LIGHT For A STAR

LIGHT For A STAR
MEMBAYAR SEMUANYA



Light terdiam duduk di ruang tamu nya setelah Daddy dan Mommynya pergi. Ia tak ingin melibatkan kedua orang tuanya dalam hal ini karena ini semua adalah urusannya, balas dendamnya. Keluarganya, kedua orang tuanya, adiknya, sepupunya, terutama Grandma Vanessa, hanya perlu menikmati hasilnya nanti.


Star yang duduk di atas tempat tidurnya hanya mampu diam. Ia tahu, bahkan sangat tahu bahwa apa yang Light lakukan adalah semata mata karena dendam pada dirinya. Setelah ia berpikir ulang, ia memang seorang pembunuh. Seharusnya Grandpa Axelle tak perlu kembali untuk menolongnya. Akan lebih baik jika ia meninggal saat itu, hingga semua masalah selesai.


Mungkin keluarganya akan bersedih, tapi setidaknya mereka tak akan menaruh dendam. Jika seperti sekarang ini, maka Star bukan hanya menyakiti keluarga Sebastian dan keluarga William, tapi juga keluarganya.


Brakkk!!!


Star bisa mendengar suara pintu yang dibanting dengan sangat keras. Ia segera bangkit dari tempat tidur dan membuka pintu kamar tidurnya sedikit. Sunyi dan sepi, itulah yang ia tangkap saat mengintip ke luar.


Dengan perlahan Star berjalan keluar. Ia pergi menuju dapur, mencari pelayan yang biasa menemaninya.


"Nyonya Star," panggil pelayan itu.


"Bi, aku tadi mendengar suara keras ... itu?" tanya Star.


"Ooo itu Tuan keluar, Nyonya."


Star tampak berpikir, "Bi, bisakah bibi membukakan pintu? Aku harus mencarinya Light. Saat ini ia pasti dalam keadaan tidak baik baik saja, aku harus mencarinya."


Star berusaha merayu Bibi pelayan. Bagaimanapun juga, ia harus keluar dari sana selagi bisa dan mungkin ini adalah kesempatannya.


"Ooo bisa Nyonya, tunggu sebentar," Bibi pelayan pergi menuju ruangan khusus yang ia tenpati dan mencari sebuah kartu. Ia memang mendapatkan kartu khusus untuk keluar masuk. Setelah mendapatkannya, Star langsung membuka pintu dan keluar dari sana.


Kamu bodoh sekali, Star! Seharusnya sejak dulu kamu meminta bantuan pada Bibi. Ia bisa keluar masuk dengan mudahnya, mengapa kamu tidak pernah terpikir ke arah sana. - Star merutuki dirinya yang terlalu lambat berpikir dalam mencari jalan keluar. Ia memang selalu memikirkan caranya, tapi selalu terbentur dengan bagaimana anak yang ada dalam kandungannya.


Melihat pertengkaran antara Light dengan orang tuanya, membuat Star semakin menyadari bahwa keberadaannya adalah sesuatu yang tidak baik bagi orang lain. Di koridor apartemen ia berjalan perlahan, meninggalkan Bibi pelayan seorang diri di dalam apartemen.


Ia bernafas lega ketika melihat lift dalam keadaan kosong. Ia langsung masuk ke dalam dan menekan tombol lantai dasar. Di lobby, tak terlalu banyak orang lalu lalang, karena itu ia harus mencari celah agar tidak terlihat keluar dari apartemen. Namun jika ia mengendap endap, orang lain akan lebih curiga.


Star berjalan biasa dan dengan penuh percaya diri. Ia pun berhasil melewati meja resepsionis dan juga pintu utama. Kini ia telah berada di luar gedung dan ia bisa bernafas lebih lega.


"Star?" sebuah suara membuat jantung Star kembali berdetak dengan cepat. Ia menoleh ke asal suara dan mendapati sosok seorang wanita yang sangat ia kenali.


"Aunty," Amelie yang dari tadi ditenangkan oleh Leon di lobby akhirnya sedikit merasa lebih baik.


"Kamu mau ke mana? dan ....," Amelie melihat perut Star yang sudah membuncit. Ia merasa sangat bersalah pada gadis di hadapannya ini. Pikiran Amelie sudah berprasangka buruk tentang Light dan mengapa ia melakukan semua ini.


"Ahhh, aku hanya mau ke minimarket saja sebentar," elak Star. Ia tak ingin Aunty Amelie mengetahui ia akan pergi dari sana, jadi sebisa mungkin ia menutupi dengan kebohongan.


"Aunty akan mengantarmu, sekalian ada yang perlu Aunty bicarakan denganmu. Tunggu sebentar karena Uncle sedang mengambil mobil di basement dan akan menemui kita di sini."


"Tidak perlu, Aunty. Aku bisa pergi sendiri," ucap Star. Jika kali ini ia terhalang lagi oleh Orang tua Light, apakah itu tandanya ia memang harus membayar semuanya atas kejadian belasan tahun yang lalu?


Amelie memegang tangan Star, seakan takut kalau Star akan pergi. Amelie mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Leon, suaminya.


"Sayang, kamu di mana? kenapa lama sekali? ... Baiklah aku akan menunggu," Amelie memutus sambungan ponselnya. Lalu ia mengajak Star berjalan menjauh sedikit dari pintu.


"Auntyyy!!!"


🧡 🧡 🧡