Love, 35 Cm

Love, 35 Cm
Chapter 29



..."Benci sama cinta itu beda tipis. Jadi kita harus hati-hati bedainnya"...


...----------------...


.......


Cukup lama Syasya pergi dan hingga sekarang belum juga kembali. Hal ini tentu saja membuat Vivi sedikit cemas. Padahal pertandingan mereka satu jam lagi, dan mereka harus mulai menyusun strategi agar bisa mengalahkan lawannya nanti.


Nando telah mencari keberadaan Syasya dimana-mana, namun ia belum juga menemukannya. Ruang ganti, bahkan toilet perempuan ia masuki satu-persatu, tapi hasilnya nihil.


"Bego! Kenapa gue nggak telpon dia aja?!" ucap Nando pada dirinya sendiri. Ia lantas langsung menelpon Syasya.


Telpon tersambung, namun tak diangkat oleh Syasya. Nando pun terus mencari Syasya sambil menelponnya.


Sementara itu, di sebuah taman yang ada di luar, Syasya sedang duduk bersantai. Ponselnya sedari tadi berdering. Namun saat Syasya melihat nama 'Tiang listrik' tertera di layar ponselnya, ia enggan untuk mengangkatnya.


Hingga tiba-tiba terdengar suara langkah yang menuju ke arahnya. Tapi Syasya tak menghiraukan itu.


Ponsel Syasya berhenti berdering. Syasya langsung melirik ponselnya yang sudah diam itu. Dan saat itu pula tiba-tiba Nando sudah duduk di sebelahnya.


"Duduk dulu napa, sih? Baru juga gue dateng. Capek tau nyariin lo. Mana ditelpon nggak diangkat lagi," ucap Nando saat Syasya bangkit hendak pergi.


Syasya memutar mata malas. Ia lantas kembali duduk, namun agak memberi jarak antara dia dan Nando.


"Kalo capek ngapain nyari gue? Gue juga nggak nyuruh lo," ketus Syasya.


"Lo emang nggak nyuruh gue, tapi hati gue yang nyuruh gue buat cari lo," ucap Nando.


Mendengar ucapan Nando, Syasya langsung berdecih, memutar mata malas.


"Lo mau nggak-"


"Mau nembak gue lagi? Emang lo nggak capek apa?" potong Syasya seakan tahu apa yang hendak Nando katakan.


"Lo gimana? Emang lo nggak capek apa nolak gue terus?" Nando balik bertanya.


Merasa terjebak dengan perkataannya sendiri, Syasya langsung terdiam. Hingga lima menit keduanya menjadi diam tak bergeming.


"Abis lo itu aneh!" ucap Syasya memecah keheningan.


"Dulu aja lo benci banget sama gue, suka ngeremehin gue karena pendek. Lah, sekarang? Tiba-tiba aja sikap lo berubah." Syasya menatap Nando heran.


"Kalo kata orang, benci sama cinta itu beda tipis. Jadi kita harus hati-hati bedainnya. Dan menurut gue, itu nggak berlaku buat lo. Karena benci gue ke lo itu beda. Benci gue bukan karena nggak suka sama lo, tapi karena benar-benar cinta sama lo."


Nando menatap Syasya yang tampak menahan tawa saat mendengar ucapannya itu.


"Tapi ya, kata orang lo itu kayak kutub. Dingin banget, apalagi kalo sama cewek," ucap Syasya masih menahan tawa.


"Kalo itu emang bener. Gue emang nggak suka deket-deket sama cewek. Mereka itu kayak permen karet. Lengket banget, nggak mau lepas. Secara gue kan ganteng, jadi mereka maunya nempel terus sama gue," ucap Nando dengan percaya diri.


"Ihh.. Pede banget lo, njir!" ucap Syasya.


"Tapi ya, Sya. Menurut gue lo itu beda dari mereka semua. Lo itu ibaratnya kayak matahari. Matahari yang berhasil mencairkan si kutub yang dingin itu."


"Cih! Mulut lo emang manis banget ya! Saking manisnya sampai nggak cocok disebut kutub. Tau nggak, menurut gue lo itu lebih cocok dipanggil buaya daripada kutub!" ejek Syasya menahan tawa.


"Kalo buat lo, gue pun rela jadi buaya," ucap Nando asal.


"Beneran??" tanya Syasya memastikan.


"Eh, enggak ding. Nanti kegantengan gue ilang lagi!" Nando menarik kata-katanya tadi.


"Wahahaha..!"


Tawa Syasya langsung pecah. Tak menyangka ternyata orang yang disebut kutub bisa sekonyol itu. Air mata bahkan keluar di sudut mata Syasya, saking tergelaknya dengan ucapan Nando.


