LIGHT For A STAR

LIGHT For A STAR
HONEY MOON LAGI?



Maverick datang ke ruang makan bersama dengan Star. Mata Star memindai semua yang ada di meja makan. Hatinya tersentak kaget saat melihat ada Light dan juga Ray di sana.


Sepertinya untuk sementara aku harus berpura pura. Jika tidak, Dad dan Mom akan mengetahui kalau aku sudah tidak bekerja lagi di XL Corp. Mereka pasti akan memintaku pulang. - Star.


Star hanya diam dan duduk persis di sebelah Mave, tepat di hadapan Light dan juga Ray. Star tersenyum seperti biasanya.


"Wah, Vid. Hanya Star di sini yang cantik. Apa kamu berniat memilih salah satu dari putraku?" goda Leon.


"Baru saja Star ingin kujodohkan dengan putraku, Brian," ucap Billy.


"Ishhh kamu ini. Ikut ikut saja," gerutu Leon, membuat para orang tua tertawa, tapi tidak para anak.


David hanya melihat ke arah Star tanpa bertanya. Ia hanya menjawab dengan senyuman, "Ayo kita mulai acara makannya."


Obrolan dan candaan lebih banyak dikeluarkan oleh para pria, sementara para wanita hanya sesekali menimpali. Berbeda dengan putra putri mereka yang hanya diam, bahkan mendengarkan obrolan orang tua mereka saja tidak. Mereka malah sibuk dengan makanan dan juga pikiran mereka masing masing.


Star yang sudah menghabiskan makanannya, bangkit dari duduknya, "Dad, Mom, Uncle, Aunty, maaf tidak bisa menemani. Ada yang harus kukerjakan."


Star sedikit membungkukkan tubuhnya dan tersenyum kemudian memutar tubuhnya dan pergi. Ray pun bangkit untuk minta izin ke toilet. Ia langsung menyusul Star, mempercepat langkahnya.


"Star!" panggilnya, membuat Star menoleh.


"Tunggu! Aku ingin bicara," lanjut Ray.


Star berhenti sesaat, "Tak ada yang perlu dibicarakan lagi, aku sudah tak ada hubungan apapun dengan kalian."


"Apa kamu perlu sebuah hubungan agar mau berbicara denganku? Kamu adalah putri sahabat Daddy atau kamu mau lebih dari itu, aku bisa memberikannya."


"Tidak, bukan itu maksudku. Anggap saja kita tidak pernah bertemu. Aku permisi, kepalaku pusing," Star segera berlalu dari hadapan Ray. Namun Light yang sedari tadi mendengarkan pembicaraan mereka kini menampakkan wajah kesalnya.


Light berjalan mendekati Ray, kemudian memutar tubuh adiknya itu, "Apa kamu tidak bisa mencari wanita lain selain dia?"


"Apa kamu ingin menyakitinya lagi?" tanya Ray.


"Itu bukan urusanmu.Tugasmu hanya menjaga Dad dan Mom," ucap Light ketus.


"Aku tak akan membiarkanmu menyakiti siapapun. Ia tidak bersalah apapun dalam kejadian itu."


"Diam!! Dia adalah seorang pembunuh. Pembunuh tetaplah pembunuh. Meski kalian terus membelanya, aku tetap akan menganggapnya sebagai pembunuh," tatapan tajam dari mata Light seakan menciutkan keberanian Ray. Ia bisa saja bertengkar lebih dengan kakaknya, tapi ini rumah sahabat Daddynya.


Sementara itu di balik dinding, Star mendengarkan pembicaraan mereka. Ia memegang dadanya dan mencengkeram pakaiannya. Di cap sebagai seorang pembunuh, rasanya sangat menyakitkan, bahkan ia tidak tahu siapa yang telah ia bunuh. Star pun langsung menaiki tangga dan masuk ke dalam kamar tidurnya.


*****


"Tidak, kami tidak ingin mengganggu pasangan yang akan melakukan honeymoon ke dua," ucap Alvin yang dilanjutkan dengan tawa dari yang lain.


"Terima kasih atas kedatangan kalian," ucap David.


"Berterima kasihlah pada istrimu. Ia yang mengatur semua acara ini," terang Leon.


"Tentu saja aku akan berterima kasih padanya. Ulang tahunku kali ini banyak sekali hadiahnya," David menoleh ke arah istrinya yang sedang ia rangkul. Angel langsung mencubit pinggang suaminya yang pasti berpikir sesuatu yang mesyum.


Nikmati ulang tahunmu kali ini dengan tawa dan kebahagiaan karena sebentar lagi aku akan menggantinya dengan kesedihan dan air mata. - Light masih melihat ke arah David dengan sorot mata penuh kebencian.


"Aku dan Amelie akan berkeliling Eropa, apa kamu mau ikut bersama kami?" tanya Leon.


David tertawa, "Apa kamu juga akan melakukan honeymoon lagi? Ya ampun, kita ini sudah tua, Len!" Mereka kembali tertawa bersama sama.


"Aku ingin menikmati masa tuaku. Lagi pula semua urusan perusahaan telah kuserahkan pada putraku. Jadi, inilah saatnya aku bersantai dan menikmati hidup."


"Baiklah, sepertinya aku akan memikirkan untuk menyusulmu," ujar David.


"Ayolah! Vin, Bil, kamu juga ikutlah," ajak Leon.


"Akan kupikirkan nanti. Masih banyak yang harus kuurus soalnya," Alvin dan Billy menjawab sama.


Setelah kepergian para sahabatnya, David dan Angel masuk kembali ke dalam rumah.


"Bagaimana? Apa kamu mau kita berkeliling Eropa seperti Leon dan Amelie?"


"Terserah padamu. Aku akan ikut kemana pun kamu pergi," jawab Angel.


Betapa senangnya hati David mendengar jawaban Angel. Ia memang sangat menanti saat saat seperti ini. Ketika anak anak mereka sudah besar, ia ingin memiliki waktu yang berkualitas bersama dengan istrinya.


Sejak musibah belasan tahun yang lalu, David memang memfokuskan hidupnya hanya untuk keluarganya. Ia selalu bolak balik rumah sakit untuk menjaga Star, bahkan ia sampai meminta bagian VIP rumah sakit tersebut diubah layaknya kamar pribadi. Ia ingin putrinya tak merasa sendirian.


Awalnya David sempat putus asa saat melihat keadaan putrinya yang tak bisa berjalan. Setiap hari ia hanya melamun, hingga Perusahaan sempat terbengkalai dan nyaris kolaps. Beruntungnya, dokter yang merawat Star merekomendasikan seorang dokter di Munich. Hal itu membuat semangat David kembali bangkit, ketika mendapat kesempatan untuk bisa membuat Star sembuh dan berjalan seperti dulu.


"Apa Star baik baik saja, honey?" tanya David. Ia sangat tahu Star tak menyukai keramaian.


"Aku sudah meminta Mave memeriksanya dan ku rasa ia baik baik saja," jawab Angel.


"Baiklah, honey. Saatnya kita menyusun jadwal untuk honeymoon lagi," ucap David sambil tersenyum dan tertawa.


🧡 🧡 🧡