
..."Jangan terlalu benci, karena dari benci nanti bisa jadi cinta"...
...----------------...
.......
*Di rumah Nando*
Nando telah sampai dihalaman rumahnya. Setelah memarkirkan motor kesayangannya, ia segera masuk ke dalam rumah.
"Assalamu'alaikum," Nando mengucap salam saat memasuki rumah. Namun tak ada jawaban dari siapa pun.
Tampak seorang wanita paruh baya yang duduk di sofa ruang tamu sedang asyik menelpon seseorang.
"Oh, ya?! Alhamdulillah kalau begitu. Aku turut senang, ya, Mba!"
"...."
"InshaAllah, Mba, kami sekeluarga bakal datang ke Bandung. Sekali lagi selamat ya, Mba!"
"...."
"Wa'alaikumsalam," wanita itu mengakhiri telponnya.
Nando langsung mengendap-endap menghampiri wanita tersebut. "Dorr!!"
Sontak wanita itu langsung terkejut bukan main.
"Astagfirullah..! Ngagetin aja sih kamu! Untung jantung bunda nggak copot!" omel wanita tersebut langsung memukul lengan Nando.
Kirana Rahmawati (42 th), ibunda Nando, lembut dan penyayang.
Nando langsung terkekeh. Ia pun duduk di samping bundanya itu. Tanpa ba-bi-bu, ia meletakkan kepalanya dipangkuan Kirana.
Ya, Nando memang seorang yang kelewat dingin. Namun hal itu tidak berlaku untuk orang-orang tersayangnya. Es yang ada pada dirinya akan langsung mencair saat ia bersama orang yang disayanginya.
"Bukannya ucap salam, malah ngagetin bunda!" cibir Kirana.
"Tadi udah, tapi bunda aja yang nggak denger!" balas Nando.
"Masa?! Kalo gitu, Wa'alaikumsalam.." ucap Kirana.
Nando kembali terkekeh. Entahlah, namun rasanya hatinya kini sedang dalam kondisi sangat senang.
"Oh ya! Gimana pertandingan tadi??" tanya Kirana, mengusap rambut Nando lembut.
"Biasalah! Pasti menang! Siapa dulu centernya.." sombong Nando.
"Iya dehh,, anak bunda itu emang pro player. Ya udah kamu mandi dulu sana! Bauu!!" Kirana langsung menutup hidungnya.
Sedangkan Nando tentu saja langsung merengut. Dengan langkah gontai, ia menuju ke kamarnya untuk mandi.
......................
Nando sudah memakai pakaian santainya. Dan saat ini ia merasa sangat gabut, bingung harus melakukan apa.
Ia membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Kedua matanya terpejam. Tiba-tiba terlintas di pikirannya kejadian tadi.
Flashback on
Syasya mulai mendekati ring dengan terus mendribble.
"Hufftt...!" Syasya berlari, dan langsung melompat sekuat tenaganya.
plung..!
Nando tak berkutik sedikit pun. Jujur, baru kali ini ia melihat lompatan setinggi itu. Kedua matanya bahkan tak berkedip, menatap Syasya yang saat ini masih menggantung di ring basket.
Namun entah apa yang terjadi pada Syasya, tiba-tiba tangannya terlepas dari pegangannya. Ia langsung memejamkan matanya.
Nando yang baru sadar dari lamunannya melihat Syasya yang akan terjatuh. Reflek ia langsung menangkap tubuh mungil Syasya.
Syasya yang tidak merasakan sakit langsung membuka matanya. Membuat tatapan mereka bertemu. Cukup lama mereka saling menatap. Hingga sebuah suara berhasil menyadarkan keduanya.
"Lo nggak papa, Sya?!" tanya Radit yang entah sedari kapan sudah ada di samping mereka.
Brukk!!
Dengan mudahnya Nando langsung menjatuhkan tubuh Syasya. Membuat Syasya meringis kesakitan tentunya.
