LIGHT For A STAR

LIGHT For A STAR
SENTUHANKU



Light yang tak ingin membuat Star merasa tak nyaman, akhirnya tidur di sofa panjang yang ada di kamarnya. Ia tidur menghadap ke arah tempat tidur agar bisa mengawasi Star dan juga putrinya. Ia tersenyum ketika melihatnya, meskipun hanya bisa ia lakukan dengan jarak tertentu.


Keesokan paginya sekitar pukul 5, Star terbangun karena tangisan putri kecilnya, begitu juga dengan Light. Pria itu sangat sensitif dengan tangisan Ella karena sejak pulang dari rumah sakit, Ella selalu tidur bersamanya.


Light mengusap matanya. Tubuhnya terasa sangat pegal karena ia tidak terbiasa tidur di sofa. Ia langsung bangkit dan menghampiri putrinya.


"Sini, biar aku menggendongnya. Kamu bisa melanjutkan tidurmu," dengan cekatan Light mengganti popok, kemudian menggendong Ella. Ia menggendong sambil membuat susu untuk putrinya, sambil sesekali bersenandung.


Star tidak tahu apa yang dilakukan oleh Light, tapi yang pasti putrinya sudah tak menangis lagi, "Apa ia tertidur lagi?" tanya Star.


"Belum. Aku sedang membuatkannya susu. Istirahatlah," ucap Light.


"Bolehkah aku yang menggendong dan memberikannya susu?"


"Kamu mau?" Star menganggukkan kepalanya antusias.


"Sebentar. Aku akan memberikannya kepadamu," Light menyelesaikan aktivitasnya, kemudian berjalan mendekat ke arah Star.


Star duduk dengan bersandar di kepala tempat tidur. Light duduk di hadapannya, kemudian meletakkan botol susu berukuran kecil di atas nakas. Dengan perlahan ia memutar Ella dan memberikannya kepada Star. Lalu ia memberikan botol susu kepada Star dan mengarahkannya ke mulut Ella.


"Sudah. Aku akan memberitahumu nanti jika sudah selesai," ucap Light dan diangguki oleh Star.


Mendengar suara putrinya yang sedang menikmati sebotol susu, membuat Star ingin sekali melihat putrinya. Sementara itu, Light yang menunggu pun memeriksa ponselnya. Ia mengerutkan dahinya saat membaca pesan yang disampaikan oleh Black.


"Aku harus menghubungi Black terlebih dahulu. Aku akan segera kembali," ucap Light. Ia keluar dari kamar agar suaranya tidak mengganggu.


Di ruang kerjanya,


"katakan, Black!" Light meminta Black untuk menyelidiki tragedi kecelakaan itu. Setelah kecelakaan itu, mereka sama sekali lupa tentang semuanya dan fokus pada Star dan putri mereka. Ketika Star menghilang, Light mulai menggali semua hal tentang kecelakaan itu.


Mendengar semua yang dikatakan oleh Black, membuat Light menjadi geram, "Aku tidak mau tahu. Seret dia ke dalam penjara!"


Light melihat jam di ponselnya dan segera kembali ke kamar. Ia yakin Ella sudah selesai meminum susunya. Akan tidak baik jika Ella meminum botol yang kosong. Dan tebakannya tepat, Ella sudah selesai meminum susunya dan mulai berceloteh riang.


"Sini, biar aku yang menggendongnya," ujar Light.


"Tidak. Biar aku saja. Aku senang mendengar celotehannya. Aku ingin sekali melihat wajahnya."


"Kamu pasti bisa. Aku akan selalu membantumu," ucap Light. Star merasa tenang dan nyaman jika Light sangat lembut dan berkata pelan, sama seperti Dad David.


"Hmm, apa ada sesuatu yang kamu butuhkan?" tanya Light.


"Bolehkah aku memegang tanganmu?" Keinginan Star yang tiba tiba itu membuat Light terdiam sesaat.


"Sebaiknya jangan. Aku tidak ingin terjadi apapun padamu. Maaf," Light ingat perkataan Mom Amelie, bahwa Star tak suka disentuh. Hal itu akan membuat dirinya mendapat serangan.


"Kamu sudah mengetahuinya?" tanya Star.


"Ya, aku mengetahui semuanya. Maafkan aku yang selalu membuatmu berada dalam situasi yang tidak mengenakkan. Maaf karena aku tidak tahu semua itu."


"Sudah kukatakan, jangan mengucapkan kata maaf lagi padaku," ucap Star sambil sedikit mengayun tubuh Ella, "Aku hanya ingin menunjukkan padamu, mengapa aku tidak bisa menjadi istrimu yang sebenarnya."


Light berjalan mendekati Star. Dengan perlahan ia mengambil tangan Star kemudian menciumnya lembut.


"Apa kamu sangat takut dengan sentuhanku?" tanya Light.


"Aku tidak takut dengan sentuhan, tapi aku tidak suka dengan panas tubuhmu. Lihatlah," Star mulai merasakan sesuatu terjadi pada tangannya, mulai memerah.


"Apa yang harus aku lakukan? Sebaiknya kita ke rumah sakit saja," ucap Light khawatir.


"Tidak. Aku tidak apa apa. Asalkan aku tidak panik, maka Sebentar lagi juga merah merah ini akan menghilang."


"Tapi kamu tidak memerah saat memegang Ella."


"Ya, itu karena aku menyayanginya. Aku berharap bisa terus memegangnya, jadi ada sesuatu di dalam diriku yang menyesuaikannya," ucapnya.


"Apa kamu tidak bisa melakukan itu untukku?" tanya Light.


"Aku tidak tahu dan aku tidak yakin."


"Ahh maaf, aku hanya bercanda saja. Jangan terlalu diambil hati. Berikan Ella padaku dan kembalilah beristirahat. Dokter sudag mengatakan bahwa kamu memerlukan istirahat dan suasana yang tenang. Aku akan membawa Ella ke taman di balkon."


Light meraih Ella dari gendongan Star, kemudian keluar dari kamar. Ia membawa Ella untuk menikmati suasana pagi di taman balkonnya.


🧡 🧡 🧡