LIGHT For A STAR

LIGHT For A STAR
KAMAR VIP



Light yang diselimuti kabut dari obat yang dikonsumsinya, mulai kehilangan kendali atas dirinya. Apalagi obat yang memberikan efek mabuk terasa begitu kuat hingga kepala Light terasa sangat pusing ketika has rat nya tak tersalurkan.


Ia langsung menarik tubuh Star dan menjatuhkannya ke atas tempat tidur berukuran king miliknya. Suara Star yang berteriak tak lagi terdengar olehnya, bahkan ia sudah tak dapat melihat wajah wanita itu dengan jelas.


Light langsung memasukkan senjata besar miliknya ke dalam gua yang bukan miliknya. Tubuhnya merasakan gelenyar yang berbeda ketika berhasil memasukinya, apalagi ketika ia merasakan bahwa ia telah menembus sesuatu yang pasti sangat dijaga oleh wanita itu. Kini, tugasnya hanya menuntaskan has ratnya dan meredakan panas tubuh yang dialami karena obat yang diberikan oleh asistennya.


Ia tidak tahu berapa lama ia berada di atas tubuh wanita itu dan berapa kali ia telah memasuki gua tersebut tanpa izin. Ia benar benar tak mempedulikan apa yang terjadi pada wanita itu. Oleh karena itulah ia meminta obat pada asistennya. Sebenarnya ia bisa saja melakukannya tanpa semua itu, tapi ia tak ingin melihat wajah dan tubuh wanita yang telah menghancurkan keluarganya saat ia melakukan penyatuan.


Sementara itu, Star yang tengah berada di bawah tubuh Light sudah tidak bisa merasakan apa apa lagi. Ia sudah pingsan sejak tadi. Panas dari tubuh Light dan penyatuan yang dilakukan secara paksa telah membuatnya panik dan langsung tak sadarkan diri.


Keesokan paginya, Light yang bangun terlebih dahulu. Kepalanya benar benar terasa sakit hingga ia memeganginya. Ia bangkit dari tempat tidur dan berjalan ke arah kamar mandi. Ia membersihkan dirinya, sambil memikirkan kejadian semalam.


Ia keluar dari kamar mandi dan sudah berpakaian. Ia melihat Star yang masih berada di atas tempat tidur dengan posisi yang sama saat ia meninggalkannya. Tiba tiba saja tubuhnya bereaksi saat melihat tubuh wanita itu yang tak terbungkus selimut. Tubuh yang putih dan sangat mulus, namun kemerahan di beberapa bagian.


"Hei Maystar!" teriaknya sambil sedikit menggerakkan tubuh itu. Namun tak ada reaksi apapun. Light juga merasakan tubuh yang sedikit dingin.


"Maystar!" Ia berteriak sekali lagi, namun tetap tak membangunkan wanita itu sama sekali. Light mendorong tubuh wanita itu hingga posisinya terbalik. Rambutnya yang panjang sedikit tersibak hingga menampilkan kulit punggungnya yang terdapat luka.


Light mengamati sebentar kemudian ia memeriksa keadaan Star. Ia tak mendapati nafas dari wanita itu.


"Sialann!!" teriaknya. Ia langsung membungkus tubuh wanita itu dengan bathrobe dan memanggil asisten Black.


*****


Di depan ruang ICU, Light dan asisten Black duduk di sebuah kursi tunggu.


Apa semalam aku bermain terlalu kasar hingga ia meninggal? - batin Light yang menyugar rambutnya dengan kasar. Ia tak percaya permainannya bisa menyebabkan hal itu.


Seorang dokter keluar dari ruang ICU setelah ia bekerja selama beberapa jam. Light dan asisten Black langsung berdiri dan menghampirinya.


"Bagaimana, Dok?"


Dokter menghela nafas pelan sambil melihat ke arah Light dan asisten Black, "Kami sudah mencoba menyelamatkannya, tapi sepertinya sudah terlambat."


"Dok, pasien bereaksi!" seorang perawat keluar dari ruang ICU dan langsung memanggil sang dokter.


Dokter itu pun langsung masuk kembali ke dalam ruang ICU dan meninggalkan Light yang masih dalam keadaan sedikit shock.


"Anda baik baik saja, Tuan?" tanya asisten Black.


"Aku tidak apa apa. Aku akan kembali ke hotel. Bantu aku mengurusnya, apapun yang terjadi padanya," Black pun menganggukkan kepalanya dan membiarkan atasannya itu kembali seorang diri ke hotel.


*****


Light berdiri di balkon kamar hotelnya. Ia menatap langit malam di Kota Shenzhen sambil memegang sebuah kaleng soda. Beberapa kali ia meneguknya dan terakhir ia meremas hingga bentuknya menjadi tidak jelas lagi.


Ia melemparkan kaleng bekas minuman itu ke dalam tempat sampah yang berada tak jauh dari posisinya berdiri, kemudian kembali mengambil kaleng lainnya. Matanya menerawang jauh seakan menelisik Kota ShenZhen.


Pria itu masuk ke dalam kamar setelah menghabiskan berkaleng kaleng minuman soda. Ia masih melihat keadaan tempat tidurnya yang berantakan bekas pertempurannya semalam. Ia melihat noda merah di atas sprei putihnya dan membuatnya kembali terbayang aksinya semalam.


Sebagai seorang pria yang tak pernah berpacaran ataupun memiliki kekasih, merasakan apa yang terjadi semalam membuat perasaannya berbeda. Kenikmatan yang ia rasakan ketika menerobos dinding penghalang dan mulai menghentakkan pinggulnya, muncul kembali dalam ingatannya. Tiba tiba saja senjata miliknya kembali membesar ketika ia memikirkan kembali sensai itu.


"Sialll!" gerutu Light yang bisa merasakan senjatanya mulai mendesak keluar.


Ia langsung melepas semua pakaiannya dan masuk ke dalam kamar mandi. Merendam dirinya di dalam bathtub, namun belum bisa menurunkan senjatanya ke posisi semula. Ia terpaksa berdiri dan pergi ke bawah shower dan mulai melakukan permainan solo.


Akhirnya ia berhasil meredakan senjatanya dan kembali ke dalam kamar, dan merebahkan tubuhnya. Namun, matanya tak bisa terpejam. Ia mengambil ponsel kemudian menghubungi asisten Black.


"Bagaimana, Black?"


Ntah mengapa Light sedikit bernafas lega ketika mendengar bahwa Star telah dipindahkan ke kamar rawat biasa. Ia meminta Black untuk memasukkan Star ke kamar rawat kelas VIP.


🧡 🧡 🧡