"Aww!!! Sakit bege!!" umpat Syasya kesakitan.
Namun Nando tak memperdulikan umpatan Syasya. Dengan ekspresi datarnya, ia langsung pergi dari tempat itu. Meninggalkan teman-temannya juga Syasya yang masih senantiasa mengumpati dirinya.
Flashback off
Nando meraih ponselnya yang ada di atas nakas. Membaca pesan whatsapp dari grub yang beranggotakan dirinya, Davin, dan Satria.
...//Trio Cogan//...
*Satria
P
P
P
P
Cuyy
Sepi amat sehh
P
P
P
*Davin
Berisik bang Satt!!
*Satria
Ya allah.. akhirnya ada
makhluk lain selain diriku
yg tamvan ini🥺🥺
*Davin
Diem lu kampret!
Jijik gue!!
*Satria
😐🤐
^^^*Anda^^^
^^^Woi, gabut nih gue^^^
*Satria
Ke kafe XX
Nyari cewek😁
^^^*Anda^^^
^^^Oke, gue otw^^^
*Davin
Tangan gue lagi sakit
Gak bisa naik motor gue
*Satria
Sans, babang Satria yang
tamvan ini akan menjemput
saudara Davin😎
*Davin
👍👍
.
Nando langsung memakai jaketnya. Hanya butuh waktu lima menit, ia kini sudah berpenampilan kece. Tak perlu heran, orang tampan mau cuma pake kaos mah juga bakal tetep tampan.
"Bun, Nando main sama temen-temen dulu yah.. Nanti jam 8 pulang," pamit Nando seraya mencium punggung tangan Kirana.
"Ya.. Hati-hati di jalan. Nggak usah kebut-kebutan.." balas Kirana mengingatkan.
Nando mengangguk patuh. "Assalamu'alaikum!"
"Wa'alaikumsalam!"
......................
"Syasya mau ikutt..! Boleh ya, Kak?" rengek Syasya pada Dito. Ia terus mengikuti langkah Dito, berharap diizinkan untuk ikut.
"Izinin Syasya ikut, atau Syasya bakal lompat-lompatan, bakal lari-larian! Biar nanti kaki Syasya tambah parah, terus nanti kakak yang dimarahin abi sama umi karena nggak bisa jagain Syasya!?" ancam Syasya.
Syasya hanya mengancam sebenarnya. Tak mungkin ia akan melakukan hal yang bisa membuat kakinya makin memburuk lagi. Ia tentunya tak mau kakinya bertambah parah, karena ia masih ingin bermain basket.
Dito menghela napas kasar. Oke, ia kalah dalam perdebatan kali ini melawan adik kecilnya itu. Dengan terpaksa ia mengangguk, mengizinkan Syasya untuk ikut bersamanya.
Rencananya, Dito akan bertemu dengan teman perempuannya di sebuah kafe. Eh, teman atau gebetan? Gebetan lah! Kalo cuma teman Dito mana mau!
"Tapi nanti kamu jangan malu-maluin kakak ya! Diem aja! Jangan rusuh!" tegas Dito.
Syasya langsung mengangguk gembira. Ia langsung ke kamarnya, mengganti pakaiannya.
.
.
Sekitar dua puluh menit perjalanan mereka. Kini mobil Dito sudah berhenti di depan salah satu kafe. Mereka berdua pun segera turun dan memasuki kafe tersebut.
Dito tampak celingukan mencari seseorang. Tampak seorang perempuan melambaikan tangan ke arahnya. Dito pun langsung menarik tangan Syasya untuk menghampiri perempuan tadi.
"Maaf, udah dari tadi ya?" Dito langsung duduk berhadapan dengan perempuan tadi.
"Enggak, aku baru sampai juga kok!" jawab perempuan itu. "Ini?" menunjuk Syasya.
"Oh iya, kenalin. Ini adik aku yang paling kecil." ucap Dito.
