Love, 35 Cm

Love, 35 Cm
Chapter 33



..."Basket itu olahraga untuk tim, bukan individu."...


...----------------...


.......


Betapa senangnya Syasya saat melihat keluarganya datang. Ia pun langsung mengoperkan bola ke Dea, dan segera meloloskan diri dari Sinta.


Dea yang sudah di area three point, langsung mencetak poin dengan tembakan three pointnya.


Plung


Kedudukan kini 42-41 untuk tim Dea. Di menit ke tujuh ini Dea dan timnya berhasil membalikkan keadaan. Hal ini tentu saja membuat Sinta semakin dibuat kesal.


Setelah merebut bola dari tangan Syasya, Sinta langsung menggiringnya seorang diri menuju ring milik tim Dea.


Sinta langsung melompat hendak mencetak poin. Namun Lita tentu menghalanginya. Karena Lita hendak menggagalkan shoot miliknya, tanpa sepengetahuan orang lain Sinta langsung menyikut perut Lita dengan agak keras.


Lita yang merasakan agak sakit pada perutnya, langsung terjatuh dalam lompatannya tadi. Hal ini membuat shoot milik Sinta tadi berhasil menambah poin timnya.


"Sorry. Nggak papa kan lo?" ucap Sinta sambil mengulurkan tangannya untuk membantu Lita berdiri.


Lita menerima uluran tangan tersebut dan langsung kembali berdiri. Satu tangannya masih memegangi perutnya yang agak sakit.


Melihat Sinta yang mau membantunya berdiri, membuat Lita berpikir bahwa Sinta tak sengaja menyikutnya. Namun seketika pikiran tersebut hilang saat Sinta membisikkan sesuatu di telinganya.


"Jangan halangi jalan gue lagi, atau gue bakal berbuat lebih dari ini.." bisik Sinta lirih.


"Lain kali hati-hati ya. Jangan sampai jatuh lagi.." sambung Sinta dengan senyuman yang dibuat semanis mungkin.


Sinta lantas melangkah meninggalkan Lita yang masih tercengang. Benar-benar seperti dua orang yang berbeda. Itulah tanggapan Lita terhadap sikap Sinta tadi.


"Dia bilang apa? Jangan halangi jalan dia? Terus gue mesti diam aja gitu ngeliat dia nyetak angka?" gumam Lita lirih.


"Kenapa Lit?" tanya Cika yang sekilas mendengar gumaman Lita.


"Ah, nggak papa. Hehe!" jawab Lita cengengesan.


Kedudukan poin saat ini 41-43. Sedangkan waktu saat ini sudah memasuki menit ke delapan.


Lagi-lagi bola sudah ada di tangan Sinta. Syasya kembali menghadangnya. Tak bisa dipungkiri jika Sinta berbakat dalam basket. Namun hal itu tak membuat Syasya menyerah untuk menghadapinya. Sebisa mungkin ia akan mencegah Sinta agar tidak lagi mencetak poin.


Namun ia gagal. Sinta berhasil lolos dari penjagaannya. Namun Sinta lolos bukan hanya karena kehebatannya dalam basket, melainkan karena ia juga bermain curang.


Tanpa orang lain tahu, Sinta sengaja menginjak kaki Syasya. Hal inilah yang membuat Syasya tak bisa mengejar Sinta.


Plung


Lagi-lagi Sinta mencetak poin untuk timnya. Membuat keunggulan timnya semakin besar. Kini selisih poin kedua tim yaitu empat poin.


Memasuki menit ke sembilan, dan selisih semakin jauh. Syasya melemparkan kode pada Santi dan Dea bergantian. Ketiganya mengangguk bergantian.


Bola berhasil dikuasai oleh Dea. Ia yang sudah berdiri di area three point langsung melompat.


"Three point?" gumam Satria yang duduk di bangku penonton bersama timnya.


"Bukan," ucap Radit membuat Satria mengernyitkan dahinya.


"Triknya Radit sama Davin waktu itu," timpal Nando menduga.


Bersamaan itu, bola yang tadi dilambungkan oleh Dea melambung menuju ring. Tanpa diketahui oleh lawannya, Santi yang telah bersiaga di bawah ring langsung melompat. Ia langsung menangkap bola tadi. Dan..


Plung


Mereka berdua berhasil meniru gerakan Radit feat Davin waktu itu. Dan dengan keberhasilan mereka itu, mereka mampu memperkecil selisih poinnya.


"Rebound!!!" seru Syasya menginstruksi.


Santi yang baru saja mendarat, kembali melompat untuk melakukan rebound.


Hap!


Syasya langsung menangkap operan dari Santi. Bola masih ada di tangan Syasya, namun entah mengapa Dea sudah melompat di area three point.


