Mungkin dia kecapekan..
Syasya pun membiarkan Radit tetap dalam posisinya. Ia memilih untuk kembali fokus pada film tadi.
Dua jam berlalu. Film yang diputar kini telah selesai. Syasya pun mencoba untuk membangunkan Radit.
"Dit, bangun.." bisik Syasya sambil menepuk pipi Radit perlahan.
Radit langsung terbangun dari mimpinya. Ia tampak kebingungan melihat suasana yang sangat sepi itu.
"Film nya udah selesai. Mau langsung pulang apa gimana?" tanya Syasya.
"Em.. Kita makan siang dulu aja gimana?" ajak Radit dan langsung disetujui Syasya.
Mereka berdua lantas bangun dari duduk. Namun entah mengapa pandangan Radit tiba-tiba memburam.
"Kenapa?" tanya Syasya saat melihat Radit hanya berdiri diam.
"Eh! Em.. Nggak papa!" jawab Radit tersenyum.
Syasya terdiam. Maniknya mencari kejujuran di wajah Radit.
"Jangan bohong. Karena gue nggak suka pembohong."
.......
.......
...Makasih udah baca cerita ini. Jangan lupa kasih dukungan ya..🤗...