Love, 35 Cm

Love, 35 Cm
Chapter 06



..."Gue nggak bakal biarin siapa pun ngeremehin gue hanya karena kekurangan gue."...


...----------------...


.......


Brukk!!


Pritttt..!!


Pertandingan langsung dihentikan di 1 menit terakhir. Semua orang tentu tau, bahwa tim lawan melakukan pelanggaran.


"Ah!!" teriak Davin kesakitan. Pasalnya ia jatuh dan tertimpa tubuh lawan yang menyenggetnya tadi. Terlebih tangan kanannya kini terasa sangat sakit.


"Bangsat! Sengaja dia nyengget Davin! Dasar brengsek! Suka main kasar!" seru Vivi murka, membuatnya menjadi pusat perhatian orang di sekitarnya.


Sementara itu, tim medis langsung memeriksa Davin. Dan dapat mereka pastikan bahwa Davin mengalami fraktura. Hal ini tentu mengharuskan Davin untuk rehat sementara waktu demi pemulihan tulangnya.


"Brengsek! Lo sengaja, kan?!" marah Satria langsung mencengkeram kaos pemain yang berani mencelakai sahabatnya itu.


Namun pemain itu hanya tersenyum sinis. Membuat Satria semakin murka, tak mampu menahan emosinya. Satu pukulan siap ia layangkan sekarang juga. Namun belum sempat pukulan itu mendarat, Nando langsung menyeret Satria.


"Apalagi sih, Ndo?! Kita harus bales anj*ng nggak tau malu itu!!" marah Satria.


"Kita bales, tapi dengan basket!" ucap Nando mutlak. Ia lantas meninggalkan Satria, pergi menghampiri Davin untuk melihat kondisinya.


Satria tak bisa membantah. Terpaksa ia meredam amarahnya.


......................


Pertandingan telah berakhir. Kemenangan jelas ada di tangan tim Radit cs. Karena tadi terjadi pelanggaran, maka mereka mendapat kesempatan untuk melakukan free throw.


.


Bangku penonton berangsur sepi. Radit dan tim nya kini masih ada di lapangan basket. Sekedar untuk beristirahat, membuang rasa lelah yang hinggap di tubuh mereka.


"Dit, nih buat lo! Lo pasti capek banget kan??" Vira menyodorkan sekaleng minuman dingin pada Radit.


Radit pun menerimanya. Tentu saja membuat senyum Vira langsung merekah di wajahnya. Namun seketika senyuman itu langsung pudar saat melihat Radit melemparkan pemberiannya kepada Anton.


"Eh? Buat gue??" tanya Anton bingung.


"Gue nggak minum begituan!" ucap Radit bangkit dari duduknya. Melihat dua gadis yang masih setia duduk di bangku penonton.


Radit melambaikan tangannya, memanggil kedua gadis itu yang tak lain adalah Syasya dan Vivi. Merasa dipanggil, mereka berdua pun langsung menghampiri Radit.


"Kak Radit manggil kita?" tanya Vivi.


"Ya iyalah. Kan cuma ada kalian disana. Ya kali gue manggil setan yang pada lagi arisan itu!" jawab Radit bercanda.


Keduanya langsung tertawa mendengar candaan garing Radit tadi.


Sementara Vira? Tentu saja ia terbakar api cemburu. Kebenciannya pada Syasya kian bertambah, semenjak insiden pagi tadi. Dengan perasaan emosi, ia pun memutuskan untuk pergi dari sana.


"Menurut kalian gimana? Bagus nggak kita mainnya?" tanya Radit basa-basi.


"Emm.. Bagus kok! Cuma-"


"Cuma gimana keadaannya Davin sekarang?" ujar Vivi lirih memotong Syasya.


"Davin? Lo tanya aja sendiri, tuh orangnya!" Radit menunjuk Davin yang sedang duduk di bangku pemain, bersama Satria dan Nando.