.


.


Prittt


Pertandingan telah berakhir. Dan kemenangan berhasil diraih oleh Dea bersama timnya. Sorakan para penonton langsung bergemuruh memenuhi lapangan tersebut.


Sinta tampak berdiri mematung. Tak percaya dengan apa yang terjadi saat ini.


Seseorang menepuk pundak Sinta. Membuat Sinta langsung tersadar dari lamunannya.


"Mau apa lo? Mau sombong karena menang?!" tanya Sinta sinis.


"Enggak. Gue cuma mau ngingetin lo. Jangan suka ngremehin orang lain. Karena kadang seseorang itu akan jadi lebih kuat ketika diremehkan." ucap Syasya dan melangkah pergi.


Sinta langsung terdiam mendengar perkataan Syasya.


"Basket itu olahraga untuk tim, bukan individu. Kalo lo pengen main individu, mending nggak usah basket." ucap Santi berlalu melewati Sinta.


"Tunggu!" Sinta menghentikan langkah Santi.


"Lain kali gue pasti kalahin lo," sambung Sinta.


Santi menoleh. Menatap Sinta yang juga menatap dirinya. "Gue tunggu," ucapnya lalu pergi.


.


.


Keluarga Syasya, Vivi, Syasya dan semua rekan-rekan basketnya, juga tim Radit cs saat ini tengah mengadakan perayaan kemenangan mereka di salah satu restoran dekat sana.


Ya, beberapa saat lalu, Radit dan juga timnya berhasil meraih kemenangan. Jadi mereka sekalian merayakannya bersama dengan tim Dea.


"Terima kasih kepada Kak Dito, yang telah dengan ikhlas bersedia menjadi sponsor terbesar untuk pelaksanaan acara ini," ucap Vivi membuka acara.


Dito hanya membalasnya dengan anggukan kepala dan senyuman manisnya.


"Oke, apa lagi yang kita tunggu? Ayo kita makan sekarang!!" ucap Vivi lagi dengan lantang.


Mereka semua pun segera melahap makanan yang telah dihidangkan di atas meja.


.


"Sya, btw itu shoot terakhir, lo belajar dari mana?" tanya Satria pada Syasya.


"Shoot terakhir?" gumam Syasya.


Flashback On


Syasya berhasil menangkap operan dari Santi. Bersamaan itu, Dea yang sudah berdiri di area three point langsung melompat. Kedua tangannya sudah ia posisikan hendak melakukan shoot.


"Dea ngapain??" heran Anton yang melihat itu.


"Entah," balas Satria yang juga tampak heran itu.


Disaat itu pula Syasya yang sudah melihat Dea melompat dan sudah siap dengan posisinya, langsung mengoperkan bola tepat di tangan Dea.


Bola mendarat pas di tangan Dea. Dea pun langsung melambungkannya menuju ring. Dan..


Plung


Three point dengan teknik yang belum pernah orang lihat berhasil mencetak poin kemenangan untuk timnya.


Flashback Off


"Oohh.. Three point gue tadi ya?" sambar Dea bergabung dengan Syasya dan Satria.


"Kalo itu sih gue belajar dari anime!" jawab Syasya santai.


Satria dan Dea langsung melongo. "Anime??!" seru keduanya mengedipkan mata tak percaya.


Syasya menganggukkan kepalanya. Beberapa hari yang lalu, ia, Dea, dan Santi sengaja berlatih bersama, sekaligus menyiapkan taktik cadangan. Setelah Dea dan Santi berhasil meniru teknik Radit dan Davin, Syasya mengajak Dea untuk mencoba sebuah teknik.


Teknik itu adalah teknik yang Syasya lihat di sebuah anime. Syasya sangat ingin mencoba teknik itu. Awalnya terasa sangat mustahil bagi Dea saat mendengar usulan Syasya, namun ia pun tetap mau mencobanya dengan Syasya.


Hari pertama latihan mereka gagal. Hari kedua juga masih gagal. Di hari ketiga dan keempat, mereka mulai bisa meskipun masih sering mengalami kegagalan. Dan di hari kelima, 100% mereka telah berhasil menguasai teknik tersebut.


"Jadi beneran dari anime, Sya?" tanya Dea memastikan. Ya, dia memang tidak tahu jika Syasya mendapat ide itu dari anime karena Syasya juga tidak memberi tahunya.


Disisi lain, Nando melihat Radit yang tampak hendak pergi. Ia pun langsung menghampirinya.


"Mau kemana?" tanya Nando.


"Balik. Besok, gue bakal ke luar negeri. Gue titip Syasya," balas Radit lalu meninggalkan tempat itu.


.......


.......


...Makasih udah baca cerita ini. Jangan lupa kasih dukungan ya..🤗...