
..."Akhirnya kesalahan tetap dapat hukuman.."...
...----------------...
.......
Mereka semua yang ada di area lapangan basket langsung tercengang saat melihat bola tersebut masuk ke dalam ring. Terlebih lemparan tersebut dilakukan diluar garis lapangan.
"Sekarang, apa gue udah pantes gabung ke tim inti kalian??" tanya Syasya pada Santi yang masih terdiam tak percaya.
"Udah liat kan? Oke, mulai sekarang Syasya bakal masuk ke tim inti," ujar Vivi.
Mereka pun segera memulai latihan mereka untuk persiapan pertandingan minggu depan.
.
Sekitar pukul lima sore, para anggota tim basket mengakhiri latihan mereka hari ini. Kini Syasya dan timnya sedang berganti pakaian di ruang ganti.
"Gue duluan, Sya!" pamit Lita, salah satu pemain inti di tim basket.
Lita adalah pemain paling tinggi dalam tim. Tingginya 170 cm atau selisih 15 cm dengan Syasya. Karena ia pemain tertinggi, maka ia berperan sebagai center. Lita, cewek yang sifatnya tidak beda jauh dengan Vivi. Tapi dapat dipastikan bahwa dia termasuk kriteria sahabat sejati.
"Oke, hati-hati!" balas Syasya yang sedang memakai seragamnya.
Kini tersisa ia seorang di dalam ruang ganti. Tak lama, terdengar seseorang mengetuk pintu dari luar.
"Sya, buruan napa! Lama amat lo gantinya.." ujar Vivi mengetuk pintu berulang kali.
"Iya, bentar!" balas Syasya.
Tak lama kemudian, Syasya akhirnya keluar dari ruang ganti. Mereka berdua pun segera menuju ke gerbang depan, karena kedua kakak mereka sudah menunggu.
.
.
Selesai latihan basket Santi langsung pergi ke rumah sahabatnya, siapa lagi kalau bukan Dira. Ia pun langsung menceritakan pada Dira bahwa Syasya masuk ke dalam tim inti basket.
"Jadi si PHO bisa langsung gabung ke tim inti?" tanya Dira memastikan.
Dira lantas mengangguk-anggukkan kepalanya. Memikirkan rencana untuk membalas Syasya yang waktu itu telah mempermalukan dirinya di depan semua orang.
Ia tentu masih dendam terhadap Syasya yang pernah menyiramnya saat di kantin. Padahal ia yang memulai mencari masalah dengan Syasya, tapi tetap saja ia tak terima.
"Eh, Ra! Gimana kalo kita ajak kakak lo buat bales dendam?" usul Santi.
Bertepatan dengan itu, Vira baru keluar dari kamarnya. Ya, Vira adalah kakaknya Dira. Avira Nayla Agatha dan Fadira Kayla Agatha, yang berasal dari salah satu keluarga terpandang.
Kedua sifat kakak beradik ini tak jauh berbeda, sama-sama memiliki obsesi yang berlebih pada suatu hal. Jika Vira terobsesi pada Radit, maka Dira terobsesi pada Nando.
Namun entah mengapa kini sifat Vira berubah semenjak Radit dan Syasya jadian. Ia kini tidak pernah mengejar Radit lagi. Bahkan saat Syasya dan Radit sudah putus, ia tetap tidak mempedulikannya.
"Kak Vira! Sini kak!" panggil Dira.
"Hm," jawab Vira singkat. Ia lantas duduk di samping Dira.
"Bantuin Dira dong," ucap Dira.
"Bantuin apa? Masalah si Syasya? Ogah!" Vira langsung bangkit, ia kembali masuk ke kamarnya.
Dira dan Santi hanya menatap Vira yang kini sudah masuk ke kamarnya.
"Tuh kan. Lo liat?! Kakak gue itu berubah sekarang. Nggak kayak dulu lagi. Kalo gue bahas tentang si PHO itu, dia pasti nggak bakalan nanggepin," kesal Dira.
Santi tampak diam, memikirkan suatu hal. "Apa mungkin kakak lo udah capek kali, Ra.. Secara kakak lo kan udah ngejar-ngejar Kak Radit hampir 3 tahun. Lo, nggak ada niatan buat nyerah juga gitu? Emang nggak capek apa?"
"Gue nggak bakal nyerah. Sampai kapan pun gue bakal tetap ngejar Nando. Nando itu cuma milik gue! Nggak ada yang boleh dapetin dia selain gue! Selamanya dia itu cuma milik gue!" ucap Dira menggebu.
......................
Sudah dua jam Syasya berkutik dengan buku PR nya. Dalam waktu selama itu tak satu pun soal terjawab olehnya. Membuat kepalanya serasa akan pecah berkeping-keping.
Ia sudah bertanya pada mbah google juga youtube, namun tetap saja ia tak mengerti. Akhirnya ia menyerah. Ia langsung memanggil kakaknya.
Kakaknya adalah seorang dokter, jadi pasti bisa menyelesaikan soal tersebut bukan?
"Kak Dito!!" teriak Syasya dari dalam kamar.
Tak ada jawaban dari yang dipanggil. Syasya pun memanggil kakaknya untuk yang kedua kalinya.
