
Hawa mencekam terus dirasakan Nando sejak sepulang sekolah tadi. Hal itu tentu saja karena Syasya yang masih marah sejak kejadian di sekolah tadi. Berulang kali Nando mencoba mencairkan suasana, namun hasilnya nihil. Syasya masih tetap diam.
"Ke Timezone yuk!" ucap Syasya tiba-tiba.
"Eh? Em.. Sekarang? Kita nggak pulang dulu? Ganti baju sama sekalian pamitan? balas Nando ragu.
"Se-Ka-Rang!"
Nando tak lagi berani membantah. Daripada nanti Syasya tambah marah? Anggap saja sebagai permintaan maaf kepada Syasya atas kejahilannya tadi di sekolah. Begitulah pemikiran Nando.
"Asyiapp!! Kita meluncur ke Timezone sekarangg..!!"
Nando menambah laju motornya. Sampai di persimpangan jalan, ia memutar balik arah karena Timezone letaknya tak searah dengan rumah mereka berdua. Selama beberapa menit mereka melaju membelah kota Jakarta di sore hari itu.
Nando segera memarkirkan motornya. Mereka berdua pun memasuki area Timezone dengan seragam sekolah yang masih menempel di tubuh keduanya, tak lupa tas ransel yang senantiasa ada di punggung mereka berdua.
"Eh, Sya! Gue ke toilet bentar ya?" ucap Nando yang dibalas dengan anggukan kepala dari Syasya. Setelah mendapat ijin, Nando segera berlari menuju ke toilet yang ada di sana.
"Jangan lama-lama!!" teriak Syasya menatap punggung Nando yang mulai menjauh. Tak lama kemudian, muncul seringaian jahat di wajah mungil Syasya.
Beberapa saat kemudian, setelah Nando menyelesaikan urusannya di toilet. Ia kembali ke tempat dimana tadi ia meninggalkan Syasya. Tampak dari kejauhan Syasya sedang sibuk menulis sesuatu. Namun begitu ia sampai, Syasya langsung menyembunyikan tangannya di belakang tubuh mungilnya.
"Udah?" tanya Syasya. "Kalo gitu, ayo kita maiinnn!!!" serunya antusias. Ia langsung mendorong tubuh Nando agar pergi ke arah yang ia inginkan.
Keduanya mengawali dengan game basket. Mereka bersaing mencetak poin. Siapa yang kalah, harus traktir makan selama satu minggu. Itulah perjanjian mereka berdua.
Nando yang notabene nya seorang center, tentu saja jarang mendapat kesempatan mencetak poin. Alhasil ia dikalahkan dengan mudah oleh Syasya yang memang ahli mencetak poin.
"Yoshhh!! Gue menang! Wle wle, gue menang lo kalah!" ejek Syasya merasa puas. "Sesuai perjanjian lo harus traktir gue makan selama satu minggu, hehe!"
"Iya ah! Bawel! Kek nggak punya uang buat makan aja lo.." ucap Nando jengah.
"Biarin! Gue jadi lebih ngirit, wle!"
Lagi-lagi Syasya menjulurkan lidahnya, mengejek Nando. Membuat Nando jengah hingga rasanya ingin mengikat lidah Syasya itu.
Mereka melanjutkan mencari permainan lain. Kali ini mereka berdua memilih game air hockey. Tentu saja mereka bermain dengan sebuah taruhan lagi.
"Yang kalah harus bawain tas pemenang di sekolah selama seminggu!" ucap Nando disertai seringaian. Ia tentu merasa kali ini akan menang, karena ia sudah sering memainkan game ini bersama teman-temannya.
"Oke! Siapa takut?!" balas Syasya tak mau kalah.
Pertandingan dimulai dengan Nando yang amat percaya diri. Namun siapa sangka jika Syasya ternyata juga mahir memainkan hoki meja tersebut.
Selama beberapa menit, keduanya bertanding dengan sengit. Bahkan pertandingan antara mereka berhasil menarik perhatian pengunjung lain yang ada di sekitar sana.
"Yeayyy!!!!" sorak beberapa penonton saat pertandingan berakhir sesuai yang mereka harapkan.
"Gue udah menang. Sesuai perjanjian, lo harus bawain tas gue selama satu minggu~ Hahaha!!" tawa Syasya menggelegar disana.
