
Keberangkatan menuju Kota ShenZhen adalah pertama kalinya untuk Star. Sebelumnya, tak pernah sekalipun ia pergi ke luar negeri dengan lokasi yang jauh. Terakhir kalinya ia pergi jauh adalah saat ia berusia 4 tahun, saat musibah itu terjadi.
Dengan mendorong sebuah koper kecil di sampingnya, ia berjalan bersama dengan Tuan Light dan asisten Black. Mereka akan segera masuk ke lounge VIP untuk penumpang dengan kartu khusus.
Perjalanan selama 12 jam tidak terlalu berpengaruh pada tubuh Star karena mereka berada di kursi pesawat yang sangat nyaman. Kursi yang lebar hingga membuat mereka bisa duduk bahkan tidur dengan nyaman.
Mereka berangkat dari London pukul 8 pagi waktu London dan sampai di Kota ShenZhen pukul 2 pagi. Untung saja Star sudah tidur saat perjalanan tadi sehingga ia tidak terlalu lelah. Mereka langsung menuju hotel dan beristirahat, karena besok siang mereka akan langsung menemui Mr. Lim.
Pagi pagi, Star sudah memasang alarm. Ia melakukannya agar ia tak terlambat dan mendapatkan omelan seperti biasa. Apalagi mereka akan bertemu dengan rekan bisnis yang sangat penting.
Pertemuan yang dijadwalkan setelah jam makan siang tersebut berlangsung dengan lancar. Besok rencananya mereka akan langsung menuju ke lokasi tempat pusat perbelanjaan itu dibuat.
Tak terasa, sudah 4 hari mereka berada di Kota ShenZhen. Dan selama itu pula mereka hanya terus kerja dan kerja, tak pernah sekalipun mereka keluar untuk menikmati Kota ShenZhen, baik suasana maupun kulinernya.
Star sudah kembali ke hotel, sementara Light dan Black pergi ke sebuah club yang tak jauh dari hotel. Gegap gempita suasana club cukup memekakkan telinga Light hingga akhirnya ia memesan sebuah ruang VIP di sana.
"Apa kamu sudah mengatur semuanya?" tanya Light.
"Apa anda yakin akan melakukan ini, Tuan?" tanya Black sekali lagi karena ia tak ingin atasannya itu salah mengambil langkah dan menyesal di kemudian hari.
"Yakin. Bagaimanapun juga hal itu yang paling dijaga oleh wanita bukan?"
"Tidak semua, Tuan."
Light berdehem, "Tapi aku yakin dia seperti itu. Bagaimana dengan obatnya?"
"Ada padaku. Saya akan langsung memasukkan ke dalam minumannya besok."
"Tidak, berikan padaku saja. Aku yang akan meminumnya," ucap Light.
"Kamu tahu, aku terpaksa melakukan semua ini. Oleh karena itu, saat aku melakukannya, aku akan menganggapnya seperti bermain dengan wanita murahan dan tentu saja tanpa memikirkan perasaannya. Aku juga minta kamu menyediakan beberapa botol alkohol untukku. Aku tak ingin merasa terlalu sadar saat melakukannya," perintah Light.
"Baik, Tuan," Black tak akan membantah perintah Light lagi. Jika tuannya itu sudah mengatakan yakin, maka itu berarti ia hanya perlu mengikutinya saja.
*****
Keesokan harinya, Star tak perlu bangun terlalu pagi. Hari ini adalah hari Sabtu yang memang dijadwalkan tak ada pertemuan dengan siapapun dan mereka tak akan pergi kemana pun. Star berencana akan menikmati Kota ShenZhen dari balkon kamar hotelnya saja. Melukis di salah satu aplikasi yang ia miliki di dalam tablet miliknya sendiri, kemudian akan mengunggahnya ke media sosial yang ia beri nama Starlite, di mana semua lukisan miliknya terpajang dan bisa dibeli oleh siapapun.
Hari ini benar benar dilewati Star tanpa gangguan apapun. Ia terlalu lama larut dalam tablet dan pena digital miliknya. Ia melihat jam di pergelangan tangannya yang sudah menunjukkan pukul 6 sore. Ia segera masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.
