Love, 35 Cm

Love, 35 Cm
Chapter 04



..."Dia itu bagaikan kutub. Dingin."...


...----------------...


.......


Dan benar saja, tak lama kemudian muncul lima cowok berpostur tinggi keluar dari kerumunan itu. Bisa dibilang derajad ketampanan mereka memang berbeda dengan siswa biasa di sekolah ini.


"Nah, Sya. Lo liat, yang di depan sendiri, yang paling ganteng, walaupun kulitnya sawo mateng, tapi nggak ngurangin kegantengannya sedikit pun! Dia Raditya Daffa Mahendra. Kapten basket sekolah kita. Biasanya dia berperan sebagai shooting guard. Dari kelas 12 IPA 1. Peringkat 2 di sekolah. Tingginya 184 cm, Sya.. Udah ganteng, ramah, dan senyum nya itu lho, Sya.. Bikin melting semua cewek! Gue aja juga nge-fans sama dia.." ucap Vivi meleleh.


"Kalo yang disampingnya, dia Antonio Dwi Wicaksana. Satu kelas sama Kak Radit. Dia itu small forward-nya. Tingginya 185,3 cm. Ganteng juga, tapi suka godain cewek. Peringkat 12 di sekolah." sambung Vivi.


"Terus yang di belakangnya Kak Anton, dia Davin Juliano. Kelas 11 IPA 1. Peringkat 4 di sekolah. Dalam tim basket, dia sebagai power forward. Menurut gue, dia oke. Ganteng, tingginya 186 cm, nggak kalah ganteng lah sama Kak Radit. Tapi, dia itu orangnya pendiam, jadi agak misterius gitu.." jelas Vivi, lalu menatap Syasya.


Namun Syasya tampak sama sekali tak mendengarkan pidato Vivi. Dirinya tampak fokus memandang seseorang yang berhasil membuat hatinya bergetar untuk pertama kalinya. Seseorang yang memberikan sedikit perhatiannya meskipun itu merupakan pertemuan pertama antara mereka berdua.


"Woi, Sya! Kok malah bengong sih?!" seru Vivi mengejutkan Syasya.


"Ah, iya! Kenapa?!" ucap Syasya terkejut.


"Dari tadi gue ngomong panjang kali lebar, ngenalin mereka satu per satu, dan lo nggak dengerin sama sekali?! Ya Allah, Sya.. Gue tau, bahkan semua orang juga tau, kalo mereka itu gantengnya emang abnormal. Tapi, Sya.. Tolong lah.. Hargain gue yang dari tadi udah nyerocos sampai berbusa gini.. Lo mah jahat banget..!" cerocos Vivi merajuk.


"Enggak.. Gue dengerin lo kok! Beneran!" bohong Syasya, membujuk Vivi agar berhenti merajuk.


Dahi Vivi mengernyit. "Beneran dengerin gue? Yakin?" tanya Vivi memastikan.


Syasya mengangguk. Mengacungkan jari telunjuk dan tengahnya. "Suwer!" jawabnya.


"Jadi, mau dengar kelanjutan tentang mereka nggak?" cibir Vivi masih agak merajuk.


Syasya langsung mengangguk antusias.


"Oke. Dan yang terakhir-"


"Kok terakhir sih? Kan masih kurang dua orang?" potong Syasya.


"Kan lo udah tau si bang Sat, Sya!" protes Vivi.


"Tapi kan gue nggak tau detail tentang dia.. Ya?" Syasya memohon dengan tampang memelasnya.


Vivi membuang napasnya kasar. Ia menyerah, enggan berdebat dengan teman barunya itu.


"Oke, jadi si bang S-"


"Ehh, bentar! Nama asli dia dong, Vi.. Jangan panggilan sayang lo ke dia! Kalo itu mah gue udah tau!" ledek Syasya.


"What?! Panggilan sayang bapak lo!! Lagian kan lo juga udah tau namanya tadi, Sya..!" sungut Vivi lagi-lagi merajuk.


Syasya tertawa geli melihat ekspresi merajuk teman barunya itu. Walaupun tampang Vivi agak tomboy, tapi tetap saja lucu saat melihat dia marah.


"Oke. Satria Bayu Pamungkas. 11 IPA 4. Peringkat 100 di sekolah. Tingginya 180 cm. Dalam tim basket, sebagai point guard. Dari kelima most wanted, dia yang paling jelek! Paling bego! Paling suka caper! Paling pendek! Pokoknya semua hal yang jelek itu ada sama dia!" kesal Vivi.


Melihat itu, Syasya semakin merasa geli. Entahlah, instingnya mengatakan bahwa ada sesuatu antara mereka berdua. Entah Satria menyukai Vivi atau sebaliknya, atau malah kedua nya saling suka. Lagi-lagi ia berniat menggoda temannya itu.


"Masa sih, Vi? Menurut gue, dia lumayan ganteng kok! Orangnya juga asyik, nggak ngebosenin, tuh!" ucap Syasya sambil menyeruput kuah bakso aci nya. "Ya.. walau nggak seganteng Kak Radit," sambungnya tanpa sadar.


Vivi yang mendengar itu, sontak langsung tersedak. "Uhuk! Uhuk! Lo bilang apa barusan, Sya?"


"Emang gue bilang apaan?" Syasya balik bertanya.


"Lo suka kan sama Kak Radit..? Ngaku lo.." goda Vivi.


"Hah? Enggaklah! Suka apaan?! Baru juga liat orangnya!" elak Syasya.


