Love, 35 Cm

Love, 35 Cm
Chapter 08



..."Gue bakal diem kalo kalian nggak cari masalah sama gue. Tapi kalo kalian berani ngusik gue, jangan harap gue bakal diem aja"...


...----------------...


.......


Pagi pukul 07.20 atau sepuluh menit sebelum pelajaran pertama dimulai, mobil Dito telah sampai di depan gerbang sekolah Syasya. Setelah Syasya benar-benar masuk, Dito pun langsung menuju ke rumah sakit.


Syasya terus melangkahkan kakinya, meskipun tatapan demi tatapan terus ia peroleh dari siswa siswi lain. Ia tentu tau alasan mengapa mereka menatapnya.


"Haishh! Gara-gara ini gips, gue jadi di liatin yang lainnya kan! Dasar gips nggak ada akhlak!" Syasya terus mengumpati gips yang terpasang di kaki kanannya itu.


Ia kembali teringat perdebatannya semalam dengan dokter cerewetnya atau kakaknya itu.


Flashback on


"Kamu kok hobi banget jatuh sih, Sya? Apa jangan-jangan mata kamu rabun, makanya nggak bisa liat jalan dengan jelas?" Dito kembali mengompres pergelangan kaki Syasya menggunakan es batu.


Ia jelas melihat dengan kedua bola matanya, bagaimana Syasya terjatuh saat mereka baru saja keluar dari kafe hendak pulang.


"Ya enggaklah! Mata Syasya itu sehat! Bahkan lebih sehat dari mata kakak!" ucap Syasya merasa kesal.


Dito menatap pergelangan kaki adiknya itu yang terlihat semakin parah.


"Kayaknya mending di gips aja deh, Sya. Biar nggak tambah pa-"


"Nggak! Pokoknya Syasya nggak mau di gips! Malu ah! Nanti di liatin sama orang-orang!" tolak Syasya.


"Kamu pilih kakinya di gips, atau kakak balikin kamu ke abi umi! Biar kamu tinggal di pesantren aja sekalian!" ancam Dito tak main-main.


Syasya mendengus kesal. Inilah pilihan yang paling menyebalkan menurutnya. Terpaksa, ia menuruti perintah Dito untuk memasang gips di kakinya.


Flashback off


Syasya kini berjalan di lorong menuju kelasnya. Namun pagi ini sungguh sial dirinya. Lagi-lagi ia harus bertemu dengan musuhnya, si 'tiang listrik' yang sangat menyebalkan baginya. Siapa lagi kalau bukan Nando, si tinggi itu.


Tingkat kekesalan Syasya pada Nando kian bertambah, saat tiba-tiba Nando yang datang dari arah belakang memberikan tasnya kepada Syasya. Seolah memaksa Syasya untuk membawakannya.


"Woi, kamprett!!" teriak Syasya memanggil Nando yang sudah beberapa langkah di depannya.


Sontak Nando langsung berhenti. Memutar tubuhnya malas.


Brukk!


Seketika sebuah tas tepat mengenai wajah tampan Nando. Tentu saja itu tasnya sendiri, dan tentu saja yang melemparnya tak lain adalah Syasya.


Syasya menahan tawanya. Cepat-cepat ia melangkah pergi dari sana, sebelum tiang listrik itu tersambar guntur kemarahan.


"Cih! Dasar kurcaci!" ujar Nando berdecih lirih.


......................


Seperti biasa kantin selalu ramai di saat jam istirahat seperti sekarang ini. Tempat yang menjadi tujuan utama semua murid selain toilet. Termasuk dua sejoli ini.


"Parah banget ya, Sya, sampe harus di gips sama pake tongkat segala?" tanya Vivi, melihat Syasya yang berjalan dengan tongkatnya.


Namun Syasya hanya mengedikkan bahunya. Ia memilih segera duduk karena berjalan menggunakan tongkat cukup melelahkan baginya.