"Nona! nona!" Star yang baru saja selesai mandi dikejutkan dengan bunyi ketukan pintu kamar hotelnya. Ia yang hanya memakai bathrobe pun membuka pintu perlahan.
"Nona, apakah anda bisa membantu saya?" asisten Black terlihat sedikit panik dan khawatir.
"Ada apa, Tuan?"
"Tuan Light menghilang, aku tak bisa menemukannya," jawab Black.
Star merasa sedikit aneh. Biasanya kemana pun Tuan Light pergi, pasti akan ada asisten Black di sampingnya. Lalu, bagaimana bisa asisten Black tidak bisa mengetahui keberadaan tuannya itu.
"Saya sudah menghubunginya, tapi tidak diangkat sama sekali. Saya juga sudah mencoba melacak ponselnya, dan ternyata ponselnya tertinggal di dalam kamar."
"Jadi apa yang harus kulakukan?" tanya Star.
"Bantu saya untuk mencari di hotel dan sekitarnya, sementara aku akan mencari di tempat yang lebih jauh," ucap Black.
"Baiklah, aku akan berpakaian dulu," ucap Star dan asisten Black mengangguk.
Setelah selesai berpakaian, Star dan Black turun ke lobby, "Baiklah, aku akan keluar. Kamu mulai mencari dan bertanya tanya dengan para staf hotel dan sekitar."
"Baik," Star mengangguk, kemudian ia mulai mencari keberadaan atasannya itu. Ia bertanya pada resepsionis hotel, kemudian meminta bantuan bagian CCTV hotel. Namun, ia tak menemukan.
Saat akan keluar dari hotel untuk mencari di seputaran hotel, Star melihat Light yang berjalan masuk ke dalam hotel dalam keadaan mabuk. Secara spontan ia mendekat, namun tidak memegang Light sama sekali.
"Tuan, Tuan Black mencari anda kemana mana," ucap Star.
"Ehmmm ...," Light yang berpura pura mabuk mengarahkan pandangannya ke arah Star. Star mengarahkan Light yang agak sempoyongan ke arah lift. Ia juga meminta bantuan 2 orang staf hotel untuk membantu memapah atasannya itu.
Mereka masuk ke dalam lift bersama dan menuju ke lantai di mana kamar Light berada. Saat keluar dari lift Light mendorong 2 orang staf hotel itu kembali ke dalam lift. Ia tak ingin dibantu sama sekali.
Star yang melihat hal itu hanya bisa sedikit membungkukkan tubuhnya untuk berterima kasih sekaligus meminta maaf atas tindakan pemilik XL Corp itu. Light meraih sakunya dan mengambil beberapa butir obat yang diberikan oleh asisten Black.
Black menyarankan agar tuannya meminum obat yang mengandung alkohol tinggi saja daripada harus menegak alkohol beberapa botol yang akan memakan waktu. Tentu saja Light menyetujui hal itu.
Belum sampai di depan kamarnya, Light sudah mulai merasakan efek dari obat yang diminumnya. Tubuhnya sudah mulai terasa panas luar biasa dan kepalanya mulai pusing layaknya orang mabuk. Obat tersebut benar benar kuat, bahkan Light bisa membuka pakaiannya saat itu juga. Ia berusaha keras menahan efek obat yang sangat besar itu.
Light berpura pura tak bisa membuka pintu. Ia mengeluarkan kartu pass di sakunya, tapi selalu tak tepat menempatkan posisinya untuk membuka pintu. Terakhir kali malah ia menjatuhkannya. Star yang melihat itu langsung membantu mengangkat dan menempelkan kartu tersebut. Pintu terbuka, ia mempersilakan tuannya untuk masuk.
Saat sudah membiarkan Light masuk ke dalam kamar, ia berbalik dan ingin menghubungi asisten Black. Namun, sebuah tangan kuat menariknya, kemudian menutup pintu, membuat ponsel Star terjatuh.
🧡 🧡 🧡