Love, 35 Cm

Love, 35 Cm
Chapter 03



..."Cowok ganteng itu harus bersatu dengan cowok ganteng lainnya, agar mampu menggetarkan dunia"...


...----------------...


.......


Tett.. tett.. tett..


Bel tanda pelajaran akan dimulai berbunyi. Semua murid segera berhamburan masuk ke dalam kelas. Itulah yang seharusnya terjadi, karena memang begitu aturan dalam sekolah.


Namun lain dengan penghuni kelas 11 IPA 4. Bukannya masuk ke dalam kelas, mereka malah masih asyik dengan kesibukan mereka di luar kelas.


Ada yang ghibah, main mobile legend ataupun free fire, dan juga yang hanya sekedar duduk meratapi nasib di depan kelas.


"Woii bang Sat!! Balikin nggak buku gue!!" teriak salah satu siswi dari dalam kelas.


"Ambil aja kalo bisa, wlek!!" balas cowok itu mengejek. Ia berlari keluar kelas sambil menenteng buku milik siswi yang mengejar nya itu.


Citttt...


Cowok itu berhenti mendadak. Membuat siswi yang mengejarnya tadi menabrak nya dari belakang.


"Kalo mau berhenti bilang dong bang- Eh, ada Bu Arin.." ucap siswi itu menyapa wali kelas mereka yang sudah berdiri di depannya.


"Selamat pagi, Bu Arin yang paaliinggg cantik!" ucap siswa tadi menggoda guru bernama Arin itu.


Guru yang bernama Arin itu hanya geleng-geleng kepala menyikapi tingkah anak didiknya.


"Kalian kok belum masuk kelas? Udah bel dari tadi lho.." tanya Arin.


"Hehe.. Ini baru mau masuk, Bu!" jawab siswa tadi cengengesan. "Eh, itu yang di belakang ibu siapa?!" tanya nya saat menyadari ada seorang siswi yang berdiri di belakang gurunya itu.


"Udah sana, kalian masuk dulu. Nanti kalau kelihatan guru lain kalian bakal dimarahin lho!" ucap Arin mengingatkan.


Mereka pun segera masuk ke kelas, sesuai perintah wali kelas mereka.


"Semuanya, ayo duduk di tempat kalian masing-masing.." perintah Arin.


Semua murid pun menurut dengan wali kelas mereka, dan segera duduk di bangku masing-masing.


"Jadi mulai hari ini, kalian akan mendapat satu teman baru..! Ayo cantik, masuk!" ucap Arin gembira.


Seketika kelas menjadi gaduh. Para murid langsung bersorak, terutama para siswa laki-laki. Terlebih saat guru mereka memanggil si murid baru cantik. Bukankah berarti dia cewek cantik?


Merasa dirinya dipanggil, Syasya pun segera memasuki kelas. Berdiri di samping Arin.


"Hai! Nama gue Adira Syaqilla Malik, biasa dipanggil Syasya. Gue-"


"Haloo Syasya..!" seru semua siswa di kelas itu memotong perkenalan Syasya.


Arin pun langsung melempar tatapan peringatan kepada anak-anak didik nya itu. "Ayo dilanjut Syasya.."


"Gue pindahan dari SMA xx di Jakarta Barat." lanjut Syasya.


"Oke, kalau ada yang mau ditanyakan, nanti aja waktu istirahat ya.. Sekarang kita mulai dulu pelajarannya. Oh iya! Syasya, kamu duduk di sebelah Vivi ya..!" ucap Arin menunjuk seorang siswi.


Syasya mengikuti arah telunjuk Arin. Dan segera duduk di bangku kosong sebelah siswi itu. Siswi itu tersenyum pada Syasya, dan Syasya pun membalas senyuman itu.


"Vivi," ucap siswi itu menjulurkan tangannya.


"Syasya," Syasya membalas jabatan tangan Vivi.


Pelajaran pun dimulai. Namun sungguh malang nasib Syasya. Karena pelajaran kali ini adalah matematika. Pelajaran yang paling tidak ia sukai.


Di hari pertamanya masuk sekolah, ia harus dihadapkan dengan berbagai rumus yang membuat kepalanya mendadak migrain.


......................


Tett.. tett.. tett..


Akhirnya bel istirahat berbunyi. Dan akhirnya, Syasya bisa bernapas dengan lega. Ia langsung meletakkan kepalanya di atas meja. "Fyuhh!"


"Kenapa?" tanya Vivi saat melihat tingkah Syasya.


"Gue nggak suka matematika.." keluh Syasya.


"Kalo gitu ngapain masuk IPA? Kenapa nggak masuk IPS aja?" tanya Vivi lagi.


"Karena gue suka IPA. Dan gue ngerasa lebih bakat di IPA," ucap Syasya.


"Wihh.. Berarti nilai IPA lo bagus dong! Berapa emangnya?" kedua mata Vivi langsung berbinar.


Tentu saja karena ia berpikir akan ada pahlawan di sisinya yang akan membantunya mengerjakan PR dan juga tugas yang ia tidak bisa kerjakan. Atau lebih tepatnya sumber contekan, hehe..


"Lumayan sih, terakhir waktu ujian semester satu kemarin biologi gue 60," ucap Syasya menatap Vivi dengan polosnya.


Jeduarr!!


