Love, 35 Cm

Love, 35 Cm
Chapter 05



..."Jangan pernah memandang kekurangan orang lain, karena kita tidak pernah tahu ada apa dibalik kekurangan itu."...


...----------------...


.......


Brakkk!


Nando menggebrak meja. Membuat suasana semakin mencekam. Tak ada satu pun yang bersuara. Termasuk Syasya. Baru kali ini tangannya gemetar saking terkejutnya.


"Gue ke toilet dulu," Nando lantas pergi ke toilet.


"Fyuhh.." mereka berenam langsung bernapas lega saat Nando sudah tak terlihat.


"Gila, baru kali ini gue lihat Nando nggebrak meja! Gue sampe tahan napas!" oceh Satria.


Sedangkan Syasya, ia masih melamun. Merasa bersalah tentunya. Tangannya bahkan masih gemetar. Ia terkejut, lantaran tiba-tiba ada yang menggenggam tangannya.


"Nggak papa, santai aja.." ucap Radit menggenggam tangan Syasya.


Mereka pun menghabiskan makanan mereka. Tak lama kemudian, Nando kembali dari toilet.


"Vin, balik," ucapnya pada Davin.


Davin pun bangkit, begitu pula yang lainnya. "Kita duluan ya.." ucap Radit pada Syasya dan Vivi. Kelima most wanted itu pun pergi dari kantin.


"Balik juga yuk, Sya.. Udah nggak ada penyegar mata disini.." Vivi langsung menarik tangan Syasya untuk kembali ke kelas.


................


Jam sudah menunjukkan pukul 2 siang.


"Selamat siang Bu..!" seru penghuni 11 IPA 4. Setalah guru mereka keluar, mereka pun segera berhambur keluar kelas.


Saat Syasya dan Vivi sedang berjalan di lorong, tiba-tiba segerombolan siswi berbondong-bondong berlarian menuju suatu tempat.


"Itu mereka mau kemana sih? Kok malah nggak pulang?" heran Syasya.


Vivi menghentikan langkahnya, tampak sedang memikirkan sesuatu. "Bentar, ini hari apa, Sya??"


"Hari Selasa, emang kenapa?" Syasya balik bertanya.


Seketika kedua mata Vivi membulat. "Ya ampun!! Kok gue bego sih?! Hari ini mereka ada tanding!!" heboh Vivi.


"Mereka siapa? Tanding apa sih?!" Syasya semakin bingung.


"Ayo, Sya! Nanti keburu nggak kebagian kursi!" Vivi menarik tangan Syasya.


"Pelan-pelan! Jangan lari, kaki gue lagi sakit!"


Namun Vivi seolah tak mendengarkan ucapan Syasya. Ia tetap menarik Syasya agar berlari menuju lapangan basket.


.


"Fyuh! Untung kita tepat waktu, Sya!" ucap Vivi ngos-ngosan.


Plakk!!


Syasya langsung memukul punggung Vivi.


"Aw! Sakit, Sya!!" rengek Vivi.


"Lebih sakitan mana sama gue bege!! Liat kaki gue!" Syasya memperlihatkan pergelangan kakinya yang di perban.


Sontak Vivi terkejut. "Ini kenapa, Sya?!" heran Vivi.


"Tau ah!" sungut Syasya. Ia memilih untuk duduk di bangku yang masih kosong. Gara-gara tadi berlari, pergelangan kakinya kini terasa nyut-nyutan lagi.


Vivi pun menyusul Syasya dan duduk di sampingnya. Sorry, Sya.. Jangan marah ya? Hm?" bujuk Vivi. "Tadi gue khilaf, soalnya kan gue nggak mau ketinggalan pertandingan mereka.." ujar Vivi beralasan.


"Hmm," balas Syasya singkat.


Prittt!!


Pertandingan pun dimulai. Semua mata fokus menatap pertandingan basket antara dua tim yang sedang bertanding itu.


Poin demi poin terus dihasilkan oleh Radit dan tim nya. Begitu pula teriakan-teriakan dari para penggemar dan penonton.


Baru menit ke 5, dan kedudukan saat ini 7-0 untuk tim Radit.


Bola kini berada di tangan tim lawan. Dalam sekejap mereka berhasil menggiring bola hingga ke depan ring.


"Hiyaa!!" teriak power forward tim lawan yang kini melompat hendak memasukkan bola ke dalam ring.


Blaakkk!!!


Bola langsung terlempar jauh sebelum menyentuh ring. Seketika para penonton langsung histeris.


"Aaa!!! Nandoo I love you!!!" begitulah teriakan para penonton, khususnya para penggemar Nando saat melihat aksi Nando memblock bola.


"Lebay!" cibir Syasya merasa risih dengan kebisingan para penggemar Nando yang super alay itu.


"Dah biasa itu mah, Sya.. Gue pasti juga udah kayak mereka, tapi gue kan harus jaim." ucap Vivi.


"Nice, Ndo!" ucap Anton yang ada di sebelah kanannya.


Nando hanya membalasnya dengan ekspresi datarnya. Seperti biasa, cool! Membuat penggemarnya semakin meleleh histeris.


Lawan itu tersenyum sinis pada Satria, meremehkan Satria yang lebih kecil darinya, pasti tidak akan bisa melewatinya.


Satria masih dengan tenang mendribble bola. Sekejap kemudian dia langsung melompat. Sontak lawan yang menjaga Satria ikut melompat.


"Nggak bakal masuk, bego!" cibirnya pada Satria.


Namun Satria malah tersenyum sinis. Bukan shooting yang ia lakukan, melainkan ia langsung mengoper bola ke belakang.


