Love, 35 Cm

Love, 35 Cm
Chapter 31



..."Biasanya yang sombong di awal bakal kalah di akhir"...


...----------------...


.......


Tak terasa pertandingan hari itu merupakan pertandingan semi final. Dan hari ini adalah pertandingan final, baik bagi Radit dkk dan juga Dea dkk. Keduanya sama-sama berhasil menang di semi final kemarin.


Syasya tampak celingukan menatap para penonton. Padahal pertandingannya sudah akan dimulai, namun hingga kini orang-orang yang ia tunggu belum juga datang.


Ya, saat ini ia sedang menunggu kedatangan keluarganya. Abi, umi, Dito, Nisa, juga Ridwan sang kakak iparnya. Mereka sudah berjanji akan datang menonton, namun hingga pertandingan akan dimulai pun mereka semua tidak juga terlihat.


"Huh.. Mungkin mereka nggak bisa dateng.." keluh Syasya tersenyum getir.


Tatapannya menangkap sosok paling tinggi di bangku penonton. Dia tak lain adalah Nando. Nando tampak menunjukkan kepalan tangannya dari sana. Syasya tersenyum dan melakukan hal yang sama.


Tos tinju meskipun terbentang jarak antara keduanya. Tak lupa, Nando juga memberikan semangat pada Syasya.


"Fighting!!"


Kata itulah yang Syasya definisikan dari gerak bibir Nando. Senyuman tipis kembali terukir di wajah Syasya. Ia kembali menyemangati dirinya sendiri. Meskipun keluarganya tidak ada disana, ia tidak boleh patah semangat bukan?


Priittt


Bola telah dilambungkan ke atas. Setelah bola sampai di titik tertingginya, Lita dan lawannya yang bernama Adel itu saling berebut untuk memenangkan jump ball.


Jump ball dimenangkan oleh Adel. Senyuman sinis langsung terlukis di wajah Sinta dan teman-temannya.


"Sorry guys," ucap Lita.


"Nggak papa, bawa santai aja.." balas Syasya tetap tenang.


Sekilas Syasya menatap power forward tim lawan yang terus memandangnya sinis. Ia tentu saja mengenalnya. Sinta namanya. Dia adalah teman SMP Syasya, sekaligus rekan basketnya. Ia pun membalas tatapan Sinta tak kalah sinis.


Dulu mereka berdua adalah sahabat baik. Namun karena Sinta lebih unggul dalam basket, membuatnya menjadi angkuh dan egois. Hal itulah yang menyebabkan hubungan antara Syasya dan Sinta menjadi renggang.


Bola mulai digiring oleh tim lawan. Tanpa basa-basi mereka langsung menyerang pertahanan Dea dan timnya.


Bola berhasil dioperkan ke Sinta. Namun dengan segera Syasya menghadangnya. Dulu mereka berjuang bersama, namun sekarang mereka harus bersaing demi meraih kemenangan.


"Lama nggak ketemu, kabar gimana?" tanya Sinta basa-basi sambil mendribble bola.


"Ya kayak yang lo liat. Mata lo masih bisa ngeliat keadaan gue sekarang kan?" balas Syasya tetap fokus.


Sinta tersenyum sinis. "Iya bisa. Dari dulu lo masih sama. Bahkan tinggi lo aja nggak berubah," ledek Sinta mengejek.


Syasya tetap tenang. Bahkan kini ia tersenyum tak kalah sinis dari Sinta.


"Lo juga masih sama. Dari dulu kesombongan lo nggak hilang-hilang. Bukannya turun malah makin naik. Mungkin kalo udah kepentok langit, baru kesombongan lo bakal hilang. Ya nggak??" Syasya membalas mengejek Sinta sambil menaik turunkan alisnya.


Sinta menggigit bibir bawahnya menahan emosi. Ia semakin mempercepat dribble nya. Dengan mudah ia berhasil lolos dari penjagaan Syasya.


Plung


Dalam sekejap Sinta mampu mencetak poin. "Lo semua, bakal kalah!!" tegas Sinta dengan angkuhnya.


Hal ini tentu saja memicu amarah pada diri Dea dan juga yang lainnya. Apalagi Santi, selaku power forward di timnya, ia merasa diremehkan.


Karena saking marahnya, Santi langsung menyerang balik seorang diri. Setelah berhasil melewati lawan-lawan yang menghadangnya, ia langsung menembakkan bola ke ring.


Plung


Serangan balasan dari Santi berhasil menyeimbangkan skor kedua tim. Santi langsung memandang Sinta sinis.


"Nggak usah sombong dulu. Karena biasanya yang sombong di awal bakal kalah di akhir.." ucap Santi berlalu.


Sinta tampak tersenyum. Entah apa makna dari senyumannya itu. Syasya yang sudah mengenalnya bahkan tidak tahu arti dari senyuman tadi.


