
Dua hari setelah ujian sekolah selesai, Nando, Davin, Vivi, Satria, dan Santi kini tengah sibuk mendekor taman. Bunga, kursi yang diletakkan berhadapan dengan meja di tengahnya, lilin, lampu tumblr, lampion, dan masih banyak lagi. Mereka menyiapkan itu semua untuk melamar seseorang nanti malam.
"Ke kanan kanan! Kiri dikit! Hmm.." Santi berpikir sejenak. Mencari sudut yang sempurna untuk meletakkan vas bunga.
"Cepetan ege!! Berat ini!!" kesal Satria yang mengangkat vas besar itu.
"Ck! Brisik! Kanan dikit lagi!" Santi kembali mengarahkan.
"Dari tadi kanan kiri mulu! Bisa nggak sih lo ngarahin yang bener?!" oceh Satria namun tetap memindah vas sesuai arahan Santi.
"Mundur! Terus.. Stop! Nah, udah situ aja!"
Satria meletakkan vas besar itu. "Wait?! Ini kan tempat semulanya Santiii..! Kalo gitu ngapain lo nyuruh gue angkat vas sana sini kalo akhirnya ini vas nggak pindah dari tempat semulanya hah?! Mending kalo vas kecil, masalahnya ini vas sama gue aja gedhenya hampir samaa..!" kesal Satria yang mulai hilang kesabaran.
"Mata lo sakit? Jelas-jelas tadi vasnya itu di sebelah sana! Satu meter dari sebelah lo! Gimana sih lo? Lagian kan emang tugas cowok buat angkat yang berat-berat! Masa gue yang suruh angkat ini vas?! Ya enggak, Vi??" langsung mengaitkan lengannya dengan lengan Vivi.
Vivi yang sedari tadi hanya menyimak, setuju dengan perkataan Santi. Ia tertawa sendiri melihat keributan antara Santi dan Satria yang menurutnya lucu. Jika ia lihat lagi, sepertinya mereka berdua cocok jika bersama.
"Tuh kan?! Wle!" Santi tersenyum mengejek.
"Ih, Vi! Kok lo jadi belain dia sih?! Lagian lo ngapain sih bawa ini anak kesini? Nyusahin aja!" kesal Satria.
"Udah udah! Makin banyak orang, kan makin cepet selesai! Dah sana sana! Kerja!" Vivi mengakhiri perdebatan sebelum makin ramai.
Mereka pun kembali mengerjakan tugas mereka masing-masing. Menggelar karpet merah, tak lupa di beri taburan bungan di sepanjang karpet tersebut.
*Beberapa jam kemudian
Semua sudah tertata sempurna. Kerlap-kerlip lampu tumblr dan cahaya lilin menambah romantis suasana di taman senja ini. Nando, Davin, Vivi, Satria, Santi, dan Dito sudah bersiap disana.
"Semua udah beres kan?" tanya Nando.
"Udah,, tinggal nunggu Syasya. Lama banget sih ni anak?" Vivi mencoba menghubungi Syasya.
Beberapa menit kemudian, sebuah taksi berhenti di dekat taman. Tampak Syasya keluar dengan tergesa-gesa. Setelah membayar ongkos, ia segera menuju taman. Betapa terpesonanya ia saat melihat keindahan taman yang telah didekor oleh teman-temannya tadi.
"Eh iya! Gue nggak telat kan?"
"Ya enggaklah. Orang yang mau dilamar aja belum dateng." ucap Vivi.
"Eh, Sya! Cincin?" Dito menengadahkan tangannya.
"Oh iya, cincin! Ini! Makanya jadi orang jangan pikun! Untung Syasya itu adek yang baik hati, jadi mau ngambil cincin yang kakak lupa bawa. Kan nggak lucu ya orang mau ngelamar bilang gini, cincinnya besok aja ya, aku lupa bawa.." ledek Syasya pada kakaknya.
"Hahahaha...!" Mereka semua tertawa mendengar ucapan Syasya.
"Ehh!! Kak Nabil udah mau sampe! Cepet sembunyi!"
