Love, 35 Cm

Love, 35 Cm
Chapter 27



..."Gue nggak akan pernah lepasin apapun yang udah jadi milik gue"...


...----------------...


.......


"Untuk kemenangan kita hari ini!" ucap Vivi memimpin sambil mengacungkan gelasnya.


Ting


Suara gelas yang saling berdentuman. Mereka semua pun meminum soda mereka. Tak lupa, mereka juga telah memesan aneka makanan seperti pizza, burger, dan lainnya yang sangat menggugah selera mereka.


Saat ini, Vivi beserta seluruh pemain basket sekolahnya, baik tim putri maupun putra telah kembali ke sekolah mereka. Dan sekarang mereka sedang merayakan kemenangan mereka hari ini. Meskipun hanya sebuah perayaan sederhana, namun mereka tetap menikmatinya dengan gembira.


Saat Syasya hendak mengambil sebuah burger, tiba-tiba seseorang tak sengaja menabraknya dan menumpahkan soda di baju Syasya.


"Sorry, gue nggak sengaja," ucap Radit meminta maaf. Ia langsung meraih tisu yang ada dan hendak membantu Syasya membersihkan bajunya.


Melihat itu, Syasya langsung menepis tangan Radit. Menatapnya dengan sorot kebencian.


"Kalo punya mata itu dipake, jangan cuma buat pajangan!" ketus Syasya dan langsung pergi dari tempat itu.


"Kemana Sya?!" seru Vivi saat melihat Syasya pergi.


"Toilet," singkat Syasya.


.


Syasya kini sedang membersihkan bajunya yang terkena tumpahan soda. Setelah sekiranya sudah bersih, ia pun melangkah keluar dari toilet. Namun langkahnya bukan untuk kembali dengan yang lainnya. Melainkan ia menuju ke rooftoop.


Syasya duduk sambil memandangi lingkungan sekolahnya dari atas.


"Hah, mana tadi belum jadi ambil burger nya lagi!" keluh Syasya. "Laper, tapi males balik ke sana.."


Tiba-tiba terdengar derap langkah seseorang dari arah belakang. Syasya sontak saja langsung menoleh.


"Ngapain lo kesini?" tanya Syasya.


Namun Nando tak menjawab, ia malah melemparkan sebuah bungkusan ke arah Syasya. Beruntung Syasya cepat tanggap, ia dengan mudah dapat menangkap bungkusan tadi. Kedua alisnya mengernyit.


"Paan ni?" tanya Syasya menatap Nando yang kini sudah duduk di sebelahnya.


Bukannya menjawab, Nando malah lagi-lagi memberi sesuatu ke tangan Syasya. Kali ini adalah sekaleng soda.


Tanpa menunggu lama, Syasya membuka bungkusan dari Nando. Ternyata isinya adalah burger. Ia pun langsung memakannya karena ia sudah kelaparan.


"Ngapain disini?" ucap Nando menatap lurus ke depan.


"Males balik. Lagi nggak mood gabung sama mereka," jawab Syasya sambil mengunyah burger di mulutnya.


Hening. Tak ada suara yang keluar dari keduanya. Hanya suara angin yang berhembus yang terdengar. Syasya masih melahap makanannya hingga habis. Selesai makan, Syasya berusaha membuka kaleng soda tersebut untuk ia minum.


"Sampai kapan mau musuhan?" tanya Nando tiba-tiba.


Seketika jari Syasya berhenti. Ia langsung terdiam. Karena tak mendengar respon dari Syasya, Nando melirikkan maniknya ke arah Syasya. Nando sedikit terkejut saat bibir Syasya sedikit melengkung. Menampilkan senyuman sinis meskipun hanya sebentar.


"Cih! Dia yang udah mutusin gue secara nggak baik-baik. Biarin aja gue sama dia musuhan terus. Kan malah menguntungkan buat lo," ucap Syasya lantas menoleh menatap Nando.


Nando juga menatap Syasya. Ia lalu mengambil soda dari tangan Syasya dan membukanya. Setelah itu ia kembalikan lagi pada pemiliknya. Syasya lalu meneguk soda tersebut beberapa tegukan.


"Dia yang udah nipu gue. Bilang cinta, tapi nyatanya cuma dusta. Dia yang nembak gue, tapi dia juga yang mutusin gue. Gue tulus sama dia, tapi yang gue dapet cuma kebohongan. Rasanya itu kayak dikhianati sama perasaan sendiri."


Syasya tampak menunduk. Tangannya bertambah kuat menggenggam kaleng soda tadi. "Dua hal yang paling gue benci. Pengkhianatan dan kebohongan. Dan dia udah khianatin sekaligus bohongin perasaan gue. Gue nggak akan pernah mentolerir kedua hal tersebut." ucap Syasya lagi.


