Love, 35 Cm

Love, 35 Cm
Chapter 37



"Nggak kerasa ya, tinggal empat bulan kita disini. Kayaknya baru kemarin kita kenalan, seneng-seneng bareng, ehh.. ternyata sekarang kita udah mau ujian aja."


Vivi menatap langit yang hari ini tampak begitu cerahnya. Berbaring di rooftop sekolah ditemani oleh Syasya dan Satria. Ketiganya menatap indahnya langit biru. Seketika Syasya kembali teringat awal ia datang di sekolah tersebut. Saat ia masih menjadi murid baru. Awal ia merasakan jatuh cinta pandangan pertama dengan kakak kelasnya, Radit. Benar yang ia dengar dari orang-orang, kalau cinta pertama itu sulit untuk berhasil. Tapi tak apa, ia tak menyesal. Lagi pula ia juga sudah melupakannya. Justru dari kegagalannya itulah ia kini menemukan seseorang yang lebih baik. Seseorang yang dulu ia cap sebagai musuhnya, si 'tiang listrik' alias Nando. Senyuman tipis terukir di wajah Syasya. Lucu rasanya saat mengingat sebutan 'tiang listrik' itu.


"Kira-kira besok kalo kita udah lulus, kita bakal sering kumpul kayak sekarang nggak ya? Main bareng, seneng-seneng bareng.."


"Pfftt! Emangnya lo bakal lulus?! Belajar dulu sono! Ujian aja belum, udah pede ngomong bakal lulus!!" ledek Vivi sambil memukul pelan perut Satria yang masih berbaring di sampingnya.


Sontak Satria langsung merengek manja, meskipun sebenarnya tidak terasa sakit sedikitpun. "Aww! Sakit, Vi, huhu.."


Hening. Syasya dan Vivi langsung menatap aneh Satria. "Bwahahahaha!!!" Seketika mereka bertiga tergelak tawa. Beberapa saat kemudian, kembali hening. Ketiganya kembali memandang langit biru.


"Nggak lah. Kita bertiga pasti bakal lulus. And kita pasti bakal sering ketemu, ya kan?" Syasya menatap Vivi dan Satria. Ia lalu duduk dan mengulurkan tangannya ke depan. "Janji bakal sering ketemu?"


Satria lalu memegang tangan Syasya tadi, diikuti oleh Vivi. "Janji."


Disaat mereka tengah mengikrarkan janji persahabatan, tiba-tiba pintu rooftop terbuka, menampilkan sesosok guru dengan kumis dan wajah galaknya. "HEY!! Kalian bukannya belajar di kelas, malah bolos nongkrong disini?! Kembali ke kelas sekarang!!!!"


Namun bukannya takut, ketiganya malah sibuk menahan tawa. Dengan segera mereka langsung berdiri tegap. "Siap, Pak!!!" Mereka pun segera melarikan diri sebelum mereka mendapat hukuman.


......................


Petang ini sesuai janji Nando akan datang ke rumah Syasya. Namun maksud kedatangannya kali ini berbeda. Jika biasanya ia datang untuk sekedar main atau mengajak Syasya jalan, kali ini ia datang untuk mendonasikan sedikit kecerdasannya. Yap, kedatangannya kini dengan tujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, eh Syasya maksudnya😅.


Sebenarnya Syasya tidak pernah meminta Nando untuk mengajarinya, namun kakaknya lah yang memaksa juga memohon-mohon pada Nando agar mau mengajari Syasya yang kebodohannya sudah memasuki stadium ke empat itu.


Nando langsung saja masuk ke rumah Syasya karena pintu memang tidak dikunci. Dilihatnya Syasya yang sekilas tadi sempat melirik ke arahnya. "Woy! Ada tamu bukannya disambut pake senyuman malah pake muka asem gitu!" ledeknya sambil mengacak rambut Syasya.


"Hishh!! Ngapain juga gue nyambut lo?! Lagian gue juga nggak pernah minta lo dateng ke sini! Yang minta kan si Dito-"


"Dita Dito! Kamu pikir kakak ini adekmu apa??" potong Dito yang baru saja keluar dari kamarnya. "Inget ya, sayang. Yang bener 'Kak Dito' pake 'kak', okey? Dan jangan lupa, kamu itu harus nurut apa kata kakak kamu, yaitu aku, hehe!" ucap Dito tertawa bangga.


Tiba-tiba Dito berhenti tertawa. Seketika raut wajahnya berubah serius, menatap Syasya dengan tajam. "Kalau sampai nilai ujian kamu di bawah KKM, apalagi kamu sampai nggak lulus, kakak bakal balikin kamu ke abi umi, dan kakak pastiin kamu bakal tinggal dan sekolah di pondok..!" ancam Dito diakhiri dengan seringaian jahatnya.


"Okey adekku tersayang, selamat belajar! Kakak ada urusan yang sangat penting!"


"Halah! Penting konon! Palingan juga mau jalan ama gebetan!" sewot Syasya.


