
..."Dengan kehilangan dia, lo bakal dapet seseorang yang lebih baik darinya"...
...----------------...
.......
Tak ada suara dari Syasya maupun Nando. Keduanya sama-sama diam tak bergeming. Nando yang baru saja mendapat pesan dari Vivi berniat membalas pesan tersebut.
"Sekarang gue baru percaya. Kalo ternyata sakit hati itu emang lebih sakit dari pada sakit gigi," ujar Syasya yang masih menatap lurus ke depan.
Seketika jemari Nando berhenti mengetik pesan untuk Vivi. Ia langsung memasukkan ponselnya ke dalam saku. Memilih untuk mendengarkan curhatan Syasya.
"Dasar cowok brengsek! Sialan! Bangs-"
"Percuma lo ngumpatin dia terus. Sampe mulut lo kering kalian juga nggak bakal balikan lagi," potong Nando tanpa melihat Syasya. Tatapannya kini juga menatap lurus ke depan.
Seketika Syasya langsung terdiam. Jemarinya menggenggam erat rok nya. Bibirnya bergetar. Air mata sudah menggenang di pelupuk mata. Namun ia tak ingin menumpahkannya.
Sekilas Nando melirik Syasya. Dapat ia pastikan bahwa Syasya akan menangis. Ia lantas berbalik, memunggungi Syasya.
"Kalo mau nangis, nangis aja kali. Nggak usah sok kuat," ujar Nando datar masih membelakangi Syasya. "Nggak ada orang yang liat juga," sambungnya.
Seketika tangisan Syasya langsung pecah. Air mata tak lagi terbendung dan mengalir deras di pipinya. Air mata terus mengalir, namun Syasya tak mengeluarkan suara sedikit pun. Ia menangis dalam diam.
Nando masih membelakangi Syasya. Ia tahu jika Syasya pasti tidak mau dilihat orang ketika menangis. Namun tiba-tiba ia merasakan kepala Syasya menyandar di punggungnya. Membuat punggungnya langsung dibasahi air mata Syasya.
"Sa-lah gue a-pa coba?" lirih Syasya dalam isakannya.
"Lo nggak salah. Cuma lo nya terlalu bego bisa suka sama Radit." ujar Nando langsung membuat Syasya menarik kembali kepalanya dan tidak lagi bersandar pada punggung Nando.
"Kok lo ngomong gitu sih?! Radit kan sahabat lo?" Syasya masih terisak.
"Ya.. Kenapa lo milih dia? Gantengan juga gue," gumam Nando. Ia lantas memutar tubuhnya. Kini mereka berdua duduk berhadapan.
Mereka berdua saling bertatapan. Terutama Syasya yang tampak sedang memperhatikan wajah Nando. Syasya lalu langsung mengalihkan perhatiannya.
"Iya ya.. Gantengan juga lo! Gue emang bego bisa suka sama cowok taek kayak dia..! Ngapain juga gue nangisin dia? Nggak ada gunanya, ya kan?" oceh Syasya dengan suara yang terdengar bergetar. Kedua matanya kini kembali berkaca-kaca.
Nando yang melihat itu langsung memutar matanya malas. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Lah, mewek lagi. Nggak cape apa? Mubazir tuh air kalo dibuang terus. Air lagi mahal lho!" ucap Nando disertai candaannya.
"Huaa.." tangisan Syasya kini terdengar semakin kencang. Memekakkan telinga Nando yang ada di sebelahnya.
Nando semakin bingung harus berbuat apa. Ia lalu manarik tubuh Syasya. Menyandarkan kepala Syasya di dada bidangnya. Mengusap lembut rambut Syasya, berharap bisa menenangkan Syasya.
"Gue harus gimana coba? Belum juga dua minggu, masa udah putus. Hiks hiks.." tanya Syasya masih terisak.
Nando tak menjawab pertanyaan Syasya. Ia masih diam sambil terus mengusap rambut Syasya. Membuat si pemilik rambut merasa sedikit kesal karena pertanyaannya tak dijawab.
"Jawab bege!" ucap Syasya mendongakkan kepala agar bisa melihat wajah Nando.
Nando yang mendengar ucapan Syasya tentu langsung terkejut. "Eh, santai kali! Lo nangis tapi masih aja nge-gas gini?!"
Syasya merasa makin kesal. Ia langsung melepaskan pelukan Nando. "Yang nangis gue! Yang nge-gas juga gue! Suka-suka gue lah!" kesal Syasya.
Nando langsung terkekeh mendengar balasan Syasya. Ia semakin bingung dengan Syasya yang menurutnya berbeda dari yang lainnya.
"Gue heran deh sama lo. Lo itu beneran cinta sama Radit nggak sih? Cewek itu biasanya kalo habis putus, jadi mellow gitu, butuh sandaran. Lah elo? Malah makin nge-gas," cibir Nando meledek.
"Ya cinta lah, anjerr!" balas Syasya lagi-lagi nge-gas.
"Tuh kan tuh kan.. Nggak yakin gue.." Nando geleng-geleng kepala. Sekilas ia tersenyum tipis. Merasa berhasil menghibur Syasya agar tak lagi galau.
