
David yang merasa tidak tenang akhirnya memutuskan untuk terbang ke London. Selama seminggu ini ia tak berhasil menghubungi putrinya. Hal itu juga membuat Angel turut khawatir.
"Mave, apa kamu masih belum bisa menghubunginya?" tanya Mom Angel.
"Belum, Mom. Bahkan apartemen yang ia tinggali ternyata kosong, sejak beberapa bulan yang lalu."
"Maksudmu?"
"Ya, Star sudah pindah dan ia tidak memberitahukan hal itu pada kita."
"Lalu bagaimana kita bisa mencarinya?" tanya Mom Angel.
"Aku juga belum tahu, Mom. Coba kita temui Daddy terlebih dulu," saran Mave. Mereka berdua pun berjalan ke ruang kerja untuk menemui Dad David.
"Bagaimana? apa kamu sudah menemukan putri kita?" tanya Mom Angel.
"Belum, sayang."
"Dad, apa Dad tidak memiliki kenalan yang tinggal di London?" tanya Mave.
"Tidak ada. Tapi aku akan mencoba meminta bantuan pada Azka," kata David.
"Azka?" tanya Angel.
"Hmm ... Azka Williams. Ia memiliki jaringan yang sangat luas. Aku akan meminta bantuannya."
"Aku akan mengikuti semua keputusanmu, yang terpenting kita bisa segera menemukan Star," ucap Mom Angel.
*****
Di dalam sebuah kamar yang sejak awal ditempati oleh Star, terlihat seorang wanita yang duduk melamun. Ia hanya menatap ke luar jendela besar yang ada di dalam ruangan itu. Ia seakan terpenjara di dalam sebuah apartemen mewah.
Kalau saja ia memiliki ponsel ataupun laptop, mungkin ia tak akan sebosan ini. Ia juga masih bisa menghubungi keluarganya, sehingga tidak membuat mereka khawatir.
Ceklekkk ...
Star menoleh ke pintu, terlihat Light memasuki kamar tersebut. Star tak menghiraukannya, ia bahkan tak mengalihkan pandangannya dari jendela.
"Kudengar kamu tidak mau makan. Apa kamu mau menyiksa dirimu?" tanya Light.
"Aku tidak lapar."
"Kamu memang tidak lapar, tapi anakku lapar. Cepat makan!" perintah Light.
"Aku akan makan jika kamu memberikan ponselku," ucap Star.
"Kamu menginginkan ponselmu? untuk apa? Apa kamu berencana kabur dari sini?"
"Kabur?" Star tertawa meremehkan, "Aku punya cara sendiri untuk pergi dari sini. Setidaknya berikan ponselku, aku tak ingin membuat keluargaku khawatir. Mereka pasti sedang mencariku saat ini."
"Keluar dan makanlah dulu. Aku akan memikirkannya," Star akhirnya mengikuti perintah Light. Ia juga sebenarnya sudah sangat lapar, hanya saja ia harus berusaha agar ia tidak membuat keluarganya khawatir.
*****
3 bulan berlalu,
Azka yang sedang berada di dalam ruang kerjanya, membulatkan matanya ketika mengetahui hasil dari pencarian yang dilakukan oleh anak buah Black Alpha.
"Kalian yakin?"
"Sangat yakin. Oleh karena itulah kami membawa informasi itu ke sini terlebih dahulu. Kami tak ingin mengambil langkah gegabah."
"Baiklah. Aku yang akan mengambil alih dari sini," ucap Azka.
Ia tak percaya bahwa yang menyembunyikan putri David Asher adalah keponakannya sendiri. Ia bahkan mengetahui kalau mereka telah menikah secara diam diam. Azka segera menghubungi asistennya untuk mempersiapkan tiketnya menuju ke London.
"Pantas saja selama ini kami begitu kesusahan mencari informasi, ternyata kamu yang bermain di belakang ini semua."
*****
"Mom akan mencari cara untuk pergi dari sini. Untuk saat ini kita harus bersabar dulu," gumam Star sambil kembali mengelus perutnya.
Sementara itu di XL Corp,
Brakk!!!
"Uncle!" Light melihat ke arah Azka, tapi sama sekali tak terlihat wajah kaget ataupun terintimidasi.
