
Syasya termenung di dalam kamarnya. Sesekali ia melirik ponselnya, berharap pesan yang ia kirim mendapatkan balasan. Sudah satu jam lebih ia menunggu, namun Nando seperti tak ada tanda-tanda kehidupan. Terakhir dilihat pukul 15.12. Dan sekarang jam sudah menunjukkan pukul 19.07. Menandakan sepulang dari mengantar Syasya pulang tadi, Nando tidak membuka WA nya.
Syasya menyerah. Ia mengaku salah karena tadi mencari seseorang yang terlihat sangat mirip dengan Radit. Ia memukuli kepalanya, merutuki kebodohannya itu.
"Arghhh!!!"
Syasya berguling kesana-kemari di atas kasurnya.
"Ngapain juga sih tadi gue nyariin tuh orang? Keknya gue udah move on dah!" gumamnya.
"Si Nando juga! Punya HP nggak guna banget! Di chat bukannya di bales.." Syasya terus menggerutu.
"Haa??!!!" menutup mulutnya tak percaya.
"Ngapain juga gue mikirin itu tiang listrik?! Ngapain juga gue nungguin balesan dia??"
"Tau ah! Mau di bales, mau nggak di bales kek, bodo amat! Nggak peduli gue!" serunya.
Syasya langsung berbaring dan menutup tubuh beserta wajahnya dengan selimut.
Ting
Sontak Syasya langsung meraih ponselnya. Dibukanya apk WA. Ternyata chat dari Vivi yang mengirimkan jawaban PR. Raut wajah Syasya yang semula berbinar kembali padam. Ia mengabaikan chat dari Vivi, dan meletakkan ponselnya sembarang.
Ting
Syasya kembali meraih ponselnya. Lagi-lagi Vivi. Dengan malas ia membuka chat tersebut.
...~Vivito(xic)~...
Ihh,, sombong lo, Sya
Udh dicontekin gk
ada trimsnya😤
^^^Thanks y Viii^^^
^^^Udh kan?^^^
^^^So, jgn ganggu^^^
^^^ya cantiikkkk^^^
.......
Setelah membalas chat itu, Syasya kembali rebahan. Berharap bisa menenangkan pikirannya, namun ternyata tidak sama sekali. Ponselnya lagi-lagi berbunyi, pertanda ada chat masuk.
Ting
Ting
Ting
Awalnya Syasya tak menghiraukan hal itu. Namun lama-lama bunyi itu berhasil mengusik Syasya. Hingga yang terakhir ponselnya pun berdering tanda ada panggilan yang masuk.
Dengan gusar Syasya pun menjawab panggilan tersebut.
📞Apaan sih, Vi?! Ganggu banget sih lo! Berisik banget lo!
Syasya langsung berteriak begitu menerima panggilan tersebut. Ia bahkan tak melihat terlebih dahulu siapa yang menelpon.
📞Woi! Ini suara cempreng amat sih? Main teriak-teriak lagi! Kek toa lo! Bisa budeg ni kuping gue!
Seketika Syasya terkejut saat mendengar suara dari ujung telepon. Sontak ia melihat layar ponselnya. Dan benar saja, penelpon itu tak lain adalah Nando. Syasya langsung menutup mulutnya terkejut tak percaya.
📞Woi! Kurcan! Malah diem lagi! Bukannya minta maaf apa gimana gitu?!
📞Eh, iya.. iya.. Sorry, gue kira Vivi.
Ucap Syasya disertai kekehan. Wajahnya yang semula suram kini langsung berbinar. Ia pun kembali tersadar saat Nando kembali memanggilnya.
📞Oi, kurcan! Ditanya kok malah diem aja sih??
📞Eh, iya! Tanya apa lo tadi? Suara lo nggak jelas nih!
Terdengar suara dengusan di ujung telepon sana. Menandakan Nando sedang menahan rasa kesalnya pada Syasya.
