
..."Gue akan bahagia kalo lo bahagia. Itulah yang namanya sahabat"...
...----------------...
.......
Mereka semua sudah menghabiskan makanan mereka, hanya makanan Radit yang masih tersisa. Namun Radit tak kunjung kembali dari toilet.
"Kita balik aja. Kata Radit dia lagi dipanggil bu guru. Jadi nggak bakal balik ke sini lagi.." jelas Anton yang baru saja mendapat WA dari Radit.
Mereka semua langsung beranjak hendak kembali ke kelas. Namun tidak dengan Syasya. Entah kenapa dadanya terasa sesak. Jujur, ia merasa sedih. Merasa Radit menjauhinya.
"Sya.." panggilan Vivi langsung menyadarkan Syasya. Syasya yang ditatap Vivi langsung tersenyum.
Sekilas Nando melihat raut kesedihan di wajah Syasya. Namun Syasya pintar dalam menyembunyikan kesedihan itu. Ia langsung menutupi kesedihannya dengan senyuman manisnya.
Mereka pun segera kembali ke kelas karena jam istirahat hampir berakhir.
Sepanjang pelajaran, Syasya benar-benar tidak fokus. Ia bahkan sama sekali tak mendengarkan bu guru yang sedang menerangkan materi.
Raganya memang disini, di dalam kelas. Namun lain dengan jiwanya yang entah berkelana kemana. Perasaanya tidak bisa tenang, terbesit rasa takut dalam benaknya. Takut jika Radit akan menjauhinya.
"Syaqilla.."
"Syaqilla!!" teriak bu guru geram karena Syasya malah melamun.
"Ah, iya bu?!" kaget Syasya.
"Kamu dengerin saya nggak??" tanya bu guru mengetes Syasya.
"Em.. Maaf bu. Tadi saya nggak fokus, jadi nggak dengerin ibu.." jawab Syasya jujur.
Bu guru tampak menghela napasnya menahan amarah.
"Sekarang kamu keluar dari kelas, lari keliling lapangan upacara dua putaran. Ini sebagai hukuman karena kamu nggak fokus di pelajaran saya. Kamu keberatan?"
"Tidak bu. Sekali lagi maaf.." ujar Syasya. Ia lantas segera keluar dari kelas untuk melaksanakan hukumannya.
Syasya sama sekali tak marah dengan guru yang menghukumnya tadi. Ia malah ingin berterima kasih. Karena jujur, saat ini ia sedang butuh udara segar untuk menjernihkan pikirannya.
Setibanya di lapangan upacara, Syasya langsung mulai berlari mengelilingi lapangan yang luasnya 1000 meter lebih itu.
Sepanjang langkahnya, Syasya terus memikirkan apakah ia berbuat kesalahan terhadap Radit. Namun ia rasa tidak sama sekali. Ia bahkan juga tak merasa pernah menyinggung Radit sama sekali.
Tak terasa Syasya sudah berlari mengelilingi lapangan dua putaran. Namun ia masih belum berhenti. Pikirannya terus berputar mencari apa kesalahannya.
Syasya terus saja berlari mengelilingi lapangan. Karena kecerobohannya, tanpa sengaja ia terjatuh.
Brukk!
Syasya langsung meringis, merasakan sakit pada lututnya. Tanpa ragu ia langsung berbaring telentang di atas rerumputan lapangan tersebut. Menatap cerahnya langit biru dan mentari yang ada di atasnya itu.
Ia lantas tersenyum sinis. Merasa alam sedang menertawainya. Buktinya saja perasaan Syasya saat ini sedang mendung, tapi kenapa alam malah cerah seperti ini?
"Bwahahaha..!!" Syasya tertawa sangat keras. Ia tak memikirkan apakah ada orang lain yang mendengarnya. Ia bahkan tak peduli akan hal itu.
Tanpa Syasya ketahui, terdapat dua pasang mata yang sedang mengawasinya.
"Bego."
"Ya, dia emang bodoh bisa suka sama pengecut kayak gue. Maka dari itu, gue mohon bantu gue."
Kedua orang itu lantas pergi kembali ke kelas mereka. Meninggalkan Syasya yang masih tergelak di lapangan sana.
Setelah puas meluapkan perasaanya, Syasya memutuskan untuk kembali ke kelas. Karena sudah setengah jam lebih ia berada di lapangan.
"Perasaan saya nyuruh kamu lari dua putaran, kok lama banget? Kamu lari berapa putaran?" pertanyaan tersebut langsung dilontarkan oleh bu guru pada Syasya yang baru saja sampai di kelas.
"Maaf bu, tadi saya kira ibu nyuruhnya empat putaran.. hehe.." jawab Syasya cengengesan.
"Ya udah, sana kamu duduk. Jangan di ulangi lagi ya?"
Belum sempat Syasya melangkah, bu guru sudah mencegahnya lagi.
"Itu lutut kamu kenapa?" tanya bu guru melihat lutut Syasya yang lecet.
"Tadi jatuh waktu lari, bu!" Syasya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Bu guru itu langsung geleng-geleng kepala melihat kecerobohan Syasya. Ia pun menyuruh Syasya untuk kembali ke tempat duduknya. Setelah itu, pelajaran kembali dilanjutkan hingga pelajaran terakhir.
.
Akhirnya pelajaran terakhir telah usai. Syasya dan Vivi berjalan bersama menuju ke gerbang depan. Wajah Syasya lagi-lagi terlihat murung. Seperti tak ada jiwa dalam raga tersebut.
"Sya, lo yakin nggak papa??" akhirnya Vivi kembali menanyakan hal itu. Ia tentu khawatir melihat sifat Syasya yang mendadak berubah sejak tadi pagi.
