LIGHT For A STAR

LIGHT For A STAR
SEBUAH PEMBELAAN



Operasi berlangsung cukup lama, membuat Light dan kedua orang tuanya sangat cemas.


"Sekarang, apa kamu mau menceritakan yang sebenarnya? Mengapa kamu menikahi Star secara diam diam?" tanya Amelie saat mereka masih berada di depan ruang operasi.


"Anakku. Aku menikahinya hanya karena anak yang ada dalam kandungannya."


Mata Amelie melotot, ia semakin marah setelah mendengar perkataan Light, "Apa maksudmu? Apa kamu memperkossanya?"


"Sudahlah Mom, tidak usah dibesar besarkan. Lagipula ia pantas mendapatkan itu. Ia bahkan telah melakukan hal yang lebih buruk daripada yang aku lakukan."


"Gila! Kamu benar benar gila, Light. Mommy tidak pernah mengajarkanmu untuk memperlakukan seorang wanita seperti itu," ungkap Amelie kesal.


"Light, bisakah Daddy berbicara berdua denganmu?" tanya Leon. Baru saja Light ingin menjawabnya, pintu ruang operasi terbuka. Seorang dokter keluar dan menghampiri keluarga pasien.


"Bagaimana, Dok?" tanya Amelie.


"Operasinya sukses. Kami sudah berhasil mengeluarkan darah yang menggumpal di kepalanya. Untuk saat ini, kita hanya perlu menunggunya sadar agar kami bisa melihat hasil dari operasi hari ini," ucap sang dokter.


"Terima kasih, Dok."


Mereka menunggu Star yang akan dipindahkan ke ruang rawat biasa. Setelah melihat kondisi sudah lebih baik, Leon mengajak Light menuju taman rumah sakit, sementara Amelie menemani Star yang masih belum sadarkan diri.


"Apa yang ingin Daddy katakan? Apa Daddy juga akan membela wanita itu?" tanya Light langsung saat mereka sampai di taman rumah sakit, yang kini suasana sudah gelap dan hanya diterangi dengan pencahayaan dari lampu taman.


"Dad tidak akan membela siapapun. Dad hanya akan menceritakan padamu apa yang sebenarnya terjadi belasan tahun yang lalu," ucap Leon.


Light berdecih, "Apa itu ada bedanya dengan sebuah pembelaan?"


"Dengarkan Dad dulu, setelah itu terserah padamu mau berpikir apapun."


Mereka berdiri memandang langit malam yang seakan tertutup awan karena tak memperlihatkan bintang sama sekali.


"Sebelum kebakaran itu terjadi, salah satu dari temanmu mengunci pintu ruangan milikmu. Mereka berlari ke sana kemari hingga menabrak Star yang akan keluar dari rumah kayu hingga ia terjatuh dan mengenai tongkat yang kamu letakkan sembarangan.


Konsleting listrik saat itu tak terhindarkan, membuat api semakin lama semakin membesar. Asap juga memenuhi rumah kayu. Star kembali untuk mencarimu. Untung saja kunci ruanganmu masih tergantung di pintu. Ia membuka pintu itu dan menemukanmu tergeletak.


Grandpa Axelle menyelamatkan dirimu terlebih dulu karena posisimu yang berada lebih dekat ke arah pintu. Setelah membawamu keluar, Grandpa masuk kembali menyelamatkan Star. Saat itulah Grandpa terkena kayu di kepalanya. Jika Grandpa menyelamatkan Star terlebih dahulu, dan kamu terakhir, apa kamu masih akan menyalahkan Star atas kematian Grandpa?" tanya Leon.


Light terdiam. Ia sama sekali tidak mengetahui cerita yang sesungguhnya. Ia seakan telah membutakan matanya dan menulikan telinganya. Ia hanya percaya bahwa Star yang telah membuat Grandpa Axelle meninggal. Karena menyelamatkan gadis itulah, Grandpa meninggal.


"Star mengalami kelumpuhan selama beberapa tahun. Uncle David harus pindah dari Milan ke Munich agar Star bisa mendapatkan perawatan yang terbaik. Sementara kamu? kamu masih bisa bersekolah dan beraktivitas seperti biasa, bahkan sibuk memupuk dendam di dalam hatimu," lanjut Leon.


Pikiran Light kini berkelana jauh ke masa masa di mana kebakaran itu terjadi.


"Hi! Apa yang sedang kamu lakukan?" tanya Star.


"Keluarlah! Aku sedang sibuk. Jangan menggangguku. Aku akan membuat kejutan untuk Grandpa-ku."


"Apa aku boleh membantumu?" tanya Star.


"Ahhh!!!" tanpa sengaja tangan Light terkena cutter saat akan memotong sebuah kabel.


"Kamu tidak apa apa?" Star langsung berjalan mendekat dan memegang tangan Light.


"Aku tidak apa apa. Kamu mengganggu pekerjaanku. Bagaimana kalau nanti tidak selesai?" Light agak sedikit kesal karena ia ingin sekali membuat kejutan untuk Grandpa-nya untuk acara nanti malam.


"Baiklah, aku akan keluar."


"Jangan lupa tutup pintunya!" perintah Light.


Light memutar tubuhnya dan kembali ke dalam rumah sakit, meninggalkan Dad Leon. Ia tidak tahu apa yang sedang ia pikirkan karena merasa semuanya seakan berputar putar di kepalanya.


Ia kembali masuk ke dalam kamar rawat Star. Di sana, Mom Amelie tengah duduk di sofa sambil menunggu Star sadar. Ia melihat Mom Amelie memejamkan matanya. Light berjalan pelan, tanpa suara mendekati tempat tidur Star. Ia memandang wajah wanita itu dan untuk pertama kalinya, ia memegang perut Star dan mengelusnya.


Dad bersyukur dirimu baik baik saja. Bisakah kamu menjaga Mom untuk Dad. Banyak hal yang ingin Dad bicarakan dengan Mommymu. - batin Light. Ia seperti menyalurkan tenaganya melalui telapak tangannya.


Dad Leon yang baru saja masuk ke dalam kamar rawat, melihat istrinya sedang tidur, sementara putranya itu duduk di samping tempat tidur Star. Leon sudah mengirimkan pesan kepasa David agar mengunjunginya di London karena sepertinya banyak hal yang harus mereka bicarakan.


🧡 🧡 🧡