
Setelah Star diberi obat penenang, wanita itu tertidur dengan pulas. Light tak ingin kejadian seperti tadi terulang kembali. Ia segera menghubungi asistennya untuk mempersiapkan apartemennya.
Dalam keadaan di bawah pengaruh obat penenang, Star di bawa menuju ke apartemen Light.
"Pergilah Black. Aku serahkan urusan perusahaan padamu dulu sementara ini," perintah Light. Tanpa banyak bertanya, Black meninggalkan apartemen Light.
Light menyiapkan semangkuk bubur dan juga segelas susu untuk Star. Terbiasa hidup sendiri, membuat Light juga harus bisa melakukan semua pekerjaan sendiri. Ia tak percaya sembarangan orang untuk masuk ke dalam apartemennya. Untuk kebersihan, Black yang akan memanggil orang untuk membersihkan setiap hari dan itu dilakukan saat Light tidak berada di rumah.
Setelah selesai membuat bubur dan juga segelas susu, Light membawanya ke kamar di mana Star berada. Saat ia membuka pintu, ia melihat Star sudah terbangun, "Jangan terlalu banyak bergerak. Beristirahatlah."
Star langsung melihat ke arah Light dengan tatapan tidak suka. Saat bersama keluarganya, ia masih bisa menyembunyikan ketidaksukaannya, untuk menghormati orang tuanya dan juga tamu tamu yang datang tapi tidak jika berduaan seperti saat ini.
"Mengapa kamu membawaku ke sini. Aku ingin pulang."
"Kamu tidak akan ke mana mana."
"Aku tidak mau berada 1 atap dengan pria yang tidak menghargai wanita."
Light tertawa mendengarnya, "Kamu pikir aku suka berada 1 atap denganmu? Jangan salah sangka. Aku membawamu ke sini agar kamu selalu dalam pengawasanku, setidaknya untuk 7 bulan ke depan."
"Apa maksudmu?"
"Aku tidak peduli padamu, tapi aku peduli pada anak yang ada dalam kandunganmu."
Star melihat ke arah perutnya dan memegangnya, "maksudmu? aku hamil?"
"Ya. Aku tidak mau kamu menyakitinya. Aku meminta kamu melahirkannya, setelah itu berikan padaku. Aku akan merawatnya."
Ucapan Light menambah daftar ketidaksukaan Star pada pria itu. Berani sekali ia akan mengambil anak yang akan ia lahirkan dan apa pria itu kira Star akan sekejam itu hingga akan menyakiti anaknya sendiri.
"Aku berjanji tak akan menyakitinya. Aku mau pulang. Dan 1 hal lagi, kamu tidak berhak atas anak ini. Dia milikku dan akan selalu jadi milikku," ucap Star sambil bangkit dari tempat tidur.
"Berhenti! Kukatakan berhenti!" Mendengar suara Light yang meninggi, membuat Star menghentikan langkahnya.
"Kamu tidak bisa mengurungku di sini. Kamu tidak punya hak melakukan ini. Aku bisa melaporkanmu ke polisi," Star tak ingin terintimidasi. Ia harus berani melawan.
"Tapi kamu mengandung anakku."
"Siapa yang mengatakan ini anakmu. Memangnya kamu pikir aku hanya tidur denganmu? Jangan merasa sombong," balas Star.
"K-kamu?!" Light yang awalnya ingin membawakan makanan untuk Star akhirnya meletakkan makanan itu di meja dekat sofa. Ia tak menghampiri Star dan memilih untuk keluar dari kamar itu.
Star merasa lega ketika melihat Light keluar dari ruangan. Di atas meja, ia melihat semangkok bubur dan segelas susu. Star tak mendekat, karena ia melihat asap yang masih sedikit mengepul dari bubur tersebut. Ia kembali berjalan ke atas tempat tidur dan memeluk kaki dengan kedua tangannya.