Vivi menatap mereka bertiga. Namun tiba-tiba tatapannya bertemu dengan Davin.


"Woi! Bang Sat! Lo tadi sengaja mau mukul tuh anj*ng?! Lo mau kena foul?! Dasar bego! Emang dasar kagak punya otak lo ya?!!" umpat Vivi langsung memukul kepala Satria.


"Aw! Sakit, Vi!" rengek Satria manja.


"Halah, lemah lo! Davin yang patah aja biasa aja, lo baru gue pukul dikit langsung mewek!" ejek Vivi membuat Satria makin merengut.


Syasya dan Radit langsung terkekeh melihat mereka. Syasya langsung menghampiri Vivi, takut Vivi bakal lebih ganas lagi pada Satria.


Saat mereka tengah terhibur oleh tingkah Vivi dan Satria, tiba-tiba seseorang datang menghampiri mereka. Membuat suasana yang semula riuh menjadi sunyi seketika.


"Nando!!" seorang gadis berlari menghampiri Nando.


Nando yang mendengar suara itu langsung bangkit hendak pergi. Tentu karena sudah tau siapa pemilik suara cempreng itu.


"Eh, Nando! Kok lo malah mau pergi sih?!" cicit gadis itu yang tak lain adalah Dira, ia langsung memegang lengan Nando.


Nando langsung menatap tangan gadis itu yang masih setia memegangi lengannya. "Lepas!" ucapnya dingin.


Takut dengan tatapan tajam Nando, gadis itu langsung melepaskan lengan Nando. Nando pun melangkahkan kakinya hendak pergi dari sana.


"Oh, ya, Sya. Lo ada niatan ikut ekskul basket nggak? Menurut gue lo bakal mampu deh!" tanya Radit. Secara Radit kan pernah melihat lompatan Syasya yang super tinggi. Jadi menurutnya, Syasya pasti mampu.


Nando yang masih belum jauh dari sana langsung berdecih saat mendengar pertanyaan Radit yang menurutnya sangat konyol.


Meskipun Radit adalah kakak kelas, namun Nando, Davin, dan Satria memang sudah biasa memanggil Radit maupun Anton tanpa embel-embel 'kak'. Itu pun hasil dari keputusan bersama, agar mereka bisa lebih akrab. Mereka sengaja menyetarakan kedudukan diantara mereka.


Syasya yang mendengar ucapan Nando yang meremehkan dirinya, tentu saja tak terima. Dengan langkah yang sedikit pincang, ia langsung menghampiri Nando.


"Maksud lo apa ngomong gitu?! Lo ngatain gue??" seru Syasya mendongak agar bisa menatap tiang listrik di depannya itu.


"Cih! Ngatain? Gue nggak ngatain, gue cuma ngomong fakta! Kenapa? Lo nggak terima gue bilang pen-dek? Cewek pendek kayak lo, nggak bakal bisa basket!" ucap Nando mengejek.


Amarah Syasya kian meluap, tak terima dirinya diremehkan. Wajahnya seketika memerah, menahan emosi. Tangan kanannya langsung mencengkeram kaos Nando, dan menariknya hingga wajah mereka hanya berjarak 10 cm.


"Kalo gitu, sekarang juga, gue tantang lo duel! Kalo gue berhasil nyetak poin, gue gabung ke tim inti basket cewek, tanpa seleksi..!" tantang Syasya penuh penekanan.


Hal itu tentu saja mengejutkan mereka semua yang ada disana. Termasuk Vivi dan Radit. Mereka berdua tau bahwa kaki Syasya sedang sakit, mana bisa untuk main basket.


Radit langsung menghampiri Syasya. Mencoba membujuk Syasya untuk menarik tantangannya tadi.


"Sya! Lo gila ya?! Lo lupa kalo kaki lo lagi sakit?! Kaki lo bisa tambah parah, Sya! Sekarang tarik ucapan lo tadi!" seru Radit marah.