Dalam sekejap bola sudah ada di tangan Radit yang ada di area three point. Ia langsung melompat, menembakkan bola ke ring. Dan..


plung!


Bola masuk ke dalam ring dengan sangat mulus. Lagi-lagi penonton dibuat histeris saat melihat aksi mereka.


"Yosh! Nice!!" teriak Syasya tanpa sadar.


"Siapa tadi ya, yang bilang mereka itu alay? Kok malah sekarang alay sendiri?" cibir Vivi.


"Ekhem!" Syasya langsung jaga image.


Vivi yang melihat itu, terkekeh kecil. Ia kembali mengalihkan pandangannya pada pertandingan panas itu.


Satria langsung menatap lawannya tadi yang masih melongo tak percaya. Lawannya mengira Satria akan melakukan shooting, namun nyatanya tidak.


"Makanya, jangan memandang kekurangan orang lain, karena lo nggak pernah tahu ada apa dibalik kekurangan itu. Nyatanya, gue enggak sebego elo.." sinis Satria dengan wajah konyolnya. Tentu saja membuat lawan Satria menjadi semakin panas.


Perlu kalian tau, Satria memang bego dalam hal pelajaran. Namun dalam hal menyusun strategi, dia nomer satu! Tak hanya menyusun strategi, ia juga sangat baik dalam menggiring dan mengumpan bola. Hal inilah yang membuatnya menjadi seorang point guard handal.


Satria berjalan menghampiri Radit. Puk! Seperti biasa, mereka akan melakukan tos tinju setelah berhasil mencetak poin.


"Nice, Sat!" puji Radit. Sedangkan Satria yang dipuji tentu saja langsung melangkah dengan angkuhnya.


Sorakan penonton kian bergemuruh. Tak sedikit yang juga nge-fans dengan Satria. Sebenarnya Satria juga termasuk tampan, hanya saja ketampanannya seringkali tertutup sifat bego bin tololnya.


Pertandingan memasuki menit terakhir. Dengan poin 21-0. Kemenangan jelas milik Radit dan tim nya. Sebenarnya di pertandingan ini mereka termasuk bermain santai. Mereka sengaja tidak mencetak banyak poin, agar lawannya tidak terlalu malu dengan ketertinggalan mereka.


Seperti biasa, untuk mengakhiri pertandingan, akan dilakukan oleh Davin dengan aksinya. Bahkan semua orang juga sudah tau, bahwa Davin pasti akan mencetak angka dengan melakukan dunk-nya yang super keren.


Para penggemar Davin tentu paling menantikan saat-saat terakhir seperti ini. Menyaksikan aksi Davin yang nantinya membuat mereka histeris.


Namun, karena tim lawan juga sudah tau strategi mereka, membuat Davin merasa agak kesulitan untuk melancarkan aksinya.


Kini Davin dijaga oleh tiga orang lawannya. Davin benar-benar tak bisa bergerak, membuat para penonton panik tentunya.


"Cih! Lo pikir bisa lewatin kita bertiga?!" ucap salah satunya meremehkan Davin.


Namun Davin tak terlihat panik sedikit pun. Ia yakin bahwa sahabatnya, Satria, pasti mampu mengatasi ini. Ia pun langsung menatap sekilas Satria yang tengah men-dribble bola.


"Kayaknya kali ini Davin nggak bakal bisa beraksi deh," gumam Vivi, membuat Syasya menatapnya bingung.


Satria langsung berlari men-dribble ke arah ring. Sontak lawan yang tadi bertugas menjaga Satria langsung mencegatnya.


Lagi-lagi Satria melompat, bersiap melakukan shooting. Sontak lawan yang menjaganya juga melompat. Namun sayangnya ia tertipu lagi oleh tipuan Satria. Satria tidak melakukan shooting, melainkan mengoperkannya pada Radit lagi.


"Bangsat!!" umpat lawan Satria.


"Eh, kok lo tau panggilan sayang gue?!" ucap Satria konyol.


Bola di terima Radit tanpa adanya penghalang. Ia kembali melompat, bersiap melakukan three point.


Tapi, entah mengapa, three point yang akan Radit lakukan terlihat agak aneh menurut Syasya.


"Three point lagi?? Davin beneran nggak beraksi kali ini?" gumam Vivi namun masih terdengar oleh Syasya.


"Nggak, ini bukan three point!" ucap Syasya membuat Vivi bingung.


"INI OPERAN!!"


Bersamaan dengan itu, penjagaan tim lawan pada Davin melemah. Hal ini langsung dimanfaatkan Davin untuk meloloskan diri dari penjagaan mereka.


Sontak para penonton kembali berbinar melihat Davin berhasil lolos.


"Shitt!!" umpat lawan yang menjaga Davin. Ia langsung berlari mengejar Davin. Namun terlambat, Davin kini telah melompat, bersiap untuk aksinya.


"Nggak bakal gue biarin!" seru lawannya Davin.


Pemain defense lawan berusaha menghentikan bola yang akan masuk ke dalam ring. Namun Davin tentunya tak akan membiarkan itu. Ia yang sudah melayang di udara langsung mengambil alih bola, dan memasukkannya ke dalam ring.


plungg!


Teriakan penonton langsung pecah saat melihat dunk super estetik milik Davin.


"Aaaa!!! Davinn, saranghae!!!" teriak mereka histeris.


Davin yang bergelantungan di ring hendak mendarat. Namun siapa sangka, lawan yang tadi menghalanginya malah menyenggetnya.


Brukk!!


.......


.......


...Makasih udah baca cerita ini. Jangan lupa kasih dukungan ya..🤗...