Love, 35 Cm

Love, 35 Cm
Chapter 15



..."Bukan kutub, tapi buaya darat!!"...


...----------------...


.......


Dalam kegelapan itu Radit baru menyadari tak ada sosok Syasya di sampingnya. Ia melihat Vivi yang masih terus berjalan di depannya itu.


"Vi, Syasya nggak ada!" ucap Radit membuat Vivi langsung menghentikan langkahnya.


"What?!" seru Vivi terkejut. Ia langsung menoleh kiri kanan, namun tak juga melihat keberadaan Syasya. Ia juga baru menyadari bahwa Nando dan Syla juga tidak ada disana.


"Nando sama Syla juga nggak ada, Kak!" ujar Vivi. "Semoga aja Syasya bareng sama Nando dan Syla.." gumamnya lirih.


Radit yang mendengar ucapan Vivi langsung menatap Vivi aneh. Namun cepat-cepat ia menetralkan kembali pikirannya.


'Semoga Syasya nggak kenapa-napa..' batin Radit merasa cemas.


Vivi dan Radit pun melanjutkan langkah mereka untuk mencari pintu keluar sembari mencari Syasya dan yang lainnya.


.


.


"Awas, nanti jatuh dalam pesona gue.."


Mendengar perkataan Nando, Syasya langsung melepaskan dirinya dari rengkuhan Nando. Ia mencoba kembali menetralkan pikiran dan jantungnya yang terasa aneh.


"Ekhem! Makasih." ucap Syasya datar.


Mereka bertiga pun kembali melangkah. Namun saat mereka baru saja memasuki sebuah ruangan, tiba-tiba terdengar suara perempuan yang tertawa dengan sangat nyaring.


"Hihihihiii!!!"


"Huaa!!" teriak Syasya dan Syla terkejut. Syla langsung melompat di punggung Nando. Sedangkan Syasya, ia langsung memeluk lengan Nando erat.


Nando yang melihat itu langsung berdehem. "Ekhem! Tadi aja sok berani, eh nyatanya mental ciut," cibir Nando.


Syasya langsung melepaskan lengan Nando. Sungguh hal yang sangat memalukan baginya. "Sorry. Tadi gue.. gue kaget," ujar Syasya beralasan.


Syasya langsung berjalan mendahului Nando dan Syla. Sungguh rasanya benar-benar memalukan untuknya. Nando pun segera menyusul Syasya. Menyamakan langkahnya dengan langkah Syasya.


"Jalannya biasa aja kali. Kayak dikejar setan aja.." cibir Nando yang masih menggendong Syla.


"Emang lagi dikejar setan! Nih, setannya di sebelah gue!" balas Syasya melirik Nando.


"Setan yang nggak nakutin tapi malah bikin melting," ucap Nando pede.


Seketika langkah Syasya terhenti saat mendengar ucapan Nando. Dahinya mengernyit menatap Nando yang juga berhenti.


'Ini beneran Nando yang katanya dingin kayak kutub itu? Katanya Vivi cool, nggak suka deket-deket sama cewek. Tapi nyatanya kok malah tukang gombal sih?! Ini mah bukan kutub, tapi buaya darat!!' batin Syasya heran dengan sikap Nando yang bertolak belakang dengan apa yang dikatakan Vivi waktu itu.


"Jangan liatin gue lama-lama, entar jatuh cinta lho! Radit mau lo kemanain?" ujar Nando membuat Syasya langsung melotot.


"Enggak boleh! Bebby itu cuma punya Syla! Fo-re-ver!!" ucap Syla yang masih agak celat terhadap huruf 'R'.


"Iya iya.. Lagian Kak Syasya juga nggak minat kok sama bebby nya Syla. Pfft!" balas Syasya menahan tawanya.


Mereka lantas kembali melangkah mencari pintu keluar. Setelah sekian lama berputar-putar mengelilingi ruangan-ruangan yang ada disana, akhirnya mereka melihat cahaya terang tak jauh dari sana.


Begitu mereka bertiga keluar, mereka sudah disambut oleh teman-teman mereka. Bahkan Radit dan Vivi pun sudah keluar sedari tadi.


"Lo nggak papa, Sya?" tanya Radit khawatir begitu melihat Syasya keluar. Syasya langsung menggelengkan kepala sambil menampilkan senyum manisnya.


"Rasanya nyindir banget. Emang gue bakal ngapa-ngapain itu kurcaci apa?!" ketus Nando kesal. Ia lantas melangkahkan kakinya.


"Kemana, Ndo?!" seru Satria bertanya.


"Balik!" balas Nando. Sontak Syla yang masih berada dalam gendongan Nando langsung memberontak.


"Syla nggak mau pulang..! Syla masih pengen main, Beb!!" teriak Syla berusaha turun dari punggung Nando. Namun usahanya sia-sia. Tenaga Nando terlalu kuat jika dibandingkan dengan Syla.


Akhirnya Syla hanya bisa pasrah mengikuti perintah om nya itu. Ia pun memilih untuk pulang. Toh, besok ia juga harus sekolah.


......................


Jam weker terus berdering, namun Syasya belum juga terbangun dari tidurnya. Kedua matanya seolah tak mau terbuka. Rasanya ia masih sangat mengantuk, karena semalam ia pulang jam 11 malam.


Kringggg... kringgggggggg....


Seketika Syasya langsung membuka kedua matanya. Menatap jam weker yang sedari tadi berdering. Kedua maniknya langsung melebar saat melihat jarum pendek berada di angka 7, sedangkan jarum panjang di angka 3.


