
"Bye, kurcan!!" teriak Nando langsung melajukan motornya.
Sontak Syasya menghentikan langkahnya. Ia langsung menatap heran Nando yang sudah menghilang dari jangkauan pandangannya.
"Kurcan kurcan! Apaan sih kurcan?!" Syasya mendengus kesal mendengar panggilan Nando terhadapnya.
Ia tak mau mengambil pusing dengan hal sepele seperti itu. Ia pun memilih untuk segera masuk ke dalam rumah.
"Assalamu'alaikum!" seru Syasya.
"Wa'alaikumsalam," balas Dito yang sedang menonton televisi.
"Gimana tadi? Menang nggak?" tanya Dito.
Syasya langsung merebahkan tubuhnya di atas sofa. Melepas lelah yang hinggap di tubuhnya.
"Jelas menang lah! Nggak ada sejarahnya Syasya kalah dalam basket," sombong Syasya pada kakaknya.
Dito menggelengkan kepalanya. Tak habis pikir dengan adiknya yang songong itu.
"Iya, nggak ada sejarahnya kamu kalah dalam basket. Tapi nggak ada sejarahnya juga kamu menang dalam pelajaran, ya nggak??" cibir Dito.
Skakmat. Mendengar itu Syasya langsung terdiam. Memutar mata malas dan langsung melangkah gontai ke kamarnya.
"Besok, Sya! Kalo pas ujian rata-rata nilaimu masuk 30 besar, kakak beliin HP baru! Yang apel digigit deh!!" teriak Dito sebelum Syasya memasuki kamarnya.
Syasya tak menghiraukan janji kakaknya itu. Masuk 30 besar? Boro-boro 30 besar, 60 besar saja mustahil baginya.
Ia memilih untuk mandi. Setelah beberapa menit, ia kini telah memakai pakaian santainya. Bosan. Saat ini Syasya sungguh bosan.
Kedua maniknya lantas menatap sebuah buku baru yang bahkan segelnya belum ia buka. Novel yang dulu dibelikan oleh Radit saat mereka pergi ke bookstore.
Sebenarnya Syasya hendak membuang novel tersebut saat hubungannya dengan Radit berakhir. Namun karena merasa mubazir, jadi ia mengurungkan niatnya itu.
Ia lantas meraih novel berjudul DN seri ketiga tersebut. Sedari dulu ia memang sangat menyukai novel itu sejak seri pertamanya.
Dibukanya plastik yang masih menyegel novel tersebut. Novel dengan cover yang sangat sederhana, namun terkesan manis dan elegan. Syasya pun mulai membaca novel tersebut.
......................
Besok paginya, merupakan pertandingan kedua bagi Syasya dan rekan-rekannya. Mereka kini sudah bersiap dengan posisi mereka masing-masing.
Operan dari Syasya berhasil Santi manfaatkan untuk melakukan dunk. Senyuman bangga langsung terukir di wajah Santi. Tanpa sadar tangannya mengajak Syasya untuk tos. Namun saat menyadarinya, ia langsung melengos meninggalkan Syasya.
Waktu terus berjalan dan kedua tim sama-sama saling mencetak poin. Namun demikian, tim Syasya tetaplah masih unggul. Hingga di menit terakhir, mereka lah pemenangnya.
37-35 untuk Syasya dan rekan-rekannya.
.
"Capeknya.." keluh Cika dan langsung berbaring di lantai ruang ganti mereka.
"Iya.. Mana nanti sore mesti tanding lagi.." tambah Lita ikutan berbaring di samping Cika.
Kini mereka semua sedang beristirahat di ruang ganti mereka. Mengingat sore nanti mereka akan bertanding lagi dengan sekolah lain.
"Oh iya, nanti kita sekalian nonton bang Sat dkk main ya.. Sekalian nambah ilmu," ucap Vivi dan diangguki oleh mereka semua.
Dan ya, saat jam menunjukkan tepat pukul satu, mereka segera bergegas pergi ke bangku penonton. Tampak kedua tim basket telah berada di lapangan.
Namun seperti pertandingan kemarin, Davin tidak akan main. Ia digantikan oleh salah satu pemain yang biasanya duduk di bangku cadangan. Denis, si murid kelas 11 IPA 2.
Meskipun ia jarang maju ke lapangan, namun kemampuannya tak boleh diremehkan. Bisa dikatakan ia adalah bayangan mereka. Apabila salah satu dari mereka tak bisa main, maka Denis lah pengganti utamanya.
Pertandingan telah berjalan beberapa menit. Skor jelas dipimpin oleh Nando dkk. Beberapa kali tim lawan hendak mencetak poin, namun selalu saja digagalkan melalui aksi Nando.