Sesuai perkataan Vivi, mereka semua sembunyi, termasuk Dito. Syasya langsung ditarik oleh Nando untuk bersembunyi di belakang pohon besar yang ada di sana. Vivi dan Davin bersembunyi di belakang karangan bunga. Satria yang semula akan bersembunyi di bawah meja hendak pindah saat Santi ternyata juga sembunyi di sana. Namun tiba-tiba saja Santi menariknya, membuat kepala Satria tanpa sengaja terpentok meja.
"Aww!! Sakit beg-"
"Shutttt!!! Udah dateng!" Santi langsung membungkam mulut Satria dengan tangannya. Ia mengintip dengan membuka sedikit taplak meja.
Dan benar saja, Tampak Nabila, kakak Vivi keluar dari mobilnya. Namun langkahnya seketika terhenti saat menyadari pemandangan taman yang jauh berbeda dari biasanya. Agak gelap, dengan pencahayaan yang hanya berasal dari lilin dan lampu tumblr. Aroma semerbak dari beraneka bunga juga membelai indra penciumannya.
Nabila memastikan lagi bahwa ia tidak salah tempat. Merasa aneh dengan suasana romantis di taman yang saat ini hanya ada dirinya sendiri, ia pun bermaksud untuk menelpon Vivi lagi.
Ponsel Vivi nyaris berbunyi. Dengan cepat ia langsung mengubah pengaturan nada deringnya agar menjadi hening.
"Huh.. Nyaris aja.." ucap Vivi dan Davin bernapas lega.
Saat Nabila masih sibuk menghubungi adiknya, tanpa ia sadari Dito kini telah berdiri di belakangnya.
"Nabila Dea Syakira,"
Suara lembut yang begitu familiar di telinga Nabila. Ia lantas menoleh, dan benar saja ia mengenal pemilik suara tersebut. Ia kembali terkejut saat Dito tiba-tiba berlutut dengan satu kaki, sembari mengeluarkan cincin yang telah ia siapkan.
Dari bawah meja Santi masih mengintip dan mendengarkan semua yang Dito ucapkan pada Nabila. Momen romantis seperti itu tentu belum pernah dilihatnya secara nyata. Dan hari ini ia bisa melihat momen tersebut, membuatnya terharu sekaligus baper. Saking terharunya, tanpa sadar air mata menggenang di pelupuk matanya.
"Heyy,, ngapain lo nangis? Yang dilamar kan bukan lo? Apa jangan-jangan lo itu naksir ya sama kakaknya Syasya?" ledek Satria saat melihat mata Santi berkaca-kaca.
"Gue terharu, beg*!! Hiks! So sweet banget mereka, huaa..!" ia langsung menarik lengan kaos yang dipakai Satria, menggunakannya sebagai lap ingus dan air mata.
"Jadi, maukah kamu menerima semua kekuranganku, dan menemaniku di setiap keadaan sampai aku tutup usia nanti? Nabila Dea Syakira, will you marry me?" ucap Dito sambil mengulurkan cincin tadi.
Bulir air mata mulai menetes di pipi Nabila. Ia tak mampu menahan air mata kebahagiaannya. Ia hanya bisa mengangguk, menerima lamaran Dito dengan senang hati. Melihat jawaban Nabila, Dito lantas memakaikan cincin tadi di jari manis Nabila.
"Yeayyyy!!!!"
Syasya, Vivi, dan yang lainnya pun keluar dari persembunyian mereka. Mengucapkan selamat kepada dua orang yang akan menjadi pasangan di masa depan.
Seluruh siswa kelas 12 kini dikumpulkan di lapangan sekolah. Saat yang paling ditunggu ketika mereka sudah berjuang habis-habisan menghadapi ujian, yaitu saat pengumuman apakah mereka akan lulus atau mereka harus kembali berjuang di tahun yang akan datang.
"Baik, tanpa perlu basa-basi lagi, langsung saja bapak panggil nama siswa yang mendapat nilai terbaik di sekolah kita. Ya walaupun kalian pasti sudah tahu, tetap bapak panggil saja nggak papa ya. Selamat untuk... Reynando Fikri Abidzar!"
Prok.. prok.. prok..
