Love, 35 Cm

Love, 35 Cm
Chapter 11



..."Lo harus tanggung jawab karena udah buat gue jatuh. Jatuh dalam pesona lo."...


...----------------...


.......


"Saya terima nikah dan kawinnya Anisa Zafira Malik binti Muhammad Malik dengan mas kawin tersebut, Tunai!!" tutur Ridwan dengan lantang.


"Bagaimana para saksi? Sah?"


"SAH!!!" ujar para saksi serentak.


Pak penghulu pun segera membacakan doa yang diaminkan oleh para saksi. Selesai doa tersebut dibacakan, Ridwan langsung memakaikan cincin di jari manis Nisa. Begitu pula Nisa yang memakaikan cincin di jari Ridwan. Tak lupa, Nisa mencium tangan suami sah nya itu.


.


Setelah akad selesai, acara resepsi pun dimulai. Para tamu dipersilahkan untuk menikmati hidangan-hidangan yang telah disediakan.


Namun tak sedikit pula yang memilih untuk mengabadikan momen bersama pengantin baru. Mereka memilih untuk berfoto-foto dengan si pengantin ketimbang mengisi perut mereka.


Yang pertama, kedua pengantin berfoto dengan keluarga Syasya. Lalu berfoto dengan keluarga dari Ridwan. Setelah itu barulah para tamu diizinkan untuk foto bersama.


"Yuk, semuanya ikut foto..!" seru Nisa kemudian.


Dengan senang hati para tamu berkumpul di panggung, saling berdesakan agar bisa tampak di kamera.


Namun karena tubuhnya Syasya mungil, ia jadi terhimpit oleh orang-orang.


"Makanya kalo punya badan jangan kayak kurcaci.. Kejepit kan?" sinis seseorang dibelakang Syasya.


Sontak Syasya langsung menoleh ke belakang. Tatapannya bertemu dengan tatapan pemilik suara tadi yang tak lain adalah Nando.


Jepret!


Foto telah diambil oleh sang fotografer. Semua orang dalam foto tampak melihat ke arah kamera, kecuali Syasya dan Nando yang saling bertatapan.


.


.


Hari mulai gelap dan acara resepsi telah usai sedari tadi. Kebanyakan tamu pun sudah berpamitan pulang sejak resepsi usai. Tersisalah keluarga Syasya, keluarga Ridwan, dan keluarga Nando. Mereka saat ini sedang asyik mengobrol dengan pengantin barunya.


"Ya udah, Nisa, Nak Ridwan, kalian istirahat dulu aja. Pasti capek kan dari tadi berdiri. Nisa kamu ajak suami kamu istirahat sana.." pinta Aisyah.


Nisa dan Ridwan hanya menurut. Mereka berdua memang sudah kelelahan karena menyambut para tamu yang terus berdatangan. Apalagi teman-teman Ridwan dari Kairo juga turut datang.


Keluarga Ridwan pun ijin untuk pulang terlebih dahulu. Kebetulan rumah mereka tidak jauh dari pesantren. Tersisalah keluarga Syasya dan keluarga Nando.


"Umi, abi mau keluar sebentar sama Ahmad dulu ya.." ucap Malik meminta izin.


"Dito ikut, bi! Bosen disini.." timbrung Dito.


Malik, Ahmad, dan Dito pun pergi keluar. Menyisakan Aisyah, Kirana, Syasya yang sibuk dengan ponselnya, dan Nando.


"Oh ya, Nando kamu sekolah dimana?" tanya Aisyah.


"Di SMA XX, Tante.. Sama kayak Syasya.." jawab Nando santun.


"Berarti kalian deket dong?" tanya Aisyah lagi.


"Enggak!" jawab Syasya cepat. Setelah mengucapkan satu kata itu, ia kembali sibuk dengan ponselnya.


"Tante, toilet nya sebelah mana ya?" tanya Nando.


"Oo kamu mau ke toilet? Syasya, anterin Nando, Nak!" pinta Aisyah pada Syasya yang masih sibuk dengan ponselnya.


Tak ada jawaban dari Syasya. Entah ia tak mendengar uminya atau apa, yang jelas saat ini wajahnya tampak sangat senang menatap ponselnya.


"Sya.." panggil Aisyah lagi.


Masih sama. Syasya tak menyahut sedikit pun. Malah sesekali ia tampak cekikikan sendiri. Nando yang merasa geram dengan sikap Syasya yang dianggapnya tidak sopan pun langsung merebut ponsel Syasya.


Tentu saja Syasya terkejut karena ponselnya tiba-tiba direbut. "Kamp-"


"Dipanggil umi lo." potong Nando penuh penekanan.


"Iya, kenapa, umi??" tanya Syasya seolah tak terjadi apa-apa.


"Anterin Nando ke toilet, ya.." ucap Aisyah halus.


"Nando kan udah gede, masa ke toilet aja harus dianter?!" protes Syasya.


"Nando kan nggak tau toiletnya dimana, sayang.." balas Aisyah.


Wajah Syasya langsung cemberut. Dengan sangat terpaksa Syasya mengantar Nando ke toilet. Nando pun mengikuti langkah Syasya menuju ke toilet.


Setelah melewati beberapa belokan, pertigaan, perempatan, tanjakan, dan turunan, akhirnya mereka sampai di depan toilet.


"Mau kemana?" tanya Nando saat melihat Syasya hendak pergi dari sana.


