LIGHT For A STAR

LIGHT For A STAR
KALIAN BISA BERCERAI



Aku sudah bisa melihat. Jelas seperti sebelum kecelakaan itu.


Light berdiam di dalam ruang kerja di apartemennya. Ungkapan Star tadi tiba tiba saja membuat hatinya senang, tapi sekaligus sedih. Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia akan mengikuti semua keinginan Star saat wanita itu sembuh.


Sementara itu di dalam kamar tidur, Star memberikan susu pada Ella kemudian menidurkannya. Setelah ia memberitahu pada Light bahwa dirinya sudah bisa melihat, ia melihat wajah Light tersenyum, tapi bukqn senyum kebahagiaan.


"Apakah ia tidak suka kalau aku bisa melihat?" gumam Star. Keduanya berasumsi masing masing, dengan pikirannya sendiri.


*****


Lewat tengah malam, Light baru keluar dari ruang kerjanya. Ia langsung menuju dapur dan mengambil air minum di dalam kulkas. Ia perlu sesuatu untuk mendinginkan pikirannya.


Light melihat ke arah pintu kamar tidur yang tertutup rapat. Ia yakin Star sudah tidur. Saat ini mereka hanya berdua di apartemen karena Dad Leon dan Mom Amelie mendadak harus kembali ke Indonesia karena perusahaan Sebastian yang dipegang oleh Mikael sedang berada dalam masalah karena ada salah satu direksi yang melakukan penggelapan uang.


Setelah minum, Light menuju ke kamar tidur. Bagaimanapun, ia harus tetap membantu Star dalam mengurus Ella. Ia masuk ke dalam kamar dan kaget karena melihat Star yang belum tertidur.


"Kamu belum tidur? ini sudah lewat tengah malam," ucap Light sambil berjalan menuju sofa, tempat di mana ia akan tidur.


Light duduk di sofa, kemudian merapikan bantal dan menggelar selimutnya. Ntah mengapa ia tak bisa menatap wajah Star terlalu lama. Saat ia mengetahui bahwa istrinya itu sudah bisa melihat, tiba tiba saja ia merasa canggung.


"Apa kamu tidak suka aku sembuh dan bisa melihat?" tanya Star.


"Aku suka, aku senang, dan aku bahagia. Sekarang tidurlah, kamu memerlukan istirahat," Light membaringkan dirinya di sofa dengan kaki yang menekuk. Meskipun saat bangun pagi ia akan merasa pegal, tapi ia akan terus melakukan ini.


"Tapi kamu tidak terlihat seperti itu," ucap Star. Light akhirnya bangkit lagi dari sofa dan mendekati Star. Ia berlutut dalam jarak aman dengan istrinya itu.


"Baiklah, mari kita bicarakan malam ini jika merasa aku seperti itu. Kini kamu sudah sembuh, apa ada sesuatu yang kamu inginkan? Aku akan mengabulkan apapun permintaanmu," ucap Light.


"Apapun?"


"Hmm ... aku tahu selama ini sikapku kurang baik. Aku minta maaf. Oleh karena itu aku akan mengabulkan permintaanmu, meskipun mungkin sulit bagiku. Aku berharap dengan ini kamu bisa bahagia."


"Baiklah, aku akan memikirkannya. Apa hanya boleh 1 permintaan?" tanya Star.


"Tidak. Aku tidak membatasinya. Apapun keinginanmu, akan kukabulkan. Sekarang istirahatlah, aku tak mau kamu mengantuk esok dan berpengaruh pada kesehatanmu," Light kembali menjauh dan berbaring di sofa.


Ya, apapun keinginanmu, akan kukabulkan. - Light.


*****


"Aku ingin bertemu kedua orang tuaku dan akan membawa Ella bersamaku. Apakah boleh?" tanya Star sedikit ragu. Ia tahu Light tak pernah ingin berpisah dari putri kecilnya.