Vivi pun memberikan pesanan Syasya. Dan mereka berdua langsung melahap makanan mereka masing-masing.


Beberapa saat kemudian, kantin menjadi riuh. Terutama para siswi perempuan yang sangat histeris, membuat telinga Syasya serasa mau budeg.


Syasya kini sudah mulai terbiasa akan keadaan seperti saat ini. Pasti gara-gara kelima most wanted itu. Itulah yang ada di pikirannya.


Tentu saja pemikiran Syasya benar. Dan kini Radit, Nando, Anton, Davin, dan Satria sudah berdiri di hadapan Syasya dan Vivi.


"Ngapain disini?" tanya Syasya to the point.


"Kenapa? Nggak boleh? Emang ini tempat kalian?" sinis Nando langsung duduk.


Sedangkan yang lainnya juga ikut duduk.


"Nggak usah deket-deket bisa kan, bang Sat?!" tegas Vivi langsung mendorong Satria yang duduk di sebelahnya hingga terjatuh dari bangku.


"Sungguh kejam dirimu dinda! Huhu.." ujar Satria lebay mendramatisir.


Membuat mereka semua seketika tertawa, termasuk Syasya. Tanpa Nando sadari, sebuah senyuman terbit di wajahnya sendiri. Senyuman tipis, bahkan sangat tipis hingga tak ada yang melihatnya.


Disaat mereka masih asyik berkumpul, tiba-tiba datang beberapa cewek yang tak diundang.


"Ekhem! Boleh gabung nggak?" tanya salah satunya yang tak lain adalah Vira. Saat ini ia tentunya bersama dengan geng nya.


Tak ada yang merespon Vira. Mereka semua memilih untuk melahap makanan mereka. Bahkan mereka seperti tak menganggap kehadiran Vira and the geng.


"Sorry, udah penuh bangkunya!" ucap Satria mewakili yang lainnya.


Membuat Vira langsung merengut.


"Eh, lo! Minggir! Nggak usah deket-deket sama Nando gue deh lo!" tegur Dira pada Syasya.


"Gue?" Syasya menunjuk dirinya sendiri. "Ogah! Siapa elo nyuruh gue buat minggir?!" Syasya melanjutkan acara makannya.


Mendengar jawaban Syasya tentu membuat Dira, Vira, dan yang lainnya merasa kesal. Bahkan saking kesalnya, Dira langsung menyiram Syasya dengan air mineral miliknya.


"Rasain lo! Dasar PHO!" cibir Dira membuang sembarang botol air mineral tersebut.


Seketika terjadi keributan antara Vivi dengan Dira dan geng nya. Para siswa siswi yang ada di kantin langsung mengerubungi mereka.


Satria berusaha untuk menahan Vivi yang dari tadi ingin memukul Dira. Di sisi lain, Syasya masih duduk diam dengan rambut dan seragam yang basah kuyup.


Ia meletakkan sendok yang entah sejak kapan sudah bengkok tak berbentuk. "Stop, Vi." ujarnya datar.


Vivi langsung berhenti. "Nggak, Sya! Biarin gue ngasih dia pelajaran! Lo itu nggak salah apa-apa, dan si kampret ini main nyiram lo aja!!" seru Vivi tak terima.


Ia kembali hendak menyerang Dira. Namun seketika ia terdiam saat mendengar bentakan Syasya.


"Vivi, stop!" ucap Syasya dengan nada agak naik.


Syasya langsung berdiri dari duduknya. Tanpa menggunakan tongkatnya, ia mendekat ke arah Dira dan geng nya.


Byurrr..


"Ini buat lo yang udah ngatain gue PHO."


Byurrr..


"Ini buat lo yang udah ngasih sambutan buruk di hari pertama gue sekolah."


Byurrr..


Byurrr..


"Ini buat kalian yang waktu itu mau ngerampas tas gue."


Tangan Syasya sudah memegang satu gelas es teh milik Nando. Hendak menyiramkannya pada anggota terakhir geng nya Dira. Cewek itu langsung menutup matanya saat Syasya hendak menyiramnya.