Yap, lagi-lagi Nando dikalahkan oleh Syasya. Nando tentu saja merasa tidak terima karena kalah dua kali berturut-turut. Ia lalu menantang Syasya untuk bertanding lagi, namun Syasya menolak dengan alasan capek.
"Udah, nggak usah ngambek gitu ah! Kan cuma game.." hibur Syasya sambil menepuk punggung Nando.
"Kita makan aja gimana? Gue yang traktir deh.." tanpa menunggu jawaban dari Nando, Syasya langsung saja menarik tangan Nando untuk membeli makanan.
Di sepanjang jalan, Nando merasa aneh. Ia merasa diperhatikan oleh pengunjung lainnya. Bahkan beberapa dari mereka juga menertawainya. Nando memilih untuk menghiraukan hal tersebut. Ia tak mau dipusingkan hanya karena hal-hal yang sepele.
"Sya, kayaknya gue harus ke toilet deh," Nando mulai risih dengan tatapan orang-orang.
"Oh, oke. Jangan kelamaan!"
Nando segera menuju ke toilet. Namun belum sampai di toilet, ia semakin mengalami hal aneh. Beberapa kali para perempuan mendekatinya, bahkan ada yang meminta nomor ponselnya. Ia tentu saja menolak untuk memberikannya.
Tak hanya berhenti di situ. Kini seorang perempuan yang kira-kira setinggi Syasya mencegatnya. Nando menatap heran perempuan itu.
"Tinggi gue 151 cm. Jadi boleh dong kenalan sama minta nomer lo?" ucap perempuan aneh itu.
"Ha??" Nando kebingungan dengan perkataan aneh perempuan itu. Lalu kenapa jika tingginya 151? Perasaan dia tidak bertanya, dan tiba-tiba perempuan itu dengan sukarela mengatakan tinggi badannya.
Karena semakin bingung, dan enggan meladeni perempuan aneh itu, Nando memilih untuk langsung ke toilet. Sesampainya di sana, ia menatap dirinya di depan cermin.
"Nggak ada yang aneh kok!"
Nando terus bercermin, mencari keanehan yang ada di tubuhnya. Saat ia memutar tubuhnya, tanpa sengaja ia melihat sesuatu ada di punggungnya dari cermin. Ia langsung meraihnya, dan ternyata sebuah sticky note. Tertulis di sana 'I love kurcaci'.
Dalam sekejap Nando tentu langsung tahu siapa pelakunya. Yap, pemilik dari sticky note dan tulisan tangan yang ada di sana, jelas bahwa dia adalah Syasya si kurcannya.
"Pantesan aja lo maksa ngajak gue ke Timezone. Jadi lo mau balas dendam sama gue? Oke, Adira Syaqilla Malik, awas aja lo," Nando meremas sticky note tadi, seringaian licik terukir jelas di wajahnya.
...🌼🌼🌼...
"Eh! Bentar! Nando kan ke toilet, kalo dia liat tulisan di punggungnya gimana??"
"ADIRA SYAQILLA MALIK!!"
Syasya sontak menoleh karena merasa namanya dipanggil. Dan benar saja, yang ia katakan barusan kini langsung menjadi nyata. Reflek ia berlari saat melihat Nando berjalan dengan cepat ke arahnya.
"Jangan lari lo, Sya! Emang dasar lo KURCACI!!!"
Tak mau tertangkap, Syasya tentu saja tidak berhenti sedetik pun. Ia berusaha untuk menambah kecepatan berlarinya mengingat kaki Nando yang panjang dapat menguntungkan sang pemilik saat berlari.
"Bodo amat! Dari pada lo, TIANG LISTRIK! DASAR MENARA SUTET!!"
Syasya tertawa puas karena ia berhasil menjahili Nando. Siapa suruh berani jahil dengannya, tentu pasti akan dapat balasan berkali lipat dari Syasya. Tapi karena tidak memperhatikan langkahnya, tanpa sengaja Syasya malah menabrak seseorang hingga menyebabkan keduanya terjatuh. Membuat mereka berdua mengaduh kesakitan.
"Aduh!"
Keduanya merasa familiar dengan suara masing-masing. Mereka pun saling tatap. Dan benar saja, Syasya mengenal orang itu. Bisa dibilang temannya dulu, tepatnya satu tahun lalu. Disaat Syasya masih terpaku dengan pikirannya sendiri, tiba-tiba saja Nando datang menyergapnya dari belakang.
