Love, 35 Cm

Love, 35 Cm
Chapter 17



..."Kalo ada masalah, cerita. Karena itu gunanya punya sahabat."...


...----------------...


.......


Nando dan kedua sahabatnya, Davin dan Satria pergi menonton hari ini. Kebetulan hari ini ada season 2 dari film yang pernah mereka tonton.


Mereka bertiga duduk di bangku paling belakang pojok kanan. Tatapan Nando menangkap dua orang yang baru saja masuk. Dua orang tersebut tak lain adalah Syasya dan Radit.


Film telah diputar. Namun bukannya menonton film tersebut, tatapan Nando malah sibuk memantau Syasya dan Radit yang duduk beberapa baris di depan Nando.


Seketika kedua mata Nando melebar tak percaya saat melihat Radit menyandarkan kepalanya di bahu Syasya.


"Cih! Modus!" gumam Nando berdecih.


Satria dan Davin yang mendengarnya langsung menatap Nando bingung. Nando yang baru sadar ia ditatap oleh kedua sahabatnya langsung berpura-pura menonton filmnya.


"Itu, cowoknya modus!" elak Nando.


Satria dan Davin hanya mengangguk setuju. Mereka pun kembali menonton film tersebut hingga selesai.


Setelah film selesai diputar, mereka bertiga beranjak untuk keluar. Sebelum keluar, Nando melirik sekilas Syasya dan Radit yang tak kunjung beranjak padahal film telah usai.


.


.


Vespa Radit berhenti di sebuah restoran. Syasya dan Radit pun segera masuk ke dalam sana.


"Mau makan apa, Sya?" tanya Radit pada Syasya yang tengah melihat menu yang ada.


"Em.. Nasi goreng seafood aja. Minumnya lemon tea." jawab Syasya.


"Punya saya samain aja ya, mbak!" ujar Radit dan diangguki oleh pelayan tersebut.


Pelayan tersebut pun segera mengambilkan pesanan mereka. Selang beberapa menit pelayan tadi kembali dengan membawa nampan berisi pesanan mereka.


"Makasih mbak," ujar Radit dan Syasya ramah.


Setelah pelayan itu pergi, mereka berdua pun segera melahap makanan mereka dengan khidmat. Setelah habis, mereka pun segera pulang.


......................


Siang ini, Radit dan timnya baru saja selesai bertanding melawan SMA dari kota X. Jangan tanyakan siapa pemenangnya. Tentu saja kemenangan berpihak pada mereka.


Syasya dan Vivi langsung menghampiri mereka yang seperti biasa masih ada di lapangan untuk beristirahat sejenak.


"Minum buat lo, Dit!" Syasya menyodorkan sebotol minuman dingin pada Radit yang masih duduk.


Dengan senang hati Radit langsung menerimanya dan menenggaknya hingga dahaga di tenggorokannya hilang. Tangan kanan Radit memberikan handuk kecil pada Syasya.


"Buat?" tanya Syasya menerima handuk tersebut.


"Lapin.." jawab Radit sambil menunjuk wajahnya dengan tangan kanan.


"Kan bisa sendiri?" ucap Syasya enggan. Ia tentu malu untuk melakukannya karena teman-teman mereka masih disana.


"Nggak bisa. Tangan kiri gue susah digerakin." balas Radit memelas.


"Boong itu, Sya! Alasan doang dia, biar bisa modus sama lo!" seru Anton nyinyir.


"Iya tuh, Sya! Jangan mau dikibulin!" tambah Satria memanas-manasi.


Brukk!!


"Anjir!" seru Satria reflek.


Sebuah botol langsung melayang ke arah Anton dan Satria. Tapi beruntung botol tersebut tak mengenai mereka berdua karena mereka sudah menghindar.


"Beneran, Sya. Ini susah digerakin. Mati rasa juga.." ucap Radit lagi.


Syasya menghela napasnya. Ia lantas segera mengelap wajah Radit yang dibasahi keringat.


"Thanks, Sya.." ucap Radit tersenyum manis. Syasya membalas senyuman tersebut dengan senyuman yang tak kalah manis.


"Dahlah, balik! Kelamaan disini cuma jadi obat nyamuk mereka berdua!" sungut Satria dan disetujui Anton.


Mereka semua langsung beranjak berdiri hendak kembali ke kelas masing-masing. Begitu pula Radit dan Syasya. Radit lantas berdiri, namun lagi-lagi kepalanya sakit dan pandangannya kabur. Bahkan kali ini bayangan orang-orang di depannya menjadi ganda.


"Kenapa? Kok malah diem?" tanya Syasya menyadarkan Radit.


Radit langsung menggeleng-gelengkan kepalanya. "Nggak papa, yuk!" Radit langsung mensejajarkan langkahnya dengan Syasya.


.


.


"Kak, makannya pake apa?" tanya Syasya berteriak karena Dito masih di kamarnya.


Mendengar suara cempreng Syasya, Dito langsung keluar dari kamarnya.


"Pake tangan lah! Masa pake kaki!" jawab Dito lalu melangkah menuju meja makan.


Syasya pun mengikuti langkah Dito. Ia lalu duduk di kursi meja makan.


