
..."Cinta itu sulit ditebak. Kadang bikin senang, tapi juga bikin kesal"...
...----------------...
.......
Gelapnya langit malam yang bertabur bintang juga kerlap-kerlip lampu tumbler yang menghiasi seluruh sudut pasar malam. Itu semua dapat Syasya saksikan dengan kedua iris matanya.
Ternyata menaiki bianglala tak seburuk yang Syasya pikirkan selama ini. Meskipun tak semenyenangkan menaiki wahana ekstrim, namun setidaknya ia dapat melihat keindahan pemandangan dari atas sana.
Syasya memang waktu itu pernah naik bianglala bersama Radit, tapi ia tidak menyadari indahnya pemandangan di bawah sana. Dan ia baru menyadarinya sekarang.
Namun siapa sangka jika keindahan pemandangan itu justru membuat suasana di antara Syasya dan Nando semakin canggung. Sejak awal bianglala berputar pun tak ada percakapan antara keduanya.
"Lo mau nggak jadi pacar gue?" ucap Nando memecah keheningan.
Syasya yang semula sedang menikmati indahnya pemandangan sontak langsung terkejut. Bahkan ini bukan pertama kalinya ia mendengar kalimat itu keluar dari mulut Nando. Namun tetap saja ia masih terkejut tak percaya.
"Hah? Apa??" tanya Syasya memastikan.
Nando tampak menghela napasnya. "Lo, mau nggak jadi pacar gue? Gue serius," ucap Nando dengan ekspresi seriusnya.
Hening seketika. Tak ada jawaban dari Syasya. Disaat itu pula tiba-tiba bianglala yang mereka naiki macet, tak berputar.
"Enggak," jawab Syasya singkat.
"Karena?" tanya Nando meminta alasan.
"Karena cinta itu sulit ditebak. Kadang bikin senang, tapi juga bikin kesal. Senang bisa memiliki, tapi kesal saat liat dia sama yang lain." Syasya diam sejenak.
"Lagian, gue juga masih belum bisa percaya sama yang namanya cinta," sambungnya menatap pemandangan di bawah.
Setelah macet selama beberapa menit, akhirnya bianglala tersebut kembali berputar. Setelah bianglala tersebut berhenti, mereka berdua pun segera keluar.
Mereka berdua tak melihat keberadaan ketiga sahabat mereka disana. Syasya pun segera menelpon Vivi, namun tak diangkat. Nando melakukan hal yang sama. Ia menelpon Satria juga Davin, tapi tak ada yang menjawab.
Alhasil Syasya dan Nando berkeliling mencari ketiga sahabat mereka. Cukup lama mereka berkeliling, namun hasilnya nihil.
Tiba-tiba sebuah tangan menyodorkan es krim di depan wajah Syasya. Rupanya Nando lah yang memberinya.
"Tumben baik?" tanya Syasya curiga.
"Ya udah kalo nggak mau." Nando hendak memakan kedua es krim yang ada di tangannya.
Dengan cepat Syasya langsung merebut satu es krim dari tangan Nando. Ia pun langsung memakannya agar tidak direbut kembali oleh Nando.
Senyuman tipis terbit di wajah Nando saat melihat Syasya. Mereka berdua pun kembali mencari ketiga sahabat mereka.
Namun tiba-tiba Syasya tertarik dengan salah satu permainan. Ia pun langsung melangkah menuju permainan tersebut.
Tiga bola kecil untuk menjatuhkan setumpuk kaleng yang tersusun beberapa meter di depan sana. Dengan percaya diri Syasya mulai mencobanya.
"****!!" umpat Syasya saat percobaan pertamanya gagal karena lemparannya meleset.
Syasya menarik napasnya dalam-dalam. Ia mencobanya lagi. Namun lagi-lagi ia gagal meruntuhkan tumpukan kaleng tersebut. Lemparannya hanya mengenai satu kaleng yang paling atas.
"Haishh!! Ni pasti cur-emm!"
Belum selesai Syasya berbicara, Nando langsung membekap mulutnya agar diam. Ia pun merebut satu bola yang tersisa di tangan Syasya.
"Kalo nggak bisa, nggak udah sok." ucap Nando menggeser tubuh Syasya agar minggir.
Nando memfokuskan pandangannya pada tumpukan kaleng tersebut. Ia pun langsung melemparkan bola itu.
Kedua bola mata Syasya langsung melebar tak percaya. Tumpukan kaleng itu langsung runtuh hanya dengan satu lemparan dari Nando. Nando pun langsung melangkah pergi meninggalkan Syasya yang masih ternganga.
