Love, 35 Cm

Love, 35 Cm
Chapter 26



..."Buang ego lo. Jangan libatkan masalah pribadi ke dalam tim"...


...----------------...


.......


Hari-hari Syasya terus berlalu. Berangkat sekolah, latihan basket, dan pulang sekolah. Kini itu semua sudah menjadi rutinitas sehari-harinya. Hingga akhirnya hari yang paling ditunggu pun tiba.


Kini Syasya dan juga tim basket yang mewakili sekolahnya telah tiba di lapangan basket GBK. Kursi penonton tampak sudah hampir tak tersisa. Mereka pun segera menuju ke bangku khusus pemain.


Setelah beberapa pertandingan dari sekolah lain, kini akhirnya giliran tim Syasya. Mereka semua telah berganti memakai seragam basket sekolah mereka.


Untuk kuarter pertama ini, mereka bermain tanpa strategi atau bermain seperti biasa saat mereka latihan. Hal ini sengaja mereka lakukan dengan tujuan untuk mengetahui permainan tim lawan.


"Karena pelatih nggak bisa datang, gue yang bakal gantiin dia. Kuarter pertama ini kita main kayak biasa aja," jelas Vivi selaku manager mereka.


Para pemain pun segera memasuki lapangan. Berdiri di tempat yang sesuai dengan peran mereka.


Syasya selaku pemain paling pendek, ia berperan sebagai point guard. Jangan salah, Syasya mampu dalam basket bukan hanya karena lompatannya yang tinggi, melainkan ia memang sangat berbakat dalam basket. Bahkan selama ia bermain basket, operannya tak pernah meleset sekali pun.


Dea, berperan sebagai kapten sekaligus shooting guard. Ibaratnya dia itu bagaikan Radit namun dalam versi cewek. Kemampuannya jelas terbukti sebagai shooting guard mengingat banyaknya three poin yang berhasil ia cetak.


Cika, berperan sebagai small forward dalam timnya. Sifatnya akan berubah menjadi sangat agresif ketika berhadapan dengan bola. Selain itu, kemampuan dribble dan merebut bola nya sangatlah lincah.


Santi, berperan sebagai power forward. Walaupun sifatnya agak menyebalkan, namun ia memang berbakat dalam basket. Tubuhnya yang tinggi juga kemampuannya dalam mengambil bola rebound tak perlu diragukan lagi.


Lita, pemain paling tinggi dalam tim. Perannya ialah sebagai center. Bisa dianggap sebagai Nando versi cewek meskipun ia pernah kebobolan.


Prittt


Pertandingan antar kedua tim dimulai. Bola berhasil dikuasai oleh tim Syasya. Syasya segera menggiring bolanya memasuki daerah lawan. Namun dengan cepat lawan langsung mencegatnya. Ia pun mengoperkan bolanya pada Dea.


Plung


Poin berhasil tercetak akibat tembakan three point dari Dea.


Bola kini ada di tangan lawan. Mereka langsung bergerak melewati Syasya dan Dea. Melihat lawan memasuki areanya, dengan cepat Cika langsung merebut bola itu dengan agresif. Ia pun kembali mengoperkannya pada Syasya.


Lagi-lagi poin kembali tercetak karena three poin Dea dengan operan dari Syasya.


Menit terus berjalan. Syasya beserta timnya berhasil mencetak angka, namun begitu pula dengan lawan mereka. Ternyata lawan mereka cukup tangguh. Mereka bahkan beberapa kali berhasil membobol pertahanan dari Lita.


Memasuki dua menit terakhir. Poin kedua tim saat ini seri. 39-39 untuk kedua tim. Hal ini lantas membuat Vivi untuk meminta time out pada wasit.


Pritt


Kedua tim kembali ke bangku pemain. Sekedar untuk istirahat, juga menyusun ulang strategi mereka.


"San! Waras nggak sih lo?!" ucap Vivi dengan nada kesal.


"Harusnya lo oper bolanya ke Syasya, jangan gegabah bisa nggak sih??" sambung Vivi pada Santi.


Santi yang merasa dihina oleh Vivi pun tak terima. Ia langsung berdiri menantang Vivi yang masih kesal.


"Kenapa? Nggak terima karena gue nggak operin bolanya ke sahabat lo? Kalo gitu nggak usah main!" balas Santi tak kalah seru.


Vivi langsung mendengus, mencoba mengembalikan kesabarannya. "Seenggaknya, kalo lo nggak mau oper ke Syasya, oper ke yang lain kan bisa? Liat karena tindakan gegabah lo, lo jadi kena foul kan?"


