LIGHT For A STAR

LIGHT For A STAR
PERASAAN YANG PEKA



"Dad, nyalakan lampunya. Kenapa ruangan ini dibuat gelap sekali?" tanya Star. David langsung menoleh ke arah Angel. Mereka mulai menebak apa yang telah terjadi pada putri kesayangan mereka.


"Dad?" panggil Star lagi.


"Iya sayang, Dad ada di sini."


"Dad, apa Dad marah padaku?" seketika Star teringat bahwa apa yang terjadi padanya dan kini ada Dad David di dekatnya.


"Tidak, sayang. Tenanglah. Dad sama sekali tidak marah padamu. Maafkan Dad yang tidak tahu mengenai dirimu. Kamu pasti sangat menderita," Dad David dengan cepat memeluk Star.


Angel keluar dari kamar karena mendengar suara pintu depan diketuk. Ia pun membukakan pintu karena mereka memang sedang menunggu kedatangan seorang dokter. Angel mengantarkan dokter tersebut ke kamar tidur yang ditempati oleh Star.


David berdiri menjauh dan dokter tersebut mendekati Star. Ia memeriksa Star, kemudian Dad David membisikkan sesuatu yang membuat dokter itu memeriksa mata Star.


Dokter tersebut selesai memeriksa Star, kemudian mengajak David untuk keluar dari ruangan, sementara Angel menemani Star.


"Apa yang terjadi?" tanya David.


"Putri anda sadar lebih cepat, melebihi ekspektasi saya dan itu sangat bagus. Untuk sementara ini ia harus menggunakan kursi roda dulu karena kakinya sudah lama tidak digunakan hingga masih lemah. Sementara untuk kondisi matanya, anda sebaiknya membawa Star ke dokter spesialis mata."


"Apa sangat parah?"


"Saya tidak tahu, Tuan. Saya juga tidak bisa memprediksi karena ini bukan bidang saya. Mata adalah organ penting, sebaiknya secepatnya anda memeriksakannya," kata sang dokter.


"Baiklah, aku akan segera melakukannya," ucap David dengan nada khawatir.


"Dan latih kembali kakinya dengan berjalan perlahan, seperti mengajari anak kecil. Jangan terlalu dipaksakan," pesan sang dokter, David mengangguk mengerti.


*****


Angel yang melihat David dan dokter itu keluar dari kamar, langsung mendekati putrinya. Ia menggenggam kedua tangan putrinya.


"Tenanglah, Mommy di sini sayang," ucap Angel.


"Mom, bolehkah aku bertanya?"


"Tentu saja, sayang."


"Tapi Mom tidak akan marah?" tanya Star sedikit ragu.


"Tidak, sayang. Mom tak akan marah. Apa yang ingin kamu tanyakan?"


"Terakhir kali yang aku ingat, aku sedang bersama dengan Aunty. Setelah itu, apa yang terjadi Mom?" Star ingin tahu semua hal, karena ia benar benar tak mengingat apapun.


"Mom, apa aku tidak akan bisa melihat lagi?" tanya Star. Angel yang mendengarnya mulai menitikkan air mata, namun dengan cepat ia menghapusnya.


"Mom tidak tahu, sayang. Kita akan pergi ke dokter untuk memeriksanya, okay?" Star menganggukkan kepalanya. Ia tak ingin kehilangan penglihatannya membuatnya kembali merepotkan kedua orang tuanya. Di dalam hati, ia merasa hidupnya selalu saja merepotkan, terutama bagi kedua orang tuanya. Apakah ia tak bisa membuat mereka bahagia?


David yang berada di luar pintu mendengar ucapan Star. Hatinya terasa sakit melihat putrinya kembali mengalami musibah. Ia sudah berpikir sejak mereka pindah ke rumah pedesaan, kalau ia akan seterusnya berada di sana. Menikmati masa tuanya bersama istri dan putrinya. Ia akan meminta tolong pada Mave untuk mengurus perusahaan Asher.


Memang rasanya terdengar egois. Namun, bagaimanapun juga ia harus melindungi putrinya. David yakin Mave akan menyetujui keputusannya. David tahu pasti Mave juga sangat menyayangi Star.


"Star!" Angel dan Star menoleh ke arah pintu.


"Dad, honey," ucap mereka bersamaan.


"Kita akan pergi ke rumah sakit siang ini, bagaimana?" tanya David.


"Baik, Dad. Aku akan mengikuti semua keinginan Dad," Star tak ingin lagi memaksakan keinginannya. Apapun yang orang tuanya inginkan, ia akan menurutinya. Angel yang sudah mengerti keinginan David pun langsung mempersiapkan putrinya.


*****


Seorang bayi yang hampir berusia 2 bulan, terus saja menangis. Light sudah berusaha menenangkannya dengan menggendong, mengayun, bahkan mengusapnya perlahan, tapi tetap tidak berhasil.


"Apa yang terjadi, Light?" tanya Mom Amelie.


"Ella tak mau berhenti menangis sejak tadi, Mom," jawab Light.


"Anak kecil biasanya memiliki perasaan yang sangat peka. Apa ada sesuatu yang terjadi pada Star?"


Deg ...


Tiba tiba saja perasaan Light menjadi tidak enak. Ia memikirkan perkataan Mommynya, hingga perasaan takut kini menghinggapinya.


"Apa kamu belum menemukannya?" Light menggelengkan kepalanya.


Amelie memejamkan matanya dan menghela nafasnya pelan. Sepertinya ia yang harus meminta pada Azka agar mau membantu Light.


Mom Amelie mengambil alih Ella dari tangan Light. Sebelum kepergian Star, Amelie masih sering mengirimkan foto Ella pada Angel. Namun, sejak kepergian mereka, Angel sama sekali tak bisa dihubungi.


Mom Amelie membawa Ella keluar dari kamar tidur Light. Ia langsung menuju kamarnya, mencari suaminya.


🧡 🧡 🧡


Cherry mengucapkan "Selamat Idul Fitri. Mohon maaf lahir dan batin"