
..."Jangan jadi orang lemah, kalau tidak mau ditindas.."...
...----------------...
.......
Tinnn!!!
Seketika Syasya terlonjak kaget. Hampir saja ia terjatuh. Ia pun langsung menoleh ke belakang. Tampak seorang cowok dengan motor ninja hitamnya.
"Dek! SMP nya di sebelah sana!" cowok itu menunjuk arah barat. Ia pun kembali mengegas motornya, menuju ke parkiran.
Sedangkan Syasya masih mencerna maksud dari perkataan cowok tadi. Beberapa detik kemudian ia baru menyadari maksud cowok tadi.
"Wahh.. Dia pikir gue ini anak SMP apa?! Huft! Sabar! Sabar!" gumam Syasya kesal.
Tapi setelah ia pikir lagi, ia juga salah. Mungkin saja cowok tadi tidak melihat seragam yang ia pakai, karena ia memakai hoodie oversize. Terlebih seragam yang ia pakai juga seragam sekolah lamanya.
Ia pun memilih untuk melupakan hal tadi, dan segera melanjutkan langkahnya. Mencari dimana letak kelas barunya.
Saat Syasya tengah sibuk mencari kelasnya, pandangannya teralihkan pada sebuah kerumunan di tengah lapangan basket. Karena penasaran, ia pun melangkah ke sana.
"Misi.. misi.." ucap Syasya agar bisa menembus kerumunan tersebut.
Cewek cupu yang sedang dijahili. Sungguh hal yang paling Syasya benci. Membully orang lain yang lebih lemah dari mereka semua.
Dan yang membuat Syasya semakin geram, tak ada satu pun orang yang mau membantu cewek cupu itu.
Cewek cupu itu hanya bisa menatap tas nya yang digantungkan di ring basket. Beberapa kali ia melompat, tapi sayang lompatannya tidak cukup tinggi untuk meraih tas nya.
"Heh, cupu! Ayo lompat, bisa nggak ambil tas nya?! Nggak sampai ya? Hahaha!!" ejek salah satu siswi.
Syasya menatap siswi itu. Terlihat jelas, bahwa dia lah dalang dari penindasan ini. Tentunya dia tidak sendiri. Ditemani oleh dua temannya, yang sifatnya sama dengan dia. Suka menindas orang lain.
Syasya terus menatap sinis ketiga siswi itu. Hingga ketiga siswi itu pun menyadarinya.
"Apa lo liat-liat?! Kenapa? Lo temennya si cupu? Nggak terima, lihat temen lo dijahili?" bentak salah satu dari ketiganya.
Dengan tatapan sinis, Syasya melangkah mendekati ketiga siswi itu.
"Enggak, gue bukan temennya.. Tapi, GUE PALING JIJIK LIAT ORANG NGE-BULLY YANG LEBIH LEMAH. CUPU tau nggak?" ucap Syasya penuh penekanan.
Semua siswa disana terkejut mendengar penuturan Syasya yang begitu berani mengatai ketiga siswi tadi.
"Ni cewek siapa sih, berani banget ngatain Vira dkk!"
"Cari mati kali ni cewek."
"Belum tau aja siapa Vira!"
Itulah bisik-bisik yang Syasya dengar. Ia kembali tersenyum sinis. Meskipun mereka bertiga lebih tinggi dari dirinya, namun ia sama sekali tidak takut.
"Heh bocah pendek! Lo siapa berani ngatain kita?!" ucap salah satu teman Vira.
"Lo nggak tau siapa kita? Ooh.. Murid baru ya, pantesan aja nggak kenal sama kita!" ucap teman Vira yang satunya saat melihat rok Syasya yang berbeda.
Sontak semua siswa siswi di kerumunan itu langsung menatap rok Syasya. Memang beda dengan milik mereka.
"Murid baru berani cari masalah? Gila! Mental baja emang!"
"Mental baja dari mana? Cari mati iya!"
"Kayaknya bakal jadi mainan Vira yang selanjutnya nih!"
"Udah pendek, banyak tingkah lagi!"
Nyinyiran demi nyinyiran terus Syasya dengar dari mulut-mulut kurang kerjaan itu. Tapi itu tak membuat ia gentar sama sekali.
Sedangkan siswi yang bernama Vira itu langsung tersenyum sinis.
"Guys, kita belum kasih sambutan buat murid baru loh! Gimana kalau kita sambut sekarang aja?" sinis Vira.
Vira pun berdiri di depan Syasya, "Dek, boleh pinjam tas nya?" ucap nya lembut.
"Kalo gue nggak mau ngasih gimana?" balas Syasya.
Vira menghela napasnya kasar. Ia melangkah mundur. "Shelly, Rinta.. Tolong ambilin yaa.." ucap Vira lembut.
Bagai boneka yang selalu mematuhi perintah tuannya, Shelly dan Rinta langsung berusaha merebut tas Syasya. Hingga terjadi aksi tarik-menarik antara Shelly dan Rinta dengan Syasya.
Hal ini membuat para murid yang berkerumun itu menjadi ricuh. Dan tentu saja menarik perhatian seorang siswa yang sedang lewat.
"Ada apa ini?!" ucap siswa itu lantang.
Seketika suasana yang semula ricuh langsung jadi senyap.