"Huh! Udah ah! Sakit perut gue ketawa terus. Gue balik dulu. Udah mau mulai tandingnya." ucap Syasya langsung beranjak berdiri.


"Eh bentar, Sya!" ucap Nando menghentikan langkah Syasya.


Syasya langsung berhenti. Menatap Nando yang membungkukkan badannya seperti mengambil sesuatu di tanah. Nando lalu mendekati Syasya.


"Coba dibalik," pinta Nando sambil mengulurkan kepalan tangannya.


Syasya hanya menurut, dan langsung membalik kepalan tangan Nando. Dan saat itu, ibu jari dan telunjuk Nando langsung menyilang, membentuk tanda 'love'.


"Love you," ucap Nando tersenyum.


Syasya menggeleng-gelengkan kepala, terkekeh mendengar hal itu.


"Love you too," balas Syasya melangkah agak menjauh dari Nando. "Tapi bo'ong!!" sambungnya menjulurkan lidahnya. Ia pun langsung berlari pergi dari sana.


"Sekarang lo emang belum bisa nerima gue. Tapi suatu saat nanti, pasti lo akan nerima gue." Nando melangkahkan kakinya untuk kembali ke bangku penonton. Ia tentu tak mau melewatkan pertandingan Syasya.


.


Prittt


Tanpa basa-basi Syasya langsung menyerang. Mendribble bola ke daerah lawan dan disusul oleh Dea.


Namun lawannya tak membiarkan Syasya mendekati ring. Ia langsung menghalangi langkah Syasya.


Tapi hal itu tak membuat Syasya gentar. Ia semakin mempercepat dribble nya. Dan disaat lawan dihadapannya itu lengah, ia langsung mengoperkan bolanya ke Dea.


Dea yang sudah bersiaga di garis three point langsung melompat, menembakkan bola ke arah ring.


Plung


Three point mengawali permainan mereka.


"Nice!" Syasya dan Dea langsung tos.


Lawan memenangkan rebound. Mereka langsung melakukan serangan balik.


Plung


Tim lawan berhasil mencetak poin. Skor 3-2 di menit pertama ini.


"Jangan bangga dulu, karena kita nggak akan biarin kemenangan jatuh di tangan kalian," ucap tim lawan bernama Leni itu.


.


Memasuki kuarter keempat, atau sepuluh menit terakhir. Kedudukan saat ini 38-37, atau tim Syasya unggul satu poin.


Meskipun lebih unggul, mereka belum boleh bersantai karena tim lawan melakukan serangan terus menerus. Mereka bahkan tak diberi kesempatan untuk melakukan serangan balik.


Plung


Lea berhasil memasukkan bola ke dalam ring. Membuat keunggulan kini berbalik ada di tangan Lea dan beserta timnya.


Lita tampak melamun. Terus kebobolan membuat ia kurang fokus. Hal ini tentu disadari oleh Vivi, sang manager. Ia lantas meminta time out kepada wasit.


Pritt


Syasya, Dea, Santi, Cika, dan Lita segera menghampiri Vivi yang tampak duduk. memikirkan sesuatu.


"Maaf guys," ucap Lita menundukkan kepalanya.


Semuanya langsung menoleh menatap Lita.


"Gara-gara gue, kita jadi ketinggalan satu poin.." sambungnya masih menunduk.


"Kalo aja gue lebih becus nanganin mereka, kita nggak bakal kalah kayak gini."


Plak


Satu tamparan langsung mendarat di pipi Lita yang masih menunduk itu. Sontak ia langsung memegang pipinya.


"Sekali lagi lo bilang kita kalah, gue tonjok muka lo!" ancam Santi setelah menampar pipi Lita.


"Udah, San! Duduk lo!" titah Vivi.


Dengan keadaan masih kesal, Santi langsung duduk di bangku belakangnya.


"Maafin Santi, ya? Lo tau kan kalo dia itu nggak mau dengar kata kalah?" ucap Vivi memperingati Lita.


"Lagian ya, Lit. Lo nggak boleh ngomong gitu. Kita kan belum kalah. Cuma ketinggalan satu poin juga, bisalah nanti kita bales berkali-kali lipat!" ucap Syasya.


"Iya, Lit. Lo jangan patah semangat gitu dong..!" tambah Cika.


"Menang?" ucap Dea sambil mengulurkan tangannya.


Cika langsung memegang punggung tangan Dea. Diikuti oleh Vivi, lalu Syasya, dan Lita. Hanya Santi yang belum karena masih kesal.


"Ayolah, San.." pinta Vivi.


Dengan malas, Santi pun menumpukkan telapak tangannya dengan telapak tangan Lita.


"MENANG!!!!" sorak mereka semua bersemangat.


Prittt


.......


.......


...Makasih udah baca cerita ini. Jangan lupa kasih dukungan ya..🤗...