LIGHT For A STAR

LIGHT For A STAR
AKU SEMBUH



Light yang berada seorang diri di dalam kamar, justru tak bisa memejamkan matanya. Ia kini berada di atas tempat tidurnya sendiri. Sudah lama rasanya ia tak merasakan empuknya kasur miliknya.


Ia menginginkan Star dan Ella berada di sisinya, meskipun ia harus tidur di sofa dengan rasa yang tak nyaman. Ia mendekatkan wajahnya ke bantal milik Ella, menyesapi wangi bayi ... hmm, Light sangat menyukainya. Ia berpindah mendekati bantal yang biasa digunakan oleh Star. Wangi bantal itu, sama seperti wangi rambut Star, membuat perasaan Light kembali tenang. Lama kelamaan, ia pun terlelap.


Sementara itu di Munich, Star kini tengah berpelukan bersama Dad David dan Mom Angel. Mereka melepas kerinduan setelah lama tidak berjumpa.


"Dad dan Mom sangat senang melihatmu kembali ke sini. Penglihatanmu juga sudah kembali. Apa kamu ingin menetap di sini?" tanya Dad David.


"Apa Dad juga sama seperti Mave? yang menyarankan aku untuk bercerai dengan Light?" tanya Star.


"Bukankah sebaiknya begitu? Kalian tidak saling mencintai dan yang ia berikan padamu hanyalah luka."


"Kita bicarakan nanti, sebaiknya kamu istirahat dulu, sayang," Mom Angel mengajak Star dan Ella untuk masuk ke dalam kamar. Ia tak ingin kedatangan Star malah membuat hubungan keduanya menjauh, karena Mom Angel bisa melihat ada sesuatu yang berbeda pada diri putri kesayangannya itu.


"Jangan kamu pikirkan apa yang Daddy katakan. Sebaiknya sekarang kamu istirahat. Mommy tak ingin terjadi sesuatu yang buruk lagi padamu."


"Apa kalian semua memandang Light dengan sangat buruk?" tanya Star menatap Mommynya.


"Kami hanya tak suka dengan siapapun yang telah menyakiti putri kami."


"Baiklah, Mom. Aku akan istirahat," Star melihat Ella sudah tidur dengan sangat nyenyak. Ia pun merebahkan dirinya di atas tempat tidur dan menarik selimutnya.


"Selamat tidur, sayang. Ingatlah selalu kalau kami menyayangimu," ucap Mom Angel dan Star mengangguk.


Setelah Mom Angel keluar, Star memiringkan tubuhnya melihat ke arah Ella, "Mengapa mereka ingin memisahkan kita dengan Daddymu? Bukankah seharusnya mereka mendamaikan kami agar kami bisa menjadi satu keluarga yang utuh demi dirimu?"


*****


Keesokan paginya, Star masih tertidur meskipun Ella sudah menangis. Semalaman ia tak bisa tidur, matanya tak bisa terpejam. Ia selalu melihat ke arah sofa yang ada di dalam kamarnya, berharap Light berada di sana bersama mereka.


Mom Angel yang mendengar suara tangisan Ella oun segera menghampiri dan masuk ke dalam kamar karena Ella tak berhenti menangis meski sudah berselang beberapa lama.


Mom Angel melihat Star masih tertidur dengan lelap. Ia melihat mata yang sedikit sembab. Ia langsung menggendong Ella dan memberikan sedikit ayunan. Ia bergerak menuju meja di mana semua keperluan Ella disimpan.


Apa sepanjang malam ia menangis? - Mom Angel.


Setelah selesai membuat susu, Mom Angel membawa Ella keluar dan membiarkan Star tetap beristirahat. ia akan memberikan susu pada Ella di ruang depan.


"Di mana Star?" tanya Dad David yang sedang menyeruput kopinya.


"Ia masih tertidur," Mom Angel melewati meja makan dan duduk di ruang tengah. Dengan lembut ia memberikan susu pada Ella.


David yang melihat ada sesuatu dengan istrinya pun bangkit dari duduknya di ruang makan dan mengikuti Angel.


"Apa ada sesuatu denganmu? mengapa wajahmu terlihat sedih?" tanya David sambil menangkup wajah istrinya.


"Aku tidak apa apa, hanya saja aku sedang memikirkan Star."


"Apa dia akan tinggal dengan kita? apa dia sudah membuat keputusan?"


Angel menggelengkan kepalanya, "Aku merasa ia justru tak ingin berpisah dengan Light. Sebenarnya aku juga berharap mereka selalu bersama, bukankah akan baik jika mereka menjadi sebuah keluarga yang utuh. Kasihan Ella jika harus melihat kedua orang tuanya berpisah."


"Jangan mengambil keputusan dengan emosi. Apa kamu yakin keputusanmu akan membuat putrimu bahagia? atau justru akan membuatnya bersedih."


"Apa maksudmu?"


"Aku seorang wanita dan aku pernah seumuran dengan Star. Aku merasa ada sesuatu yang ia pendam."


"Kita akan menanyakan padanya nanti," ucap David.


"Tapi aku mohon padamu, jangan bersuara keras atau membentaknya. Kamu juga jangan memaksakan kehendakmu, karena hidupnya adalah miliknya. Kamu mengerti?" pinta Angel.


"Aku mengerti, honey. Sangat mengerti. I Love You."


"I love you too."


*****


Star mengerjapkan matanya saat menyadari sinar matahari sudah masuk. Ia tersenyum saat melihatnya. Ia bangkit dan mendekati jendela, merasakan hangatnya sinar matahari itu.


"Aku sembuh, aku pasti sembuh, aku sudah sembuh. Pikiranku tak boleh menyakitiku lagi," ucap Star bermonolog pada dirinya sendiri.


Ia tak melihat Ella di tempat tidur, begitu juga dengan botol susunya. Ia yakin Mommynya sudah membawa Ella keluar. Ia segera membersihkan diri, kemudian keluar dari kamar.


"Mom ...," Star mencari keberadaan Mommynya yang pasti sedang bersama dengan Ella.


"Mommy di belakang, sayang," Star pun langsung menuju ke taman belakang. Ia melihat Mommynya sedang bercengkerama dengan putri kecilnya, saling menggoda dan tertawa.


Star sangat bahagia melihat kebersamaan itu. Ia kemudian membayangkan Light berlarian bersama dengan putri mereka dan tertawa bersama, pasti menyenangkan.


"Apa yang sedang kamu pikirkan?" tanya Mom Angel.


"Tidak ada, Mom. Aku hanya sedang melihat Ella tertawa. Oya, di mana Daddy dan Mave?"


"Daddy dan Mave sedang ke kantor sebentar. Ada sesuatu yang mengharuskan mereka pergi bersama," Star mengangguk mengerti.


Star berjalan di taman belakang, merasakan harum tanaman dan juga hangatnya sinar mentari. Angel menautkan kedua alisnya, merasakan sesuatu yang berbeda pada putrinya itu.


"Sayang, apa kamu?" Star menganggukkan kepalanya, membuat Mom Angel tersenyum.


"Mengapa kamu tidak menceritakan pada Mommy?"


"Sebenarnya aku ingin memberi kejutan pada kalian. Aku sembuh, kini aku bisa merasakan apa yang kalian rasakan."


Mom Angel memeluk Star dengan erat, masih sambil menggendong Ella, "Mom harus menelepom Dad untuk memberitahukan kabar ini."


"Jangan, Mom. Biar nanti aku yang mengatakannya pada Daddy. Lagipula, ada yang perlu aku bicarakam dengan Dad."


🧡 🧡 🧡