"Eh, Radit! Lo kok disini? Nyariin gue ya?" ucap Vira langsung berbinar.
Namun siswa yang bernama Radit itu tak memedulikan Vira. Tatapannya terarah pada sebuah tas yang sedang diperebutkan oleh tiga siswi.
Sontak Shelly dan Rinta langsung melepaskan tas itu.
"Makasih atas sambutannya!" sinis Syasya pada Vira.
Syasya mendengus kesal. Kakinya serasa bergerak sendiri untuk membantu cewek itu. Ia menjatuhkan tas nya sembarangan. Menatap ring basket yang tingginya 3 meter itu.
"Huuhhh.." Syasya menghembuskan napasnya perlahan.
Bismillah.. Syasya langsung melompat sekuat tenaga.
Hap!
Tas yang tergantung di ring tersebut berhasil diraih oleh Syasya. Namun dirinya seakan lupa jika pergelangan kakinya sedang sakit. Hingga saat ia mendarat, klek!
"Ouch!" sebisa mungkin Syasya menahan rasa sakitnya. "Nih! Jangan jadi orang lemah kalau nggak mau ditindas.." ucap Syasya, memberikan tas itu pada pemiliknya.
Ia pun memungut tas nya, dan segera meninggalkan kerumunan yang semakin riuh karena tingkahnya tadi.
"Gila! Lo liat kan? Dia lompatnya sampai semeter!!"
"Padahal dia pendek lho! Kok bisa coba?"
"Kayaknya tadi semeter lebih deh!"
.
Sementara itu, Syasya yang tengah menjadi perbincangan mereka, kini sedang duduk di salah satu bangku taman.
Dengan perlahan, ia melepas sepatunya. Membuka kain yang membalut pergelangan kakinya.
"Shhh.. Kalo kakak sampai tau ini.. Hmm!" Syasya mengamati pergelangan kakinya yang semakin memar dan sakit.
"Nih!" ujar seseorang memberikan es batu pada Syasya.
Sontak Syasya menoleh. Pikirnya ia kan belum memiliki kenalan, lalu siapa yang memberinya es batu?
"Tadi gue lihat pas lo mendarat, kaki lo keliatan nggak seimbang. Dari situ gue tau, kalo kaki lo cidera kan? Makanya gue bawain es batu." ucap cowok itu.
Syasya berpikir sejenak. Ia baru ingat, bahwa cowok itu yang tadi ada di lapangan basket. 'Kalau nggak salah Radit namanya' pikir Syasya.
"Ekhem! Makasih." ucap Syasya datar.
Cowok itu pun duduk di sebelah Syasya. Melihat Syasya yang sedang fokus mengompres pergelangan kakinya.
"Itu kenapa? Jatuh?" tanya Radit penasaran, karena pergelangan kaki Syasya tampak sangat memar dan bengkak.
"Jatuh di tangga," singkat Syasya, terus mengompres kakinya.
Setelah merasa lebih baik, Syasya pun hendak membalut pergelangan kakinya lagi.
"Gue bantu," ucap Radit.
Tanpa menunggu jawaban Syasya, ia langsung membalut pergelangan kaki Syasya dengan hati-hati.
Jantung Syasya serasa berpacu dua kali lebih cepat. Iris matanya tak berhenti memandang wajah Radit yang tampak sangat serius.
Kulit sawo matang, khas orang Jawa. Hidung mancung, alis tebal, dan bulu mata yang lentik. Sekilas berhasil membuat Syasya melupakan rasa sakitnya.
"Kalau sakit, bilang aja."
Suara itu langsung menyadarkan Syasya dari lamunannya. Wajahnya serasa terbakar. Baru kali ini ia merasakan hal seperti ini.
"Dah selesai!" Radit kembali duduk di samping Syasya.
"Ma-kasih!" gugup Syasya.
Dengan langkah seribu, Syasya cepat-cepat pergi dari tempat itu.
.
"Huft.. Jantung aman kan?" gumam Syasya mengecek detak jantungnya yang seperti habis lari maraton.
Ia terus berjalan menyusuri lorong, sambil sesekali menengok ke belakang.
"Dia nggak ngikutin kan?" tanya nya pada diri sendiri, memantau keadaan di belakangnya.
Dukk!
Tanpa sengaja Syasya menabrak seseorang. "Eh, sorry! Gue nggak se.. ngaja..." mulut Syasya ternganga.
Syasya mendongakkan kepalanya. Menatap seorang cowok yang tingginya bagaikan tiang listrik itu.
Cowok dengan tinggi hampir dua meter. Kulit putih, hidung mancung, tatapan mata yang tajam, dan alis yang tebal. Cowok itu menunduk, menatap Syasya yang masih melongo melihat dirinya.
"Kalo jalan itu, matanya di pake! Jangan cuma pake kaki!" tangan kanan cowok itu memegang kepala Syasya, memaksa Syasya untuk minggir.
Syasya yang masih melongo, hanya patuh. Menatap cowok jangkung tadi yang mulai menghilang dari pandangannya.
"Oh iya! Ke kelas!!" Syasya segera melangkahkan kaki menuju ke kelas barunya.
.......
.......
...Makasih udah baca cerita ini. Jangan lupa kasih dukungan ya..🤗...