
"Star?"
"Drake?" Star mengenali suara sahabat saudaranya itu. Sudah lama sekali rasanya mereka tidak bertemu dan sekalinya bertemu, Star dalam keadaan yang tidak baik baik saja.
"Aku ikut dengan Mave ke mari, aku bosan di kota. Di sini sangat menyenangkan," ucap Drake.
"Sering seringlah ke mari jika kamu menyukainya," ucap Star sambil memandang ke taman belakang, meskipun tak bisa melihatnya tapi ia bisa merasakan hembusan angin yang menerpa wajahnya.
"Apa kamu suka jika aku sering sering ke sini?" tanya Drake penuh harap.
"Aku tidak berhak melarangmu datang jika kamu menyukai tempat ini. Lagipula, kamu adalah sahabat Mave," ucap Star, seketika meruntuhkan harapan Drake.
Drake duduk tak jauh dari Star. Ia sudah tahu apa yang dialami oleh Star karena Mave menceritakan semuanya. Sungguh, ia sangat mengkhawatirkan wanita itu, wanita yang ia cintai dalam diam.
"Drake, ayo makan bersama," ajak Mom Angel saat melihat Drake di taman belakang bersama dengan Star.
"Baik, Aunty," Drake segera bangkit dan masuk ke dalam meninggalkan Mom Angel bersama dengan Star.
"Sayang, ayo masuk. Di sini dingin," ucap Mom Angel.
"Aku suka rasa dingin ini, Mom. Membuatku nyaman."
Angel sangat tahu bahwa Star tidak menyukai rasa panas. Itu adalah kelemahan Star yang luar biasa. Bahkan Star tidak bisa disentuh terlalu lama, terutama oleh pria, karena tubuh pria jauh lebih panas dibandingkan dengan wanita.
"Tapi sekarang kamu harus masuk, kita akan makan. Mommy sudah memasak sesuatu untukmu sejak tadi," dengan perlahan Mom Angel membantu Star berdiri dan berjalan masuk. Star sudah tidak menggunakan kursi rodanya karena ia tidak mau.
*****
Mendengar keributan, Mom Angel langsung mendekat ke arah jendela. Ia melihat Mave sedang memukul Light. Untung saja David segera memisahkan mereka, kalau tidak ntah apa yang akan terjadi. Angel melihat bahwa Light sama sekali tidak membalas, bahkan ia membiarkan dirinya dipukuli oleh Mave.
"Ada apa, Mom?" tanya Star yang terbangun karena mendengar suara berisik.
"Tidak ada apa apa, sayang. Dad dan Mave sedang berolahraga saja di depan," Star mengangguk mengerti. Ia juga tak ingin memperpanjang pertanyaannya.
Di meja makan pagi itu, wajah Dad David dan juga Mave sama sama menampakkan kekesalan. Semua itu dikarenakan kehadiran Light di rumah pedesaan mereka.
"Thank you, Aunty."
Drake merasa suasana di meja makan begitu panas. Ia tidak tahu apa yang terjadi karena saat kejadian ia memang masih berada di kamar mandi. Di meja makan, Drake selalu memperhatikan Star, dan hal itu disadari oleh Mom Angel.
"Drake, setelah selesai makan, apa Aunty bisa meminta bantuanmu?" tanya Angel.
"Apapun Aunty," jawab Drake.
"Bisakah kamu membawa Star ke taman belakang. Biarkan ia duduk di sana sampai Aunty selesai membereskan semua ini."
"Tidak perlu, Mom. Kalau Mom tidak bisa membantuku, aku akan tetap di sini saja," Drake merasa sangat sedih dengan penolakan Star. Bahkan Star tak ingin ia bantu dengan hal kecil seperti itu.
"Aku saja yang akan melakukannya," ucap Mave akhirnya.
"Terina kasih, Mave," ucap Star.
Setelah selesai, Mom Angel berjalan ke arah depan. Ia memeriksa keadaan Light dan apa yang ia lakukan. Mom Angel melihat bahwa Light hanya duduk diam sambil meremas kedua tangannya. Sesekali ia melihat ke arah pintu, seakan berharap Star keluar dari sana.
*****
Pintu depan terus tertutup, Drake agak sedikit bingung karena tidak seperti kemarin kemarin yang dibiarkan terbuka.
"Ada apa?" tanya Mave.
"Bukankah lebih enak kalau pintu depan dibuka?"
"Tidak! Jangan kamu membukanya!" teriak Mave, membuat Drake sedikit heran dan aneh. Mave langsung meninggalkan Drake. Drake pun berjalan mendekat ke arah luar, melihat dari jendela. Ia melihat seorang pria sedang duduk di kursi kayu teras.
"Xavier Light?" gumam Drake, "Apa yang sedang ia lakukan di sini?"
Drake sebenarnya ingin keluar dan bertanya, namun ia tak punya hak. Apalagi tadi Mave mengatakan untuk tidak membuka pintu, itu artinya mereka tidak menerima kedatangan seorang Xavier Light di rumah mereka.
🧡 🧡 🧡