"Fisika gue 56, terus kimia gue 52.." sambung Syasya masih dengan polosnya.


Savage!


Jika dalam mobile legend, itulah yang menimpa Vivi saat ini. Ibaratnya ia baru memulai permainan, tapi langsung kena savage oleh lawan.


"Nah, sedangkan matematika gue..! Lo mau tau berapa?!" ucap Syasya serius.


"Hehehe.. Nggak usah," balas Vivi. 'Mapel yang dia suka aja nilainya begitu,, apalagi yang dia nggak suka??' batinnya meringis.


"Pantes aja lo masuk ke kelas ini, ya, Sya.." lirih Vivi.


Syasya yang mendengar itu tentu saja langsung bingung. "Emang kelas ini kenapa?"


Belum sempat Vivi menjawab, tiba-tiba muncul seseorang tanpa diundang.


"Dorr!! Lagi ngomongin apa sih? Kayaknya seru banget! Oh ya, kenalin nama gue Satria Bayu Pamungkas. Panggil aja-"


"Bang, Sat." potong Vivi datar.


Satria langsung tersenyum paksa. Sudah biasa ia dipanggil begitu oleh Vivi, si gadis toxic binti bar-bar itu.


"Ya.. Khusus kalian, cewek cantik, gue nggak keberatan dipanggil begitu.. Tapi kalo yang lain, pasti! Langsung gue hajar habis-habisan!" seru Satria menggebu sambil menatap Vivi.


"Udah ah! Yuk, Sya, ke kantin! Nggak usah ladenin dia! Nggak penting! Mending makan, laper gue!" Vivi langsung menarik tangan Syasya.


"Eh, bentar. Lo nggak ikut?" tanya Syasya pada Satria.


"Oh, no! Cowok ganteng itu harus bersatu dengan cowok ganteng lainnya, agar mampu menggetarkan dunia.. Hahaha!!" tawa Satria menggelegar.


Syasya langsung tersenyum gagu. "Hehe, emang nggak penting dia.." ucapnya menatap Satria tak percaya.


.


"Mau pesan apa, Sya?" tanya Vivi saat mereka telah sampai di kantin.


"Emm.. Yang enak apa? Gue kan murid baru, belum tau menu terbaik disini, hehe!" ucap Syasya nyengir.


Vivi berpikir sejenak. Menatap daftar menu yang tergantung di atas.


"Emm.. Gimana kalo lo nyoba bakso aci? Menurut gue itu enak, enak banget malah!" tanya Vivi.


Karena menurutnya, menu paling enak di kantin adalah bakso aci. Kenapa? Pertama, karena kuahnya itu pedes. Kedua, sambel nya paling mantap. Ketiga, karena rasanya paling enak dan paling pedes.


Asalkan itu pedas, maka akan terasa enak bagi Vivi. Karena memang Vivi terobsesi dengan rasa pedas. Sangat sesuai dengan ucapannya yang super pedas dan nusuk sampai ke tulang.


"Oke. Kalo gitu gue mau bakso aci sama es teh aja." ucap Syasya.


"Sipp! Lo cari tempat duduk dulu, biar gue yang pesenin." Vivi pun bergegas memesan makanan untuk mereka berdua.


Sedangkan Syasya, ia tentu mencari tempat yang paling PW untuk mereka makan.


Beberapa saat kemudian, Vivi datang dengan sebuah nampan di tangannya. Bakso aci dan es teh untuk Syasya. Sedangkan untuk dirinya, jus alpukat dan bakso bakar mercon yang tak kalah pedas.


"Hahh.. Pedes, Vi!" keluh Syasya merasakan mulutnya bagai kebakaran.


"Emanglah, Sya.. Tapi enak kan?" tanya Vivi sambil mengunyah makanannya.


Disaat mereka masih berperang melawan rasa pedas yang membakar mulut mereka, tiba-tiba terjadi kerumunan yang sangat ricuh di pintu masuk kantin.


Syasya yang melihat itu tentu saja penasaran. Jiwa kepo yang terpendam dalam dirinya seakan meronta-ronta.


"Btw, itu ada apa ya, Vi? Kok rame banget?" tanya Syasya yang masih kepedasan.


Sontak Vivi mengalihkan pandangannya ke ambang pintu.


"Ohh.. Itu.. Biasalah, Sya. Lo tau kan, kalo biasanya di novel teen-romance yang latarnya sekolah, pasti bakal ada most wanted? Nah, sama kayak di novel, disini juga ada five most wanted.." ucap Vivi berhenti makan.


Syasya hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. "Terus?" tanya nya.


"Bentar, Sya. Lo tunggu mereka keluar dari kerumunan itu,"


Sambil kembali memakan makanan mereka, keduanya sama-sama menanti kelima most wanted keluar dari kerumunan itu.


Dan benar saja, tak lama kemudian muncul lima cowok berpostur tinggi keluar dari kerumunan itu. Bisa dibilang derajad ketampanan mereka memang berbeda dengan siswa biasa di sekolah ini.


Baik tatapan Syasya maupun Vivi, tak pernah sekalipun berpaling dari mereka yang disebut most wanted itu.


"Boleh ikut gabung sama kalian??"


.......


.......


...Makasih udah baca cerita ini. Jangan lupa kasih dukungan ya..🤗...