📞Lo ngapain WA gue? Kurcan, kangen lo ya ama gue..
📞Ihh.. Pede banget lo! And kurcan? Gue punya nama ya! Paan lagi kurcan?!
Kini gantian Syasya yang mendengus kesal. Bagaimana ia tidak kesal, jika nama pemberian orang tuanya diganti dengan sebutan 'kurcan' yang entah apa artinya itu.
📞Lo nggak tau kurcan? Pengen tau artinya?
📞Emang apaan?
📞Yakin pengen tau? Entar nggak bisa tidur lagi..
📞Nggak ada hubungannya kali! Udah, buruan! Artinya paan??
Syasya mengernyitkan dahinya karena Nando tak melanjutkan omongannya. Saat ia hendak bertanya, Nando malah mematikan telpon tersebut.
"Can..?"
"Can itu apaan?" Syasya beradu dengan pemikirannya.
"Cantik?" ucapnya sembarangan tanpa sadar.
"Pftt!! Hahaha..! Masa iya artinya kurcaci cantik?!" Syasya tertawa renyah.
......................
Keesokan paginya, Syasya berangkat ke sekolah dengan lesu. Sekitaran matanya tampak menggelap, terlebih bagian bawah matanya. Ia pun langsung duduk di kursinya begitu memasuki kelas.
"Lemes amat lo, Sya." tanya Vivi saat melihat Syasya langsung duduk disampingnya.
"Ha? Lo semalem nggak tidur?!" terka Vivi saat melihat mata Syasya yang seperti mata panda.
"Hm,"
Bel berbunyi. Pelajaran pertama dimulai. Arin memasuki kelas mereka. Ya, hingga saat ini wali kelas mereka tidak berubah. Hal itu tak lain karena tidak ada guru lain yang bersedia untuk menjadi wali kelas mereka. Hanya Arin, guru yang paling mengerti mereka.
Sepanjang pelajaran Syasya sama sekali tidak mendengarkan penjelasan Arin. Kelopak matanya terasa sangat berat karena mengantuk. Akhirnya ia menyerah. Ia pun meminta izin pada Arin untuk pergi ke UKS, dengan alasan sedang tidak enak badan.
Melihat wajah Syasya yang tampak menyedihkan itu, membuat Arin percaya dengan alasan Syasya. Ia pun mengizinkan Syasya untuk beristirahat di UKS.
Sesampainya di UKS, Syasya langsung membaringkan tubuhnya di atas brankar. Dalam sekejap Syasya langsung memasuki alam mimpinya. Tubuhnya benar-benar membutuhkan istirahat, mengingat semalam ia tak bisa tidur. Ya, Syasya tidak bisa tidur semalaman karena terus memikirkan panggilan Nando padanya. 'Kurcan' hingga saat ini Syasya belum tahu pasti artinya.
Sementara itu ketika jam istirahat, Nando tak melihat batang hidung Syasya di sana. Ia hanya melihat Vivi dan Satria.
"Si kurcan kemana?" tanya Nando pada Vivi.
"Kurcan?" Vivi tampak berpikir sejenak. "Syasya? Tadi dia ke UKS, tidur kali."
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun Nando langsung pergi dari sana. Vivi, Satria, dan Davin hanya menatap Nando biasa saja, seakan tahu jika tujuannya datang hanya untuk bertemu Syasya.
Pintu UKS terbuka, Nando membuka satu persatu gorden yang menutupi setiap brankar. Hingga akhirnya tampak seorang gadis bertubuh mungil yang sedang tidur dengan pulasnya.
Senyuman tipis terukir di wajah Nando. Ia lalu duduk di sebuah kursi yang ada di samping brankar tersebut. Dilihatnya ketenangan dari wajah Syasya. Gadis yang biasanya sangat cerewet itu bahkan kini tampak pulas dalam tidurnya.