"Nice. Tapi nanti jangan main sendiri lagi. Kalo lo main sendiri, gunanya kita apa?" puji Syasya sekaligus mengingatkan Santi.


"Ck! Iya.." balas Santi memutar mata malas.


Pertandingan terus berlanjut. Kini kuarter kedua telah usai. Kedudukan saat ini 28:39, atau unggul tim Sinta.


Melihat ketertinggalan timnya yang mencapai sebelas poin, Vivi pun berencana mengatur ulang strategi mereka. Cukup lama ia dan timnya berunding, namun masih belum menghasilkan strategi jitu.


Sontak Vivi dan yang lainnya langsung menatap Syasya.


"Gimana??" ucap semuanya kompak.


"Kalo kita nggak mau rumput itu nggak kembali tumbuh, kita mesti cabut sampai ke akar-akarnya," usul Syasya.


Harapannya rekan-rekannya akan mengerti, namun ternyata mereka tak mengerti sama sekali dengan ucapan Syasya.


Syasya mendengus kesal. "Huh..! Delapan puluh persen poin yang diperoleh lawan, itu kan Santi yang nyetak-"


"Kok jadi gue sih, Sya? Waras dikit napa?!" kesal Santi karena namanya dibawa-bawa oleh Syasya.


"Eh, sorry sorry..! Sinta maksud gue. Habis nama kalian berdua mirip sih! Kayak anak kembar, hehe.." ucap Syasya dengan gurauannya.


"Gue? Kembar sama dia?! Amit-amit!! Ogah banget gue punya kembaran yang sombongnya sampe minta ditampol!!" kesal Santi jijik.


Mereka semua langsung terkekeh mendengar lelucon Syasya dan juga wajah Santi yang tampak merajuk itu.


"Iya.. Sorry ya.." Syasya membujuk Santi agar tidak merajuk.


"Oke, kembali ke plan kita. Jadi kan yang nyetak poin mayoritas Sinta, nah mending kita buat aja si Sinta nggak bisa lagi nyetak poin.." usul Syasya.


Vivi dan yang lain langsung mengernyit tak paham. "Maksud lo??" tanya mereka.


"Kita patahin tangan sama kakinya??" tanya Santi mengusulkan.


"Ihh.. Gile lo ya, San?! Psyco amat lo, njir!" timpal Cika tak percaya dengan usulan Santi.


Yang lainnya langsung geleng-geleng kepala. Mereka pun kembali menatap ke arah Syasya yang tampak menepuk jidatnya.


"Nggak gitu juga maksud gue Santi sayang.. Gini ya, gue itu kenal sama Sinta. Kalo kita mau kalahin dia, tinggal kita tuang minyak sedikiittt aja. Biar... BOOMM!!!"


"Allahu akbar!" seru Lita terkejut.


Bahkan yang lainnya pun tak kalah terkejut karena ucapan Syasya yang tiba-tiba seperti bom atom yang meledak itu.


"Anjirr!! Ngagetin lo, Sya!!" sungut Cika.


Syasya langsung terkekeh. Ia merasa berhasil membuat rekan-rekannya melupakan kekhawatiran mereka mengenai selisih poin yang lumayan itu.


"Ops, sorry kelepasan.. Saking semangatnya gue, hehe.. Back to plan. Jadi Sinta itu emosian orangnya. Dan kalo dia emosi, biasanya dia jadi susah buat ngoper, ataupun nyetak poin. Nah, rencana gue-"


"Kita panas-panasin Sinta sampai dia emosi, terus nggak bisa nyetak poin. Gitu??" potong Santi menebak rencana Syasya.


Syasya langsung menjentikkan jarinya dan mengacungkan dua jempol untuk Santi.


"Kalo masalah kayak begituan, gue mundur ah! Gue nggak bisa jadi kompor, secara gue kan anak baik-baik.." ucap Dea menyerah.


"Gue juga.." tambah Lita.


"Gue-"


"Apa?! Nggak mau ikutan juga lo?!" Santi memotong ucapan Cika.


"Eehh.. Tau aja lo. Tapi sans, gue tetap berpartisipasi kok. Jadi saran gue, mending lo sama Syasya bagian kompor, nah entar gue yang rebut entu bola.. Gimana? Cucok kan??" ucap Cika bangga.


"Okelah.. Setuju gue. Secara mulut kalian berdua kan pedes banget kayak sambel samyang, wkwk!!" ejek Vivi pada Syasya dan Santi.


"Udah deal semua kan??" ujar Dea memastikan.


"Menang?"


"Menang!!"


Sorakan mereka menggema di lapangan.


.......


.......


...Makasih udah baca cerita ini. Jangan lupa kasih dukungan ya..🤗...