Syasya langsung tersenyum. "Makasih kak, udah khawatirin gue. Tapi, gue nggak bakal biarin siapa pun ngeremehin gue hanya karena kekurangan gue!" sinis Syasya menatap Nando.


Nando langsung tersenyum sinis. Kedua tangannya terlipat di depan dada.


"Oke, gue terima tantangan lo. Tapi kalo lo gagal nyetak poin, lo harus bawain tas gue selama seminggu."


Keduanya langsung berjabat tangan. "Deal!"


"Sya!" sentak Radit.


"Nggak papa kak. Syasya boleh minta tolong nggak sama Kak Radit?" tanya Syasya.


"Apa?" jawab Radit.


"Beliin es batu, hehe!" Syasya meringis, menampilkan gigi putihnya.


.


Syasya mulai mendribble. Otaknya kini kembali bekerja setelah lama menganggur. Ia terus memikirkan strategi agar bisa mencetak poin.


'Bego lo emang, Sya! Bisa-bisanya lo nantang tiang listrik cuma gara-gara dia bilang lo pendek! Sekarang gimana coba lo nyetak poinnya? Kalo lompat entar nih kaki tambah parah lagi! Tapi kalo gue nggak lompat, gimana mau lewatin tuh tiang listrik?? Ahhh.. Bege! Bege!" umpat Syasya dalam hati.


Syasya masih terus mendribble. Berulang kali ia menghembuskan napasnya perlahan agar ia tetap tenang.


'Ya Allah.. Hamba mohon, bantu hamba-Mu ini untuk mengalahkan orang sombong itu. Agar ia tidak lagi meremehkan hamba-Mu ini Ya Allah..' batin Syasya.


Ya, terpaksa Syasya harus menggunakan lompatannya. Entah apa yang akan ia dapat nanti saat dokter cerewetnya tau kalau ia tidak menuruti ucapannya.


Syasya mulai mendekati ring dengan terus mendribble. Jangan salah, Syasya sewaktu SMP beberapa kali memenangkan kejuaraan basket. Tentunya karena ia memang berbakat, ditambah dengan lompatannya yang super tinggi itu.


"Hufftt...!" Syasya berlari, dan langsung melompat sekuat tenaganya.


......................


"Assalamu'alaikum.." bisik Syasya memasuki rumah kakaknya itu. Takut jika kakaknya memergoki dirinya baru pulang.


Suasana di dalam rumah tampak sepi. Dengan langkah pincang dan mengendap-endap, Syasya segera menuju ke kamarnya.


"Huft!" akhirnya Syasya bisa bernapas lega. Ia kini sudah di depan pintu kamarnya. Ia berhasil masuk tanpa ketahuan kakaknya. Serasa alam sedang memihaknya.


Ceklek...


Pintu kamar Syasya terbuka. Namun mengapa pintu kamar kakaknya juga terbuka?


"Sya..?" panggil Dito saat ia melihat adiknya di depan kamar.


Sontak Syasya langsung berlari masuk kamar. Namun karena kakinya tengah sakit, ia langsung terjatuh.


Gedubrak..!


"Aw.. Aw.. Aw!!!" rengek Syasya kesakitan.


Dito langsung membantu adiknya untuk berdiri. Menuntunnya untuk duduk di sofa kamar Syasya.


"Gimana sih kamu, Sya?! Kalo jalan hati-hati bisa kan?!" Dito langsung melepas sepatu Syasya dan membuka kain yang membalut pergelangan kakinya.


Kedua mata Dito langsung membulat saat melihat pergelangan kaki Syasya yang tampak makin memburuk.


"Ya Allah, Sya! Ini kok bisa jadi begini sih?!!" seru Dito menatap Syasya tak percaya.


Syasya yang ditanya kakaknya malah hanya meringis, memamerkan gigi putihnya.


.......


.......


...Makasih udah baca cerita ini. Jangan lupa kasih dukungan ya..🤗...