Light melihat ke arah Star, "Apa kamu benar benar menginginkannya?"


"Ya, aku ingin kedua orang tuaku lebih mengenal cucu mereka dan aku ingin memberitahu secara langsung tentang kesembuhanku."


"Mave yang akan menjemputku ke sini nanti malam. Kamu tidak perlu khawatir."


"Baiklah, aku akan membantumu membereskan keperluan kalian," Light segera menjauh dan masuk ke dalam kamar. Sementara Star hanya melihat saja sambil menggendong Ella.


Ia sama sekali tidak menahanku. Ia membiarkan aku pergi bertemu kedua orang tuaku. Apa dia tidak takut kalau aku pergi darinya dan membawa Ella bersamaku? - Star.


Hingga Star dijemput oleh Mave, Light tetap menemaninya. Ia sama sekali tak pergi ke kantor dan hanya melayani istri dan putrinya.


"Aku akan membawanya," ucap Mave masih dengan nada yang sedikit sinis. Ia masih belum bisa menerima kalau adiknya itu mendapatkan perlakuan yang buruk dari seorang Xavier Light.


"Ya, hati hati."


"Aku pergi dulu," pamit Star dan Light mendekatinya kemudian mencium kening putrinya yang berada di dalam gendongan Star. Jantung Star berdetak cepat ketika Light berada sangat dekat dengannya. Ia bisa mencium harum tubuh maskulin milik suaminya.


Light kemudian memundurkan tubuhnya dan tersenyum, "Hati hati dan jaga kesehatanmu."


Star sedikit kecewa karena Light hanya mencium putri mereka saja. Ia juga berharap Light mau mencium keningnya. Wajahnya terlihat kecewa dan Mave menyadari itu. Ia langsung membawa koper yang berisi perlengkapan adik dan keponakannya itu.


"Kami akan menjaganya dengan baik, tak mungkin kami menyakitinya dan membiarkannya kelaparan," ucap Mave sinis.


"Aku tahu, terima kasih," ucap Light tanpa mendebat ucapan Mave.


Di dalan mobil, Star mencebik ke arah Mave, "Apa salahku? kenapa wajahmu seperti itu?"


"Kamu tidak perlu mengatakan hal seperti itu pada Light, Mave. Apa kamu tidak tahu kalau itu menyakitinya?"


"Biarkan saja. Bukankah dia yang lebih dulu menyakitimu. Ia juga harus merasakan bagaimana sakit hati akibat perkataan seseorang."


"Ihhh," Star yang kesal pun memukul Mave.


"Hei, hei, sudah, sudah. Kenapa kamu jadi membelanya? Jangan katakan padaku kamu menyukainya. Menyebalkan sekali jika memiliki ipar seperti dia," ucap Mave sambil melipat kedua tangan di depan dada.


"Bukankah dia sudah menjadi iparmu. Bagaimanapun juga ia adalah suamiku dan Dad dari putriku."


"Kalian bisa bercerai. Lagipula pernikahan kalian hanyalah sebuah paksaan sepihak. Kamu bisa menggugatnya, apalagi ia sudah menyakitimu."


Mendengar ucapan Mave mengenai kata cerai, ntah mengapa hati Star terasa sakit. Meskipun awal pernikahan mereka hanyalah sebuah paksaan yang dilakukan oleh Light, tapi ia tahu bahwa Light ingin bertanggung jawab atas kehamilannya. Dan melihat bagaimana pengorbanan Light selama ini untuk kesembuhan dirinya, ia merasa jahat sekali jika harus meminta perpisahan.


Star tak ingin memisahkan Ella dari Daddynya dan ia juga tak ingin berpisah dengan Light, meskipun Light pernah menyakitinya. Hanya saja hubungan mereka saat ini tidak tahu didasari oleh apa. Apakah hanya sebatas tanggung jawab, rasa kasihan, ataukah hanya karena Ella yang ada di antara mereka?


🧡 🧡 🧡