"Tapi, gimana kalo dia putusin lo karena punya alasan yang nggak bisa dia jelasin ke lo?" tanya Nando ragu.


Mendengar ucapan Nando Syasya langsung menoleh menatapnya. "Maksud lo?"


"Gimana kalo ternyata dia itu punya-"


"Ndo!" potong seseorang memanggil Nando.


Keduanya sontak menoleh ke belakang. Menatap orang yang tiba-tiba datang itu. Melihat kedatangan Radit, Syasya langsung memutar mata malas. Ia lantas beranjak hendak pergi.


Syasya langsung melangkah pergi dari sana. Sekilas ia melirik Radit dengan tatapan sinisnya sebelum ia benar-benar pergi dari sana.


Setelah dirasa Syasya sudah benar-benar pergi menjauh dari sana, Radit langsung menghampiri Nando yang masih duduk di tempatnya.


"Firasat gue emang bener. Lo hampir ngasih tau Syasya, kan?" ucap Radit membuka pembicaraan.


"Padahal lo udah janji nggak bakal bocorin hal itu ke Syasya." Radit tersenyum sinis.


"Gue nggak pernah janji," akhirnya Nando membuka suaranya.


Nando kembali teringat cerita Radit waktu itu saat mereka bertemu di taman.


Flashback On


"Gue bakal putus" ucap Radit.


Radit terdiam. Ia menarik napasnya dalam-dalam. Setelah beberapa saat terdiam, Radit kembali membuka suaranya. Menceritakan apa yang ingin ia ceritakan.


"Belum lama ini kepala gue sering sakit. Pandangan gue juga sering kabur. Gue juga gampang banget kecapekan."


"Terus?" Nando menanggapi.


"Gue kira itu cuma darah rendah, jadi gue biarin. Tapi makin hari kepala gue makin sering sakit. Pandangan gue kadang juga jadi ganda. Bahkan tangan dan kaki gue sering mati rasa sampai nggak bisa digerakin. Maka dari itu, kemarin sepulang sekolah gue putusin buat cek ke dokter. Dan lo tau apa kata dokter?"


Nando terdiam memikirkan pertanyaan Radit. Ia tampak sedang memikirkan sesuatu. Kira-kira penyakit apa yang gejalanya seperti itu?


"Tumor otak."


Entah mengapa penyakit itu yang terlintas di pikiran Nando sehingga ia menyebutkan penyakit tersebut.


Mendengar jawaban Nando, entah mengapa Radit malah tersenyum. Namun bukan tersenyum karena bahagia, melainkan tersenyum getir.


"Lo bener. Dokter bilang gue tumor otak. Tumor otak stadium 2. Gue nggak yakin hidup gue bakal lama apa enggak. Maka dari itu, gue pengen titip Syasya sama lo." Radit kembali tersenyum getir.


Flashback Off


"Sorry, gue nggak bermaksud buat bongkar rahasia lo tanpa ijin. Gue cuma mau mastiin, apa lo yakin dengan keputusan lo?" tanya Nando setelah lama terdiam.


Radit menghela napasnya dalam-dalam. "Harus. Mending sekarang daripada pas udah dalam kan? Dengan gue ninggalin dia sekarang, dia pasti gampang buat ngelupain gue. Terlebih kalo lo bisa gantiin posisi gue di hati Syasya."


"Pastiin lo nggak akan nyesel dengan keputusan lo. Karena asal lo tau, kalo gue nggak akan pernah lepasin apapun yang udah jadi milik gue," ujar Nando datar.


Ia lantas beranjak berdiri. "Gue duluan," ucapnya melangkah meninggalkan Radit disana.


"Semoga," gumam Radit menatap nanar pemandangan di bawah sana.


......................


"Lo tadi ngobrol apa sama dia?" tanya Syasya pada Nando.


Lagi-lagi Syasya diantar pulang oleh Nando menggunakan ninjanya. Kini mereka berdua sedang dalam perjalanan menuju ke rumah Syasya.


"Jawab njir!" kesal Syasya langsung memukul pundak Nando.


Nando yang semula sedang melamun, sontak kembali mendapatkan kesadarannya. Untung mereka tidak mengalami kecelakaan akibat kecerobohan Nando itu.


"Apaan sih??" Nando malah balik bertanya pada Syasya.


"Tau ah! Budeg lo! Males ngomong sama lo!" kesal Syasya enggan mengulangi pertanyaannya.


Beberapa menit kemudian, mereka sampai di tempat tujuan mereka. Syasya pun segera turun, hendak melangkah masuk ke rumahnya.


"Bye, kurcan!!" teriak Nando langsung melajukan motornya.


.......


.......


...Makasih udah baca cerita ini. Jangan lupa kasih dukungan ya..🤗...