Love, 35 Cm

Love, 35 Cm
Chapter 14



..."Awas, nanti jatuh dalam pesona gue.."...


...----------------...


.......


Seorang cowok berjalan ke arah mereka. Lebih tepatnya ke arah Syla, karena ia tak menyadari keberadaan Syasya dan Radit.


"Bebby!!" teriak Syla melambaikan tangannya pada cowok yang berjalan ke arahnya itu.


Ctakk!


Cowok itu langsung menjitak kepala Syla. "Berapa kali om bilang, jangan lari sembarangan! Kalo kamu sampai hilang, siapa yang bakal dimarahin sama mama kamu?" omel cowok itu memarahi Syla.


"Sakit, beb..!" keluh Syla mengusap kepalanya yang terasa nyut-nyutan. "Oh ya, beb! Kenalin, mereka temen baru Syla!" lanjut Syla memperkenalkan Syasya dan Radit.


Cowok itu sontak menatap Syasya dan Radit, begitupun sebaliknya. Syasya dan Radit tampak melongo, tak percaya dengan apa yang mereka lihat.


"Pfftt,, bwahahaha!! Bebby?! Jadi selera lo bocil kek gini?? Bwahaha!!" Syasya tak mampu menahan tawanya. Tawanya seketika menggelegar disana.


Cowok itu hanya menatap Syasya dan Radit datar. Lalu berganti menatap Syla yang jauh lebih pendek darinya itu.


"Kok lo bisa disini, Ndo? Terus ini siapa??" tanya Radit heran.


Ya, cowok itu tak lain adalah Nando. Kebetulan ia memang sedang ada disana. Disaat teman-temannya mengajaknya untuk pergi ke pasar malam, ia sudah punya janji lebih dulu dengan Syla.


Syla sebenarnya adalah keponakan Nando. Lebih tepatnya anak dari sepupunya Nando. Karena kan kalian tahu sendiri Nando itu anak tunggal, jadi tidak mungkin Syla anaknya kakak Nando.


Sedari kecil, Syla dibesarkan tanpa adanya sosok ayah. Ayahnya meninggal tepat ketika Syla dilahirkan di dunia ini. Namun meskipun begitu, Syla tak pernah kekurangan kasih sayang.


Orang tua Nando menyayanginya seperti anak mereka sendiri. Begitu juga Nando. Ia sangat menyayangi ponakannya itu.


Dulu Syla memanggil Nando dengan sebutan om. Namun saat usia Syla menginjak lima tahun, ia memanggil Nando dengan sebutan bebby. Ia bahkan sering mengaku-aku sebagai pacar Nando di depan orang lain.


Namun Nando tak pernah keberatan dengan tingkah laku Syla itu. Ia tak pernah marah pada Syla, namun terkadang ia akan tegas pada Syla agar anak itu tidak bandel.


"Loh, kakak berdua kenal sama bebby-nya Syla?!" tanya Syla heran.


Masih dengan menahan tawanya, Syasya mengangguk. "Kok Syla mau sih, punya pacar tiang listrik kayak dia?" tanya Syasya mensejajarkan tingginya dengan Syla.


"Hih! Pacar Syla ganteng gini kok dibandingin sama tiang listrik sih?!" sungut Syla merasa kesal.


Melihat Syla yang merasa kesal, Radit langsung berusaha mengalihkan pembicaraan.


"Syla mau ikut naik itu nggak?" ucapnya sambil menunjuk bianglala.


"Mauuuu!! Bebby, Syla mau naik ituu!" Syla langsung menarik-narik tangan Nando dengan manjanya.


Nando membuang napas nya kasar. Mau tak mau ia harus menuruti permintaan Syla. Akhirnya mereka berempat pun menaiki bianglala bersama. Tak lupa, mereka juga mengabadikan momen itu melalui beberapa foto. Setelah beberapa putaran, akhirnya bianglala itu pun berhenti.


