LIGHT For A STAR

LIGHT For A STAR
TERSENYUM PADANYA



Saat malam, Star terbangun. Matanya mengerjap dan melihat cahaya, yang membuat matanya sedikit silau. Ia bisa mendeteksi datangnya cahaya, tapi apa yang ia lihat masih agak buram. Namun, Star tersenyum karena terapi yang ia lakukan mulai membuahkan hasil.


Ia menoleh ke kiri dan ke kanan. Di sebelah kirinya ada Ella, putrinya yang sedang tertidur. Star juga secara samar bisa melihat ada sosok yang tidur di atas sofa.


Star menyandarkan tubuhnya di kepala tempat tidur. Ia masih tak percaya bahwa dunianya kini tak segelap biaaanya. Ia tersenyum sendiri, membayangkan sebentar lagi ia bisa melihat wajah putrinya, melihatnya tertawa.


"Ini baru jam 4, mengapa kamu sudah terbangun? Apa Ella mengganggumu?" suara Light sedikit mengagetkan Star.


"Hmm, tapi Ella masih tidur. Aku terbangun dan tak bisa tidur lagi."


"Sebentar, aku akan mengambilkan air untukmu," Light bangkit dari duduknya dan keluar. Ia mengambilkan minum untuk Star di dapur.


Star menegak minumnya hingga tandas, kemudian dengan perlahan meletakkannya di atas nakas setelah merabanya. Meskipun ia bisa melihat secara samar, tapi ia tak ingin memberitahukan hal itu pada siapapun.


Light langsung meraih gelas tersebut dan membawanya kembali ke dapur. Star melihat segala aktivitas yang dilakukan oleh Light dan membuat bibirnya tersenyum.


"Istirahatlah lagi. Aku akan ada di luar jika kamu membutuhkanku," ujar Light.


"Baiklah," Star mengikuti perkataan Light dan kembali merebahkan diri. Ia mendengar suara pintu yang terbuka dan ditutup kembali, yang artinya Light sudah tak berada di sana.


Di dalam benak Star mulai muncul pikiran tentang Light. Apa pria itu tak tidur lagi? Apa yang ia lakukan? Tiba tiba saja ia merasa khawatir.


*****


Sore ini, Star akan kembali mengunjungi Dokter Dea. Sudah hampir 3 bulan ia melakukan terapi dengan wanita itu dan hari ini ia ingin menceritakan perubahan yang terjadi pada dirinya.


"Aku sudah mulai bisa melihat, Dok," ucap Star.


"Benarkah?" tanya Dokter Dea.


"Aku bisa mengatakan bahwa anda memakai kacamata, dan saat ini menggunakan jas berwarna putih dengan kemeja maroon."


Dokter Dea menggenggam tangan Star, "Aku sungguh tidak percaya kemajuan cukup pesat. Lalu, bagaimana dengan yang satu lagi?"


"Aku tidak tahu karena suamiku tak pernah mengijinkanku memegang sesuatu yang panas, bahkan hangat pun tidak. Ia selalu menggunakan sarung tangan jika berada di dekatku."


"Itu berarti kalian tidak pernah melakukan hubungan suami istri sejak saat itu?" tanya Dokter Dea lebih detail.


"Itu artinya mereka sangat menjaga dan menyayangimu. Ia tak ingin kamu tersakiti atau mengalami hal hal seperti dulu."


"Tapi aku mohon, jangan beritahukan mengenai perkembanganku padanya. Aku akan memberinya kenutan nanti ketika aku sudah benar benar bisa melihat dengan jelas," pinta Star.


"Tentu saja, aku akan membantumu. Oya, apa kamu mau mencoba terapi panas yang kusiapkan?" Star menganggukkan kepalanya mendengar kata kata Dokter Dea.


Mereka melakukan terapi selama beberapa waktu dan seperti biasanya, Light akan selalu setia menunggunya. Light tenggelam dalam dunia ponselnya. Ia mengecek pesan dan juga email yang dikirimkan oleh Black. Terkadang ia akan melakukan meeting secara online di rumah sakit.


"Kalau kamu sibuk, biar Mommy yang mengantarku," ucap Star yang tak pernah melihat Light absen menunggunya. Kini mereka berada di dalam mobil untuk kembali ke apartemen.


"Aku tidak sibuk dan semua jadwal sudah kuatur sedemikian rupa hingga aku akan tetap bisa menemanimu," jawab Light.


"Terima kasih," Light menolehkan wajahnya dan melihat Star tersenyum.


"Tidak perlu. Yang perlu kamu lakukan hanyalah untuk tetap bahagia, maka aku tidak akan merasa terlalu buruk lagi," ucap Light.


*****


1 bulan kembali berlalu, Star benar benar sudah mendapatkan penglihatannya kembali, tanpa harus berada di meja operasi. Hanya saja ia tak mengatakan hal ini pada siapapun.


Setiap kali Light memintanya untuk kembali bertemu dengan Dokter Spesialis Mata Star selalu menghindar dan berkata bahwa ia takut jika harus melakukan operasi. Oleh karena itu, Light tak pernah memaksanya.


Star begitu bahagia saat ia bisa melihat wajah putrinya untuk pertama kali. Benar apa yang diceritakan oleh orang orang kalau putrinya sangat cantik, lucu dan menggemaskan. Ia seakan tak bisa mengalihkan pandangannya dari putri kecilnya itu.


Ia juga melihat bagaimana Light beraktivitas di rumah setiap harinya. Ia akan selalu memenuhi kebutuhan Star dan putri mereka, padahal ia sudah bekerja di kantor. Kini Star bisa melihat raut lelah di wajah Light.


Setiap malam ia melihat Light tertidur di sofa dengan posisi yang ia yakin akan sangat tidak nyaman. Tubuh Light yang tinggi harus meringkuk di sofa yang hanya tiga perempat panjang tubuhnya. Star benar benar merasa kasihan pada Light saat ini.


Light tidak pernah mengeluh dengan semua hal yang dijalaninya. Star menghela nafasnya pelan. Saat Light pergi ke kantor, ia sering melakukan terapi pada dirinya sendiri dengan menyentuhkan air hangat ke tangannya. Awal awal, ia sedikit takut. Namun setelah beberapa lama, ia mulai terbiasa dan semakin nyaman dengan kehangatan yang diberikan oleh air itu. Tangannya tak pernah memerah dan ia tak terkena serangan panik lagi.


Star juga pernah pergi ke dapur dan mencoba meminum air hangat, bahkan mencicipi masakan yang masih hangat. Semua itu tak berpengaruh lagi padanya. Dokter Dea benar, jika ia membiasakan diri dan melupakan ketakutannya, maka ia akan bisa menaklukkan semuanya. Tapi jika ia terus menghindar, maka ketakutan itu akan semakin bertumpuk dan membesar. Sedikit saja ia terkena sesuatu yang berhubungan dengan traumanya, maka serangan itu akan semakin cepat dan berakibat lebih fatal.


"Nanti malam, aku akan mengatakan padanya bahwa aku sudah bisa melihat. Aku berharap ia akan senang," hati Star menghangat membayangkan Light tersenyum padanya.


🧡 🧡 🧡