Love, 35 Cm

Love, 35 Cm
Chapter 01



..."Pendek bukan hal yang salah, Yang salah itu menyalahkan seseorang karena pendek.."...


...----------------...


.......


Adira Syaqilla Malik atau Syasya, gadis mungil dengan tinggi 155 cm, berwajah cantik dan imut itu kini tengah mengemas pakaian dan barang-barangnya ke dalam koper.


"Baju, udah semua. Sikat gigi, udah. Sabun muka, udah. Sepatu, udah.. Apalagi yang belum yah..?" ujarnya berpikir keras.


"Kamu beneran mau ikut Kak Dito? Nanti harus pindah sekolah juga lho, Sya.. Ikut abi sama umi aja yuk, ke Bandung. Nanti kamu kan belajar nya bisa di pesantren aja. Biar abi sama umi tetap bisa jagain kamu.." pinta Aisyah yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar Syasya.


Siti Aisyah (47 th), dia adalah umi nya Syasya. Sholehah, ramah, dan penyayang.


"Enggak bisa, umi.. Syasya itu masih belum siap berhijab. Lagian Syasya juga masih pengen lanjut main basket. Dan umi juga tau sendiri kan, Syasya kalo di pesantren itu nggak betah."


"Hahh.. Ya udah deh, umi juga nggak bisa maksa kamu. Nanti kalo udah selesai beres-beresnya, cepat turun ke bawah ya.. Kita sarapan dulu." pasrah Aisyah.


Ia pun segera turun ke bawah, menyiapkan sarapan untuk keluarga tercintanya.


Beberapa menit kemudian, Syasya telah selesai mengemas barang-barangnya. Sesuai perintah umi nya, ia pun segera turun untuk sarapan.


"Lama banget sih kamu, Sya?! Liat tuh, abi udah laper!" sungut Dito, menunjuk pria paruh baya yang duduk di depannya.


Adito Zayn Malik (28 th), kakak pertama Syasya. Dokter muda dan ganteng.


"Ehh.. Sembarangan fitnah abi! Kamu kali yang laper!" balas Malik merasa terfitnah.


Krukk...


"Hehe.. Iya, sekarang abi laper," sambungnya, menggaruk kepala nya yang tidak gatal.


Muhammad Malik (55 th), dia adalah abi nya Syasya. Sholeh, adakalanya tegas, tapi sebenarnya sayang dengan putra putrinya. Pemilik Pesantren Al-Huda di Bandung.


Aneka masakan telah dihidangkan di atas meja makan. Mereka berempat pun melahapnya dengan khidmat. Tak lupa setelah selesai, Syasya membantu umi nya untuk mencuci piring-piring kotor.


"Barang-barang kamu udah dimasukin koper semua kan, Sya? Kakak masukin bagasi mobil ya?" tanya Dito yang sudah menarik koper Syasya.


"Iya.." balas Syasya.


.


"Kalo gitu, Dito sama Syasya berangkat dulu ya." Tak lupa mereka berdua mencium tangan abi dan umi mereka.


"Iya, hati-hati di jalan. Jangan lupa sholatnya dijaga." pesan Malik.


"Kalo ada apa-apa, telpon umi atau abi ya, Sya.. Hati-hati.." ucap Aisyah.


"Siap!" balas Syasya dengan sikap hormat ala TNI.


"Assalamu'alaikum!" ucap Dito dan Syasya kompak.


"Wa'alaikumsalam."


Mobil Dito melaju, meninggalkan kota Jakarta Barat. Seperti biasa, jalanan macet. Jakarta memang kota yang padat. Entah itu Jakarta Barat ataupun Jakarta Selatan, sama saja. Sama-sama macet. Mungkin kemacetan sudah menjadi ciri khas kota Jakarta.


Bisingnya klakson kendaraan yang saling bersautan membuat Syasya memilih untuk memakai headset. Mendengarkan musik agar pikirannya bisa tenang. Hingga lama-kelamaan ia tenggelam dalam mimpinya.


.


"Sya, bangun. Udah sampai,"


Seketika Syasya langsung membuka kedua mata. Menoleh kiri kanan, bingung melihat keadaan sudah senja.


"Hoamm.. Kok baru sampai, Kak? Tadi kejebak macetnya lama?" tanya Syasya yang masih mengantuk.


Ia pun segera turun dari mobil, menatap kakaknya yang sedang mengeluarkan barang bawaan mereka dari bagasi.


"Enggak, tadi kakak sekalian daftarin kamu di sekolah barumu. Terus ada panggilan dari rumah sakit, biasa, pasien UGD." jelas Dito.


Syasya hanya mengangguk-angguk. "Terus kita tinggalnya dimana?" tanya nya sambil melihat sekeliling. Perumahan yang terbilang elit dan modern, dilihat dari desain eksterior nya.


"Inilah, Sya.. Pake tanya lagi." Dito menarik kopernya dan milik adiknya itu memasuki rumah minimalis dengan desain nan mewah.


Eksterior dan interior yang mewah. Meski tidak sebesar rumah abi nya, tapi sudah cukup jika hanya untuk dua orang.


"Kamar kamu yang itu, kamar kakak yang ini. Nih koper kamu, udah sana masuk!" Dito langsung memberikan koper Syasya.


Ia pun langsung masuk ke dalam kamarnya untuk beres-beres. Begitupun Syasya. Ia pun segera menata barang-barang nya, dan bergegas mandi.


Selang beberapa menit, Syasya telah menyelesaikan ritual mandinya dan memakai pakaian santainya.


Tok.. tok.. tok..


"Sya, mau ikut nggak?" tanya Dito dibalik pintu kamar.


