LIGHT For A STAR

LIGHT For A STAR
BERISTIRAHATLAH



Star sudah dipindahkan ke ruang rawat. Light mengikutinya bahkan ia tak pergi sama sekali dari sisi Star. Ia juga mulai merasa aneh dengan dirinya sendiri. Setelah ia mengetahui bahwa wanita yang ada di hadapannya sedang mengandung, yang ia yakini adalah anaknya, ia tak ingin berada jauh dari wanita itu.


Light mengambil kursi dan duduk di sebelah Star yang masih terlelap. Dalam diam ia terus memandangi wajah Star, menelisik lebih dalam. Sesuatu yang tidak pernah ia lakukan sejak pertama kali bertemu.


Cantik ... tapi mengapa? mengapa kamu menjadi penyebab meninggalnya Grandpa? - Light terus memandang wajah Star. Tangannya tiba tiba terangkat dan menyentuh rambut wanita itu, kemudian terakhir ia menggenggam tangan Star.


Light kembali merasakan suatu hal yang berbeda ketika ia menggenggam tangan Star. Ketika kulitnya menyentuh kulit Star, ia kembali teringat malam panas yang ia lewati. Meskipun Light meminum obat mabuk dan obat perangsang, namun ia masih melakukan semuanya dalam keadaan sadar, meski tak sepenuhnya.


Lama kelamaan, Light mengantuk dan akhirnya terlelap di samping Star. Ia tak melepaskan genggaman tangannya pada tangan Star. Hingga ketika Star terbangun, ia langsung menarik tangannya karena merasakan sesuatu yang hangat.


"Ahhh ...," Jarum infusnya terlepas dan membuat darah mengalir dari bekas tusukan jarum infus. Light yang tertidur di samping Star langsung terbangun dan melihat itu. Ia langsung menekan tombol di samping Star sementara Star langsung memundurkan tubuhnya ketika melihat Light berada di dekatnya.


Seorang perawat masuk ke dalam ruangan, "Tangan anda, Nona," pinta sang perawat.


"Aku ingin pulang," ucap Star. Ia tidak betah berlama lama di rumah sakit, apalagi berada di dekat seorang Xavier Light Sebastian.


Pembunuh! Dia adalah seorang pembunuh!


Masih terbayang di pikiran Star semua ucapan Light. Hingga ia kini berpikir kalau Light ingin membunuhnya juga untuk membalaskan dendamnya.


Star beringsut menjauhi tempat tidur, ke arah yang paling jauh dari Light, "Bisa bantu saya? Saya ingin pulang sekarang. Saya tidak mau di sini," Star terus memegang lengan sang perawat yang ingin memasangkan kembali infus ke tangan Star.


"Anda masih harus istirahat, Nyonya," ucap sang perawat.


"Tidak, aku tidak mau di sini. Izinkan aku pulang. Berikan surat yang harus kutanda tangani, aku tidak akan menuntut apapun. Cepat!!! Aku ingin pulang!!" Star yang selalu menguatkan dirinya, nyatanya tetap merasa takut ketika bersama dengan Light. Jika memang Light mau membunuhnya, jangan sekarang. Ia masih ingin bertemu dengan keluarganya untuk terakhir kalinya.


Light tak banyak bicara, ia hanya diam dan melihat ke arah Star. Ia terus memperhatikan bagaimana wanita itu berbicara dan apa yang akan wanita itu lakukan.


"Kalau kamu tidak mau memberikan surat itu, maka jangan salahkan aku," Star melangkah menjauh dari perawat itu dan keluar dari ruangan.


Light yang melihatnya berdecak kesal. Ia segera berlari mengikuti Star. Wanita itu akan membahayakan kandungannya dengan berlari seperti itu. Dan benar saja baru sampai di lobby, Star merasakan sakit yang luar biasa di perutnya. Ia terduduk di sana sambil memegangi perutnya.


Sebuah lengan yang kekar langsung menggendong Star. Ia membawa Star kembali ke ruang rawat.


"Tolong lepaskan aku! Lepaskan aku!" teriak Star yang tak bisa berdekatan dengan lawan jenisnya, kecuali Mave dan Dad David. Kulit Star kembali memerah dan ia pun pingsan. Light yang melihat itu langsung ikut panik dan membawa Star dengan cepat dan memanggil dokter.


Di dalam ruang rawat,


"Sepertinya kita perlu memanggil keluarganya," pinta sang dokter.


"Kulitnya memerah tanda ia memiliki alergi terhadap sesuatu. Tapi sampai saat ini kita belum tahu pasti apa penyebabnya."


Light tampak berpikir dengan saran yang diberikan oleh dokter. Namun, jika ia memberitahukan pada keluarga Asher, maka mereka akan segera mengetahui bahwa Star sedang mengandung. Jika itu terjadi, maka keluarganya pun akan tahu. Jika itu terjadi, rencana balas dendamnya pada keluarga Asher akan gagal lagi.


"Sebaiknya jangan dulu, Dok. Biar saya yang akan menangani semuanya," Sang dokter mengetahui siapa Light dan ia tak akan membantah permintaannya karena itu pasti akan berpengaruh pada karirnya juga di dunia kedokteran.


*****


David yang sedang berada di ruang kerjanya, tiba tiba saja merasakan perasaan tidak enak. Ia berjalan mondar mandir di dalam ruangannya, membuat Angel yang melihat dari balik pintu ikut khawatir.


"Ada apa?" tanya Angel pada akhirnya. Ia berjalan masuk san mendekati suaminya.


"Aku tidak apa apa. Mengapa kamu belum tidur?"


"Aku menunggumu."


"Baiklah, ayo kita tidur," ajak David sambil merangku Angel dan mengajaknya ke dalam kamar tidur mereka.


Di dalam kamar, mereka berbaring bersama, "Apa kamu akan terus menyimpan semuanya sendiri?" tanya Angel.


"Maaf. Aku sendiri tidak tahu apa yang sedang terjadi. Hanya saja perasaanku seharian ini tidak enak, seperti ada sesuatu yang terjadi."


"Ini sudah sangat malam, besok kita akan menghubungi Star untuk memeriksa keadaannya," ucap Angel. Ia mendekat ke arah suaminya dan memeluknya. Setelah beberapa lama, akhirnya David bisa terlelap dan Angel merasa lega.


*****


"Black, siapkan semuanya!" Light membawa Star pulang ke apartemen mewahnya. Meskipun ia belum bisa membalaskan dendamnya, tapi wanita ini sedang mengandung anaknya. Ia tak akan membiarkan wanita ini melakukan hal hal yang buruk.


Star terbangun di atas tempat tidur yang 'terasa berbeda dengan tempat tidur rumah sakit. Ia juga tak mencium aroma obat obatan.


"Di mana aku?" gumamnya. Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Kamar tidur dengan nuansa modern minimalis berwarna putih hitam abu abu menjadi tempatnya beristirahat saat ini.


Tak terlihat pigura foto di dalam kamar tersebut, hingga Star tak bisa menebak ia berada di mana. Namun sebuah suara dari arah pintu sedikit mengagetkannya.


"Jangan terlalu banyak bergerak. Beristirahatlah."


🧡 🧡 🧡