"Ohh.. Ini Syasya ya?! Kenalin aku Nabila, temennya kakak kamu.." Nabila menjulurkan tangannya.
Nabila Dea Syakira (25 th), cantik, sholehah, dan ramah. Dia dokter di rumah sakit tempat Dito bekerja saat ini.
Syasya membalas jabatan tangan Nabila sambil tersenyum ramah. Ia pun ikut duduk.
Beberapa menit telah berlalu, dan Syasya hanya duduk bosan disana. Menjadi obat nyamuk untuk kakaknya dan gebetannya.
'Tau gini mending gue nggak ikut! Nyebelin ih!!' batin Syasya kesal.
Tiba-tiba pandangan Syasya menangkap dua sosok yang dikenalnya baru saja masuk ke dalam kafe tersebut.
"Emm.. Kak! Itu ada temen Syasya disana. Syasya boleh gabung mereka aja nggak?" mohon Syasya. Ia sudah muak menjadi obat nyamuk disana.
"Boleh.. Boleh.." balas Dito. Ia sebenarnya juga risih jika ada adiknya. Pengganggu menurutnya.
Senyuman langsung mengembang di wajah cantik Syasya. "Woi, bang Sat!!" teriak Syasya memanggil Satria yang baru saja masuk.
Sontak mata Dito dan Nabila langsung membulat terkejut saat mendengar ucapan Syasya.
Syasya yang baru sadar dengan yang ia ucapkan langsung membungkam mulutnya rapat-rapat. Tak mau menjadi pusat perhatian pengunjung lainnya, Syasya langsung menghampiri Satria.
"Maafin adik aku ya.. Dia itu emang kalo ngomong nggak di filter dulu.." ucap Dito malu dengan tingkah adiknya itu.
Sedangkan Nabila, ia hanya terkekeh mendengar itu.
.
Syasya kini sudah duduk dengan Satria juga Davin. Setidaknya ini lebih baik daripada harus jadi obat nyamuk. Itulah yang ada di benak Syasya.
"Btw, lo ngapain disini, Sya? Cari cogan yak?" ledek Satria terkekeh.
"Cogan pala lo! Ya enggaklah! Gue itu ke sini bareng kakak gue. Gue kira kan cuma mau nongkrong aja kan kakak gue. Ehh.. ternyata dia bawa gebetannya! Ya gue ogah lah jadi obat nyamuk!" curhat Syasya. "Mending gue sama kalian kan?!" sambungnya.
Karena sudah haus dan lapar, Syasya pun memilih untuk memesan.
"Kalian nggak pesen?" tanya Syasya.
"Kita nanti aja. Ya nggak, Vin?"
Davin hanya membalas ucapan Satria dengan anggukan.
Tak lama kemudian, pesanan Syasya datang. Karena ini pertama kalinya ia ke kafe tersebut, ia pun langsung mencicipi pesanannya.
Syasya langsung meminum minumannya. "Uhukk!" Syasya langsung tersedak saat melihat seseorang yang sangat ia benci datang.
Tampak Nando datang menghampiri mereka. Membuat Syasya langsung bangkit dari duduknya.
"Eh, mau kemana, Sya??" tanya Satria.
"Balik! Males gue kalo ada tiang listrik disini! Ngerusak pemandangan!" sinis Syasya melirik Nando.
Satria langsung menahan tawa nya agar tidak pecah disana. Seorang Nando, dipanggil tiang listrik? Sungguh hal yang belum pernah terjadi selama ini.
"Sya, gue boleh ngasih saran nggak ke elo?" tanya Satria. "Jangan terlalu benci, karena dari benci nanti bisa jadi cinta lho.." sambungnya meledek.
"Cinta pala lo!" seru Syasya dan langsung meninggalkan mereka bertiga.
.......
.......
...Makasih udah baca cerita ini. Jangan lupa kasih dukungan ya..🤗...