"Bo'ong lo.. Dosa lho, Sya.. Tapi wajar sih kalo suka sama Kak Radit. Siapa sih yang nggak suka sama cowok se-perfect Kak Radit? Pasti semua juga langsung tergila-gila kalo liat senyuman Kak Radit yang semanis gula jawa itu.." oceh Vivi.


"Ah, lebay lo, Vi!"


Hening. Seketika tak ada suara di antara mereka berdua. Keduanya saling tatap, sekejap kemudian keduanya tertawa. Entah apa yang mereka berdua tertawakan, namun sepertinya mereka berdua sehati. Saling mengerti satu sama lain meskipun baru bertemu.


"Oh, iya! Dan yang terakhir. Pahlawan sekolah kita. Center kebanggan kita, yang udah buat ring kita nggak pernah kebobolan sama sekali. Reynando Fikri Abidzar dari kelas 11 IPA 1. Lo liat, cowok yang super tinggi, yang ada di antara Satria sama Davin? Nah, itu dia.. Nando. Cowok paling tinggi di sekolah kita. Makanya dia jadi center andalan. Semenjak dia yang jadi center, ring kita belum pernah kebobolan sama sekali! Gila, keren abis, Sya!! Udah ganteng, putih, cool, tingginya aja sampai 190 cm! Belum lagi dia itu si murid no.1, peringkat 1 di sekolah ini!! Ya Allah, sungguh sempurna makhluk ciptaan-Mu itu.." heboh Vivi.


Syasya hanya mendengarkan ocehan Vivi, sambil menatap intens cowok bernama Nando itu. 'Kayaknya dia yang tadi gue tabrak deh..' batin Syasya mengingat kejadian pagi tadi.


"Tapi ya, Sya, sesempurna apapun dia, gue nggak akan ngejar dia.." ucap Vivi.


"Kenapa?" bingung Syasya.


Mendengar itu, Syasya mengangguk mengerti. 'Dasar sombong!' batin Syasya masih menatap Nando.


Mereka berdua pun kembali melahap makanan mereka. Namun lagi-lagi konsentrasi mereka buyar karena kelima most wanted itu.


"Tuh, Sya.. Lihat, Sya!" ucap Vivi yang masih mengunyah bakso mercon nya.


Syasya pun mengikuti arah pandangan Vivi. Menatap kelima most wanted yang sepertinya sedang mencari tempat duduk.


Baik tatapan Syasya maupun Vivi, tak pernah sekalipun berpaling dari mereka berlima.


"Mereka ganteng ya, Sya.."


"Iya, Vi.."


Ucap keduanya tanpa sadar. Bahkan mereka berdua tidak menyadari, kalau yang sedang mereka pandangi tengah berjalan ke arah mereka berdua.


"Boleh ikut gabung sama kalian??" tanya Radit yang sudah berdiri di depan mereka berdua, bersama dengan anggota tim basketnya.


Namun tak ada jawaban dari Syasya maupun Vivi. Keduanya masih asyik memandang indahnya makhluk ciptaan Tuhan yang kini ada di depan mereka.


"Woi, Vi! Malah bengong lagi!" seru Satria, berhasil menyadarkan Vivi.


"Kampret! Ngapain sih lo! Ganggu gue a-ja?!" Vivi langsung ternganga. Antara percaya dan tidak percaya, bahwa orang yang ia sukai kini berada di depannya.


"Boleh duduk disini? Penuh semua soalnya.." tanya Radit pada Vivi.


"Bo-boleh kok!" jawab Vivi.


Radit pun langsung duduk di samping kiri Syasya.


"Sya! Woi, Sya! Sini!!" panggil Vivi menyadarkan Syasya yang masih melamun.


"Ah, Iya?!" namun seketika Syasya terkejut saat melihat Radit sudah duduk di sampingnya. Ia hendak bergeser ke kanan, namun kini Nando sudah duduk di sisi kanannya.


"Sorry, bisa minggir sebentar nggak? Gue mau lewat.." ucap Syasya pada Nando yang sedang sibuk makan.


Tak ada jawaban maupun gerakan dari Nando. Ia masih fokus melahap makanannya.


"Udah, duduk situ aja.." ucap Radit sambil memakan makanannya.


Terpaksa Syasya duduk disana. Di tengah-tengah cowok idaman semua orang.


"Btw, tadi pagi kita kan belum sempet kenalan. Gue Radit, lo..?" Radit mengulurkan tangannya.


"Syasya," balas Syasya berjabat tangan dengan Radit, lalu dengan Anton dan juga Davin.


Syasya pun mengulurkan tangannya pada Nando. Namun Nando sama sekali tak merespon, malah sibuk dengan makanannya.


Tak mau menanggung malu lebih lama, Syasya segera menarik kembali tangannya. Ia memilih untuk segera menghabiskan makanannya.


"Kak Radit, boleh tanya nggak?" ucap Vivi ingin bertanya.


"Tanya aja.." balas Radit santai.


"Kalo boleh tau tipe cewek yang Kak Radit suka kayak gimana??" ucap Vivi sambil melirik Syasya.


Buuhh!!


Seketika Syasya menyemburkan es teh yang sedang ia minum, dan itu tepat mengenai Nando yang sedang melahap makanannya.


Hal ini tentu saja membuat semua orang yang melihat itu langsung ternganga.


Suasana mendadak sunyi. Hawa dingin pun mendadak menyelimuti seisi kantin.


Syasya yang merasa bersalah bingung harus bagaimana. "Sorry, gue nggak sengaja..!". Ia lantas mengambil beberapa helai tisu, dan mengelap wajah Nando yang dibasahi es teh.


Braakkk!


.......


.......


...Makasih udah baca cerita ini. Jangan lupa kasih dukungan ya..🤗...