"Hehe.. Kena kan lo?!" ucapnya disertai dengan tawa jahatnya.
"Eh, lo, Ndo?" ucap orang yang ditabrak Syasya tadi, yang tak lain adalah Anton.
Nando sontak agak terkejut melihat Anton. Sudah satu tahun, tepatnya sejak kelulusan Anton, mereka tidak pernah bertemu. Tentu saja karena kesibukan mereka masing-masing. Nando yang sibuk dengan belajarnya untuk ujian yang akan datang dan Anton yang sibuk dengan dunia kampusnya. Karena itulah mereka berdua tidak pernah bertemu, bahkan saling menghubungi pun tidak.
Anton lalu memeluk Nando, begitu pula Nando. "Gimana kabar lo sama yang lain?" tanya Anton lalu melepas pelukannya.
"Gue baik, and yang lain juga masih sama kayak dulu," disertai senyuman.
"Bisa aja lo! Oh, ya, sampe lupa ada Syasya! Gimana? Lo nggak papa kan? Ada yang sakit nggak? Lagian lo disini main lari-larian aja!"
Merasa disalahkan oleh Anton, Syasya tentu saja tak terima. "Woy! Kok lo jadi nyalahin gue sih?! Lo juga salah kali! Nggak liat apa ada orang lagi lari? Bukannya minggir malah di tengah jalan!" ketusnya.
"Canda kali, Sya.. Gitu aja marah dah. Sensi amat kek masker, hahaha!"
"Haha.. Lucu," balas Syasya masih ketus.
Seketika Anton muram. Hening seketika. Nando pun bingung harus bagaimana. Dan tiba-tiba saja saat itu Syasya tertawa sendiri. Membuat Anton dan Nando kebingungan.
"Nggak kesambet kan ni??" gumam Nando.
"Hahaha! Gue juga becanda kali! Serius amat sih kalian! Hahaha..!" ucap Syasya di tengah tawanya itu.
Anton dan Nando pun ikut tertawa, sama halnya seperti Syasya. Namun hal itu justru membuat Syasya langsung menghentikan tawanya seketika.
"Udah nggak lucu!" ketus Syasya.
Kembali hening. Anton pun berusaha untuk kembali mencairkan suasana. Ia tentu tak mau terjebak dalam suasana seperti ini, terlebih dengan Syasya yang horor menurutnya.
"Khem! Oh ya, kalian ngapain ke sini? Berdua doang lagi! Jangan-jangan kalian..."
"Apa?! Mau ngomong apa lo? Hem?" tanya Syasya dengan muka horornya.
"Enggak enggak.. Kita kesini cuma mau main-main aja. Gabut abis pulang sekolah.." Nando mencoba menghentikan Syasya yang terus saja mengintimidasi Anton. Anak orang, kalo sampai kena mental, kan bahaya?
"Lo sendiri ngapain kesini? Sendirian lagi," sambung Nando.
"Ya mau main juga, and gue nggak sendiri kok. Gue sama-"
Tiba-tiba seseorang datang menghampiri mereka yang tengah mengobrol. "Disini lo ternyata. Gue cariin dari tadi juga!" ucapnya tak menyadari keberadaan Syasya dan Nando.
Melihat kedatangan orang tersebut membuat Syasya bungkam seribu bahasa. Ia lalu tertunduk, kepalanya serasa tak mau terangkat.
Orang itu pun menyadari keberadaan Syasya, juga Nando. Terkejut. Tentu saja orang itu terkejut. Melihat seseorang yang pernah menjadi kekasihnya kini sedang bersama laki-laki lain, meskipun ia adalah sahabatnya.
Ya, orang itu tak lain adalah Radit. Anton memang datang ke Timezone bersama Radit. Niat ingin melupakan beban pikiran sejenak, tapi kini malah beban itu terasa kian bertambah.
"Sya-" baru saja Radit ingin berbicara, Syasya malah langsung pamit pergi.
"Kita duluan,"
Syasya menarik tangan Nando agar cepat pergi dari sana. Perasaan Syasya terasa campur aduk, entahlah perasaan apa itu. Tapi satu yang pasti menurut Syasya, itu bukanlah cinta..
.......
.......
...Makasih udah baca cerita ini. Jangan lupa kasih dukungan ya..🤗...