"Jam 7.15?!! Bege! Telat gue!!!" teriak Syasya dan langsung berlari ke kamar mandi. Lima menit. Hanya butuh waktu lima menit bagi seorang Syasya untuk mandi. Setelah itu ia pun segera memakai seragam sekolahnya.


Ia lalu berlari keluar kamar, mencari kakaknya. Tak ada siapapun disana. Tatapannya menangkap secarik kertas yang ada di atas meja makan.


**Haha! Pasti kamu telat bangunnya kan, Sya? Makanya kalau tidur jangan kayak beruang. Kamu itu tidur, bukan hibernasi!


Oh ya, kakak udah berangkat duluan karena dari tadi kakak bangunin kamu, tapi kamu nya nggak mau bangun. Jadi kamu berangkat naik taxi, ojol, atau angkot terserah kamu.


Sukses adikku sayang,, smoga nggak telat yahhšŸ˜šŸ¤£**


Tangannya Syasya langsung mengepal, meremas surat dari Dito tadi.


"Dasar kakak nggak ada akhlak!" umpat Syasya.


Tak ingin membuang waktu lebih lama, Syasya langsung berlari keluar, menunggu ojol yang tadi ia pesan.


Sepuluh menit Syasya menunggu, namun ojol itu tak kunjung datang. Sudah Syasya pastikan 1000% ia terlambat. Ya, jam tangannya sudah menunjukkan pukul setengah delapan tepat. Alhasil ia meng-cancel ojol tadi, dan memilih naik angkot yang kebetulan lewat.


Jam 07.52, Syasya baru sampai di sekolahnya. Gerbang tentu saja sudah ditutup dari tadi. Namun dari luar gerbang, Syasya dapat melihat beberapa anak yang juga terlambat seperti dirinya. Mereka tentu sedang diceramahi oleh Pak Jarot, guru BP mereka yang super duper cerewet.


Tatapan Pak Jarot menangkap siswi lain yang baru saja terlambat. Tentunya itu adalah Syasya yang masih di luar gerbang. Padahal niat Syasya ingin kabur dari sana, namun apalah daya ia sudah tertangkap basah oleh Pak Jarot.


"Hey, mau kemana kamu?!!" Pak Jarot langsung menyuruh pak satpam membuka gerbang. "Mau kemana kamu, hmm??" Pak Jarot langsung menjewer telinga Syasya. Menariknya agar tidak kabur.


"Aw aw aw! Sakit Pak..!" rengek Syasya terpaksa masuk ke dalam barisan murid yang terlambat itu.


"Njir! Lo telat juga, Sya?!" suara seorang cewek dalam barisan tersebut.


"Sehati kita emang ya.." tambah seorang cowok.


Sontak Syasya langsung menoleh, mencari pemilik suara yang ia kenal itu. Di barisan paling kanan, tampak Satria dan Vivi melambaikan tangan mereka pada Syasya.


Mata Syasya langsung membulat. Ia kira hanya ia yang terlambat, ternyata kedua sahabatnya juga terlambat. Fiks! Ini karena mereka pulang terlalu malam, saking serunya mereka di pasar malam.


"Hush! Kalian kok malah ngobrol! Telat kok bangga!" omel Pak Jarot.


Selama bermenit-menit mereka yang terlambat diceramahi oleh Pak Jarot tanpa henti. Akhirnya Pak Jarot pun menghukum mereka semua untuk membersihkan seluruh lingkungan sekolah. Dengan senang hati mereka menjalankan hukuman dari Pak Jarot.


Seperti biasa, Syasya bersama Vivi dan Satria. Mereka memilih untuk membersihkan area lapangan basket terlebih dahulu. Tampak lapangan basket sedang dipakai oleh kelas 11 IPA 1.


"Cie cie.. Yang lagi dihukum..!" ledek salah satu siswi yang tak lain adalah Dira.


Tak ada yang bergeming di antara Syasya, Vivi, juga Satria. Mereka lebih memilih untuk mendiamkan si pencari masalah itu.


Namun karena merasa tak dianggap, Dira dengan sengaja melempar botol bekas air mineral ke arah mereka bertiga. Hal itu berhasil membuat Vivi langsung murka.


"Anjir! Sialan! Maksud lo apaan taek!?" seru Vivi langsung menghempaskan sapu lidi yang ada di tangannya. Ia langsung menghampiri Dira yang berdiri dengan angkuhnya.


"Kenapa? Nggak terima? Tugas lo kan emang mungutin sampah kan?" ucap Dira songong.


Hal ini membuat Vivi makin marah. Kedua tangannya sudah siap menjambak rambut Dira. Namun dengan cepat Syasya langsung menghentikannya.


"Nggak usah diladenin, Vi. Orang kayak dia nggak pantes dapet perhatian kita." ucap Syasya menarik tangan Vivi untuk pergi dari sana.


Namun Dira tak membiarkan itu. Ia langsung mencekal tangan Syasya. "Mau kemana lo? Cih! Mau kabur lo?"


Syasya menatap tangan Dira yang masih mencekalnya. "Lepas! Tangan lo, nggak pantes megang gue! Bikin jijik tau nggak?" Syasya langsung menghempaskan tangan Dira.


Mata Syasya lantas menatap Nando yang tengah bermain basket.


"Woi tiang listrik! Mending lo urusin pacar lo ini biar nggak ganggu gue sama temen-temen gue!" seru Syasya langsung menghentikan Nando.


.......


.......


...Makasih udah baca cerita ini. Jangan lupa kasih dukungan ya..šŸ¤—...