Tiba-tiba sebuah ide muncul dalam otak cerdas Nando. Bibirnya menyeringai, memikirkan ide liciknya itu. Ia lalu mencari-cari sesuatu di sana. Setelah beberapa saat, apa yang ia cari pun berhasil ia temukan. Sebuah spidol.
Kedua tangannya kini sibuk membuat karya seni di wajah Syasya. Di pipi, dahi, juga sekitar mata Syasya. Beberapa kali ia hampir saja tertawa, namun ia berusaha menahannya agar tidak membangunkan sang singa yang tengah tertidur itu.
"Nando? Ngapain kamu?!"
Hampir saja Nando menjatuhkan spidol itu di wajah Syasya. Ia langsung menoleh. Tampaklah guru penjaga UKS yang kini berdiri tepat di belakangnya dengan kedua tangan yang terlipat di depan dada.
"Ee.. Anu Bu.." Nando gelagapan. Ia langsung menyembunyikan spidol tadi di belakang tubuhnya.
Guru itu pun berjalan menghampiri Nando dengan wajah menyelidiknya. Betapa terkejutnya beliau saat melihat wajah Syasya yang seperti karya seni itu.
"Ha? Kamu-"
Bruk
Nando langsung berlutut di depan guru itu. "Jangan bilang ya, Bu? Kali iniii aja.." mohonnya sambil menyatukan kedua telapak tangannya.
"Saya nggak ngapa-ngapain kok, Bu. Cuma ngerias wajah Syasya dikiitt banget.." sambung Nando.
Namun ekspresi guru itu tak berubah. Masih tampak datar namun garang. Tangan guru tersebut tampak terangkat. Reflek Nando langsung memejamkan mata.
"Kalo gitu, buruan kamu pergi dari sini.. Keburu Syasya bangun," guru itu menyentuh bahu Nando agar ia berdiri.
Nando melongo tak percaya. Ia kira ia akan dimarahi atau bahkan sampai dipukul. Tapi ternyata semua dugaannya itu tak benar satupun. Gurunya itu malah mendukung kejahilannya?
Nando tentu tak membuang kesempatan bagus itu. Ia segera berpamitan pada guru itu, dan langsung pergi dari ruang UKS. Tak lupa sebelum ia pergi, ia menyembunyikan barang bukti kejahatannya tadi (spidol).
Sepergiannya Nando, guru itu tampak memperhatikan karya seni yang dibuat oleh Nando tadi. Senyuman jahil terbit di wajah guru itu. Ia mengeluarkan sebuah spidol dari dalam sakunya.
......................
Syasya terbangun dari tidur nyenyaknya. Ia melirik jam dinding yang terpajang di sana. Jam kini sudah menunjukkan pukul setengah sebelas.
Melihat Syasya sudah bangun, guru penjaga UKS pun menyapanya. Mengajak Syasya mengobrol mengenai beberapa hal. Tak kuasa menahan tawa, guru itu pun memilih untuk keluar dari sana.
Syasya yang merasa aneh dengan sikap guru tadi. Entah mengapa guru tadi seperti menahan tawa di depannya. Padahal menurutnya tidak ada hal yang lucu. Tak mau ambil pusing, ia memilih untuk melupakan sikap aneh gurunya tadi.
Kini Syasya hendak kembali ke dalam kelas. Diperjalanannya menuju ke kelas, beberapa kali ia bertemu dengan murid lain dan mereka selalu menertawainya. Dengan langkah cepat ia lalu pergi ke toilet.
Betapa syoknya Syasya saat ia berdiri di hadapan cermin. Hampir saja ia tidak mengenali wajahnya sendiri karena dipenuhi coretan spidol. Syoknya makin bertambah saat melihat sebuah tanda love yang di dalamnya bertuliskan 'RFA' di wajah cantiknya itu.
"REYNANDO FIKRI ABIDZAARRR!!!!!!"
.......
.......
...Makasih udah baca cerita ini. Jangan lupa kasih dukungan ya..🤗...