
Light yang melihat Star tak menyentuh makanan di atas meja pun masuk ke dalam kamar tidur wanita itu. Ia melihat Star sedang duduk di atas tempat tidur.
"Mengapa kamu tidak makan? Bukankah kamu berjanji akan memakannya?"
"Aku juga sudah memintamu untuk tidak memanaskannya, kenapa kamu melakukannya?" balas Star.
Light menghela nafasnya. Ia harus benar benar bersabar menghadapi Star beberapa bulan ini. Namun, demi anak yang ada dalam kandungan Star, ia rela melakukannya.
"Makanan hangat akan lebih nikmat jika dimakan," ucap Light.
"Tapi aku tidak mau. Aku baru akan makan jika makanan itu dingin."
"Jangan menguji kesabaranku!"
"Kalau kamu memang tidak sabar untuk menghadapiku, keluarkan aku dari sini. Apa kamu pikir terkurung di sini itu tidak menguji kesabaranku?" ucap Star membalik perkataan Light.
Light selalu memperhatikan keseharian Star melalui CCTV. Meskipun ia bekerja, ia selalu memantau melalui laptop di kantornya. Ia memang selalu melihat Star makan lewat dari jadwal makan siang biasanya, karena itulah hari ini ia sengaja pulang agar Star mau makan di jam yang seharusnya.
"Mengapa kamu makan saat sudah dingin?" tanya Light lagi.
"Sudah kukatakan aku lebih suka kalau itu dingin," jawab Star.
"Baiklah, terserah padamu saja."
1 bulan lagi berlalu, usia kandungan Star kini sudah mencapai 28 minggu. Star tidak pernah keluar untuk memeriksakan kandungannya, tapi seorang dokter kandungan yang akan datang ke apartemen untuk melakukan pemeriksaan rutin.
"Bagaimana, Dok?" tanya Light.
"Semua baik baik. Apa kalian tidak ingin melihat jenis kelaminnya?" tanya sang dokter.
"Apakah bisa?" tanya Star antusias.
"Bisa, tapi alat tersebut ada di rumah sakit. Datanglah sesekali."
"Tidak perlu, Dok. Kami lebih suka melihat nanti saat bayi kami lahir. Bukankah akan menjadi kejutan bagi kami?" ucap Light.
"Tentu saja. Baiklah, saya permisi dulu," pamit sang dokter.
Tak lama setelah Dokter kandungan itu pergi, bel apartemen kembali berbunyi. Pelayan yang ditugaskan oleh Light berada di apartemen sejak kehadiran Star pun membukakan pintu.
"Mana Light?"
"Apa yang kamu lakukan Light?" tanya Amelie. Leon berjalan di belakang istrinya itu. Ia sama sekali tak bicara bahkan tak akan membela putranya.
Setelah berpikir ulang, Azka tidak jadi pergi ke Munich untuk bertemu dengan David. Ia akhirnya kembali ke Indonesia dan menemui Amelie, kakaknya. Azka menceritakan semuanya pada Amelie, hingga Amelie menjadi marah besar.
Leon yang tak pernah melihat Amelie marah pun menjadi serba salah. Pada akhirnya, ia berusaha menenangkan Amelie. Leon tak ingin salah langkah dan menyebabkan putranya itu semakin menjauh. Sudah cukup belasan tahun ini mereka hidup kadang bagaikan orang asing.
"Mom benar benar tak mengerti dengan jalan pikiranmu. Ada apa sebenarnya antara dirimu dengan Star?" tanya Mom Amelie.
"Ini urusanku dengannya."
"Bagaimana bisa hanya urusanmu dengannya. Bagaimanapun juga ia adalah putri sahabat Daddy. Apa yang kamu lakukan itu salah, apa kamu tidak mengerti juga?"
"Apa Mom datang ke sini hanya untuk menceramahiku saja?" tanya Light.
"Mom bukan menceramahimu, tapi mengingatkanmu bahwa apa yang kamu lakukan ini adalah salah. Kita bisa duduk bersama dan membicarakan semuanya. Apa yang kamu inginkan dan apa hubungan semua ini dengan Star."
Light berdecak kesal. Ia merasa lebih baik jika David Asher yang datang ke apartemennya dibanding Mommynya sendiri. Ia sebenarnya tak ingin melawan ataupun membantah Mom Amelie, tapi apa yang ia lakukan juga untuk kebahagiaan mereka.
"Dad, bawalah Mom pergi dari sini. Aku tak ingin membicarakan itu saat ini. Berikan aku waktu," ucap Light.
"Light, apa kamu sudah tak menganggap kami sebagai orang tuamu lagi hingga kami tidak boleh mengetahui apapun yang kamu lakukan?" tanya Leon dengan lembut. Ia tak ingin meninggikan suaranya karena itu akan membuat Light semakin keras hati.
"Aku akan menceritakan semuanya, tapi tidak saat ini."
"Kalau kamu tidak ingin menceritakannya sekarang, maka Mom akan membawa Star pergi dari sini."
"Aku tidak mengijinkannya. Jika Mom berani membawanya pergi, maka aku tak akan pernah menginjakkan kaki lagi di kediaman Sebastian. Aku tak akan pernah pulang lagi," ucapan Light sontak membuat Amelie memegang dadanya. Kepalanya tiba tiba saja terasa sangat pusing hingga ia tak bisa menerima ucapan putranya itu.
"Kami akan kembali. Pikirkanlah. Kita akan bicara baik baik setelah semuanya tenang dan Dad harap kamu menjelaskan semuanya pada kami," ucap Dad Leon.
Light hanya diam sambil memandangi kepergian Mommynya. Leon dengan perlahan memapah Amelie yang seakan kehilangan tenaganya.
Sementara itu di dalam kamar, Star mendengar semua percakapan mereka. Ia sedikit membuka pintu dan melihat bagaimana pertengkaran antara ibu dan anak. Jika ia tak membuka pintu, maka ia tak akan bisa mendengar karena ruangan ruangan di apartemen tersebut memang dirancang kedap suara.
Star bisa saja keluar dari kamar dan menghampiri Amelie. Mengatakan semua kepada wanita itu dan memintanya membawa kabur dirinya. Namun, melihat bagaimana pertengkaran itu, membuatnya mengurungkan niat. Ia kembali merebahkan diri di atas tempat tidur, kemudian memejamkan matanya, berharap semua yang terjadi padanya hanyalah mimpi.
🧡 🧡 🧡