
..."Gue emang pengecut. Tapi kalau demi lo, bahkan pasifik pun rela gue selami."...
...----------------...
.......
"Pulangnya mau gue anter, Sya?" tawar Radit pada Syasya.
Kini Syasya, Vivi, dan Radit sedang berjalan bersama. Sebenarnya hanya Syasya dan Vivi, tapi Radit memaksa untuk menemani Syasya menunggu kakaknya.
"Nggak usah Kak, ini lagi dijemput kok!" tolak Syasya lembut.
"Panggilnya nggak usah pake kak, Radit aja nggak papa.." ucap Radit tersenyum manis.
Membuat Syasya melting melihatnya. Ia hanya menjawabnya dengan menganggukkan kepalanya.
"Kalo gitu gue duluan ya.." pamit Radit melambaikan tangannya.
Syasya dan Vivi pun membalas melambaikan tangan mereka. "Hati-hati!"
Tatapan Syasya terus menatap Radit yang kemudian mulai menghilang dari pandangannya. Ia bahkan tidak menyadari bahwa sedari tadi Vivi terus memperhatikannya.
"Ekhem! Udah kali ngeliatinnya.. Udah pergi juga orangnya, masih aja diliatin!" cibir Vivi.
Sontak Syasya langsung mengalihkan pandangannya. "Siapa juga yang ngeliatin! Gue kan cuma.." Syasya tampak berpikir.
"Cuma apa? Cuma memandang dia yang udah jadi pacar lo? Bwahaaha!!" ledek Vivi tertawa terbahak-bahak.
"Tau ah!!" ujar Syasya merajuk.
Beberapa saat kemudian, kakak mereka pun datang. Mereka segera pulang ke rumah masing-masing.
.
.
Senyuman tak pernah luntur dari wajah Syasya. Karena setelah sekian lama akhirnya pergelangan kakinya telah membaik. Dito bahkan juga sudah melepaskan gips yang terpasang di kakinya itu.
Meskipun begitu, tentunya Syasya masih belum boleh melompat. Dia tentu harus menunggu pergelangan kakinya benar-benar pulih.
Ting
Syasya langsung membuka ponselnya. Ternyata Radit lah yang mengiriminya pesan.
...Radit🖤...
Sya, entar malem
ada waktu nggak?
^^^Ada, emang kenapa?^^^
Ke pasar malem, mau?
^^^Emm.. Oke^^^
Sekalian ajak Vivi
Entar gue ajakin
yang lainnya
^^^Siap pak bos👌^^^
.........
Syasya segera meminta izin pada Dito. Namun sayang, Dito tidak mengizinkan Syasya untuk keluar malam-malam.
"Kak boleh yah.. Syasya sama temen-temen Syasya kok! Pulangnya nggak malem deh.." mohon Syasya.
"Nggak boleh! Titik!"
Syasya langsung cemberut. Otaknya terus berputar mencari cara agar diizinkan untuk pergi. Cling! Sebuah ide langsung muncul di otaknya.
"Beneran nggak boleh ya.. Padahal Vivi sama Kak Nabila juga bakal ikut.." ucap Syasya pura-pura menyesal. Raut kekecewaan terukir jelas di wajah imut Syasya.
Mendengar nama Nabila, kedua mata Dito langsung melebar. Ia langsung menatap adiknya, mencari kejujuran dari ekspresi Syasya.
"Ekhem! Kalo kamu emang pengen banget ke pasar malem, oke, kakak izinin. Tapi dengan satu syarat, kakak harus ikut," ucap Dito melirik Syasya.
Seketika wajah Syasya langsung berbinar. Sangat senang hingga ia hampir saja melompat. Untung Dito langsung mengingatkan Syasya, hingga ia tidak jadi melompat.
Syasya segera pergi ke kamarnya. Ia langsung menghubungi Vivi. Tidak lupa ia juga meminta Vivi agar mengajak Kak Nabila.
.
Sesuai rencana, jam delapan malam, Syasya telah rapi dengan kemeja kotak-kotak nya yang dipadukan dengan celana jeans. Setalah siap, ia pun segera keluar dari kamar.
Tak mendapati Dito diluar, Syasya langsung mengetuk kamar Dito.
Tok.. tok..
"Kak!! Udah selesai belum sih? Lama amat!?!" seru Syasya.
"Iya! Bentar! Sabar napa!" balas Dito.
Beberapa menit kemudian, pintu kamar terbuka. Menampilkan Dito yang sudah sangat rapi.
"Humpt! Kakak mandi kembang apa apa sih?! Wangi banget kek kuburan baru!" ujar Syasya langsung menutup hidungnya.
Tak!
......................
Setelah menempuh perjalanan selama beberapa menit, akhirnya Syasya dan Dito sampai di alamat yang dikirimkan oleh Radit.
Seketika Syasya terpesona dengan pemandangan di hadapannya itu. Gelapnya malam yang terhiasi kerlap-kerlip lampu penerang pasar malam.
"Sya!" suara seorang perempuan memanggil dirinya.
Syasya langsung mencari arah suara tersebut. Tampak sahabatnya, Vivi juga Nabila berdiri melambaikan tangan pada Syasya. Syasya dan Dito pun segera menghampiri keduanya.
Saat mereka berempat sedang mengobrol, datanglah Radit, Anton, Satria, dan Davin menghampiri mereka.
"Kok cuma berempat?" tanya Vivi saat melihat mereka yang datang hanya berempat.