"Kakkk Ditooo!!!!" teriak Syasya lebih keras.
"Apa sihh Sya??!!" Dito akhirnya datang setelah mendengar suara cempreng adiknya itu.
"Ajarin, hehe.." ucap Syasya nyengir.
Dito lantas menghampiri Syasya yang masih duduk di meja belajarnya. Membaca soal matematika yang tertulis di buku Syasya.
"Ya Allah, Sya.. Kamu soal begini nggak bisa?! Anak SMP aja bisa lho, Sya! Ini itu pelajaran SMP! Masa kamu nggak bisa sih?!" heran Dito.
"Karena pelajaran SMP kak, makanya Syasya udah lupa..!" balas Syasya santai.
Ctakk
Syasya langsung mengelus kepalanya yang terasa sakit karena dijitak oleh kakaknya itu.
"Alasan! Ini juga pelajaran kamu waktu semester satu lho! Kakak heran deh. Kamu kalo di sekolah ngapain aja sih? Sampe soal kayak gini aja nggak bisa??" omel Dito membuat Syasya langsung merasa kesal.
Karena sudah tak kuat mendengar omelan kakaknya itu, Syasya lantas langsung menyuruh Dito agar keluar.
"Udah ah! Nggak jadi tanya! Keluar aja sana! Bukannya ngajarin malah ngomel mulu!" kesal Syasya. Ia langsung mendorong kakaknya agar keluar dari kamarnya.
Syasya langsung membaringkan tubuhnya di atas kasur. Menyerah dengan soal-soal matematika tadi.
"Tau ah! Besok aja ngerjainnya. Nyontek Vivi, hehe.." gumam Syasya. Ia pun memilih untuk tidur karena kedua matanya sudah terasa lelah.
.
Keesokan harinya, Syasya sudah siap untuk berangkat ke sekolah. Begitu pula Dito yang sudah siap untuk berangkat ke rumah sakit. Setelah Syasya masuk ke dalam mobil, Dito segera melajukan mobilnya menuju sekolah Syasya.
Duar!
Baru sampai setengah jalan menuju sekolah Syasya, tiba-tiba saja ban mobil Dito meletus. Sontak Dito langsung mengerem mobilnya.
"Kenapa kak?" tanya Syasya menatap Dito yang sedang mengecek ban mobilnya.
"Meletus, Sya.. Coba kakak hubungi montir dulu deh," ucap Dito langsung menelpon temannya yang merupakan seorang montir.
Syasya langsung keluar dari mobil. Ia tampak mondar-mandir. Ia tentu saja panik mengingat ia belum mengerjakan PR matematika.
"Kak, Syasya naik angkot aja deh.." ucap Syasya saat melihat ada angkot yang melaju ke arah mereka.
"Ya udah.." balas Dito.
Syasya pun langsung menghentikan angkot tadi. Dan angkot itu pun langsung melaju.
Beberapa menit kemudian, Syasya telah sampai di sekolahnya. Namun sayang, gerbang sudah ditutup. Ia langsung melirik jam tangannya.
"Pantes udah ditutup, orang udah telat 5 menit! Hah.." desah Syasya.
Tring
Sebuah ide langsung terlintas di kepalanya. Syasya lantas langsung berlari menuju gerbang belakang sekolah.
Seperti biasa, tak ada guru yang menjaga gerbang belakang. Tanpa menunggu lama, Syasya langsung memanjat gerbang tersebut.
"Fyuhh.. Akhirnya.."
Syasya segera menuju ke kelasnya dengan penuh was-was, takut jika nanti ia bertemu salah satu guru.
Tak lama, ia kini sudah di depan kelasnya. Ternyata Arin, guru matematikanya sudah ada di dalam. Beliau tampak sedang menjelaskan materi pelajaran.
Ia lantas mengirim pesan pada Vivi, agar menangkap tasnya yang ia lempar lewat jendela. Ya, beginilah gunanya duduk di samping jendela.
Setelah berhasil memasukkan tasnya ke dalam kelas, ia tinggal berpura-pura baru kembali dari toilet. Sungguh rencana yang sempurna.
Dengan langkah mengendap-endap, Syasya melangkah masuk ke dalam kelas. Namun belum sampai pada bangkunya, ia langsung tertangkap basah oleh Arin.
"Loh, kamu dari mana, Sya??" bingung Arin yang baru melihat Syasya.
"Eh, anu Bu! Dari toilet!" balas Syasya gugup.
"Oo.. Berarti kamu belum ngumpulin PR nya ya.. Ayo dikumpulin..!" pinta Arin.
'Aduh! Mati gue!' batin Syasya.
"A-anu Bu. Saya belum mengerjakan, hehe.." jujur Syasya.
Bu Arin langsung menghela napasnya. "Kalo gitu kamu keliling lapangan dua kali ya.." ucap Arin tetap sabar.
"Iya Bu.."
Dengan langkah gontai Syasya berjalan menuju ke lapangan untuk menjalankan hukumannya.
"Akhirnya kesalahan tetap dapat hukuman.." gumam Syasya.
.......
.......
...Makasih udah baca cerita ini. Jangan lupa kasih dukungan ya..🤗...