Sontak Syasya langsung menghentikan langkahnya. "Ya balik lah! Pake nanya lagi!" ketus Syasya.


"Yakin mau balik? Nggak mau ini??" tanya Nando memperlihatkan ponsel Syasya yang masih ada di tangannya.


"Sialan! Balikin nggak HP gue?!!" Syasya hendak merebut ponselnya.


Belum sempat Syasya merebut ponselnya, Nando cepat-cepat masuk ke dalam toilet.


"Tiang listrik sialan!" umpat Syasya. Dengan terpaksa Syasya menunggu Nando keluar dari toilet.


Sedangkan Nando, setelah selesai dengan urusannya, ia sengaja tidak langsung keluar. Ia sengaja membuat Syasya agar menunggu lebih lama. Ia pun memutuskan untuk melihat isi ponsel Syasya yang kebetulan tidak di sandi.


Ting!


Sebuah pesan WhatsApp masuk. Tampak nama 'Kak Radit' tertera sebagai nama pengirimnya.


"Lemot! Mana HP gue?!" Syasya menengadahkan tangan kanannya.


Nando hendak mengembalikan ponsel Syasya. Namun belum juga ponsel itu berpindah ke tangan Syasya, ia kembali menarik tangannya.


"Eits! Lo nggak mau ngebalikin punya gue gitu?" ucap Nando membuat Syasya bingung.


Syasya tampak berpikir kebingungan. "Apaan sih?!"


Melihat wajah Syasya yang kebingungan, Nando langsung mendekati Syasya. Membisikkan sesuatu di telinga nya.


"Misal hati gue gitu," bisik Nando.


Blushh


Mendengar itu tentu saja wajah Syasya langsung memerah bak udang rebus. Kedua bola matanya membulat sempurna, membuat tingkat keimutannya naik 1000%.


"Pfftt!! Hahaha!!" seketika tawa Nando langsung meledak.


Bugh!


"Sialan!" kesal Syasya memukul perut Nando. Ia langsung melangkah pergi dari sana dengan amarah yang sudah sampai di ubun-ubun. Ia tak peduli lagi dengan ponselnya yang masih ada di tangan Nando.


Merasa dirinya ditinggalkan, Nando segera mengikuti langkah Syasya. Langkah Syasya tertuju ke kamarnya.


Jeduarr!


Belum sempat Nando menghentikan Syasya, pintu sudah dibanting keras oleh Syasya. Niatnya hendak mengembalikan ponsel Syasya tapi Syasya malah sudah masuk ke dalam kamarnya.


Sementara itu, Syasya yang sedang dilanda emosi langsung melemparkan tubuhnya ke kasur. Namun tatapannya langsung tertuju ke sebuah hoodie yang tergantung. Kedua tangannya langsung meraih hoodie itu.


Nando hendak pergi dari sana, namun pintu kamar Syasya kembali terbuka.


Brukk


Sebuah hoodie mendarat di wajah Nando. Saat itu pula ponsel yang ada di tangannya langsung direbut oleh Syasya.


Jeduarr!


Lagi-lagi Syasya membanting pintu kamarnya dengan keras. Nando pun segera pergi dari sana.


.


.


Keluarga Nando berpamitan untuk kembali ke Jakarta karena hari sudah malam. Mobil pajero itu pun langsung melaju meninggalkan kota Bandung.


"Udah pulang ya, mi?" tanya Syasya baru saja keluar dari kamarnya.


"Siapa? Nando?" terka Aisyah.


Syasya menjawabnya dengan anggukan kepala.


"Ya udah lah! Tadi orang nya disini, kamu nggak keluar-keluar. Giliran udah pulang nyariin.." ledek Aisyah.


"Siapa yang nyariin, Syasya kan cuma nanya." sungut Syasya langsung kembali ke kamarnya.


Syasya membaringkan tubuhnya di atas kasur. Menatap ponsel yang sedang ia pegang.


'Haish! Bego banget sih gue! Bisa-bisanya gue salah rebut HP!' ujar Syasya merasa bodoh.


......................


Setelah menempuh perjalanan selama beberapa jam, akhirnya Nando dan kedua orang tuanya telah sampai di rumah mereka.


"Nando ke kamar duluan ya, bun, yah.." pamit Nando dan segera ke kamarnya untuk istirahat.


Ting


Ting


Ting


Bunyi notif terus terdengar dari ponsel yang ada di dalam sakunya. Karena merasa terganggu, Nando pun segera mengeceknya.


"Radit?"


"Loh! Ini HP nya si kurcaci?!" kaget Nando baru sadar jika itu bukan ponselnya.


Senyuman jahil langsung terbit di wajah Nando. Ia membuka pesan-pesan dari Radit.


📱Kok cuma di read, Sya?


Lo nggak papa kan?


^^^📱Jari gue lagi sakit, Kak^^^


^^^Jadi susah buat ngetik^^^


📱Loh, kalo jari lo sakit


terus ini yang ngetik siapa?


Nando langsung terdiam. Ia memilih untuk tidak membalas pesan Radit lagi. Kini jemarinya beralih membuka galeri. Melihat-lihat foto yang tersimpan di galeri Syasya. Senyuman manis terukir beberapa kali di wajah tampan Nando saat melihat foto-foto Syasya.


"Lo harus tanggung jawab karena udah buat gue jatuh. Jatuh dalam pesona lo." gumam Nando.


.......


.......


...Makasih udah baca cerita ini. Jangan lupa kasih dukungan ya..🤗...