Ia memegang perutnya, "Jadi sekarang ada dirimu di sini? Bahkan aku tak menyadarinya."
Sementara itu, Light masuk ke dalam ruang kerjanya. Ia membanting tubuhnya ke kursi dan meletakkan kedua tangannya di atas meja.
"Wanita itu benar benar menyebalkan! Lihat saja, aku tak akan melepaskannya. Aku pastikan ia akan berada di sini dan melahirkan anakku. Aku tak akan membiarkan anakku dirawat oleh seorang pembunuh," gumam Light.
Ia mengambil ponselnya dan menghubungi Black. Ia meminta Black untuk mempersiapkan semua yang ia butuhkan. Tanpa persetujuan siapapun, ia akan melakukannya ... ya, ia akan menikahi Maystar Asher.
*****
Sudah hampir seminggu Star terkurung di dalam apartemen milik Light. Ia bahkan tak memiliki ponsel untuk menghubungi keluarganya.
Brakkk!!!
Pintu kamar terbuka dan menampilkan asisten Black di sana, "Ganti pakaian anda, Nona. Tuan Light menunggu anda di luar."
"Aku tidak mau!" jawab Star ketus.
"Tuan Light berkata jika anda tidak melakukannya, maka jangan salahkan dirinya jika ia menghancurkan perusahaan keluarga anda, hingga tidak dapat bangkit lagi."
Ucapan Asisten Black membuat Star berpikir ulang. Tak bisa menghubungi keluarganya saja, pasti sudah membuat keluarganya khawatir. Apalagi jika Light benar benar menghancurkan perusahaan keluarganya.
"Baiklah, aku akan segera keluar," Star melihat sebuah paperbag yang diletakkan di atas meja. Ia berjalan mendekat dan mengambil paperbag itu. Sebuah gaun berwarna putih yang panjang semata kaki dan sebuah sepatu berwarna senada berada di dalamnya.
Setelah selesai, Star melihat penampilannya di depan cermin. Ia tak melakukan banyak dengan make up nya, hanya riasan tipis dan ia juga menggerai rambutnya. Apapun yang terjadi setelah ini, yang pasti ia hanya ingin melindungi keluarganya.
Light telah menunggunya di luar. Star melihat pria itu menggunakan sebuah jas dan sangat rapi, "Cepatlah! Kamu membuang buang waktuku."
Di dalam mobil, tak ada pembicaraan sama sekali. Melihat situasi, serta pakaian yang mereka kenakan, Star mengambil kesimpulan sendiri. Namun ia yakin ini awal yang sangat buruk untuk kehidupannya.
Mobil berhenti di sebuah kantor hukum. Asisten Black membukakan pintu untuk atasannya. Star hanya mengikuti ke mana langkah kaki Light, tanpa suara.
"Kamu sudah menyiapkan keduanya?" tanya Light pada sang pengacara.
Di atas meja sudah siap 2 buah surat yang harus mereka tandatangani, masing masing terdiri dari 2 rangkap. Sebuah surat pernikahan dan juga surat perceraian. Mereka akan menandatanganinya bersamaan.
"Aku tak akan menandatanganinya. Aku tak akan membiarkanmu mengambil anakku," ujar Star.
"Kamu tandatangani, atau aku akan membuat keluargamu hidup menderita," Star sangat tahu keluarga Sebastian memiliki pengaruh yang luas. Apalagi XL Corp milik Light juga memiliki jaringan besar di Eropa. Menolaknya sama juga menghancurkan keluarganya.
Star menghela nafasnya pelan, ia seakan tak mempunyai pilihan lain. Ia mendekat ke arah kedua surat di hadapannya. Ia memandang miris dengan kehidupannya, dengan apa yang ada di depannya. Bahkan ia menandatangani surat cerainya tepat di hari pernikahannya juga.
"Cepattt!!" perintah Light dan tentu saja dengan matanya yang memandang tajam.
🧡 🧡 🧡