"Ini hadiahnya, Dek!" ucap pemilik permainan tadi menyodorkan sepasang boneka beruang ukuran kecil yang masing-masing membawa tulisan 'Lo' dan 'Ve'.
Setelah menerima hadiahnya, Syasya segera menyusul langkah Nando yang sudah beberapa meter di depannya. Ia pun mensejajarkan langkahnya dengan Nando.
"Nih, punya lo!" Syasya menyodorkan salah satu boneka pada Nando.
Nando mengernyitkan dahinya saat melihat boneka tersebut. Karena Nando tak juga menerimanya, Syasya langsung menyerahkan boneka itu di tangan Nando dan langsung melangkah meninggalkan Nando.
Akhirnya Syasya memutuskan untuk menelpon Vivi lagi. Beruntung kali ini Vivi menjawab telpon tersebut.
📞Vi! Lo pada dimana sih?! Gue cariin dari tadi juga?!
Ucap Syasya begitu Vivi mengangkat telpon darinya.
📞Eh iya! Gue lupa ngasih tau lo, Sya. Sorry, kita bertiga udah balik, soalnya tadi si bang Sat pingsan gara-gara naik halilintar. Karena dia naik motor, jadi gue sama Davin nganterin dia naik mobil gue..
Syasya langsung mendengus kesal. Sedari tadi ia capek-capek mencari mereka, tapi ternyata yang dicari malah sudah pulang.
Nando yang melihat ekspresi Syasya langsung bertanya. "Gimana?"
"Mereka bertiga udah balik!" kesal Syasya. Ia lalu berbalik hendak pulang. Namun tangan Nando langsung mencekal tangannya.
"Gue anter. Udah malem." Nando langsung menarik tangan Syasya agar mengikutinya.
.
Sekitar jam dua belas malam, Nando telah sampai di rumahnya setelah mengantar Syasya pulang.
"Assalamu'alaikum!" ucap Nando mengetuk pintu.
"Wa'alaikumsalam!" balas seseorang dari balik pintu.
Pintu pun terbuka. Menampilkan sosok gadis kecil yang tak lain adalah Syla dan Kirana yang berdiri di belakangnya.
"Bebby kok baru pulang sih?" sungut Syla manja pada Nando.
Nando menghela napasnya. Ia lalu berjongkok, mengusap pucuk kepala keponakannya itu. "Kok belum tidur?"
"Dia itu belum mau tidur kalo kamu belum pulang, Ndo." Kirana langsung menyuruh Nando untuk masuk. "Lagian kamu jam segini kok baru pulang?" sambungnya bertanya.
"Tadi Nando nganterin temen pulang dulu, Bun." jelas Nando.
"Ya udah, Nando anterin Syla tidur dulu ya, Bun." Nando pun mengantarkan Syla ke kamarnya agar segera tidur.
......................
*Di rumah Syasya*
Hampir dua jam berlalu, namun kedua mata Syasya masih enggan untuk terlelap. Segala posisi telah Syasya coba agar ia bisa tidur. Namun hasilnya tetap sama, ia tak bisa tidur.
Tatapannya kini menatap boneka beruang kecil yang tadi ia dapat saat di pasar malam. Ia pun mengambil boneka beruang bertuliskan 'Ve' tersebut.
Ting
Sebuah notifikasi masuk di ponselnya. Ia lantas meraih ponselnya yang ada di atas nakas. Sebuah notifikasi dari instagram rupanya.
@Reyabidzar mulai mengikuti Anda.
Dahi Syasya mengernyit membaca nama akun tersebut. Rasanya ia seperti pernah mendengar nama 'Abidzar'. Karena penasaran, Syasya pun memfolback akun itu.
Setelah ia lihat postingannya, ternyata itu adalah akun milik Nando. Syasya pun baru ingat bahwa nama lengkap Nando adalah Reynando Fikri Abidzar.
Karena sekedar iseng, Syasya mulai menyecroll postingan-postingan milik Nando. Ternyata Nando jarang memposting sesuatu. Hanya ada beberapa foto dan video saat bertanding basket. Itupun postingan beberapa bulan yang lalu.
Saat Syasya masih melihat-lihat, tiba-tiba Nando memposting satu foto baru dengan caption 'Katanya buat gue'.
Syasya sontak terkejut saat melihat postingan Nando tersebut. Sebuah foto boneka beruang yang tadi ia berikan pada Nando saat di pasar malam.
Tanpa Syasya sadari sebuah senyuman tipis terukir manis di bibirnya.
Like
Entah apa yang merasukinya, jemari Syasya tiba-tiba meng-klik tombol love postingan tersebut.
.......
.......
...Makasih udah baca cerita ini. Jangan lupa kasih dukungan ya..🤗...