"Ck! Kalo itu Syasya juga tau! Maksud Syasya itu, menu sore ini apaa?!" jelas Syasya penuh penekanan.


"Ini apa? Makanya diliat dulu!" kesal Dito dan langsung mengeluarkan makanan yang tadi ia beli dari kantong plastik.


"Ketoprak?" gumam Syasya.


"Kenapa? Nggak mau?" tanya Dito dengan nada tak bersahabat. Ia hendak kembali memasukkan ketoprak tadi ke dalam kantong plastik.


Melihat itu, dengan cepat Syasya langsung merebut katoprak tadi dari tangan Dito. "Mau lah!" sungut Syasya. "Kakak kenapa sih? Hari ini itu sensi banget?! Kayak cewek tau nggak?!" sambungnya kesal.


Karena kesal dengan tingkah nggak jelas kakaknya, Syasya memutuskan untuk makan di dalam kamarnya.


Sambil duduk di balkon, Syasya melahap ketoprak tersebut. Jemarinya sibuk mengirim pesan whatsapp untuk Radit.


Namun Radit tak kunjung membalas WA-nya. Syasya mengirim pesan lagi, namun masih tak mendapat balasan dari Radit.


Terakhir dilihat hari ini pukul 15.26


Terakhir on satu jam lalu, sewaktu mereka pulang dari pertandingan basket. Syasya pun memutuskan untuk tidak mengirim pesan lagi. Mungkin Radit sedang istirahat. Itulah pikir Syasya. Ia pun memilih untuk menghabiskan ketoprak nya.


Keesokan harinya. Syasya telah siap dengan seragam sekolahnya. Sebelum keluar dari kamar, ia menyempatkan diri untuk membuka whatsapp nya, barangkali Radit sudah membalas pesannya.


Namun ternyata nihil. Tak ada satu pun pesan dari Radit. Syasya kembali mengirim pesan pada Radit, menanyakan keadaan Radit. Namun pesan nya hanya centang dua abu-abu.


"Sya! Buruan!" seru Dito di luar sana memanggil Syasya.


"Iya kak!" Syasya melupakan hal tadi. Ia langsung berlari keluar untuk berangkat sekolah. Ia berencana menanyakan langsung pada Radit nanti di sekolah.


Sesampainya di sekolah, Syasya merasa ada yang hilang. Biasanya Radit akan menunggu kedatangannya di gerbang. Dan Radit akan mengantarnya ke kelas. Namun entah mengapa kali ini hal itu tak terjadi. Syasya pun memutuskan untuk segera menuju ke kelasnya.


Saat masuk ke kelas, Syasya melihat Satria yang sedang duduk di tempat duduknya. Ia pun langsung menghampiri Satria.


"Sat, Radit kenapa ya? Gue WA kok nggak dibales?" tanya Syasya langsung duduk di bangkunya yang ada di depan Satria.


"Ha? Masa sih? Perasaan kemarin gue chat oke aja tuh!" jawab Satria.


Syasya tampak terdiam. "Oo.. Gitu ya?" gumamnya lirih.


Vivi yang melihat raut wajah Syasya tak seperti biasanya pun menjadi penasaran.


"Kenapa, Sya? Lo lagi ada masalah?" tanya Vivi.


Syasya hanya menggeleng pelan menanggapi pertanyaan Vivi.


"Yakin?" tanya Vivi memastikan. Syasya lagi-lagi tak bersuara, hanya menganggukkan kepalanya.


"Terserah lo deh, Sya. Mungkin sekarang lo lagi nggak pengen cerita. Tapi inget! Kalo ada masalah, cerita. Karena itu gunanya punya sahabat."


Ucapan Vivi benar-benar membuat Syasya terharu. Ia merasa sangat beruntung bisa mengenal Vivi. Walaupun kadang Vivi agak kasar dan suka toxic, tapi Vivi adalah sahabat yang terbaik menurut Syasya.


.


Tett.. tett.. tett..


Akhirnya bel istirahat berdering. Kepala Syasya benar-benar akan meledak jika harus diisi terus dengan rumus matematika yang membuatnya sakit kepala.


Syasya dan Vivi pun segera menuju ke kantin. Syasya tentunya sudah tak sabar untuk bertemu dengan Radit. Lain halnya dengan Vivi, ia tentunya tidak sabar untuk segera mengisi perutnya.


Setelah memesan makanan, Syasya dan Vivi segera mencari tempat untuk duduk. Mata Syasya menangkap sosok yang sangat ia rindukan. Tampak Radit dan yang lainnya sedang menikmati makanan mereka.


Syasya pun segera mengajak Vivi untuk bergabung dengan Radit cs. Baru saja Syasya duduk di samping Radit, namun Radit langsung berdiri.


"Gue ke toilet dulu," Radit langsung melangkah pergi dari sana.


Syasya hanya menatap kepergian Radit yang menghilang dari pandangannya. Begitu pun Nando. Ia menatap Syasya yang terus memperhatikan kepergian Radit. Ia merasa ada yang salah dengan mereka berdua.


'Kenapa??'' batin Syasya merasa Radit menjauhinya.


.......


.......


...Makasih udah baca cerita ini. Jangan lupa kasih dukungan ya..🤗...