
..."Jodoh itu nggak bakalan kemana"...
...----------------...
.......
Mobil Dito melaju membelah jalanan kota Jakarta menuju ke Bandung. Suasana jalanan tampak sangat ramai, namun lain dengan suasana dalam mobil.
Tak ada suara baik dari Dito maupun Syasya. Keduanya sama-sama bungkam. Karena merasakan hawa aneh, Dito pun memutuskan untuk memutar musik.
Baru saja alunan nada dari musik itu terdengar, Syasya langsung meminta musik itu dimatikan.
"Matiin."
Dengan cepat Dito langsung mematikan musik tersebut. Membuat suasana di dalam mobil kembali mencekam. Apalagi ditambah aura menakutkan yang terus keluar dari diri Syasya, seolah ingin membunuh siapa pun yang ada disana.
"Sya-"
"Kenapa baru bilang sekarang?!" potong Syasya.
"Karena-"
"Kenapa Syasya nggak dikasih tau dari kemarin?!" lagi-lagi Syasya memotong ucapan Dito yang belum selesai itu.
"Ya makanya dengerin penjelasan kakak dulu!" balas Dito kesal karena penjelasannya dipotong terus oleh Syasya.
"Ehem! Ya udah jelasin."
"Jadi, Syasya adiknya kakak yang paling manis, sebenarnya kakak itu udah tau kalo kakakmu, Nisa, bakalan nikah sejak seminggu yang lalu." ujar Dito santai.
"Tuh kan! Terus kenapa baru ngasih tau Syasya hari ini?!" kesal Syasya.
"Ya.. Karena kakak lupa!" jawab Dito sekenanya. "Ya udah sih, maapin. Yang penting kan sekarang Syasya udah tau.." sambungnya santai.
Mendengar jawaban Dito yang sangat santai itu membuat Syasya semakin kesal. Bagaimana ia tidak kesal? Kakak perempuan kesayangannya akan menikah, dan ia baru diberi tau satu hari sebelum akad! Kejam bukan?!
Syasya memilih untuk tidur, daripada nanti emosinya kian bertambah karena melihat wajah tanpa dosa Dito, kakak menyebalkannya itu.
.
.
.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mobil Dito berhenti di pekarangan Pesantren Al-Huda.
Dito pun langsung keluar dari mobilnya tanpa membangunkan Syasya yang masih tertidur. Langkahnya menuju ke kediaman abi umi nya yang sudah ia rindukan.
"Assalamu'alaikum!!" seru Dito memasuki kediaman abinya.
"Wa'alaikumsalam!" balas Malik dan Aisyah bebarengan.
Dito langsung mencium kedua tangan orang tuanya. Kedua matanya tampak celingukan menatap sekelilingnya.
"Nisa mana, mi?" tanya Dito.
Belum sempat Aisyah menjawab pertanyaan anaknya itu, tiba-tiba datang seorang perempuan.
"Kak Dito?!!" seru perempuan itu langsung berlari memeluk Dito.
Anisa Zafira Malik (22 th), adik Dito, kakaknya Syasya. Ustadzah di Pesantren Al-Huda. Sholehah, ramah, dan cantik.
"Cie ciee.. Yang mau nikah ngeduluin kakak.." goda Dito membuat Nisa tersipu malu.
"Oh iya! Syasya mana kak?" tanya Nisa celingukan karena tak melihat adik kesayangannya disana.
"Syasya kakak tinggal-"
"Hah?!! Kok ditinggal?!" seru Malik, Aisyah, dan Nisa bersamaan.
Dito langsung mendesah kesal.
"Makanya dengerin dulu.. Belum juga selesai ngomongnya.." sungut Dito.
"Hehe.. Ya udah lanjutin.." ucap Nisa terkekeh.
"Syasya emang kakak tinggal, soalnya lagi tidur di mobil..!" sungut Dito.
