
..."Ternyata sakit hati itu emang lebih sakit dari pada sakit gigi"...
...----------------...
.......
Nando sedang sibuk mencatat apa yang tengah di jelaskan oleh guru biologi nya itu. Namun seketika konsentrasinya buyar saat ponsel yang ada dalam sakunya terus bergetar.
Mau tak mau ia membuka ponselnya. Rupanya pesan whatsapp dari Radit. Ia pun membuka pesan tersebut.
"Maaf bu. Izin ke toilet." ucap Nando meminta izin.
Bu guru yang sedang menulis materi di white board sontak langsung menghentikan aktivitasnya.
"Tumben kamu izin ke toilet waktu pelajaran, Ndo? Biasanya nggak pernah!" dahi bu guru langsung mengernyit.
"Nggak tau, bu. Tapi ini beneran mendadak banget, bu!" ucap Nando meyakinkan gurunya itu.
Bu guru akhirnya mengizinkan Nando untuk ke toilet. Karena ini merupakan pertama kalinya bagi seorang Nando izin keluar disaat jam pelajaran.
"Terima kasih, bu!" Nando segera berjalan keluar kelas. Namun langkah Nando bukan menuju ke toilet seperti apa yang ia ucapkan pada gurunya tadi, melainkan menuju ke rooftop.
Kedua mata Nando mencari seseorang yang tadi memintanya untuk datang ke rooftop ini. Seketika maniknya menangkap seseorang yang sedang duduk membelakanginya.
"Ngapain nyuruh gue kesini?" tanya Nando to the point. Ia tentu tak ingin lama-lama bolos kelas, karena baginya satu detik pun sangat berharga saat jam pelajaran.
Bila orang dewasa biasanya gila kerja, maka sebut saja Nando gila belajar. Baik di sekolah, di rumah, bahkan di tempatnya liburan pun ia tetap belajar. Padahal ia sudah menjadi siswa terpandai di sekolah, namun tetap tak membuatnya berhenti belajar.
Mendengar suara Nando, Radit langsung menoleh. Menepuk-nepuk tempat disebelahnya agar Nando duduk disana. Namun Nando enggan, ia tetap berdiri di tempatnya.
"Kalo nggak ada yang penting, gue balik." Nando langsung berbalik hendak pergi dari sana.
"Gue bakal putus"
Baru satu langkah kaki Nando bergerak, ia langsung berhenti. Kakinya langsung bergerak, duduk di samping Radit.
"Lo yakin?" tanya Nando setelah mendengarkan cerita Radit.
"Mungkin. Maka dari itu gue minta bantuan lo."
"Gue nggak yakin bakal bantu lo. Sorry, gue mesti balik." Nando melangkah pergi dari sana untuk kembali ke kelasnya.
Saat ia melewati lapangan upacara, tanpa sengaja ia melihat seorang siswi yang sedang berlari mengelilingi lapangan. Siswi itu tak lain adalah Syasya yang sedang menjalankan hukumannya.
Brukk!
Seketika Syasya jatuh tersungkur. Tapi bukannya menangis, ia malah tertawa terbahak-bahak.
"Bego," kata itu langsung keluar dari mulut Nando.
"Ya, dia emang bodoh bisa suka sama pengecut kayak gue. Maka dari itu, gue mohon bantu gue." ucap Radit yang tiba-tiba sudah ada di belakang Nando.
Nando pun segera pergi ke kelasnya, begitu pula Radit. Sudah cukup lama mereka berdua tidak mengikuti pembelajaran.
......................
Esok harinya, tepatnya ketika para siswa siswi berhamburan untuk pulang. Namun tidak dengan Syasya, langkahnya bukan menuju ke gerbang depan, melainkan menuju ke rooftop.
Senyuman tak pernah pudar dari wajahnya. Ia pun mempercepat langkahnya agar bisa segera bertemu dengan Radit.
Kaki Syasya langsung berhenti begitu sampai di rooftop. Kedua maniknya menatap sosok yang sedang berdiri membelakanginya.
"Dit! Gue-" belum selesai Syasya berbicara, Radit langsung memotongnya.
"Ayo putus." ucap Radit datar masih membelakangi Syasya.
Syasya yang mendengar ucapan Radit tentu saja bingung. Ia langsung melangkahkan kakinya mendekati Radit.
"Ha? Apa, Dit? Kayaknya tadi telinga gue salah denger deh!" ujar Syasya berusaha tetap tersenyum.
Radit lantas berbalik, menatap datar Syasya yang masih bertanya-tanya.
"Gue mau putus!" ulang Radit penuh penekanan.
"Lo bercanda kan?" tanya Syasya masih tak percaya. "Oh.. ini prank ya? Mana Anton? Pasti dia yang ngrekam kan? Woi! Anton! Keluar lo!" teriak Syasya dengan suara agak bergetar.
Namun yang ia panggil tak kunjung menampakkan batang hidungnya. Syasya kembali menatap Radit.
"Udah ah, Dit. Nggak lucu tau becandaan kayak gini.." ujar Syasya lagi.