Vivi kembali teringat dengan sikap Santi saat pertandingan tadi. Santi bahkan sama sekali tak mau mengoperkan bolanya ke Syasya. Bahkan di saat genting pun ia tak mau mengoperkan bolanya. Ia harus mengoperkan bola ke Syasya, karena jika ia tidak melakukan itu besar kemungkinan ia mendapat pelanggaran.


Dan karena keegoisannya, ia kini terkena foul. Hal ini tentu membuat Vivi pusing tujuh keliling. Ia menghela napasnya dalam-dalam.


"Kalo lo masih mau main di menit terakhir ini, lebih baik lo buang keegoisan lo." Vivi kembali duduk di bangkunya sambil memijat dahinya yang terasa pening.


Pritt


Waktu time out telah habis. Para pemain diminta segera memasuki lapangan untuk melanjutkan pertandingan.


Syasya berjalan paling belakang. Ia memandang punggung Santi yang berjalan di depannya itu.


"Saran gue, buang ego lo. Jangan libatkan masalah pribadi ke dalam tim," ucap Syasya saat berjalan melewati Santi.


Tak


Bola membentur ring sehingga gagal masuk ke dalam ring.


"Rebound!!!" teriak Vivi menginstruksi.


Santi yang saat itu sudah bersiaga di bawah ring lawan, tanpa ba-bi-bu langsung melompat. Namun lawannya juga tak mau kalah. Mereka berdua pun berebut untuk mendapatkan bola rebound.


"Hiyaaa!!!" teriak Santi saat beradu fisik dengan lawannya. Bola berhasil ia dapat, maniknya lantas melirik sekitar, mencari rekannya yang tidak mendapat penjagaan.


Syasya! Hanya Syasya yang tidak mendapat penjagaan dari lawan. Namun Santi seakan ragu untuk mengoperkannya pada Syasya. Sekilas ia melirik waktu yang tersisa.


7 detik?!


Tak ada pilihan! Santi pun langsung mengoperkannya kepada Syasya. Beruntung Syasya dapat menerima operan dari Santi. Waktu tersisa empat detik. Syasya segera melompat setinggi-tingginya, dan melambungkan bola ke arah ring.


3


2


1


Plung


Pritttttt


.


Pertandingan telah usai. Kedua tim segera berbaris dengan saling berhadapan. Setelah saling berjabat tangan, kedua tim tersebut pun melangkah keluar dari area lapangan.


Kemenangan berhasil diraih dengan selisih dua poin, atau skor 41-39 untuk Syasya dan rekannya.


Syasya menatap Santi yang ada di depannya dengan sedikit tersenyum. Melihat itu, Santi langsung membuang muka. Ia lalu melangkah pergi meninggalkan Syasya dan Vivi yang masih disana.


"Biarin aja, Sya. Dia itu dari dulu emang sombong. Susah buat diajak kerja sama. Pengennya menang sendiri. Perilakunya tadi, jangan diambil hati ya, Sya.." ujar Vivi khawatir Syasya tersinggung.


"Enggak. Gue suka malah." Syasya melangkah meninggalkan Vivi yang ternganga.


"Ya Allah, Sya!" seru Vivi lalu menyusul Syasya. "Lo lesbi?!" serunya tak percaya.


Ctakk


Satu jitakan langsung Syasya berikan pada sahabatnya yang konslet itu.


"Gila lo?! Ya enggak lah bege!!" kesal Syasya.


Sementara itu, Nando beserta timnya juga berhasil meraih kemenangan. Meskipun Davin hanya bermain di menit terakhir, mengingat kondisi tangannya yang cedera, tak membuat mereka melepaskan kemenangan pada tim lawan.


"Tangan lo nggak papa, Vin??" tanya Satria dan Anton cemas.


"Sat."


"Kenapa, Vin? Tangan lo sakit ya? Makanya nggak usah maksain diri! Udah gue bilang jangan main, masih aja nge-"


"Cariin es batu bang Sat.." potong Davin.


Sementara itu, Nando dan Radit tampak berjalan bersama di belakang yang lainnya. Tiba-tiba kepala Radit kembali terasa sakit dan pandangannya kembali buram. Membuatnya hendak terjatuh. Namun dengan sigap Nando langsung menyangga tubuh Radit agar tidak jatuh.


"Thanks," ucap Radit kembali menegakkan tubuhnya.


Nando hanya menjawabnya dengan anggukan. Ia pun menepuk pundak Radit pelan. "Gue duluan." Nando melangkah menyusul kedua sahabatnya.


'Gue harus kuat! Jangan lemah, Radit!!'


.......


.......


...Makasih udah baca cerita ini. Jangan lupa kasih dukungan ya..🤗...