Mendengar penjelasan Dito, Nisa langsung pergi menemui Syasya. Ia sudah tidak sabar untuk melihat adik kecilnya yang sangat ia rindukan itu.
Tampak mobil milik Dito terparkir di depan rumah. Tanpa ragu Nisa langsung masuk ke dalam dan duduk di sebelah Syasya yang masih terlelap.
"Sya.. Bangun Sya.."
Nisa berusaha membangunkan Syasya. Namun Syasya tak bergeming sedikit pun. Nisa terus mencoba membuat Syasya bangun, namun lagi-lagi usahanya gagal terus.
"Gempa! Gempa!! Bangun, Sya!!" teriak Nisa membangunkan Syasya.
Dan ya, strategi Nisa tentu saja berhasil. Syasya langsung terbangun, dan langsung berlari keluar mobil.
"Aa gempa!? Tolong! Tolong!" teriak Syasya bingung.
Seketika ia langsung berhenti. Menatap sekelilingnya. Tempat yang tak asing di matanya. Para santriwan dan santriwati yang berlalu lalang langsung berhenti, menatap Syasya heran.
Syasya baru sadar bahwa ia dijahili. Ia langsung menengok ke mobil. Tampak Nisa sudah berdiri di depan mobil dengan kekehannya.
"Ihh.. Kak Nisa mahh!!" sungut Syasya langsung berlari. Ia langsung memeluk tubuh kakaknya itu erat-erat.
"Aduh aduh! Nggak bisa napas, Sya..!" ucap Nisa merasa sesak dengan pelukannya Syasya.
"Hehe.." Syasya langsung melepaskan pelukannya.
.
"Ni hoodie ngapain ada disini?! Wahh.. Pasti tadi kakak yang masukin! Najis ih!" Syasya langsung melemparkan hoodie milik Nando sembarangan.
Nisa yang baru saja masuk ke kamar Syasya melihat adiknya itu membuang sebuah hoodie. Ia pun lekas mengambilnya.
"Kok main dilempar-lempar aja sih, Sya.. Masih bagus lho ini.." ujar Nisa. Ia langsung menghampiri Syasya.
"Ihh jangan dipegang kakk!!" seru Syasya tampak jijik.
"Kenapa?!" sontak Nisa langsung melemparkan hoodie itu.
"Najis itu..!"
"Hiihh! Kirain kenapa! Lagian ini punya siapa sih, Sya? Kok gede banget?!" ujar Nisa membandingkan ukuran hoodie itu dengan tubuh Syasya yang minimalis.
Wajah Syasya seketika langsung suram. "Punya tiang listrik!" ketusnya.
......................
Hari Minggu. Hari yang paling ditunggu oleh keluarga Anisa juga calon suaminya. Para tamu undangan berdatangan, memasuki lapangan yang ada di samping pesantren. Karena acara akan diadakan disana.
Dari kejauhan, Dito melihat calon adik iparnya yang sedang duduk termenung. Ia pun memilih untuk menghampirinya.
"Wehh.. Santai aja kali, serius amat sih!" ucap Dito menepuk pundak calon adik iparnya itu.
"Iya bang. Ini udah santai.." ucap Ridwan menarik napasnya perlahan.
Muhammad Ridwan (26 th), ustadz muda di Pesantren Al-Huda. Sholeh, tampan, dan lulusan Universitas Kairo.
Dito pun duduk di samping Ridwan. Mengajaknya mengobrol agar Ridwan tidak gugup.
Sementara itu di sisi lain, Anisa yang sudah siap dengan kebaya nya terlihat sangat gugup. Keringat bahkan sudah bercucuran karena saking nervousnya.
"Dorr!!" seru Syasya mengejutkan Anisa.
"Allahu akbar! Ih, kakak kaget lho, Sya! Untung jantung kakak nggak copot! Kalo sampai kakak jantungan, emang kamu mau gantiin kakak nikah??" omel Nisa benar-benar kaget.