"Vi.."
"Apa?"
"Vi.."
"Apa Syasya??"
"Vi..!"
"Apa sih, Sya?! Lo niat cerita nggak sih sama gue?! Gue ini sahabat lo! Kalo ada masalah, cerita lah sama gue, Sya. Kalo lo nggak mau cerita, gunanya gue sebagai sahabat lo apaan coba?!" bentak Vivi panjang lebar.
Akhirnya tangis Syasya langsung pecah saat itu juga. Vivi yang melihat itu pun langsung memeluk Syasya, menuntunnya untuk duduk di bangku dekat sana.
"Lo lagi berantem sama Radit?" tanya Vivi to the point. Ya, karena Syasya memanggil Radit tanpa embel-embel 'kak', otomatis Vivi juga ikutan begitu.
Syasya menggelengkan kepalanya.
"Gue juga nggak tau, kita itu berantem apa enggak. Tapi seingat gue, kita nggak berantem kok."
Vivi langsung mengernyitkan dahinya. "Lah terus?"
"Itu dia, Vi. Gue juga nggak tau, tiba-tiba aja Radit itu ngehindar dari gue. Lo liat kan tadi waktu di kantin? Gue dateng, dia nya langsung pergi. Terus gue WA nggak dibales. Jangankan dibales, di read aja enggak. Giliran temennya aja langsung dibales. Gue salah apa coba, Vi?"
Vivi tampak berpikir keras.
"Lo ada nyinggung dia mungkin?"
Syasya langsung menggeleng.
"Enggak, Vi. Gimana mau nyinggung, orang kita terakhir ngobrol aja kemarin waktu dia habis tanding. Itu aja kita masih biasa aja, nggak ada masalah sama sekali.. Lo inget kan, dia nyuruh gue buat lap keringet dia? Gue mana ada nolak, gue nurutin mau dia.." ucap Syasya panjang lebar.
"Hmm.. Kalo gitu, mending kita pulang dulu aja," saran Vivi membuat Syasya langsung bingung. "Itu, kita udah dijemput." Vivi menunjuk ke suatu arah.
Dan benar saja. Setelah Syasya lihat, ternyata Dito dan juga Nabila sudah ada disana. Syasya segera menghapus air mata yang masih tersisa di wajahnya.
"Udah belom?" tanya Syasya pada Vivi.
"Udah.." jawab Vivi. "Jangan lupa, nanti lo chat Radit lagi," sambungnya memberi saran.
Syasya langsung mengangguk. Mereka berdua pun segera menghampiri kakak mereka dan pulang ke rumah masing-masing.
.
Saat ini Syasya sudah di rumah, tepatnya ia sedang duduk di atas kasurnya. Sedari tadi ia sibuk mengamati ponselnya. Bimbang antara harus mengirim pesan pada Radit atau tidak.
"WA.. Enggak.. WA.. Enggak.. WA aja lah!" Syasya segera mengetik pesan untuk Radit.
...Radit🖤...
^^^Dit^^^
^^^Maaf kalo gue ada^^^
^^^salah sama lo^^^
Besok pulang sekolah
bisa ketemu di rooftop?
.........
Betapa senangnya hati Syasya saat Radit membalas pesannya. Dengan cepat Syasya langsung membalasnya sebelum Radit kembali off.
Akhirnya perasaan Syasya bisa kembali tenang. Setidaknya Radit sudah tidak menjauhinya. Itulah yang dipikirkan oleh Syasya.
Keesokan harinya, Syasya berangkat ke sekolah dengan perasaan gembira. Senyuman tak pernah luntur dari wajahnya, membuat tingkat kecantikannya meningkat 100%.
"Ciee.. Yang lagi mesam-mesem.. Kenapa nihh? Perasaan kemarin mewek-mewek.. Sekarang udah happy aja! Cerita dong!" ledek Vivi yang tiba-tiba muncul dari belakang Syasya.
Syasya langsung merangkul Vivi. Lagi-lagi ia tersenyum.
"Jadi, Vivi-ku sayang.. Gue sama Radit udah baikan!! Semalem dia bales chat gue, ngajakin ketemuan di rooftop entar sepulang sekolah!" girang Syasya.
"Wihh.. Udah baikan toh? Selamat deh kalo gitu.. Nah gini dong, Sya. Keep smile.. Karena gue akan bahagia kalo lo bahagia. Itulah yang namanya sahabat, Sya.." ucap Vivi.
Mereka berdua pun melangkah menuju kelas mereka dengan saling merangkul.
.
.
Waktu yang ditunggu Syasya akhirnya tiba. Bel pulang sekolah akhirnya berdering juga. Syasya dengan cepat langsung mengemas buku-bukunya ke dalam tas.
"Duluan ya, Vi!" pamit Syasya melambaikan tangan pada Vivi.
"Woke! Sukses yah!" balas Vivi melambaikan tangannya.
Syasya segera berlari ke atap. Hatinya sudah berdebar kencang, tak sabar untuk bertemu dengan Radit.
Sementara Syasya menemui Radit, Vivi memilih untuk segera pulang. Ia terus melangkahkan kakinya menuju gerbang depan.
Namun saat ia melewati lapangan basket, tiba-tiba segerombolan siswa siswi berlarian menuju ke arah yang berlawanan dengannya.
Vivi pun menghentikan salah satu siswa.
"Pada mau kemana?"
"Rooftop. Radit sama ceweknya berantem!" ucap siswa tadi dan langsung meninggalkan Vivi.
Seketika tangan Vivi mengepal sangat erat.
"Brengsek! Dasar cowok bangsat!"
.......
.......
...Makasih udah baca cerita ini. Jangan lupa kasih dukungan ya..🤗...