
Star bangun cepat pagi ini. Ia masih tak mendapati Light di apartemen. Ia segera pergi membersihkan diri setelah sebelumnya mengganjal tempat tidur dengan bantal agar Ella tidak terguling.
Baru saja Star keluar dari kamar mandi, ia mendengar pintu apartemennya terbuka. Ia langsung berlari keluar, berharap itu adalah suaminya. Namun, ia harus menelan kekecewaan karena ternyata yang datang adalah Bibi yang biasa membersihkan apartemen.
"Nyonya sudah kembali?"
"Iya, Bi. Oya Bi, aku ingin bertanya sesuatu."
"Ada apa, Nyonya?"
"Hmm, sejak semalam aku tidak melihat suamiku. Apa ia sedang pergi keluar kota?" tanya Star.
"Ahh tidak, Nyonya. Tuan tidak ke mana mana. Tuan pasti ada di perusahaan."
Tak lama, bel apartemen kembali berbunyi. Star langsung menuju pintu untuk membukanya, "Black?"
Black langsung menyingkir dan meminta anak buahnya untuk membawa Tuan Light untuk masuk. Star langsung mengikuti Black yang akan membawa Light ke kamar tamu.
"Kamu akan membawanya ke mana?" tanya Star.
"Ke kamar tamu, Nyonya."
"Bawa ke kamarnya, aku akan memindahkan Ella," ucap Star yang langsung masuk dan memindahkan Ella dari atas tempat tidur.
Black segera keluar setelah melihat tuannya itu sudah berbaring di atas tempat tidurnya.
"Apa yang terjadi?"
"Tuan hanya kelelahan, Nyonya. Ia hanya beristirahat beberapa jam saja setiap hari sejak Nyonya pergi. Bahkan ia hampir tak pernah pulang dan memilih menginap di perusahaan."
"Baiklah, terima kasih, Tuan Black," ucap Star yang memang sudah terbiasa memanggil Black dengan sebutan tuan.
Setelah Black meninggalkan apartemen bersama anak buahnya, Star meletakkan Ella di sisi tempat tidur yang lain. Ia pun mendekati Light kemudian memegang kening pria itu karena melihat wajah Light yang sangat pucat.
Apa yang kamu lakukan? Mengapa kamu terus bekerja tanpa memperhatikan kondisi kesehatanmu? - Star.
Star mengambil piyama milik Light, kemudian memakaikannya, agar suaminya itu merasa lebih nyaman. Ia memandangi wajah Light sambil duduk di sampingnya, "Apa kamu sangat lelah? Apa kamu merindukan kami?"
"Buka!!! Buka pintunya!! Aku tidak bisa bernafas!! Grandpa, tolong aku!!" wajah Light semakin lama semakin memucat, Star langsung menggenggam tangan suaminya itu.
"Bangunlah, pintu sudah terbuka. Aku ada di sini, jangan takut," ucap Star sambil mengusap punggung tangan Light. Tak lama, Light mengerjapkan matanya. Ia merasakan seseorang sedang memegang tangannya.
Light menolehkan wajahnya, "Aku mulai berhalusinasi dan melihat istriku di sini," gumamnya yang masih bisa didengar oleh Star. Tentu saja Star senang karena Light menyebut kata istriku.
"Kamu tidak berhalusinasi, aku memang ada di sini. aku sudah kembali."
Light langsung menarik tangannya dari genggaman Star. Star merasa kecewa karena berpikir Light tak ingin dipegang olehnya. Namun, saat melihat Light membuka laci nakas, kemudian menggunakan sarung tangannya, barulah Star menyadari bahwa Light bukan tak ingin ia pegang, melainkan pria itu takut menyakiti dirinya.
"Maafkan aku," ucap Light tiba tiba saat menyadari tangan mereka bersentuhan. Dengan perlahan, Star mendekati Light kemudian membuka sarung tangan yang digunakan oleh suaminya itu.
Light terus memperhatikan apa yang Star lakukan, kemudian menatap ke arah wajah Star. Star yang telah selesai membuka sarung tangan yang digunakan oleh Light pun kini ikut menatap suaminya.
"Terima kasih karena sudah menjagaku selama ini. Kamu tidak perlu lagi menggunakan sarung tangan ini," ucap Star.
Light mulai berpikiran negatif. Star mengucapkan terima kasih, apakah wanita itu akan segera minta berpisah darinya dan pergi meninggalkannya? batin Light mulai bergejolak. Ia yang awalnya akan menuruti semua keinginan wanita yang ada di hadapannya, kini menjadi ragu.
"Apa kamu akan pergi lagi?" tanya Light.
Menatap wajah Light yang terlihat was was, membuat Star tertawa dalam hatinya. Dengan cepat Star mengecup bibir Light, membuat pria itu membulatkan matanya seakan tak percaya. Sekali lagi Star mencium bibir Light, kali ini dengan durasi yang lebih lama.
Tanpa banyak bicara, Light menahan tengkuk Star dan memperdalam ciuman mereka. Ia mengabsen setiap rongga dan kini Light juga memegang pinggang Star, membuat Star langsung mengalungkan kedua tangannya ke leher Light.
"Kamu ....?" tanya Light sambil menyatukan kening mereka dan Star menganggukkan kepalanya meski ia tidak tahu pasti apa yang akan ditanyakan oleh Light.
"I love you," ucap Light tiba tiba, membuat hati Star menghangat. Namun, belum sempat ia menjawab ucapan Light, Ella sudah menangis karena bosan dengan mainannya. Mereka berdua pun tersenyum.
🧡 🧡 🧡