"Ya nggak mau lah!" tolak Syasya. "Maaf. Abis kakak mau nikah bukannya seneng, malah bengong! Nanti kalo kesambet gimana? Kan kasian Ustadz Ridwan.." beo Syasya.
Benar kata Syasya. Anisa langsung menghirup oksigen sebanyak-banyaknya, mencoba menghilangkan kegugupannya. Melihat sang kakak tengah dilanda rasa gugup, Syasya langsung menggenggam kedua tangan kakaknya itu.
"Tenang kak.. Nggak usah gugup kek gitu ah! Ustadz Ridwan kan nggak bakalan nggigit," ujar Syasya. Ia lantas memeluk Nisa. "Nanti kalo udah nikah, jangan lupa sama adiknya.. Entar mentang-mentang udah punya suami ngelupain Syasya lagi." sambungnya merengut.
"Iya, adikku yang paliiinggg bawel!" ucap Nisa langsung menyentil dahi Syasya.
Akhirnya Nisa bisa menghilangkan kegugupannya berkat adiknya itu.
.
.
Syasya kini sedang bertugas menjadi penerima tamu. Sebentar lagi acara akan segera dimulai, namun tamu undangan belum semuanya hadir. Syasya yang sudah tidak betah memakai kebaya terus memaksa abi umi nya supaya akad segera dilaksanakan.
"Yang mau nikah itu Nisa apa kamu??" tanya Dito pada Syasya yang tidak sabaran itu.
"Iya.. Lagian Kak Nisa yang bakal nikah juga nggak keberatan kok, kamu nya malah yang ngebet banget biar cepat dimulai.." sambung Aisyah tertawa.
Syasya langsung merajuk. Dengan perasaan kesal, ia memilih untuk duduk di bangku, memainkan ponselnya.
Beberapa saat kemudian, tamu yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Sebuah mobil pajero berwarna hitam langsung menuju ke tempat parkir.
"Assalamu'alaikum!!" ucap tamu tersebut langsung menghampiri Aisyah dan Malik.
"Wa'alaikumsalam!!" jawab semua orang serentak. Termasuk Syasya yang masih fokus dengan ponselnya. Meskipun sedang merajuk, ia tetap harus menjawab salam bukan?
"Maaf ya, Mba.. Kita datangnya telat.." ucap seorang wanita.
"Iya, nggak papa.." balas Aisyah.
"Oh, ya calon pengantinnya mana Mba? Ini?" tanya wanita itu sambil menunjuk Syasya yang masih bermain ponselnya.
"Bukanlah.. Yang itu lho!" Aisyah menunjuk ke arah Nisa dan Ridwan. "Yang ini mah adiknya.." sambungnya.
"Ohh ini Syasya ya.. Maaf aku lupa, Mba!" ujar wanita itu lagi.
Aisyah langsung tersenyum. "Syasya, salim dulu sama Tante Kirana dong.. HP nya disimpan dulu, nak!" perintah Aisyah.
Dengan terpaksa Syasya meletakkan ponselnya. Ia lantas berdiri, dan segera menyalami wanita yang dipanggil Kirana itu. Tak lupa, ia juga menyalami suami dari Kirana itu.
Tatapan Syasya menangkap seseorang. Kedua matanya langsung melotot antara tak percaya dan marah.
"Kenalin Mba, ini anakku, Nando. Nando salim dulu sama Tante Aisyah.." perintah Kirana.
Nando tentu langsung menuruti perintah bundanya. Ia segera menyalami Aisyah dan Malik, lalu berdiri di sebelah Syasya.
Seketika Syasya langsung melempar tatapan tajam pada Nando. Ngapain lo kesini?! Sekiranya itulah makna dari tatapan Syasya.
Diam-diam Nando membisikkan sesuatu di telinga Syasya.
"Emang ya.. Kalo jodoh itu nggak bakalan kemana.." bisik Nando.
.......
.......
...Makasih udah baca cerita ini. Jangan lupa kasih dukungan ya..🤗...