"Tadi Nando udah kita ajak, cuman katanya lagi ada urusan. Jadi nggak ikut deh!" ucap Satria menjawab Vivi.
Vivi hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Sedangkan Syasya tampak tak peduli. Mau Nando tidak datang ataupun datang, toh bukan urusannya. Itulah menurut Syasya.
"Kak, Syasya mainnya bareng sama temen-temen Syasya ya?" pinta Syasya.
Dito tentu saja langsung mengizinkannya. Karena jika tidak ada Syasya, ia tentu bisa jalan-jalan bersama Nabila. Anggaplah kencan, wkwk.
Syasya, Vivi, Radit, dan yang lainnya pun mulai berjalan-jalan mengelilingi pasar malam.
"Sya, naik itu yuk!" ajak Radit sambil menunjuk bianglala di depan sana.
Syasya mengikuti arah telunjuk Radit. Bianglala? Sebenarnya Syasya tak begitu menyukai wahana seperti itu. Ia lebih menyukai wahana menantang seperti kora-kora, halilintar, rumah hantu, ontang anting, dan lainnya.
Tapi karena itu permintaan Radit, Syasya dengan senang hati menyetujuinya. Ia langsung menganggukkan kepalanya antusias.
"Ikut nggak, Vi?" ajak Syasya.
Dengan cepat Vivi langsung menggeleng. "Nggak, nanti jadi obat nyamuk lagi!" sungutnya. "Becanda, hehe! Kalian aja, gue nggak suka yang begituan." sambungnya membenarkan.
"Gue ikut!!" seru Satria antusias. Karena wahana pasar malam yang paling ia sukai adalah bianglala dan komedi putar.
Namun belum sempat Satria melangkahkan kakinya, dengan cepat Vivi langsung menarik telinganya.
"Eitss!! Mau kemana lo? Lo ikut kita pokoknya!" cegah Vivi. Ia pun langsung menarik Satria agar menjauh dari sana, diikuti oleh Davin dan Anton.
Alhasil Syasya dan Radit hanya pergi berdua saja. Mereka langsung menuju ke barisan antrean wahana bianglala.
Sementara itu, Vivi dan yang lainnya kini sedang mencari wahana yang seru untuk mereka.
"Vi, naik itu aja yuk! Kan cocok buat lo yang kayak princess.." ajak Satria menunjuk komedi putar.
Vivi langsung menonyor kepala Satria. "Woi bang Sat. Lo itu umur berapa? Malu lah sama umur lo! Gue? Naik begituan? Ogah amat!" tolak Vivi tegas.
Kedua matanya seketika berbinar saat melihat wahana yang sangat ia sukai. "Ayok naik itu!" ia langsung menarik tangan Satria dan Davin yang berdiri di samping nya. Anton tentu hanya mengikuti langkah mereka bertiga.
Kini di hadapan mereka berempat tampak sebuah wahana yang mampu menguji adrenalin. Wahana itu tak lain adalah kora-kora. Salah satu wahana kesukaan Vivi, si tomboy.
"Lo serius Vi, mau naik ini?" ucap Satria tak percaya. Jujur, ia belum pernah naik wahana seperti itu. Tentu saja karena ia takut.
"Kenapa? Takut? Pengecut lo! Nama aja yang artinya pemberani, tapi aslinya mental kek mendoan. Letoy!" ejek Vivi meremehkan.
"Vi, gue emang pengecut. Tapi kalau demi lo, bahkan pasifik pun rela gue selami.." gombal Satria lebay.
"Sok puitis lo!" cibir Anton.
"Nggak usah banyak bicit, buktiin sekarang juga..!" tanpa basa basi Vivi langsung menyeret Satria agar duduk di kursi kora-kora tersebut.
Davin dan Anton pun menyusul mereka menaiki wahana ekstrim itu. Baru juga kora-kora itu bergerak, Satria sudah teriak histeris. Membuat Vivi yang ada di sampingnya langsung budeg.
"Berisik bege! Bisa diem nggak sih?!" sentak Vivi.
Kora-kora tersebut bergerak semakin cepat, seperti hendak melemparkan para pengunjung yang menaikinya.
Sementara itu, Syasya dan Radit masih mengantre. Antrean disana memang sangat panjang.
"Aduh!" seorang gadis kecil tak sengaja menabrak Syasya. Sehingga membuat gadis kecil itu langsung jatuh terduduk.
Syasya tentu langsung membantu gadis kecil itu berdiri. Untung anak itu tidak menangis.
"Adik nggak papa?" tanya Syasya.
"Iya. Nggak papa kok, hehe!" ucap gadis kecil itu tersenyum manis.
"Kamu kesini sama siapa?" tanya Radit karena melihat gadis kecil itu hanya sendirian.
Namun gadis kecil itu tak menjawab pertanyaan Radit. Ia malah balik bertanya pada Syasya.
"Kakak cantik namanya siapa?" tanya gadis itu.
"Nama kakak Syasya. Nama kamu siapa?"
"Nama aku Syla," jawab gadis bernama Syla itu. "Ini, pacarnya kakak ya?" tanyanya menunjuk Radit.
Syasya hanya menjawabnya dengan senyuman manisnya. "Syla kesini sama siapa?"
"Sama pacar Syla. Itu!" tunjuknya ke arah belakang sana.
"Syla!"
.......
.......
...Makasih udah baca cerita ini. Jangan lupa kasih dukungan ya..🤗...