
Light dan Star, serta putri kecil mereka telah menghabiskan waktu sekitar 1 minggu di Jakarta. Mereka berencana akan segera kembali ke London karena Dad Leon ingin segera kembali ke Jakarta.
Malam itu, hujan turun cukup deras, membuat Light semakin mengeratkan tubuhnya pada Star, "Peluk aku, aku tidak suka kedinginan."
"Kamu seperti bayi saja," goda Star.
"Aku ini memang masih bayi, bayi besar," ucap Light sambil tersenyum.
Bralkk!!!
Suara petir yang cukup menggelegar beradu dengan suara pintu yang dibuka kasar. Light yakin kalau itu adalah suara pintu depan karena kamar tidur yang ia tempati berada di bagian depan.
Ia yang tadinya sedang mengeratkan pelukan pun turun dari tempat tidur untuk memeriksa, "Aku lihat ke depan dulu ya."
Dengan perlahan dan hati hati, Light keluar dari kamar. Ia mendengar racauan seseorang yang tidak begitu jelas. Ia semakin mendekat dan ia melihat Giovan sedang duduk di sofa sambil terus meracau dan memukul sofa di sebelahnya.
"Kalian jahat!! kalian semua jahatt!! Kenapa kalian tidak pernah mempedulikan perasaanku!!" racau Giovan terus menerus.
"Van," Light mendekati Giovan dan duduk di sebelahnya.
Giovan tertawa saat melihat Light, "Ahhh Lighttt!!! Bantu aku. Katakan pada mereka bahwa aku tidak mau menikah. Mengapa mereka terus saja memaksaku. Mereka sama sekali tidak mempedulikan perasaanku."
"Tenanglah. Aku sudah mengatakan pada Oma mengenai ini, bahkan berulang kali. Apa yang sebenarnya terjadi?"
"Antarkan aku ke kamarku, Light. Kepalaku sakit sekali," Giovan terus memegang kepalanya. Semuanya terasa berputar dan berdenyut.
"Ayo," Light membantu Giovan untuk bangkit. Biasanya ia akan pulang ke rumah keluarganya, di mana Uncle Mikael dan Aunty Daniela tinggal, tapi kali ini ia pulang ke rumah Opa Larry dan Oma Miranda. Ia sedang merasa kesal dengan kedua orang tuanya.
Setelah membaringkan Giovan ke tempat tidur, Light kembali ke kamarnya. Ia melihat istrinya masih bersandar di kepala tempat tidur, menunggunya.
"Kamu belum tidur?"
"Belum. Ada apa?" tanya Star.
"Giovan. Ia pulang ke sini dan dalam keadaan mabuk. Untung saja Opa dan Oma sudah tidur," jawab Light.
"Ia pasti memiliki alasan pulang dalam keadaan seperti itu."
"Hmm ... ia tidak mau dijodohkan. Aku juga tidak tahu mengapa Uncle dan Aunty memaksanya menikah. Aku akan mencoba bicara dengan mereka. Aku tahu bagaimana perasaan Giovan, dipaksa melakukan sesuatu yang tak kita suka."
"Aku akan membantumu jika kamu membutuhkanku," ucap Star.
"Terima kasih, sayang. Sebaiknya sekarang kita tidur. Aku tidak ingin kamu kelelahan."
*****
2 hari berlalu dan kini saatnya Light beserta keluarga kembali ke Kota London. Ia berjanji pada Grandma Amelie bahwa ia akan sering sering pulang ke Jakarta.
Sehari sebelum kepulangannya, ia menemui Uncle Mikael serta Opa Larry untuk membicarakan masalah Giovan. Ia tahu sebenarnya ini bukanlah urusannya. Hanya saja ia tak ingin Giovan terjebak dalam suatu pernikahan tanpa rasa cinta di dalamnya.
Namun, ntah apa yang ada dalam pikiran Uncle nya itu, hingga ia berkeras hati untuk tetap menjodohkan Putra pertamanya. Opa Larry sebenarnya sependapat dengan Light, hanya saja ia terpaksa menuruti keinginan putra dan istrinya itu.