"Duduk di sini, Uncle ingin bicara," perintah Azka. Ia meminta Light untuk duduk di sofa.
Tanpa rasa takut, Light berpindah dari kursinya ke sofa. Ia duduk dengan tenang dan melihat lurus ke mata Azka.
"Siapa yang menyuruhmu untuk mengurung putri David Asher di apartemenmu?" tanya Azka.
"Aku sendiri. Sebaiknya Uncle pulang, ini tak ada hubungannya dengan siapapun. Ini urusanku dengannya," jawab Light.
"Light! Apa kamu tahu, mereka menghubungi Uncle dan meminta tolong untuk mencari putri mereka."
"Katakan pada mereka bahwa putri mereka ada padaku. Dan aku tak akan mengembalikan pada mereka saat ini. Jika saatnya tiba, aku baru akan mengembalikannya."
"Apa maksudmu?"
"Sudahlah Uncle. Jangan mempersulit hal ini. Katakan saja seperti itu pada mereka. Ada sesuatu yang harus kuselesaikan dengannya," Light bangkit dari duduknya dan berjalan kembali ke kursinya.
"Mengapa kamu diam diam menikahinya? Apa jangan jangan?"
"Seperti dugaan Uncle, saat ini ia sedang hamil anakku dan aku tak akan melepaskannya. Ia akan bersamaku hingga anak itu lahir. Jika ada yang berani mengambilnya dariku, kalian semua akan tahu akibatnya," ucap Light tanpa rasa takut sama sekali.
"Apa yang kamu pikirkan Light? Jika memang kamu ingin menikahinya dan kalian memiliki anak bersama, tentu tak akan ada yang menghalangi kalian. Tapi bukan berarti kamu mengambilnya begitu saja dari keluarganya," jelas Azka yang tidak habis pikir dengan apa yang dilakukan oleh keponakannya ini.
"Aku akan melakukannya, tapi nanti, tidak sekarang."
"Baiklah kalau begitu. Uncle akan mengatakan pada David Asher bahwa putrinya ada bersamamu. Biar dia yang datang ke sini menemuimu."
Light tak peduli jika keluarga Asher akan mengetahuinya, "Silakan saja, aku tak peduli."
Azka benar benar kehabisan akal saat ini menghadapi Light. Light sangat sulit untuk didekati sejak kematian Axelle, bahkan ia menjauh dari keluarga Williams. Vanessa selalu menanyakan keadaan Light melalui Azka, bagaimanapun juga Vanessa sangat mengetahui bagaimana hancur hati cucunya itu ketika Axelle meninggal.
Azka pun akhirnya pergi meninggalkan ruangan Light. Ia terbang ke Munich untuk menemui David. Bagaimanapun juga, David meminta tolong padanya, maka ia harus memberitahukan pada mereka apa yang sebenarnya terjadi. Ia tak akan membiarkan Light berbuat seenaknya, apalagi menyakiti seorang wanita.
*****
Light pulang lebih cepat ke apartemennya. Biasanya ia akan menghabiskan waktu hingga malam. Ia membuka pintu apartemen dan mendapati Star sedang duduk di sofa sambil menikmati acara televisi.
"Apa kamu sudah makan?" tanya Light.
"Nanti," jawab Star singkat sambil memakan kripik di dalam toples.
"Ayo makan sekarang," perintah Light.
"Aku tidak mau, aku akan menunggu 1 jam lagi."
"Baiklah, aku akan meminta pelayan untuk memanaskannya lagi," ujar Light.
"Jangan! Tidak perlu dipanaskan lagi. Biarkan saja seperti itu."
"Ini sudah dingin, tidak akan enak lagi di makan," ucap Light sekali lagi.
"Enak! Sudah biarkan saja."
Namun, bukan Light namanya jika ia menuruti keinginan Star. Diam diam ia meminta pelayan untuk kembali memanaskan masakan tersebut. Star yang sudah selesai menikmati kripik dan acara televisi, berjalan menuju meja makan. Namun, melihat apa yang tersedia di sana, ia memutar tubuhnya dan masuk ke dalan kamar tidurnya.
🧡 🧡 🧡