Nando kembali serius. Menatap Syasya yang tampak merajuk. Kedua tangannya langsung memegang pundak Syasya.
"Lo tadi tanya harus gimana, kan?" ucap Nando membuat Syasya sontak langsung mendongak menatapnya.
"Lo lupain dia, cari yang baru. Percaya nggak, dengan kehilangan dia, lo bakal dapet seseorang yang lebih baik darinya?" sambung Nando membuat Syasya semakin bingung.
"Gue. Lo mau nggak jadi pacar gue?" tanya Nando to the point.
Syasya yang mendengar itu semakin heran. Ia langsung melepas tangan Nando yang memegang kedua pundaknya.
"Enggak!" tolak Syasya singkat. Ia langsung beranjak hendak pergi dari sana.
"Kok langsung ditolak sih? Nggak mau lo pikir-pikir dulu tawaran gue?" tanya Nando langsung mengikuti langkah Syasya.
Syasya melangkahkan kakinya semakin cepat karena Nando terus mengikutinya. Membuatnya merasa semakin kesal. Setibanya di gerbang depan, ia langsung berhenti.
"Bisa nggak sih, nggak usah ngikutin gue?!" seru Syasya langsung berbalik.
Tak ada siapa pun di belakangnya. Rupanya Nando tidak lagi mengikutinya. Untung tak ada orang lain disana. Jika ada, pasti Syasya akan sangat malu.
Dengan cepat ia bersikap seolah tak terjadi apapun. Ia langsung mengeluarkan ponselnya, menelpon Dito agar segera menjemputnya. Berkali-kali ia menelpon, namun tak kunjung diangkat oleh kakaknya itu.
Saat ia sedang sibuk menghubungi kakaknya, tiba-tiba sebuah motor ninja berhenti tepat di depannya.
"Naik!" perintah Nando pada Syasya.
"Ogah!" tolak Syasya. Ia kembali menghubungi kakaknya.
"Kakak lo nggak bakal dateng.."
"Tau dari mana? Sok tau lo!"
Nando lantas mengeluarkan ponselnya. Menunjukkan pada Syasya pesan yang tadi dikirim oleh Vivi.
"Masih nggak mau naik? Ya udah, gue tinggal. Paling nanti ketemu setan disini.." ujar Nando menakut-nakuti Syasya.
Dan benar saja, ada sedikit rasa takut terselip di benak Syasya mengingat hari mulai sore. Ia kembali melihat sekelilingnya yang sepi tak ada seorang pun.
Tampak Nando sudah menyalakan mesin motor, hendak melajukan motornya. Dengan cepat Syasya langsung menghentikannya.
"Ekhem! Karena lo maksa, ya udah.." ucap Syasya langsung menaiki ninja tersebut.
"Enggak, gue nggak maksa. Kalo nggak mau ya udah, turun aja.." balas Nando terdengar acuh.
Syasya benar-benar tak habis pikir dengan Nando. Sungguh menyebalkan. Tingkat ketidaksukaannya terhadap Nando tentu meningkat.
Dengan perasaan kesal, ia hendak turun dari motor Nando. Namun belum juga kakinya menapak di tanah, tiba-tiba saja Nando langsung mengegas motornya. Membuat Syasya nyaris terjatuh jika saja ia tidak langsung memeluk Nando.
"Kampret lo!!" seru Syasya kesal. Tanpa ia sadari kedua tangannya senantiasa memeluk Nando.
Nando yang merasa dipeluk oleh Syasya tersenyum tipis. Ia langsung menambah kecepatan motornya.
"Lo mau bawa gue kemana woi?!" tanya Syasya agak berteriak.
"Jalan-jalan! Biar lo nggak stres!" seru Nando. Lagi-lagi ia menambah kecepatan motornya. Tak mempedulikan Syasya yang tidak memakai helm. Entahlah, beruntung tak bertemu polisi, jadi mereka tidak ditilang.
Nando melajukan motornya tanpa tujuan. Yang terpenting baginya saat ini adalah Syasya bisa move on dari Radit. Entah berapa lama mereka akan mengelilingi Jakarta Selatan yang luas itu.
"Sekarang lo luapin semua unek-unek lo!" seru Nando.
Syasya tampak diam sejenak. Memikirkan apa yang menjadi beban pikirannya. Setelah mengetahuinya, ia langsung menarik napasnya dalam-dalam.
"RADITYA DAFFA MAHENDRA! GUE SUMPAHIN LO NGGAK BAKAL BISA NGELUPAIN GUE!! DAN GUE BERJANJI BAKAL NGELUPAIN LO!!" teriak Syasya lantang.
Senyuman langsung terukir di wajah cantik Syasya. Hilang sudah hal yang mengganjal di dalam benaknya.
Melihat Syasya yang terlihat sudah lebih baik, Nando merasa sedikit lega. Setidaknya akan ada harapan untuknya menggantikan posisi Radit di hati Syasya.
.......
.......
...Makasih udah baca cerita ini. Jangan lupa kasih dukungan ya..🤗...