Mereka berempat pun kembali berjalan-jalan. Mencari wahana seru lainnya untuk mereka nikmati.


"Bentar Sya," Radit pergi entah mau kemana.


Mereka bertiga pun menunggu Radit disana. Karena merasa terlalu sepi di antara mereka bertiga, Syasya mencoba mengobrol dengan Syla.


"Syla umur berapa?" tanya Syasya memulai.


Namun karena masih kesal dengan Syasya yang tadi menyebut Nando tiang listrik, Syla enggan untuk menjawab. Ia langsung membuang muka, langsung bergelayut di kaki panjang milik Nando.


"Syla! Kalo ditanya itu dijawab." tegur Nando datar.


Syla langsung menampilkan keenam jari tangannya. Menandakan umurnya yang baru enam tahun. Setelah itu ia kembali membuang muka dari Syasya.


"Ohh.. Enam tahun.." ucap Syasya mengerti. "Hebat ya, umur enam tahun udah punya pacar. Kakak aja punya waktu umur enam belas tahun.." sambungnya tak peduli apakah Syla mendengarkan atau tidak.


Namun mendengar ucapan Syasya membuat Syla menjadi sedikit tertarik mengenai Syasya. Buktinya saja ia kini langsung menoleh, menatap Syasya.


"Kak Syasya umurnya enam belas?" ulang Syla.


Syasya menganggukkan kepalanya. "Iya, Kak Syasya kan lahirnya bulan Desember." jelasnya.


"Hmm.. Kalo Kak Syasya umurnya enam belas, berarti.." Syla tampak menghitung sesuatu. "Selisih satu tahun sama bebby dong!" serunya mendongak, menatap Nando.


Akhirnya Radit kembali setelah beberapa menit pergi. Kedua tangannya memegang es krim. Ia lantas memberikannya kepada Syasya dan Syla.


"Makasih.." ucap Syasya tersenyum manis.


"Makasih kakak ganteng.." ujar Syla mengedipkan sebelah matanya. Membuat Nando yang sudah hafal betul dengan tabiat ponakan genitnya itu jengah.


.


"Huaaa!!!! Mamaaa!!" teriak Satria histeris saat roller coaster melaju dengan kecepatan yang luar biasa itu.


Namun roller coaster itu terus melaju tanpa henti. Anton yang duduk di sebelahnya menjadi geram sendiri. Pasalnya tadi ketika Vivi ingin menaiki roller coaster, Satria dengan sok berani berkata akan menemaninya.


Setelah beberapa saat pun akhirnya roller coaster itu berhenti. Satria langsung berlari turun, memuntahkan semua makanan yang ia makan tadi.


"Hoekk! Hoek!"


Namun Satria tak bergeming, ia masih sibuk memuntahkan isi perutnya.


"Jangan gitu lah, Vi. Lo nggak kasihan apa lihat Satria kayak gini.." ujar Anton.


"Bodo amat! Mending gue lanjut main..!" Vivi langsung melangkah pergi.


Anton hanya geleng-geleng kepala melihat kecuekan Vivi. "Vin, mending lo ikutin Vivi deh. Nanti ilang lagi!" perintah Anton.


Davin memutar matanya malas. Dengan terpaksa ia mengikuti kemana Vivi pergi. Sementara itu, Anton membantu Satria yang masih teler itu.


Kedua mata Vivi langsung berbinar saat melihat wahana kesukaannya yang lainnya. Apalagi kalau bukan kicir-kicir. Tanpa ragu ia langsung duduk di kursinya.


Melihat Vivi berniat menaiki wahana itu, Davin pun segera duduk di sampingnya. Membuat Vivi langsung melotot tak percaya.


"Ngapain lo?!" tanya Vivi heran melihat Davin yang langsung duduk dan memejamkan matanya seperti tidur.


Davin tak bergeming sedikit pun. Vivi pun tak mau mempermasalahkan itu. Ia memilih untuk bersiap karena wahana sudah mulai berputar.