Dengan segera Syasya membuka pintu. "Kemana?"


"Cari makan, emang kamu nggak laper?" tanya Dito.


"Laper lah! Ya udah ayo!" Syasya langsung mengambil HP nya.


"Tunggu! Kamu yakin mau pake baju itu? Ganti dulu sana!" perintah Dito.


Syasya langsung menatap pakaiannya. "Emang kenapa? Bagus kok, sopan juga." ujarnya polos seperti anak kecil.


"Apa? Pendek!? Iya? Tau ah! Males!" potong Syasya merajuk.


Syasya kembali masuk ke dalam kamar. Saat ia hendak menutup pintu, Dito langsung mencegahnya.


"Apa?! Mentang-mentang kakak tingginya 180 cm dan Syasya cuma 155 cm? Iya?!" bentak Syasya. "Lagian pendek juga bukan hal yang salah, justru yang salah itu kakak! Menyalahkan seseorang karena pendek!"


"Enggak, Sya.. Maksudnya bukan gitu. Becanda, jangan marah ah! Nanti cantiknya hilang lho.. Yuk ah, keburu tutup restorannya."


Dengan wajah yang masam, Syasya terpaksa mengikuti langkah kakaknya itu. Mereka pun pergi ke salah satu restoran. Saat mereka sudah sampai, bertepatan dengan itu adzan magrib berkumandang.


"Yah, Sya.. Udah magrib. Makanannya dibungkus aja gimana?" tanya Dito.


"Terserah," sungut Syasya yang masih merajuk.


"Ya udah, kamu tunggu disini bentar ya.." Dito bergegas turun, dan memasuki restoran untuk memesan makanan.


5 menit...


10 menit...


15 menit...


Lama Syasya menunggu. Namun kakaknya itu tak juga kembali. Hingga akhirnya ia pun memutuskan untuk turun dari mobil, hendak menyusul kakaknya itu.


"Lama banget sih!" amarahnya kian bertambah karena merasa sangat lapar.


Ia pun melangkahkan kakinya, menaiki anak tangga untuk memasuki restoran itu. Baru sampai di anak tangga kelima, dari kejauhan tampak kakaknya sedang menenteng kantong plastik di kedua tangannya.


Dengan langkah yang masih kesal, ia pun hendak kembali ke mobil. Namun baru saja memutar tubuhnya, tanpa sengaja ia malah menabrak seseorang.


Dukk!!


Orang yang ditabraknya kehilangan keseimbangan, dan hendak terjatuh. Reflek orang itu langsung menarik baju Syasya.


Syasya yang ditarik bajunya pun ikut kehilangan keseimbangan. Membuat keduanya langsung terjatuh dari anak tangga.


Bughh..!!


"Aww!!" teriak Syasya meringis kesakitan.


"Minggir!" ucap orang itu dingin.


Syasya yang tersadar jika ia jatuh menimpa orang itu pun langsung berusaha bangkit.


Kretek..


"Aww!!" lagi-lagi Syasya berteriak. Ia langsung terduduk, merasa sakit pada pergelangan kakinya yang entah patah atau apa. Yang jelas sangat sakit rasanya.


"Kamu nggak papa, Sya??" tanya Dito yang sudah ada di sebelah Syasya.


"Lain kali anaknya dijaga mas, jangan sampai nyusahin orang lain!" ucap orang tadi ketus dan langsung meninggalkan Dito dan Syasya.


Dito langsung melongo. Merasa telinga nya sudah konslet.


"Anak? Tadi dia bilang anak kan ya, Sya? Emang kakak mirip bapak-bapak?" bingung Dito.


"Tau ah! Bantuin Syasya dulu napa, sakit nih!" rengek Syasya.


Dito pun segera menuntun adiknya itu ke dalam mobil. Melajukan mobilnya kembali ke rumah.


......................


Keesokan paginya.


Syasya telah sampai di depan gerbang sekolah barunya. Tentu saja diantar oleh Dito, kakaknya.


"Inget, Sya. Kaki kamu itu patah. Walau cuma patah ringan, tetap harus hati-hati! Jalannya pelan-pelan aja. Nggak usah lari! Dan yang terpenting jangan lompat dulu, apalagi main basket! Karena kalo kamu-"


Belum selesai Dito menasihati, Syasya langsung memotongnya.


"Iya.. Iya.. Bawel banget sih! Udah sana pergi!" usir Syasya enggan mendengar ocehan kakaknya lagi.


"Huftt.. Bandel banget sih kamu. Inget, jangan lari!" pesan Dito sebelum ia melajukan mobilnya menuju ke rumah sakit tempatnya bekerja saat ini.


Dengan langkah yang super hati-hati, Syasya berjalan melewati gerbang. Biar pelan, asalkan selamat. Kalimat itu menjadi pengingat Syasya agar terus berjalan dengan hati-hati.


Namun karena ia berjalan terlalu pelan, membuat mereka yang ada di belakangnya menjadi geram.


"Lemot banget sih!" itulah kalimat yang keluar dari mulut beberapa siswi yang berjalan mendahului Syasya.


Namun Syasya tak mau ambil hati, bodo amat. Begitulah pikirnya. Ia tetap berjalan pelan, tak mau kakinya bertambah parah.


Daripada nanti ia tidak bisa main basket lagi, lebih baik sekarang ia patuh pada pesan kakaknya yang seorang dokter, bukan?


"Pelan-pelan ya, Sya. Sabar.. Biar nanti cepat sem-"


Tinnn!!!


.......


.......


...Makasih udah baca cerita ini. Jangan lupa kasih dukungan ya..🤗...