Poin demi poin terus tercetak melalui penampilan dari Satria, Radit, dan juga Denis. Hingga disaat menit terakhir, akhirnya Davin masuk ke lapangan.
Sorakan para penggemar Davin langsung pecah saat itu juga. Setelah menunggu lama, akhirnya mereka bisa menyaksikan idola mereka beraksi.
Bola sudah ada di tangan Satria. Ia lalu mendribble sampai ke daerah tim lawan dengan mulus, tanpa halangan apapun. Namun hal ini justru membuat dirinya merasa aneh.
Langkah Satria langsung terhenti, saat menyadari bahwa ternyata mereka fokus untuk menjaga Davin agar tidak bisa bergerak. Hal itu dapat dilihat dari Davin yang saat ini sedang dijaga oleh dua orang.
'Lagi-lagi ngeremehin gue,' batin Satria tersenyum sinis.
"Kalian pikir gue bakal operin ke dia?! Maka kalian salah besar!" Satria langsung melompat dengan posisi tangan hendak menembakkan bola ke ring.
"Sialan!!" umpat salah satu lawan yang menjaga Davin. Ia pun langsung berlari menuju Satria, hendak menghentikan shoot dari Satria.
"Nggak akan gue biarin!" ucap lawan itu langsung melompat, menghalangi Satria.
Satria menampakkan senyuman sinisnya. Ia langsung menurunkan tangannya yang sedang memegang bola, dan memutarnya ke belakang tubuhnya. Bola yang ada ditangannya langsung ia lemparkan ke arah Davin yang berhasil meloloskan diri.
Hap!
Setelah berhasil menangkap operan dari Satria, Davin segera mendribble bola menuju ke ring basket lawan.
Pritttt....
Akhirnya pertandingan telah berakhir. Kemenangan lagi-lagi mereka dapatkan dengan usaha keras mereka. Setelah saling berjabat tangan, mereka semua pun segera meninggalkan area lapangan untuk kembali ke ruang ganti mereka.
Namun tidak dengan Nando. Bukannya kembali ke ruang ganti, langkahnya malah tertuju ke bangku penonton.
Melihat Nando pergi ke bangku penonton, Satria dan Davin langsung mengikutinya.
Para penonton yang masih duduk tentu dibuat terkagum-kagum dengan wajah Nando yang rupanya sangat tampan. Apalagi ditambah dengan rambut yang agak basah karena keringat. Membuat tingkat ketampanannya meningkat dua kali lipat.
Tak sedikit para penonton yang merasa grogi sendiri saat Nando berjalan melewati mereka. Namun bagai tertimpa beton dari langit, harapan mereka langsung kandas saat melihat Nando menghampiri seorang perempuan.
Tanpa basa-basi Nando langsung merebut sebotol air mineral yang sedang Syasya minum. Ia langsung meminumnya tiga tegukan dan menyiramkannya sisanya ke kepalanya sendiri.
Woahh.. Lagi-lagi para perempuan yang melihat adegan Nando yang satu itu langsung meleleh.
"Apa-apaan sih, lo?!" kesal Syasya langsung merebut kembali air nya yang masih tersisa dari tangan Nando.
"Pelit amat sih lo, kurcan. Gue haus, gerah lagi. Lagian itu juga cuma air, bisalah beli lagi.." balas Nando.
Ia pun langsung duduk di sebelah Syasya. Melihat Nando duduk, Satria dan Davin pun juga melakukan hal yang sama. Satria meminta Lita yang duduk di samping Vivi agar bergeser. Setelah Lita dan yang lainnya bergeser, Satria dan Davin pun segera duduk.
"Kalo gitu lo beli sendiri bisa kan? Ngapain ambil punya gue? Pake acara siram rambut lagi! Alasannya gerah. Kalo gerah kenapa nggak lepas aja bajunya sekalian!" ucap Syasya kesal.
"Oo.. Jadi boleh lepas baju disini? Oke!" Nando sudah menaikkan sedikit bajunya. Menampilkan perut sixpack nya yang tak tertutup apapun.
Melihat itu Syasya langsung melotot tak percaya. Cepat-cepat ia mengalihkan pandangannya ke arah lain. Dan saat itu, tatapannya melihat seorang perempuan yang sedang melongo menatap tubuh Nando.
Syasya terkejut tak percaya melihat perempuan itu. Ia lalu melemparkan handuk kecil tepat menutupi perut Nando.
"Serah lo!" Syasya langsung melangkah pergi.
.......
.......
...Makasih udah baca cerita ini. Jangan lupa kasih dukungan ya..🤗...