
Di dalam ruang kerja, kini hanya ada Dad David dan Star, berdua saja. Star meminta pelayan untuk menyiapkan 2 cangkir teh hangat untuk mereka. Saat Dad David melihat asap sedikit mengepul dari cangkir teh milik Star, ia hampir saja berteriak pada pelayan. Untung saja Star menghentikannya.
"Jangan memarahinya, Dad. Aku yang memintanya."
"Apa maksudmu? Jangan menyakiti dirimu sensiri, sayang," ucap Dad David.
"Tidak, Dad. Tak akan ada yang menyakitiku lagi," dengan perlahan Star mengangkat cangkir teh tersebut dan menyeruputnya. Dad David yang melihatnya sangat gelisah dan khawatir.
"Sayang ...," Dad David mengangkat sebelah tangannya seakan ingin menghentikan Star. Perasaannya benar benar sangat khawatir saat ini.
"Aku tidak apa apa, Dad. Lihatlah aku. Rasa panas tak lagi mempengaruhiku."
"B-bagaimana bisa?" tanya David.
"Saat aku melakukan terapi untuk mataku, aku juga melakukan terapi pada traumaku yang lain. Sekarang aku sudah sembuh, Dad. Aku sama dengan yang lain. Aku tidak takut lagi akan rasa panas.
Dad David langsung bangkit dari duduknya dan menghampiri putrinya. Ia memeluk Star dengan erat dan mengusap lembut rambut putrinya itu.
"Dad sangat senang bisa memelukmu lagi seperti ini, erat dan lama," tak terasa Dad David menjatuhkan air mata di pipinya. Ia seakan mendapatkan hadiah yang sangat luar biasa.
"Aku juga sangat senang bisa memeluk Daddy. Aku menyayangimu, Dad. Jangan pisahkan aku dari Light," ucap Star dan pelan pada kalimat terakhirnya.
"Dia telah menyakitimu, sayang. Mengapa kamu masih ingin terus bersamanya? Dad tak ingin hidupmu menderita."
"Dia pria yang baik, Dad. Ia sangat lembut dan sabar. Ia hanya menyimpan dendam yang salah karena ia tidak tahu kebenarannya. Aku tidak menyalahkannya. Mungkin jika ada yang menyakiti Dad, aku juga akan melakukan hal yang sama," ucap Star.
"T-tapi sayang ...," Star langsung menggenggam tangan Dad David.
"Aku akan memberinya kesempatan. Dad juga harus memberinya kesempatan. Ia sudah berkorban banyak untukku selama masa pemulihanku. Ia tak pernah mengabaikanku dan selalu menomorsatukan diriku dan juga Ella."
Dad David menatap mata Star, putri cantiknya, putri kesayangannya, "Dad akan melakukan apapun asalkan kamu bahagia, sayang. Dad tak ingin kamu melakukan semua itu hanya agar Ella bisa dekat dengan Daddynya, dan kamu mengesampingkan perasaanmu sendiri. Seorang Mom yang bahagia akan menciptakan kebahagiaan juga bagi anak dan keluarganya."
"Karena itulah aku sangat sangat sangatttt menyayangi Daddy," Star langsung mengecup pipi Dad David, membuat pria itu tersenyum lebar.
Sudah hampir 2 minggu Star pergi ke Munich untuk menemui keluarganya. Selama itu pula tak pernah ada komunikasi di antara Light dengan Star. Jika Star menghabiskan waktu bersama keluarganya, maka Light menghabiskan waktu di XL Corp. Bahkan sudah lebih dari seminggu ia tidur di perusahaannya karena malas pulang ke apartemen.
"Apa anda tidak pulang lagi, Tuan?" tanya Black.
"Aku akan tidur di sini saja," Black melihat wajah atasannya yang sudah sangat lelah. Ia tidak tahu berapa jam yang dialokasikan oleh atasannya itu untuk beristirahat karena setiap Black kembali di pagi hari, pemilik XL Corp itu sudah siap sedia di mejanya.
Un**tuk apa aku pulang jika aku akan terus merasa kesepian. Akan lebih baik aku di sini, bekerja dan bekerja. - Light.
Black hanya bisa menghela nafasnya pelan. Ia ingin sekali memarahi atasannya itu, tapi apa hak nya.
Sementara itu di bandara, telah turun seorang wanita bersama dengan putrinya. Maystar Asher, sudah tiba kembali di Kota London, bersama dengan putrinya, Astrella. Kedua orang tuanya akan menyusulnya nanti karena ada sesuatu yang harus mereka selesaikan.
Ia tak menghubungi Light untuk menjemputnya karena ia tak ingin merepotkan suaminya itu. Star ingin memberi kejutan saat Light pulang dan menemukan putrinya sudah berada di apartemen.
Namun, sampai jam menunjukkan jam 12 malam, Light tidak muncul sama sekali. Hal itu membuat tanda tanya di dalam hati Star.
"Ke mana dia? Mengapa ia belum pulang?" Star terus menunggu hingga akhirnya ia tertidur di samping Ella.
Keesokan pagi, Black langsung menuju ke XL Corp setelah mendapatkan kabar dari salah satu anak buahnya bahwa Nyonyanya sudah kembali. Ia yakin atasannya tidak tahu akan kabar ini.
"Tuan!" tanpa mengetuk pintu, Black langsung masuk ke dalam ruangan Light.
Black melihat Light yang sedang duduk dengan memejamkan matanya sambil menengadahkan kepalanya ke atas. Wajahnya terlihat lelah dan pucat, seakan tidak tidur sama sekali sepanjang malam.
Black memerintahkan beberapa anak buahnya untuk datang dan membantunya. Ia akan membawa atasannya itu kembali ke apartemen. Ia sangat yakin tuannya itu sangat kelelahan hingga tak merasakan bahwa mereka sedang memindahkan tubuhnya.
Black membunyikan bel apartemen Light meskipun ia memiliki kartu untuk membukanya. Ia tahu ada Nyonyanya di dalam dan tak ingin masuk dengan seenaknya.
"Black?"
🧡 🧡 🧡