"Dan ini-" tangan Syasya langsung berhenti. "Buat gue," Syasya langsung meminum es teh itu hingga tak tersisa setetes pun.


'Gue bakal diem kalo kalian nggak cari masalah sama gue. Tapi kalo kalian berani ngusik gue, jangan harap gue bakal diem aja,' batin Syasya.


Sunyi. Tak ada satu pun yang bersuara di antara mereka semua. Bahkan Dira, Vira, Shelly, juga Rinta yang disiram oleh Syasya juga tak berani bersuara sedikit pun.


Tiba-tiba seseorang menarik tangan Syasya untuk pergi dari tempat itu. Sepeninggalnya Syasya dari tempat itu, riuh ricuh para siswa siswi yang ada disana mulai terdengar. Mereka sungguh tak percaya dengan apa yang baru saja mereka lihat.


......................


Nando terus menarik Syasya meskipun Syasya memberontak.


"Lepasin bego! Kampret, mau bawa gue kemana lo?!" Syasya memberontak.


Namun Nando tak mendengarkan Syasya sedikit pun. Ia terus menarik Syasya hingga mereka sampai di dalam kelas 11 IPA 1. Kelas tampak sepi, karena semua orang ada di kantin.


"Ngapain lo bawa gue kesini?! Ng-nggak usah macem-macem lo ya!" ujar Syasya berpikir negatif.


Namun Nando tak merespon ucapan Syasya. Ia tampak sibuk mencari sesuatu di dalam tasnya.


"Kalo lo sampe berani macem-macem sama gue-"


Belum selesai Syasya berbicara, Nando langsung melemparkan sesuatu kepadanya.


"Hoodie??" bingung Syasya.


"Makanya, jadi cewek itu jangan kepedean!" sinis Nando.


Syasya tak mengerti maksud Nando memberinya hoodie. Karena otaknya itu minus, ia jadi salah paham dengan maksud Nando.


"Cih! Hoodie kek gini mah gue juga punya banyak di rumah! Lebih mahal malah! Gue nggak butuh!" ujar Syasya sombong. Ia pun melemparkan kembali hoodie itu ke Nando.


Nando menangkap hoodie-nya. "Yakin nggak mau?? Ohh.. Mau pamer yang item itu.." cibirnya.


Syasya semakin bingung mendengar ucapan Nando. Beberapa saat kemudian ia baru menyadari, bahwa saat ini seragamnya itu warna putih dan basah karena ulah Dira tadi.


"Kampret! Balikin hoodie-nya!" seru Syasya langsung menyilangkan kedua tangannya menutupi bagian baju yang basah.


Nando langsung membuang muka. "Tadi katanya kan nggak butuh.."


Syasya semakin geram karena Nando tak mau memberikan hoodie-nya. Ia langsung berjalan ke arah Nando, hendak merebut hoodie tersebut dari tangan Nando.


"Ambil aja kalo bisa!" Nando memegang hoodie itu di tangan kanannya dan mengangkatnya tinggi-tinggi.


Tentu saja Syasya tidak sampai untuk mengambilnya. Ingin melompat, tapi takut kakinya tambah parah. Tapi kalau nggak lompat, ia nggak bakalan sampai ngambil hoodie itu.


Syasya langsung menarik dasi yang dipakai Nando. Membuat Nando seketika langsung terbungkuk. Saat itulah Syasya langsung merebut hoodie tadi dari tangan Nando.


Syasya langsung membelakangi Nando, dan segera memakai hoodie tadi. Setelah selesai, ia langsung melangkah hendak pergi dari sana.


"Dasar kurcaci!" ejek Nando.


Seketika Syasya berhenti. Ia langsung menatap tajam Nando.


"Dasar tiang listrik!!" balasnya dan langsung kabur.


.......


.......


...Makasih udah baca cerita ini. Jangan lupa kasih dukungan ya..🤗...