Seketika Syasya terdiam. Mencerna ucapan Radit yang terdengar serius itu. Bibir Syasya gemetar, ingin mengucapkan sesuatu.
"Tapi, kenapa? Salah gue apa?" tanya Syasya lirih, menatap wajah Radit.
Namun Radit tak bergeming sedikit pun. Ia hanya menatap wajah sendu Syasya.
"JAWAB DIT!!" bentak Syasya dengan suara lantang.
Namun Radit masih sama, tak bergeming sedikit pun.
Plakk!
Satu tamparan langsung mendarat di pipi Radit. Panas. Itulah yang dirasakan Radit pada pipinya.
"Kemarin tiba-tiba lo diemin gue! Chat gue nggak lo bales, bahkan di read juga enggak! Lo hindarin gue! Maksud lo apa?! Kalo gue ada salah bilang! Jangan cuma diem, terus tiba-tiba lo minta putus! SALAH GUE APA? JELASIN KE GUE, DIT!!" teriak Syasya panjang lebar dengan suara bergetar.
Entah sejak kapan mereka sudah dikelilingi oleh siswa siswi yang lain. Mereka malah menjadikan Syasya dan Radit sebagai tontonan gratis. Melihat pertengkaran ini, tentu saja fans Radit merasa senang, karena akhirnya harapan kembali datang pada mereka untuk mendapatkan Radit.
"JA-"
"Karena gue nggak suka sama lo! Gue nggak pernah serius sama lo! Puas lo sekarang?!" bentak Radit memotong perkataan Syasya.
Mendengar itu seketika Syasya bungkam. Wajahnya tertunduk, mencerna ucapan Radit tadi.
"Cih! Brengsek! Pembohong!" umpat Syasya lirih.
"Dari dulu, gue nggak pernah suka sama lo! Gue cuma ma-"
Bugh!!
Seketika Radit langsung jatuh tersungkur karena pukulan yang diberikan oleh Vivi. Tak hanya pukulan, bahkan umpatan demi umpatan ia hadiahkan untuk Radit.
"Dasar cowok brengsek! Bangsat!!" umpat Vivi yang tiba-tiba datang.
"Maksud lo apa hah?! Lo mainin perasaan temen gue?! Selama ini ternyata gue buta! Gue kira lo itu cowok baik-baik! Tapi kenyataannya apa?! Bangsat emang lo!!" carci Vivi pada Radit yang masih terduduk.
Vivi menatap Syasya yang masih diam seperti patung. Ia langsung menghampiri Syasya. Mencoba menyadarkan Syasya yang masih mematung. Berulang kali Vivi memanggil nama Syasya, namun Syasya tak bergeming sedikit pun.
Plakk!
Satu tamparan dari Vivi berhasil menyadarkan Syasya. Sontak kedua mata Syasya langsung menatap Vivi.
Vivi langsung memegang kedua pundak Syasya. "Lo dengerin gue. Lo putus bukan karena diputusin. Tapi lo yang mutusin cowok brengsek itu!" tegas Vivi pada Syasya yang masih tak bersuara itu.
Mulut Syasya tampak gemetar. Vivi yang melihat itu, langsung menatap sekelilingnya. Di antara kerumunan itu, ia melihat Nando.
"Woi, Nando! Bawa Syasya pergi dari sini, sekarang juga!" titah Vivi.
Entah mengapa Nando langsung mematuhinya. Ia segera menuntun Syasya untuk pergi dari sana.
"Dan lo!" tunjuk Vivi pada Radit. "Jangan pernah lo berpikir kalo lo yang udah mutusin Syasya! Mulai sekarang, kalian putus, karena Syasya udah mutusin lo!" tegas Vivi.
Setelah puas mencaci maki Radit, Vivi segera pergi dari sana. Ia sama sekali tak peduli dengan tatapan para siswa siswi yang senantiasa menatap dirinya.
Langkahnya tertuju ke gerbang depan, karena kakaknya sudah datang menjemput.
"Syasya mana, Vi?" tanya Nabila saat melihat Vivi sendirian.
"Syasya masih ada urusan, pulangnya masih nanti." balas Vivi berbohong.
"Ohh.. Gini, kamu kasih tau Syasya ya. Kalau kakaknya lagi ada pasien di UGD, jadi nggak bisa njemput." pinta Nabila.
.
Sementara itu, Nando membawa Syasya ke taman belakang sekolah. Tak ada siapapun disana kecuali mereka berdua. Keduanya hanya diam tak bergeming.
Ponsel Nando bergetar. Rupanya Vivi mengiriminya pesan. Dalam pesan tersebut, Vivi bilang bahwa Dito, kakaknya Syasya tidak bisa menjemput Syasya. Ia juga meminta Nando agar nanti mengantar Syasya pulang.
Setelah lama terdiam, akhirnya Syasya buka suara. "Sekarang gue baru percaya. Kalo ternyata sakit hati itu emang lebih sakit dari pada sakit gigi," ujar Syasya menatap lurus ke depan.
.......
.......
...Makasih udah baca cerita ini. Jangan lupa kasih dukungan ya..🤗...