"Pinter!! Hebat emang lo, Nando. Baru beberapa menit, Syasya langsung tambah cerdas! Kalo gitu kakak berangkat dulu."


Belum semenit sejak Dito keluar dari rumahnya itu, namun tiba-tiba saja ia kembali lagi. "Eh! Dan kalian, jangan berani macem-macem karena cuma ada kalian di rumah! Kalo sampai terjadi hal yang enggak-enggak, kakak gantung kalian berdua!!" Dito menatap tajam Syasya dan Nando bergantian.


"NGGAK BAKAL!!!" seru Syasya dan Nando bersamaan.


Dito mengacungkan ibu jarinya. Ia lalu langsung melesat pergi agar bisa cepat bertemu dengan gebetannya, yaitu Nabila, kakaknya Vivi. Sudah agak lama ia tak bertemu apalagi jalan dengan calon pacarnya itu.


.


Syasya masih sibuk dengan kegiatan belajarnya. Sudah setengah jam lebih ia mendengarkan penjelasan materi dari Nando, tapi tak satupun bisa ia mengerti. Dan akhirnya ia menyerah. "Fyuhhh.."


"Paham nggak?" tanya Nando saat selesai menjelaskan.


"Udah aja yaa?? Pusing nih! Kapasitas otak udah penuh tau! Entar kalo otak gue meledak gimana? Emang lo mau donorin otak lo ke gue?" ucap Syasya membujuk.


"Ya Allah, Sya.. Belum juga satu jam. Baru setengah jam lo, Sya. Kakak lo aja bilangnya minimal harus satu setengah jam. Udah nggak usah manja gitu!" ucapnya sambil memukul kepala Syasya dengan buku.


Syasya mendengus kesal. Dengan amat sangat terpaksa ia akhirnya lanjut belajar. Nando kembali menerangkan beberapa materi. Setelah itu, ia juga memberikan beberapa contoh soal untuk Syasya. Dengan sekuat tenaga, jiwa, dan raga Syasya mencoba untuk mengerjakan soal-soal dari Nando tadi.


"Oke, selesai!" ucap Syasya.


Nando lalu mengoreksi jawaban Syasya. "Salah, salah, salah, salah!". Semua jawaban Syasya dicoret oleh Nando. Hal ini tentu saja membuat Syasya menganga tak percaya. Namun tak hanya ia yang menganga, Nando juga. Ia tentu tak habis pikir dengan Syasya.


"Bisa-bisanya soal dasar kayak gini lo nggak bisa jawab bener?! Gue nggak abis pikir deh ama lo, Sya.. Pantes aja kakak lo ngotot banget nyuruh gue ngajar elo!"


"Baca lagi materinya, terus lo kerjain ulang! Harus sampe bener!" titah Nando.


"Huuh!"


Terpaksa Syasya membaca lagi materi tadi. Lagi lagi lagi dan lagi hingga ia merasa jika ia sedikit paham. Ia lalu mencoba mengerjakan lagi soal-soal tadi dengan serius. Saking seriusnya perlahan tanpa sadar ia sampai tertidur di meja. Beruntung ia sudah selesai mengerjakan soal-soal tadi.


Nando lalu mengambil jawaban Syasya. Mengoreksinya dengan sangat cermat dan teliti. Seulas senyuman terbit di wajah Nando. "Lo itu pinter kalo lo mau usaha." Nando mengelus kepala Syasya yang masih tertidur sambil duduk. Ia lalu menggendong tubuh mungil Syasya, memindahkannya ke sofa agar lebih nyaman.


"Good night."


.


Keesokan harinya, Syasya menikmati hari weekend nya dengan menonton TV. Sebenarnya Vivi mengajaknya untuk pergi jalan-jalan, tapi Syasya menolak dengan alasan mager (males gerak). Disaat ia sedang menikmati acara TV kesukaannya itu, tiba-tiba terdengar amukan raja rimba yang mengaum dengan garangnya.


"Syasyaaaa!!!!" teriak Dito.


"Hah?" balas Syasya tanpa beralih dari TV.


"Jawab dengan jujur. Kamu, yang ngabisin sabun muka kakak kan?!!!" bentak Dito.


"Heh? Enggak lah!"


"Buktinya, kenapa sabun muka kakak yang baru kakak beli lusa, sekarang udah abis? Hah?!"


"Ya mana Syasya tau lah! Diabisin Nando kali semalem! Eh bentar. Oh iya! Kemarin Syasya pake buat nyuci sepatu, hehe.."


"Pokoknya, gantiin sekarang juga!!!!"


Dan disinilah Syasya berada sekarang. Di sebuah minimarket yang letaknya amat jauh dari rumahnya. Ia segera mencari apa yang kakaknya pesan tadi agar ia bisa cepat pulang. Saat ia sedang mencari-cari, tiba-tiba terdengar seseorang memanggil namanya.


"Sya."


.......


.......


...Maaf baru up sekarang🙏. Makasih udah baca cerita ini. Jangan lupa kasih dukungan ya..🤗...