Tepuk tangan meriah mulai terdengar. Nando yang dipanggil pun segera maju ke depan.
"Selamat ya, Abidzar, tahun ini kamu adalah satu-satunya siswa yang lulus-"
"HAAA?!!" semua siswa otomatis terkejut saat mendengar perkataan guru mereka tadi.
"Masa cuma Nando yang lulus, Pak?!!"
"Terus kita semua harus ngulang gitu, Pak?!"
"Ngulang? TIDAKKKKKK!!!!"
Siswa siswi yang ada di sana langsung ricuh, mereka tentu tak mau mengulang tahun depan. Mereka sudah merasakan yang namanya digempur oleh ujian, dan mereka tentu tak mau merasakan kembali hal mengerikan itu. Semua kerja keras mereka selama ini, apa harus berakhir sia-sia?
"Hushh! Bapak belum selesai bicara, kalian sudah nyrobot aja. Dengerin dulu.. Maksud bapak itu, Abidzar satu-satunya siswa yang lulus dengan nilai sempurna! Kalian kok sukanya motong orang tua lagi ngomong," jelas pak guru.
"Jadi kita lulus nggak nih Pak??!" tanya salah satu siswa.
"99 persen siswa sekolah kita dinyatakan lulus! Selamat!!!" seru pak guru.
"YEAYYYYY!!!"
"HURRAAA!!"
"YOSHAA!!!"
"Eitt! Tapi jangan senang dulu. Ada teman kalian yang belum berhasil untuk lulus tahun ini."
Deg!
Seketika mereka semua diam. Dalam hati mereka langsung berdoa, berharap bukan mereka yang tidak lulus.
'Jangan bilang itu gue? Ya Allah... Astagfirullah.. Allahu akbar.. Subhanallah.. Semoga hambamu ini lulus ya Allah.. Semoga perjuangan hamba selama ini belajar hingga malam dengan tiang listrik tidak sia-sia ya Allah.. Aamiin' ucap Syasya dalam hati berdoa.
"Jadi, untuk yang bapak sebut namanya, bisa mengulang lagi tahun depan. Jadi, yang belum lulus tahun ini... adalah... Nihil."
Selama beberapa detik suasana menjadi sangat sunyi.
"Nihil?" Siapa? Murid baru?" tanya Satria pada Vivi.
"Nihil artinya nggak ada ege!!!! BERARTI KITA SEMUA LULUSS!!!"
"YEAAYYYY!!!!"
"ALHAMDULILLAH!!"
Mereka semua kembali bersorak gembira. Bahkan seragam mereka kini telah basah kuyup karena salah satu siswa ada yang memainkan selang air. Entah sejak kapan pula ada yang membawa tepung, menghamburkannya ke sekitar.
"Ngeprank ya pak?" bisik Nando oada pak guru tadi.
"Haha, emang cuma kalian yang bisa ngeprank, bapak juga bisa lah ya!" sombong pak guru itu.
"Tapi.. Hati-hati Pak, mereka ini pendendam lho.." ucap Nando dan lari kabur.
"Maksud kamu a-pa?" Pak guru baru menyadari jika murid-muridnya kini sudah ada di depannya, membawa selang juga tepung.
"Pak guru sekarang suka ngeprank ya?" tanya Syasya menakutkan.
"Kalo gitu, makasih buat pranknya Pak!!!"
Tanpa aba-aba Satria menyemprotkan air menggunakan selang pada pak guru itu. Tak lupa Vivi menghamburkan tepung yang ia dapat dari temannya. Tak mau kalah, pak guru pun membalas perbuatan murid-muridnya itu. Ia juga mengambil selang, dan menyemprotkannya ke mereka.
"Ayo kita foto!"
Mereka semua pun berfoto untuk kenang-kenangan di masa yang akan datang. Agar mereka tidak lupa akan hari ini. Agar mereka tidak lupa jika perjuangan mereka tidak pernah sia-sia. Agar mereka tidak lupa, jika mereka bahagia ketika SMA.
.......
.......
...Makasih udah baca cerita ini. Jangan lupa kasih dukungan ya..🤗...