"Van, maafkan aku. Aku sudah mencobanya, tapi Uncle sangat berkeras hati," ucap Light sambil pamit.
"Aku mengerti, tidak apa. Mungkin aku harus melakukan semua dengan caraku sendiri," Light tidak mengerti maksud dari ucapan Giovan dan ia tak ingin ikut campur terlalu dalam.
"Tentu saja, tunggu aku!" ucap Giovan sambil tersenyum.
Di dalam perjalanan, Star merasa kurang enak badan. Kepalanya berdenyut dan rasa mual seakan menguasai dirinya. Ia beberapa kali bolak balik ke toilet.
Light meminta secangkir teh hangat kepada pramugari. Ia tidak tahu apa yang dialami oleh Star.
"Ini minumlah dulu. Saat kita sampai nanti, kita akan langsung menemui dokter. Aku sudah meminta Black untuk membuatkan jadwal pertemuannya."
"Tidak perlu. Sepertinya aku hanya kelelahan karena semalam aku kurang tidur," ucap Star.
"Kalau begitu, sekarang berbaringlah. Pejamkan matamu dan beristirahatlah," Light menggunakan kelas bisnis hingga jarak antara kursi dengan kursi cukup jauh. Light lebih memilih kelas bisnis dibanding kelas utama karena ia lebih mengutamakan kenyamanan dibandingkan prestise.
Setelah perjalanan panjang sekitar 16 jam, mereka sampai di Kota London, Inggris. Waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam, Black sudah siap dengan mobil dan menunggu mereka.
"Black, apa kamu sudah mengatur pertemuan dengan dokter?"
"Sudah, Tuan. Saya menjadwalkan besok jam 9 pagi," jawab Black.
"Baiklah, kita pulang sekarang."
Star sudah merasa baikan saat ini, namun ia lebih banyak terlelap karena rasa kantuknya yang berlebihan. Sesampainya mereka di apartemen, kedua orang tua Light sudah beristirahat. Light pun baru akan menemui mereka besok dan Light ingin meminta tolong pada Daddynya, agar membantu Giovan.
*****
Pagi menjelang, Light terbangun karena mendengar suara dari arah kamar mandi. Ia langsung bangkit dan mendekati Star yang tengah muntah muntah. Light langsung memijat tengkuk Star dan mengelua punggungnya. Ia mengambilkan tissue dan membantu Star bersih bersih.
"Apa terjadi lagi?" tanya Light dan Star mengangguk.
"Ayo kita mandi, setelah itu kita akan pergi menemui dokter," Star mengikuti semua perintah Light tanpa membantah. Ia tak ada tenaga untuk melakukan itu lagi.
Saat keluar dari kamar, mereka sudah rapi dan bersiap untuk pergi, "Dad, Mom."
Leon dan Amelie tersenyum, "Kalian sudah siap? kemari dan sarapan. Mommy membuatkan sesuatu untuk kalian."
"Dad, kapan Dad akan kembali ke Jakarta?" tanya Light.
"Ada apa?"
"Ada sesuatu yang ingin kubicarakan sebelum Dad pulang."
"Baiklah, kita akan bicara nanti malam. Dad dan Mom akan kembali besok siang," ucap Dad Leon.
"Kalian mau pergi ke suatu tempat?" tanya Amelie yang tidak biasanya melihat Star berpakaian rapi sekali.
"Aku akan membawa Star ke dokter, Mom. Sejak kemarin di pesawat, sepertinya Star kurang enak badan," mendengar jawaban Light, tiba tiba saja wajah Amelie menyunggingkan senyuman.
"Apa kamu sudah kedatangan tamu bulananmu?" tanya Amelie berbisik.
Star tampak berpikir, kemudian ia melihat ke arah Mom Amelie, "sudah lewat 1 minggu dari jadwal yang seharusnya, Mom. Apa jangan jangan aku ...."
Amelie mengangguk, "Periksalah. Mom berharap ini benar," ucapnya sambil mengelus perut Star.
🧡 🧡 🧡