Putaran yang semula lambat lama-lama semakin cepat. Membuat Vivi merasa sangat puas.


"Hoaaa!!!" teriak Vivi saking senangnya. Hingga tanpa sadar tangan kanannya menggenggam erat tangan Davin.


Davin yang semula memejamkan mata, langsung membuka kedua matanya. Menatap Vivi yang tampak sangat senang itu.


Satria kini sudah selesai dengan acara mual-mualnya. Ia dan Anton pun memutuskan untuk menyusul Vivi dan Davin.


"Udah puas??" tanya Davin setelah ia dan Vivi turun dari wahana kicir-kicir tadi.


"Puuaaass bangett!!!" seru Vivi girang. Mereka berdua pun menghampiri Satria dan Anton.


Saat mereka berempat sedang berjalan-jalan, dari kejauhan mereka melihat Syasya dan Radit. Mereka berdua tampak tak sendiri, melainkan bersama dengan dua orang lainnya.


Mereka pun langsung menghampiri Syasya beserta rombongannya.


"Sya!!" panggil Vivi.


Sontak Syasya dan yang lainnya langsung menoleh.


"Loh, kok lo disini, Ndo? Terus tuh bocil siapa??" bingung Satria menunjuk Syla yang ada di samping Nando.


"Aku Sy-"


"Ponakan gue." Nando memotong ucapan Syla. Membuat gadis kecil itu langsung cemberut.


"Pfft! Po-ponakan?? Bwahahaha..!! Sejak kapan lo jadi babysitter, Ndo?!" ledek Satria terbahak-bahak.


Namun seketika tawa Satria langsung memudar saat Nando menatap dirinya dengan tajam. Ia pun langsung mengalihkan pembicaraan.


"Ekhem! Adik cantik, namanya siapa??" tanya Satria berjongkok mensejajarkan tingginya dengan Syla.


"Princess Veronica Arsyla Dirgantara yang cantik dan imut," ucap Syla menunduk hormat sambil berpura-pura mencincingkan gaun bak putri kerajaan.


Satria langsung melongo saat mendengar nama Syla. Sedetik kemudian ia baru tersadar.


"Sya, ke rumah hantu yuk!" ajak Vivi pada Syasya.


"Ayok, siapa takut!"


Tentu saja Syasya langsung menyetujuinya. Sedangkan Satria, seketika ia langsung meleyot.


"Gu-gue nggak ikut boleh kan?" ucap Satria ketakutan.


"Sans, Sat. Gue temenin lo disini." ujar Anton. Karena jujur saja, Anton paling tidak menyukai rumah hantu. Karena bisa saja di dalam sana ada hantu asli yang menyamar sebagai hantu palsu.


"Cemen lo pada!!" ejek Vivi.


"Bebby! Syla juga mau masuk sana!!" rengek Syla.


"Beneran? Entar takut.." ujar Nando.


"Enggaklah! Syla itu pemberani!" sombong Syla.


Alhasil Syasya, Vivi, Radit, Nando, dan Syla lah yang masuk ke dalam rumah hantu. Gelap. Hanya ada beberapa cahaya redup sebagai penerangnya.


Mereka terus melangkah meskipun beberapa kali mereka dikejutkan oleh penampakan-penampakan hantu. Namun karena minimnya penerangan, membuat mereka jadi terpisah.


"Aduh!" tanpa sengaja Syasya tersandung kakinya sendiri. Membuatnya seketika oleng dan hampir terjatuh. Untung saja dengan sigap Nando langsung merengkuh tubuh Syasya, sehingga ia tidak terjatuh. Di bawah cahaya redup itu tatapan keduanya bertemu selama beberapa saat.


"Awas, nanti jatuh dalam pesona gue.."


.......


.......


...Makasih udah baca cerita ini. Jangan lupa kasih dukungan ya..🤗...